
“Oh, jadi kau menginginkan yogurt seperti yang di minum gadis itu ya! kalau begitu ayo kita beli!” Seru Kenny seraya menarik tangan istrinya untuk melenggang ke arah rak persediaan yogurt di Supermarket tersebut.
Namun langkahnya harus terhenti kala Jenny terus menahan tangan Kenny sambil menggelengkan kepalanya seraya memasang wajah yang tiba-tiba sedih. Bahkan kedua mata indah Jenny sudah mulai berembun pertanda siap meluncurkan air Kristal yang sudah memenuhi bibir mata indahnya.
“Kenapa malah berhenti?” Tanya Kenny yang belum menyadari raut wajah istrinya.
“Astaga! kau kenapa sayang? kenapa wajahmu memerah seperti ingin menangis begini?” Tambahnya lagi.
“Aku menginginkan yogurt yang di minum gadis itu Kenn, aku tidak ingin membeli yang baru, hik…hik…” Isak Jenny akhirnya meluncur juga di iringi bulir bening yang membasahi pipi mulusnya. Dan hal itu berhasil membuat Kenny terkejut sekaligus menganga.
“Tapi bagaimana aku mendapatkan nya sayang, kita kan tidak mengenalnya.” Sahut Kenny yang membuat Jenny seketika memberangus kesal dan meninggalkan dirinya begitu saja.
“Sayang! tunggu aku, Jenn!” Teriak Kenny seraya mengejar langkah istrinya yang sudah menjauh ke luar gedung Supermarket.
Jenny tak menghiraukan panggilan suaminya. Dia terus berjalan menghampiri parkiran dan segera memasuki mobil suaminya dengan wajah yang sudah di banjiri air mata. Jenny sendiri sebenarnya tidak tau apa yang sebenarnya sedang dia rasakan saat ini, Jenny pikir sepertinya dia terlalu terbiasa di manja oleh Kenny akhir-akhir ini, sehingga dia mudah kecewa saat Kenny tidak bisa mewujudkan keinginannya.
“Kenapa akhir-akhir ini aku mudah menangis? aku juga mudah kesal saat Kenny tak bisa memberikan yang aku inginkan? apa aku mulai terbiasa manja ya?” Gumam Jenny setelah duduk di dalam mobil suaminya.
Sejurus kemudian Kenny pun tiba setelah membayar terlebih dahulu belanjaan yang sudah di pilih istrinya ke kasir. Dengan nafas yang masih tersengal, Kenny mencoba bertanya kembali tentang keadaan istrinya, namun belum sempat dia bertanya, Kenny sudah mendapat pelukan erat dari Jenny setelah dia membuka pintu mobilnya yang berada di sisi Jenny.
“Sayang…”.
Brukk… Bunyi pelukan yang di lakukan Jenny pada suaminya.
“Maafkan aku Kenn, aku mencintaimu.” Ucap Jenny di iringi isak tangis.
“Aku pun sayang, apa kau benar-benar menginginkan yogurt yang di minum oleh gadis tadi?” Tanya Kenny seraya mengelus lembut kepala sang istri.
“Aku sudah tidak menginginkannya Kenn, sebaiknya kita pergi ke mansion Mommy sekarang saja ya, aku takut mereka sudah menunggu kita!” Seru Jenny setelah melerai pelukannya.
“Baiklah sayang, ini! aku tadi sempat membayarnya terlebih dahulu sebelum mengejar mu,” Sahut Kenny seraya memberikan kantung buah-buahan yang tadi dia bayar.
Di perjalanan, Jenny terlihat banyak diam dan membuang pandangannya ke arah jendela samping. Entah apa yang sedang Jenny pikirkan saat itu, yang jelas Kenny sedikit lega karena tangisan istrinya sudah tak terdengar lagi kala mereka mulai melaju meninggalkan Supermarket tadi.
“Sayang! apa kau baik-baik saja?” Tanya Kenny memecah keheningan.
“Hm… aku hanya merasa lelah Kenn, apa kita bisa menginap di mansion Mommy malam ini?” Sahut Jenny tanpa menoleh ke arah suaminya yang berada di balik kemudi.
“Em… aku harus menanyakan jadwalnya dulu pada Tian sayang, karena akhir-akhir ini aku banyak pertemuan penting di kantor,”.
“Apa pekerjaanmu baik-baik saja?” Tanya Jenny yang kini mulai menghadap ke arah sang suami yang sedang fokus mengendarai mobil mereka.
