
“Kenn, aku akan bunuh diri jika kau menceraikan ku! kau pasti sakan menyesalinya!” Ucap Gea bersungguh-sungguh.
Wanita itu sudah sangat frustasi dengan segala yang menimpah dirinya, betapa tidak. Sejak kelumpuhan yang di deritanya dia sangat kesulitan dalam berbagai hal, bahkan untuk sekedar mandi dan buang air saja dia harus di bantu oleh seorang perawat. Di tambah lagi sekarang kebohongannya terbongkar semua, dan Kenny juga ingin menceraikannya. Dia benar-benar tidak menginginkan itu semua terjadi. Gea pikir, hidupnya tidak berarti lagi jika semua keinginannya tidak dia dapatkan, sehingga wanita itu memilih nekat mengakhiri hidupnya dengan meraih pisau bedah yang berada di ruangan tersebut dan langsung menancapkan di perutnya sendiri.
Jlebb…
“GEA!!” Teriak Mark histeris.
“Astaga! wanita ini benar-benar menyeramkan ternyata, DOKTER!!! cepat kemari!!” Teriak Kenny yang tak kalah panik saat melihat darah segar yang bercucuran dari perut Gea, dengan sigap Dokter melakukan pertolongan untuk menyelamatkan nyawa Gea, namun sayangnya, Gea harus menghembuskan nafas terakhirnya kala darah yang terus mengalir dari perutnya tak bisa Dokter hentikan.
“Maaf Tuan, kami sudah melakukan yang kami bisa, kami turut berduka cita!” Tutur Dokter setelah selesai menangani Gea yang tak tertolong nyawanya.
“A…apa? Gea tidak mungkin mati Dokter! ini tidak mungkin terjadi! Ge! bangun sayang! ayo kita pulang, aku akan membawa mu kembali ke rumah kita! Ge! bangun Ge!!” Racau Mark yang begitu frustasi saat mendengar Gea tak bisa terselamatkan.
Setelah kematian Gea, Mark kian menjadi dan terpaksa di masukan ke Rumah Sakit jiwa karena terus membabi buta saat melihat siapa saja yang menghampirinya. Marsya kecil yang baru berumur beberapa bulan itu akhirnya harus terpisah dari kedua orangtuanya, beruntung Kenny tak mengabaikan bayi kecil tak bersalah itu, dia memilih merawat Marsya seperti anak kandungnya sendiri.
Flash back done.
Sesampainya di Apartemen, Kenny segera merebahkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang kembali ke masa saat dia hidup bahagia bersama Jenny.
“Jenn, apa aku bisa bertemu lagi dengan mu?” Gumam Kenny seraya menitihkan bulir bening dari ujung matanya.
Keesokan harinya Kenny dan keluarganya memutuskan bersiap pulang ke Tanah Air, Kenny harus segera mengurus pekerjaannya yang beberapa hari ini dia tinggalkan berkunjung ke Negara M untuk menjenguk Renata dan bayinya.
“Daddy, apa aku bisa bertemu lagi dengan Ken suatu hari nanti?” Ucap Marsya yang terlihat begitu sedih saat harus pergi dari Negara yang baru dia singgahi beberapa hari itu.
“Tentu saja sayang, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dengannya,” Sahut Kenny.
“Hm… Ken teman pertama ku, semoga saja kita bisa sering bertemu kedepannya,” Ucap Marsya penuh harap.
Kenny yang mendengar keluhan putrinya itu merasa sangat terharu, pasalnya selama ini Marsya memang tidak pernah berteman dengan siapa pun, karena penyakit yang di deritanya membuat Kenny menjaganya sangat ketat, dia tidak membiarkan Marsya keluar dari rumahnya jika bukan bersamanya atau sekedar control dan berobat ke Rumah Sakit.
“Sayang, ayo! pesawatnya sebentar lagi lepas landas, sebaiknya kita bergegas ya!” Seru Mom Bella seraya meraih bahu cucu nya dan menggiringnya ke arah pesawat pribadi milik keluarga Alvaro.
