
3 bulan setelah melahirkan. Jenny memutuskan tinggal kembali di rumahnya yang dulu, yang pernah dia tinggali bersama Kenny. Kehidupan mereka benar-benar semakin lengkap dan bahagia setelah kehadiran bayi keduanya, Keanza Alexavaro. Nama bayi cantik yang menambah kebahagiaan keluarga kecil mereka itu di pilih setelah kedua pasangan pasutri tersebut menyepakatinya.
"Kenn, apa kau sudah tau kabar Kak Tian?" Tanya Jenny setelah meletakkan baby Kea ke dalam box bayi nya.
"Tian? ada apa dengannya?" Sahut Kenny balik bertanya yang kini tengah menunggu sang istri merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mereka.
"Haist! kau benar-benar bos yang kurang peka, Kenn!" Rutuk Jenny.
"Kurang peka? maksud mu apa sayang? aku benar-benar tidak mengerti?!" Tanya Kenny kembali.
"Kak Tian sepertinya sudah sangat ingin menikahi Tantri, tapi kau masih saja memberinya banyak pekerjaan! masa begitu saja tidak tau sih?!" Tutur Jenny yang kini sudah menidurkan dirinya di atas tempat tidur mereka.
"O...oh, he... aku memang tidak terpikirkan ke sana sayang!" Sahut Kenny seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Astaga! kau benar-benar kejam ternyata, pokoknya besok kau harus memberinya cuti selama dua bulan penuh, dan satu lagi! kita harus merayakan pernikahannya semeriah mungkin, Kenn! Kak Tian dan Tantri sudah sangat banyak berjasa untuk kita, jadi anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih sekaligus hadiah pernikahan dari kita untuk mereka," Tutur Jenny panjang lebar.
"Kenapa istriku pintar sekali?! aku akan menuruti semua perintah mu, Ratu!" Ucap Kenny menjawab seraya mengecup singkat bibir Jenny.
"Ihhh... dasar mesum, beraninya curi-curi terus!" Gerutu Jenny yang kesal namun sebenarnya dia senang sekaligus malu karena Kenny tiba-tiba saja menyambar bibirnya.
"Apa itu berarti aku boleh melakukan yang lebih jika meminta izin?!" Goda Kenny seraya menarik turunkan sebelah alisnya.
"Dasar mesum, aku mengantuk, Kenn! aku mau tidur!" Sahut Jenny seraya merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Kenny.
Namun bukan Kenny namanya jika hanya diam saja melihat mangsa terdampar di depan mata. Seketika itu juga, pria tampan bertubuh atletis itu mencum** tengkuk sang istri dengan begitu lembut. Kedua tangannya pun dia kerahkan menelusuri setiap titik sensitive milik sang istri, membuat pertahanan yang tadinya Jenny bangun menjadi goyah dan terbawa arus. Alhasil malam itu keduanya kembali berolah raga untuk yang kesekian kalinya setelah Jenny habis masa nifasnya.
Pagi harinya, Jenny sudah di sibukkan dengan menyiapkan sarapan untuk kedua jagoannya, Kenny dan Kenji. Saat ini Kenji sudah mulai masuk sekolah. Meski baru tingkat taman kanak-kanak, namun Jenny bersyukur karena sekarang trauma Kenji sudah perlahan sembuh. Dia juga sudah banyak memiliki teman di sekolahnya yang baru.
"Mom, pulang sekolah nanti aku ingin mampir ke rumah Oma ya! aku ingin menginap di sana, besok kan sekolah libur, boleh ya?!" Seru Kenji di sela melihat sarapannya.
"Emm..." Jenny bergumam.
"Boleh, tapi kau jangan nakal ya! nanti Daddy akan antar kan kau ke sana setelah pulang sekolah," Sahut Kenny.
"Yeay! terimakasih Daddy, Ken sayang... sama Daddy," Celoteh Kenji kegirangan.
"Mommy juga gak di sayang nih?!" Ucap Jenny pura-pura merajuk.
"Sayang dong, Ken juga sayang sama adik Kea, Ken sayang kalian semua pokoknya," Sahut Ken kecil berapi-api.
Jenny dan Kenny tergelak melihat tingkah putra pertamanya, meski kini sudah hadir adik perempuannya, namun tak membuat pria kecil menggemaskan itu cemburu pada kasih sayang kedua orangtuanya. Karena baik Jenny mau pun Kenny, keduanya benar-benar selalu memberikan kasih sayangnya secara adil.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita berangkat ya, kau sudah selesai kan sarapannya? kalau kita tidak bergegas, jalanan akan terburu macet!" Seru Kenny seraya menenggak minumannya setelah berbicara.
"Sudah, Dadd! aku juga sudah siap berangkat ko!" Sahut Ken kecil seraya mengusap mulutnya dengan kain khusus mengelap mulut yang selalu Jenny sediakan di meja makan mereka.
