Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 177 # Menjenguk Nenek Martha.



"Amin, Mom! Viky pesankan kalian makan malam ya, kalian pasti belum makan, kan?!" Sahut Viky.


Keesokan harinya, Jenny sudah di nyatakan boleh pulang oleh Dokter. Tanpa mengulur waktu lagi, Jenny membujuk mantan suaminya gara membawanya untuk menjenguk Nenek Martha.


"Kenn, ayolah! aku sudah benar-benar sehat! antar aku ya... please!!" Bujuk Jenny saat Kenny membantunya berkemas untuk pulang dari Rumah Sakit.


"Kau masih harus banyak istirahat sayang, lagi pula, kau kan harus mengerjakan projek kita yang tertinggal, pertunjukannya sebentar lagi loh," Sahut Kenny.


"Tapi kan aku hanya ingin menengok Nenek, Kenn! aku janji deh langsung pulang lagi jika sudah tau kondisi Nenek!" Ucap Jeny seraya mengangkat kedua jari tangannya ke udara.


"Hasit! kau benar-benar keras kepala, Jenn! tapi apa imbalan ku jika kau aku antar ke sana?!" Goda Kenny seraya menarik turunkan sebelah alisnya.


"Dasar pamrih, masa begitu saja minta imbalan sih!" Gerutu Jenny yang membuat Kenny terkekeh.


"Astaga sayang! kau sedang menggoda ku ya?!" Ucap Kenny saat melihat bibir Jenny yang cemberut begitu terlihat seksi dan menggodanya.


"Dasar mesum, siapa juga yang menggoda mu! ayolah Kenn, setidaknya berilah aku alamat Rumah Sakit Nenek, aku juga bisa pergi sendiri ko," Tutur Jenny.


"Tidak! kau tidak boleh pergi sendirian, aku akan selalu mengawal mu kemana pun kau pergi, aku tidak ingin kecolongan lagi seperti kasus putra kita, Jenn!" Sahut Kenny.


"Ya sudah, kalau begitu ayo antar aku!!!" Rengek Jenny.


"Astaga!!! kenapa kau begitu menggemaskan sih, Jenn!!! baiklah, tapi setelah selesai langsung pulang lagi ya!" Tutur Kenny mengalah.


"Ok!" Jawab Jenny antusias.


Pagi menjelang siang itu juga Kenny membawa Jenny beserta sang putra ke Rumah Sakit tempat Nenek Martha di rawat. Hal ini benar-benar di manfaatkan Kenny untuk terus berdekatan dengan mantan istri dan juga putranya.


"Sayang, apa kau lelah?!" Tanya Kenny pada sang putra yang kini tengah duduk manis di pangkuannya.


"Hem... aku ingin tidur Dadd, aku mengantuk," Gumam Ken kecil seraya menguap.


"Tidurlah sayang, Daddy akan menjagamu!" Sahut Kenny seraya membenarkan posisi sang putra agar lebih nyaman tertidur di pangkuannya selama di perjalanan menuju Rumah Sakit.


"Apa masih jauh, Kenn?" Tanya Jenny yang saat ini terlihat tak kalah mengantuk dari sang putra.


"Lumayan sayang, jika kau mau, tidurlah bersandar di bahu ku, aku akan membangunkan mu jika sudah siap mendarat nanti!" Seru Kenny.


"Hem... baiklah! tolong bangunkan aku jika sudah siap mendarat ya," Sahut Jenny yang akhirnya ikut tertidur menyandar di bahu Kenny.


Mereka bertiga saat ini masih dalam penerbangan menuju Negara di mana Nenek Martha di rawat. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Kenny ikut terlelap menyusul sang mantan istri dan juga putranya ke alam mimpi. Mungkin karena terlalu lelah dan juga kurang tidur akibat menjaga Jenny semalaman, membuat pria tampan bertubuh atletis itu ikut menyusul terlelap dengan mudah.


"Sebenarnya kalian itu sangat cocok bersama kembali Tuan, ha... semoga saja Tuhan mempersatukan kalian lagi," Lirih Tian sesaat dia hendak memberi laporan tentang pekerjaan pada Kenny, namun urung dia lakukan karena dirinya malah di suguhkan pemandangan mengharukan. Dimana ketiga anak manusia itu terlelap dengan damainya bersamaan.


15 menit sebelum mendarat, Tian sudah membangunkan majikannya agar bersiap-siap untuk pendaratan. Setelah turun dari pesawat, Kenny dan juga Jenny bersama sang putra segera di jemput oleh mobil mewah yang akan mengantar mereka ke Rumah Sakit dimana Nenek Martha di rawat. Setibanya di depan ruangan perawatan Nenek Martha, Jenny di hampiri Mom Bella dengan tangisnya.


"Jenn, Nenek..." Lirih Mom Bella seraya terisak.


"Sabar Mom, kita harus percaya jika Nenek pasti sembuh lagi," Tutur Jenny menguatkan.


