
"Baiklah sayang, aku akan membantumu menuntaskannya!" Bisik Kenny tepat di samping telinga Jenny.
Pagi harinya, Jenny bangun dengan tubuh yang terasa remuk semua. Ternyata semalam mereka mengulang kegiatan panasnya itu hingga berulang-ulang. Entah sebanyak apa dosis yang di berikan Bibir Rosa pada Jenny, namun yang jelas hal itu merupakan suatu keuntungan untuk Kenny.
"Emm... kenapa nyaman sekali guling nya? sepertinya sudah sangat lama aku tidak tidur memeluk guling nyaman begini, Emm... (sambil meraba-raba sesuatu yang sudah tegak berdiri) apa ini? kenapa sangat keras?" Gumam Jenny yang masih memejamkan kedua matanya.
"Haist! baru bangun saja dia sudah membuatku on lagi, apa obatnya masih berpengaruh ya?!" Batin Kenny yang ternyata sudah sama-sama terbangun karena sentuhan Jenny.
"Sayang, kau sengaja menggodaku lagi ya?" Tanya Kenny, pada akhirnya pria itu bersuara untuk memastikan keadaan Jenny.
"Hah!!! kenapa kau bisa tidur bersamaku?" Ucap Jenny terkejut. Kedua matanya semakin membulat sempurna kala melihat tubuhnya yang tak tertutupi sehelai benang pun.
"Kenn, apa yang sudah kita lakukan?! astaga!!" Keluh Jenny frustasi.
"Apa kau sama sekali tidak mengingatnya?" Tanya Kenny seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Jenny.
"A...apa yang akan kau lakukan?!" Tutur Jenny bertanya terbata.
"Sepertinya kau perlu aku ingatkan kembali aksimu semalam ya, kau benar-benar liar, sayang!" Sahut Kenny seraya mencuri cium sekilas di bibir ranum Jenny.
"Hah?! astaga!!! apa aku benar-benar seliar itu?!" Batin Jenny.
Memorinya berusaha mengingat kembali pada saat Jenny merasa kepanasan semalam dan menyentuh Kenny lebih dulu.
"Astaga!!! tidak...tidak...tidak... kenapa aku bodoh sekali?!" Rutuk Jenny pada kebodohannya sendiri.
"Sudahlah sayang, jangan tegang seperti itu! aku tidak akan memberitahunya pada orang lain selama kau mau menuruti kemauan ku," Tutur Kenny seraya menunjukkan seringai di bibirnya.
"Apa dia sedang mengancam ku sekarang?" Batin Jenny.
"Ayo kita membersihkan diri, kau tidak ingin ya menjemput putra kita?!" Seru Kenny seraya beranjak begitu saja tanpa menghiraukan tubuhnya yang sama-sama masih polos.
"Astaga!!! pagi-pagi mataku sudah ternoda oleh tubuh pria menyebalkan itu," Gerutu Jenny dalam hatinya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain agar tak melihat tubuh polos mantan suaminya itu.
"Mumpung dia di kamar mandi sebaiknya aku juga membersihkan diri di kamar mandi yang lain," Gumam Jenny bermonolog seraya beranjak. Namun...
"Awww..." Pekiknya saat sesuatu di bawah sana terasa begitu tidak nyaman.
"Ya Tuhan, apa semalam aku memang benar-benar liar ya?! kenapa goa ku sampai tak nyaman begini?!" Rintih Jenny.
Akhirnya dengan tertatih-tatih, Jenny mencoba melangkahkan kakinya ke kamar sebelah untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Jenny segera turun dan menuju dapur untuk menemui Bibi Rosa.
"Pagi Non? apa tidur Nona nyenyak semalam?!" Sapa Bibi Rosa setelah Jenny menghampirinya di dapur.
"Bi... Bibi pasti sekongkol dengan Kenny kan?!" Ucap Jenny mengintrogasi.
"Ma... maksud Nona apa? Bi... Bibi tidak mengerti, Non!" Sahut Bibi Rosa terbata.
"Semalam setelah aku makan, aku langsung merasakan kantuk yang tak tertahankan, Bibi tidak menaruh obat apa pun di dalam makanan ku, kan?!" Tutur Jenny bertanya.
"Ti...tidak ada ko Non, Bibi tidak mencampur makanan Nona dengan obat apa pun, Bibi berani bersumpah!" Seru Bibi Rosa seraya mengacungkan kedua jari tangannya ke udara.
"Bibi memang tidak mencampur obatnya di makanan ko Non, Bibi cuman mencampurnya di minuman Nona, jadi Bibi termasuk gak bohong kan, karena Bibi tidak mencampur obatnya di makanan sama sekali," Batin Bibi Rosa terkekeh.
