
Setelah masakan selesai, Ibu Tania segera menyuruh Jenny untuk memanggil Kenny dan juga Aldo yang masih asik bergulat dengan barang-barang Elektronik rusak yang dia perbaiki. Rangga dan Ayah Primus yang baru pulang bekerja pun segera ikut bergabung makan bersama di rumah sederhana itu, menikmati hidangan yang sudah Ibu Tania dan Jenny masak bersama untuk orang-orang yang mereka sayangi.
“Kenn, bangun! aku dan Ibu sudah menyiapkan makan malam di bawah, ayo!” Seru Jenny seraya menggoyang-goyangkan tubuh suaminya agar terbangun dari tidurnya.
“Em…aku masih ngantuk sayang, sebentar lagi ya!” Ucap Kenny dengan suara seraknya.
“Tapi semua orang sudah menunggu di bawah, ayo! kau tidak mau kan kalau Kak Aldo kembali memberi peringatan!” Ancam Jenny dengan jurus andalannya.
Seketika itu juga Kenny langsung terbangun dan memasuki kamar mandi untuk mencuci mukanya sebelum turun ke lantai bawah dan ikut bergabung makan malam. Setelah terlihat segar Kenny pun mengajak istrinya untuk turun dan menghampiri keluarga barunya itu.
“Nak Kenn, ayo duduk! semoga masakan Ibu dan Jenny cocok di lidah mu ya nak!” Seru Ibu Tania yang sedang menuangkan makanan untuk suaminya.
“Iya Nak, makanan di sini sangat sederhana seperti ini saja adanya, kau tidak keberatan kan makan begini bersama kami!” Tambah Ayah Primus.
“Aku sama sekali tidak masalah Yah, aku akan memakan apa pun yang di masak istriku!”.
“Ya sudah ayo Jenn, tuang nasi dan lauk nya untuk suami mu ya!” Tutur Ibu Tania.
Dengan telaten Jenny menyiapkan makanan untuk suaminya dan juga Aldo.Hal itu ternyata sudah menjadi kebiasaan Jenny semenjak di tinggal kedua orangtuanya dulu. Dia selalu membantu Kakaknya untuk menyiapkan segala kebutuhan di saat sang Kakak yang harus banting tulang mencari uang untuk mereka bertahan hidup sebelum orang tua Rangga mengadopsi mereka.
“Terimakasih sayang, ayo! kau juga harus makan yang banyak, kenapa baru sehari menikah saja kau sudah terlihat kurus? Kenny memberimu makan dengan baik kan?” Ucap Aldo sekenanya.
“Kakak tenang saja, Kenny memperlakukan Jenny sangat baik ko!” Sahut Jenny.
“Hm… sudah lah Do, sebaiknya kita makan dulu sekarang, ayo nak Kenn! jangan sungkan ya,” Seru Ibu Tania menyanggah.
Seminggu kemudian, tepatnya hari keberangkatan Jenny dan Kenny ke Negara A untuk peresmian cabang perusahaan Alva corp. Tian yang sudah di buat sibuk sejak beberapa hari ini masih harus bolak balik untuk mengurus penginapan yang akan di gunakan atasannya itu selama acara peresmian di sana.
“Ha… sepertinya pekerjaan ku tidak ada habisnya dari kemarin, nasib… nasib…” Keluh Tian bergumam sendirian saat dirinya baru saja memesan penginapan untuk atasannya.
“Kak Author kasih aku jodoh dong, biar aku tambah semangat layani bos Kenny nya, please…”(Ok, bang Tian tunggu aja ya! nanti kalau udah waktunya Mom kasih deh, hehe).
Tak lama kemudian pemberitahuan keberangkatan pun terdengar menggema di seluruh bangunan megah nan luas bandara yang kini sedang Jenny dan Kenny singgahi. Dengan sigap Kenny segera menarik tangan istrinya agar bergelayut di lengan kekarnya yang atletis. Penampilan pria gagah berparas tampan tersebut ternyata menjadi pemandangan menyegarkan untuk beberapa penumpang pesawat wanita yang sedang menunggu jadwal keberangkatan mereka di bandara itu. Jenny yang merasa kesal akhirnya mengeratkan pelukan tangannya di lengan sang suami yang menjadi pusat perhatian wanita-wanita genit itu.