"Tapi Dokter bilang kemungkinan sembuhnya sangat tipis, setelah operasi jantung semalam, Nenek belum sadarkan diri sampai sekarang, Mommy benar-benar takut kehilangannya, Jenn!" Sahut Mom Bella.


"Nenek pasti sembuh Mom, Jenny yakin!' Ucap Jenny menenangkan.


"Oma, kenakan Oma menangis?!" Tanya Ken kecil.


"Oma sedang sedih sayang, di dalam sana Oma buyutnya sedang kritis, kau bantu doa ya, semoga Oma buyut bisa segera sembuh," Tutur Mom Bella berusaha menjawab.


Setidaknya kehadiran Ken kecil di sana mampu membuatnya sedikit terhibur. Mom Bella benar-benar masih belum siap jika harus kehilangan sang Ibunda tercinta, pasalnya Mom Bella juga sebenarnya masih dalam suasana berkabung atas meninggalnya Marsya. Meski Marsya bukan cucu kandungnya, tapi Mom Bella sangat menyayanginya layaknya seorang Oma yang menyayangi cucu kandungnya sendiri.


"Terimakasih sayang, kehadiran mu sedikit membuat Oma terhibur, Ken!" Mom Bella mendaratkan kecupannya di pipi kiri Ken kecil. Perasaannya cukup membaik setelah mendapat dukungan semangat dari sang cucu.


"Apa Jenn boleh masuk, Mom?! Jenny ingin melihat langsung keadaan Nenek di dalam!" Tanya Jenny meminta izin.


"Masuklah sayang, biar Ken Mommy yang jaga di sini, karena di dalam masih belum boleh masuk banyak orang, hanya 2 orang saja yang bisa memeriksa ke dalam," Tutur Mom Bella.


"Kalau begitu aku akan menemanimu ke dalam sayang, ayo!" Sahut Kenny seraya merangkul bahu Jenny.


"Jangan seperti ini Kenn, aku bisa berjalan sendiri," Sanggah Jenny.


"Tapi kau juga baru saja pulih sayang, aku hanya khawatir kau pingsan lagi," Tutur Kenny.


"Aku benar-benar sudah membaik, Kenn! kau tidak perlu khawatir," Sahut Jenny.


"Sudahlah, sebaiknya kalian masuk ke dalam sekarang, sepertinya kedua orangtuanya Viky sebentar lagi akan datang untuk menengok Nenek juga ke dalam, jadi kalian bergegaslah!" Saran Papah Oscar.


"Papah benar sayang, ayo kita masuk sekarang!" Seru Kenny yang membuat Jenny tak bisa protes lagi.


Kedua mantan suami istri itu akhirnya masuk ke dalam ruangan rawat Nenek Martha. Perlahan, Jenny mendudukkan diri di kursi yang tersimpan di samping tempat Nenek Martha terbaring. Setetes air mata dari kedua mata indah Jenny pun meluncur begitu saja saat melihat tubuh renta wanita tua di depannya itu.


"Nek... ini Jenny, Nenek harus sembuh, Nenek harus segera siuman, Nenek pasti bisa melawan penyakit Nenek ini," Isak Jenny.


Kenny yang melihat interaksi tersebut hanya bisa mengusap sebelah bahu Jenny untuk menabahkan mantan istrinya itu.


"Nek, apa Nenek tau? Jenny sudah membesarkan cicit Nenek dengan baik, dia tumbuh sangat tampan seperti Kakek George, Jenny mohon segeralah siuman, Nek!" Isak Jenny semakin pilu.


Kedua tangannya meremas lembut salah satu tangan Nenek Martha yang masih tak sadarkan diri. Jenny benar-benar sedih karena belum sempat bertemu dan berbincang lagi dengan Nenek Martha setelah kepulangannya kembali ke Tanah Air.


Sesaat Jenny masih terisak, tiba-tiba saja tangan Nenek Martha merespon genggaman tangan Jenny yang masih bertautan dengan tangan Nenek Martha.


"Kenn, tangan Nenek bergerak, aku bisa merasakan dia meremas balik tanganku tadi," Tutur Jenny berbinar.


"Benarkah?! kalau begitu aku akan panggilkan Dokter untuk memastikannya, Jenn!" Sahut Kenny seraya menekan tombol untuk memanggil Dokter.


Tak menunggu lama Seorang Dokter dan dua suster Oun datang menghampiri mereka di ruangan Nenek Martha.


"Dok, baru saja Nenek merespon genggaman tangan saya, apa ini pertanda jika Nenek akan siuman?!' Tanya Jenny antusias saat Dokter sudah tiba di ruangan tersebut.


"Sebentar Nyonya, biar saya periksa dulu pasiennya ya!" Seru Dokter seraya memeriksa beberapa alat yang terpasang di tubuh Nenek Martha dan memeriksa keadaan wanita tua itu secara rinci.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya kalo Mom belum bisa balas mampir di beberapa novel teman-teman author yang lainnya, Mom masih sibuk di dunia nyata nih 😅🙏🏻 harap maklum ya guys... ✌🏻✌🏻


See you next episode 😘😘😘