“Hm… aku akan menceritakannya setelah kita sampai nanti sayang, tidak apa-apa kan?” Sahut Kenny seraya membelai lembut kepala istrinya dengan sebelah tangannya yang bebas dari mengemudi.
Sejurus kemudian mobil mewah milik Kenny pun terparkir di pelataran mansion keluarga Alvaro yang begitu megah bak istana. Sepasang suami istri itu segera turun dari mobil dan melenggang masuk menuju ruang keluarga di mana Mom Bella sedang merangkai berbagai bunga kesukaannya ke dalam sebuah Vas.
“Ehem… sepertinya ada yang tidak peka dengan kedatangan anak dan menantunya nih!” Tegur Kenny setelah sampai di ruang keluarga.
“Jenny juga Mom, Mommy apa kabar? sepertinya Mommy mengoleksi bunga baru ya?” Sahut Jenny setelah duduk bersama mertuanya.
“Benar sayang, Mommy baru saja membeli beberapa bunga baru tadi pagi! bagaimana? bagus kan bunga-bunganya?” Tanya Mom Bella meminta pendapat seraya menunjukkan hasil rangkaian bunga yang dia baru dia buat.
“Bagus sekali Mom, Mommy memang hebat soal rangkai-merangkai bunga,” Jenny mengacungkan dua jempol tangannya untuk memberi apresiasi pada mertuanya.
“Aih! menantu ku ini memang paling bisa ya menyenangkan hati Mommy, tapi kapan kalian akan memberi Mommy cucu? Mommy kan sudah rindu dengan tangisan bayi Jenn!” Ucap Mom Bella yang langsung di sanggah oleh Kenny.
“Mom, kita kan baru menikah dua bulan, Kenny juga masih ingin menikmati waktu berdua dengan Jenny!” Sahut Kenny.
“Doakan saja ya Mom, Jenny juga tidak akan menundanya ko kalau sudah di percaya memiliki momongan.” Tutur Jenny seraya mengelus lembut punggung tangan mertuanya.
“Kau memang yang paling mengerti Mommy sayang!”.
“Oh iya Mom, Jenny mau mengundang Mommy dan Papah untuk menghadiri pernikahan Rangga pekan depan, Mommy dan Papah bisa hadir kan?” Tutur Jenny.
“Tentu saja sayang, Rangga kan Kakak mu juga, sudah seharusnya kita sebagai keluarga menghadiri acara bahagianya itu,” Sahut Mom Bella yang membuat Jenny tersenyum bahagia.
Setelah berbincang cukup lama, Jenny mengikuti Mom Bella ke arah dapur untuk membantu para pelayannya yang hendak menyiapkan makan malam untuk mereka. Selesai makan malam, Kenny dan Jenny memutuskan untuk menginap di mansion keluarga Alvaro. Kebetulan Kenny meliburkan diri keesokan harinya untuk menemani Jenny membantu kedua orangtua angkatnya yang sedang mengurus pernikahan Rangga yang tinggal menghitung hari.
“Kenn, apa kau benar-benar tidak sibuk ya, besok? jika memang banyak pekerjaan di kantor aku bisa pergi sendiri ko ke rumah Ibu,” Tutur Jenny yang kini tengah tertidur di atas tempat tidur bersama suaminya sambil memeluk tubuh maskulin itu.
“Kau lebih penting di banding apa pun sayang. Sudah lah! jangan mengkhawatirkan apa pun lagi ya! sebaiknya sekarang kita buat cucu untuk Mommy saja, ok!” Sahut Kenny seraya melu*** bi*** sang istri dengan begitu lembut.
Malam yang damai itu pun mereka lewati dengan syahdu, saling menyalurkan perasaan kasih sayang dan cinta mereka yang semakin hari semakin membuncah. Melupakan janji Kenny yang ingin menjelaskan permasalahannya di kantor. Perlahan Kenny mulai mengecup setiap inci tubuh istrinya dengan begitu lembut dan intens, membuat sang empunya tubuh menggelinjang seakan tersengat aliran menggelitik di sekujur tubuh rampingnya. Perlahan namun pasti, hingga mereka berdua mencapai puncak kenikmatan di malam indah penuh bintang itu.
Keesokan harinya sepasang suami istri itu terlihat sudah rapih dan siap untuk berpamitan pada Mom Bella dan Papah Oscar. Jenny sengaja berpamitan sejak pagi agar dia bisa membantu Rangga dan orang tuanya untuk menyiapkan pernikahan Kakak tirinya itu dengan leluasa.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys…😘😘😘