“Sayang kau kenapa sih, sejak tadi aku perhatikan wajahmu di tekuk terus, ada apa? hem!” Tanya Kenny seraya meraih dagu istrinya agar menatap ke arah wajahnya.
“Diam lah Kenn! aku sedang kesal dengan fans fanatik mu itu, mereka dengan terang-terangannya melirik mu dengan tatapan lapar mereka, lagi pula kau kenapa memiliki wajah yang terlewat tampan sih, mereka kan jadi menatap mu terus sekarang!” Gerutu Jenny seraya mencebik kan bi*** di akhir ucapannya.
“Haist! ternyata istriku sedang cemburu ya!” Ucap Kenny yang merasa gemas dengan tingkah konyol istrinya yang sedang cemburu. Jika saja mereka bukan sedang berada di bandara saat itu, sudah pasti Kenny akan menyambar bi*** ranumnya itu dengan rakus.
“Apa kau bilang? aku cemburu?”.
“NO!”.
“Aku hanya kesal karena mereka seperti tidak memiliki objek lain selain menatap wajahmu itu. Aku jadi heran dengan wanita-wanita genit itu, mereka bahkan terang-terangan melambaikan tangannya ke arahmu untuk sekedar menyapa, padahal jelas-jelas ada aku di samping mu kan! ish… rasanya aku jadi jijik melihat tingkah mereka, benar-benar murahan!” Gerutu Jenny yang membuat Kenny langsung memeluknya dengan erat.
“Ke…Kenn, kau membuat ku geli! sudah lah, ayo kita pergi! Kak Tian pasti sudah menunggu kita!” Seru Jenny mengalihkan perasaannya yang hampir terlena dengan perlakuan manis suaminya.
“Emm…ok! tapi tunggu sebentar ya, aku akan meneleponnya dulu sebelum kita naik pesawat!” Ucap Kenny yang segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana yang di gunakan.
“Kenapa harus menunggu lagi sih Kenn, nanti keburu ketinggalan pesawat kalau tidak bergegas!” Gerutu Jenny.
Kenny tak menggubris ucapan istrinya, dia terus menunggu Tian menjawab panggilan darinya. Setelah terhubung, Kenny segera meminta Asisten andalannya itu untuk menyiapkan pesawat pribadi milik keluarga Alvaro. Kenny pikir istrinya akan semakin uring-uringan jika mereka ikut naik pesawat biasa meski mereka duduk di kelas komersil.
“Ayo!” Seru Kenny setelah mengakhiri sambungan teleponnya.
“Hm… kenapa aku jadi malas untuk ikut ya!” Gumam Jenny pelan, namun masih bisa Kenny dengar dengan jelas.
“Sepertinya insting istriku benar-benar luar biasa, dia seperti tau kalau aku tidak akan membiarkannya tidur barang sebentar pun selama di pesawat nanti.” Batin Kenny seraya menunjukkan seringai licik di bi***nya.
Jenny di buat melongo dan menganga saat Kenny membawanya masuk ke dalam sebuah pesawat yang begitu mewah dan nyaman, bahkan ruangan di dalam pesawat itu lebih mirip seperti hunian mewah klasik di banding ruangan pesawat biasa yang Jenny ketahui selama ini.
“Kenn! kita tidak salah naik pesawat kan?” Tanya Jenny.
“Kenapa harus salah sayang, ini memang pesawat kita, bagaimana? kau suka kan dengan dekorasinya?” Tutur Kenny balik bertanya seraya merentangkan kedua tangannya untuk meminta penilaian Jenny atas dekorasi pesawat pribadi milik keluarganya itu.
“Pesawat kita? maksud ku, aku takut kita salah masuk Kenn, ayo! sebaiknya kita turun lagi dan bertanya pada salah satu petugasnya ya!” Seru Jenny yang hendak menarik tangan suaminya untuk kembali turun dari pesawat tersebut. Namun ternyata Kenny tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berpijak, hingga akhirnya Tian buka suara untuk menjelaskan semuanya.
“Maaf Nona, kalian memang akan menggunakan pesawat pribadi milik Alva corp ini untuk menuju ke Negara A, jadi Nona mohon duduk tenang dan segera memasang sabuk pengaman, karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas!” Tutur Tian menjelaskan.
“A…apa? pesawat pribadi?” Jenny ternganga setelah mendengar penjelasan dari Tian.
.
.
.
.
.
.
.
Happy weekend... 😘
See you next episode guys...