"Sepertinya memang bukan Bibi pelakunya?! tapi siapa? apa pengawal di luar sana?!" Batin Jenny menduga-duga.
"Ya Tuhan, semoga saja Non Jenny tidak curiga lagi padaku," Batin Bibi Rosa.
Sesaat sedang asik mengintrogasi, Kenny terlihat menghampiri dan langsung mendaratkan kecupannya di pucuk kepala Jenny.
"Kau sudah mandi ya sayang, kenapa kau memakai pakaian itu lagi? baju mu kan sudah aku sediakan di lemari kita!" Ucap Kenny, dengan santainya pria tampan itu duduk manis di salah satu kursi meja makan.
"Aku tidak membutuhkannya, dan aku peringatkan padamu agar tak berlaku seenaknya lagi untuk menyentuhku!" Seru Jenny memberi peringatan.
Perempuan cantik itu memutuskan untuk melenggang pergi dari ruang makan yang menyatu dengan dapur tersebut. Jenny benar-benar merasa sangat di permainkan saat ini, mungkin sebaiknya saat ini dia pergi untuk menenangkan diri.
"No, cari Jenny sampai dapat!" Seru Kenny melalui sambungan teleponnya pada Bruno.
"Ya Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku?! Keluhnya yang saat ini sudah terduduk dengan memeluk kedua lututnya di atas pasir putih di bibir pantai.
"Ken, Mommy harus bagaimana sekarang? Mommy jadi menyesal karena sudah memutuskan kembali ke Negara ini," Isak tangisnya pun sudah tak terbendung, di pagi yang masih sepi itu Jenny menumpahkan keluh kesahnya pada lautan luas yang terhampar di depannya.
Jenny menyembunyikan wajah sedihnya di sela kedua lutut yang dia peluk. perempuan cantik itu terus menangis mencurahkan kesedihannya. Hingga akhirnya sebuah tepukan di pundaknya membuat dia menghentikan tangisannya.
Plukk... Jenny pun mendongakkan kepalanya.
"Are you ok girl?" Tanya seorang pria asing.
Jenny masih diam tak menjawab, dia sepertinya sedikit takut pada pria asing yang baru dia temui itu.
"Don't worry, I'm not a bad person! ( jangan khawatir, aku bukan orang jahat!)," Ucap pria asing tersebut menambahkan.
"may i sit with you? (apa aku boleh duduk menemani mu?)," Tanya pria asing tersebut.
"Emm... please, (Emm... silahkan)," Jawab Jenny.
"Are you from here? (apa kau asli orang sini?)," Tanya pria asing yang belum Kenny ketahui namanya.
"No, I'm not originally from here, (tidak, aku bukan asli irang sini)," Sahut Jenny.
"Then why are you here? cry too, (kalau begitu kenapa kau bisa berada di sini? menangis pula)," Pria asing itu terus bertanya membuat Jenny sedikit terhibur karena kecerewetannya yang terus bertanya.
"Aku tidak mungkin memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi bukan?! lagi pula aku baru bertemu dengannya sekarang, tapi kenapa aku merasa sangat nyaman ya?!" Batin Jenny.
"Hei, are you ok?" Tegur pria asing.
"Sorry, I have to go back now, (maaf, aku harus kembali sekarang)," Ucap Jenny seraya beranjak.
Pria asing itu tak berani menahan Jenny lebih lama lagi bersamanya, sepertinya Jenny memang sedang tak ingin di ganggu siapa pun saat ini. Belum jauh Jenny melangkah, pria asing tadi pun kembali bertanya pada Jenny dengan sedikit berteriak.
"Nona, siapa namamu?!" Teriak pria asing itu yang ternyata bisa berbahasa yang sama dengan Jenny.
"Hah!!! ternyata dia bisa berbicara dengan bahasa seperti ku juga ya?! astaga, pria asing ini sama-sama menyebalkan nya dengan Kenny," Gerutu Jenny.
Pria asing tersebut terlihat menghampiri karena Jenny menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Tuan, ternyata kau bisa berbicara bahasa ku juga ya, kenapa kau tak menggunakannya sejak tadi?" Tanya Jenny.
"Maaf, aku hanya terbiasa menggunakan bahasa asing, jadi... siapa nama mu, Nona?" Sahut pria asing tersebut kembali bertanya.
"Apa aku harus mengenalkan nama asliku ya? ahh... tidak, lebih baik aku menggunakan nama panggilanku di Negara M saja padanya," Batin Jenny bermonolog.
"Namaku Alexa, Tuan! nama anda sendiri siapa?" Seru Jenny bertanya.
"Aku..." Sahut pria asing tersebut tercekat kala ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira siapa pria asing ini ya??? penasaran kannnn.... ikutin terus kelanjutan kisahnya ya, dan jangan lupa juga kasih dukungannya...
See you next episode guys... 😘😘😘