"Ya sudah, yang rajin ya belajarnya! dan ingat pesan Daddy tadi, kau tidak boleh nakal selama menginap di rumah Oma, ok?!" Tutur Jenny seraya membantu sang putra mengenakan tas sekolahnya.
"Siap Mom!" Jawab Kenji bersemangat yang menuai usapan gemas di kepalanya oleh Jenny.
"Kea belum bangun ya, aku berangkat ya sayang," Pamit Kenny seraya mengecup kening Jenny.
"Hati-hati, jangan lupa cuti Kak Tian ya!" Tegur Jenny mengingatkan seraya membenarkan dasi sang suami.
"Akan aku usahakan sayang, ya sudah aku berangkat sekarang ya! ayo Ken kita berangkat sekarang!" Seru Kenny seraya mengulurkan tangan pada sang putra untuk menggandengnya.
"Selamat pagi cantiknya Mommy, Kea baru bangun ya sayang! cup...cup...cup... kau lapar ya? apa popok mu penuh juga?!" Cecar Jenny bermonolog.
Jenny sengaja memberi jadwal baby sister dan juga pelayan rumahnya untuk datang di waktu setelah sang suami berangkat bekerja. Jenny tidak mau jika perannya sebagai seorang istri sekaligus Ibu untuk putra putrinya di ambil alih seluruhnya oleh kedua pekerja di rumahnya itu.
Dengan telatennya, Jenny mengurus sang putri. Mulai dari memandikan, mengganti popok, memakaikan pakaian sampai memberi asi eksklusif yang dia pilih selagi ASI-nya masih subur.
"Nah... sudah selesai, sekarang kita berjemur di teras belakang ya sayang!" Ucapnya seraya menggendong sang putri dan membawanya ke teras belakang rumahnya.
Bertepatan dengan itu, kedua pekerja di rumah Kenny yang tak lain Tantri dan juga Mini yang bertugas sebagai baby sister yang membantu Jenny mengurus sang putri, berdatangan secara beriringan. Mereka segera melakukan tugas mereka masing-masing setelah Jenny membukakan pintu rumahnya bersama sang putri.
"Selamat pagi Nyonya,".
"Selamat pagi, Tri! aku ingin bicara dengan mu, kau ikut aku sebentar ke ruang televisi ya!" Seru Jenny. Dengan sigap Mini sang baby sister mengambil alih baby Keanza dari gendongan Jenny.
"Baik Nyonya," Tantri mengekor Jenny ke arah ruang televisi.
Setelah keduanya duduk di sofa ruangan televisi, Jenny memulai perbincangan mereka yang akan membahas perihal hubungan Tantri dengan Tian.
"Tri, bagaimana hubungan mu dengan Kak Tian? apa dia sudah melamar mu?" Tanya Jenny to the poin.
"Emm... sebenarnya kami sudah merencanakan pernikahan sejak sebulan yang lalu Nyonya, tapi sepertinya Tuan Tian masih sangat sibuk," Sahut Tantri seraya menunduk.
"Astaga! jadi Kenny benar-benar memberinya pekerjaan yang begitu banyak ya akhir-akhir ini, ha..." Gumam Jenny memijat kepalanya yang sedikit pusing.
Tantri tak berani menjawab, dia hanya semakin menundukkan kepalanya karena tak ingin di anggap sebagai tukang mengadu oleh sang majikan.
"Ya sudah! mulai besok kau urus pernikahan kalian saja ya, urusan membersihkan rumah biar aku sendiri saja yang ambil alih, mungkin nanti aku akan menarik Bibi Rosa saja kemari! kau fokuslah pada persiapan pernikahanmu itu, kalau kau butuh bantuan ku, jangan sungkan bicara ya!" Tutur Jenny panjang lebar.
Seketika Tantri mengangkat kepalanya, dia pikir Jenny sedang memecatnya secara tidak langsung.
"Tapi Nyak, saya masih ingin bekerja di sini! saya masih bisa bagi waktu saya ko dengan mengurus pernikahan, lagi pula kami hanya akan mengadakan pesta sederhana, jadi tidak akan terlalu banyak persiapan!" Sahut Tantri.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?! pokoknya aku akan buat pernikahan kalian semeriah mungkin, aku ingin pernikahan kalian ini yang pertama dan yang terakhir yang bisa kalian selalu kenang sepanjang umur," Tegas Jenny.
"Tapi Nyak..." Ucap Tantri tercekat kala Jenny menyanggahnya.
"Sudah! tidak ada tapi- tapian, Tri! pokoknya besok kau tidak perlu bekerja lagi, kau fokuslah pada pernikahan mu!" Sahut Jenny.
.
.
.
.
.
.
.
Bonus buat kalian guys, Mom mau kasih cerita sedikit tentang pernikahannya Tian aja deh, kasian bang Tian udah ngebet pengen nikah tuh 😅😅 semoga suka... 😘😘😘