Marsya menoleh sebentar sebelum melangkahkan kakinya ke dalam pesawat, dia sungguh berharap jika dia bisa bertemu lagi dengan Ken suatu hari nanti.
“Ken, aku harap kita akan bertemu lagi suatu hari nanti!” Batin Marsya.
Di kediaman Milano, tepatnya rumah milik orangtua Jonathan di Negara M. Jo yang sudah biasa menyuapi Ken kecil sarapan, terlihat semakin mahir membujuk bocah menggemaskan itu untuk menyuapkan nasi ke mulut mungilnya.
“Anak pintar! Uncle akan membelikan mu robot terbaru lagi kalau kau menghabiskan sarapan ini,” Tutur Jo seraya mengusap bibir Ken yang terlihat belepotan.
“Benarkah?” Tanya Ken antusias.
“Tentu saja, Uncle kan tidak pernah berbohong, ayo! sebaiknya sekarang kau habiskan dulu makanannya, ok!” Seru Jo seraya menyuapkan kembali sesendok makanan ke dalam mulut mungil Ken.
“Apa kau mau kembali ke Tanah Air Jenn? kapan?” Sahut Oma Dona ikut bertanya dengan antusias. Dia yang paling ingin melihat Jenny bisa bangkit dari keterpurukannya, Wanita tua itu sangat sedih ketika mengetahui kebenaran Jenny lima tahun silam.
“Jenny akan kembali Oma, Bu! keputusan Jenny sudah bulat! Jenn, akan tunjukkan pada mereka semua kalau Jenn bisa bahagia tanpa mereka.
“Apa kau serius Jenn? jika kau masih ragu, sebaiknya kau jangan pergi saja,” Ucap Jo menimpali.
“Aku sudah siap Kak, aku harus bangkit dan memulai semuanya dari nol lagi, aku juga ingin mengunjungi Kak Aldo di sana, mungkin saat ini aku akan tinggal hingga pekerjaanku selesai dulu, selanjutnya aku akan memikirkannya nanti,” Tutur Jenny mantap.
“Jo, kau tidak perlu khawatir! lagi pula di sana ada Aldo yang Ibu yakin tidak akan membuat adikmu dalam bahaya, kau tau sendiri kan bagaimana Aldo menjaga Jenny beberapa tahun ini?!” Sahut Ibu Erika.
“Ibu benar Kak, jadi kau tidak perlu khawatir lagi ya! atau kalau kau tidak sibuk kenapa kau juga tidak ikut saja bersama kami?” Ucap Jenny.
“Em… akan aku pikirkan lagi nanti Jenn,”.
“Wah makanannya sudah habis! kau semakin lahap makan akhir-akhir ini, Ken!” Seru Jo mengalihkan kekhawatiran nya dengan membantu Ken membersihkan mulut mungilnya yang sudah selesai mengunyah.
“Aku kan ingin cepat tumbuh besar, Uncle! Aku ingin melindungi Mommy dari orang-orang jahat! aku kan sangat menyayangi Mommy, jadi aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya,” Oceh Ken kecil dengan tingkah menggemaskannya. Seketika semua orang di ruang makan tersebut terkekeh penuh haru dengan tingkah polos ria kecil menggemaskan itu.
Dua hari kemudian, tepatnya hari keberangkatan Jenny ke Tanah Air. Semua persiapan sudah terlihat rapih dan siap di angkut oleh beberapa pengawal yang Jo perintahkan untuk menemani Jenny, Ken dan kedua wanita lainnya yang dia sayangi. Sayangnya hari itu Jo belum bisa ikut pulang ke Tanah Air karena beberapa pekerjaannya yang masih harus dia selesaikan. Akhirnya Jo mengutus Dion dan dua orang pengawalnya untuk menemani Jenny dan yang lainnya bertolak ke Tanah Air mereka.
“Sayang, kau baik-baik di sini ya!” Ucap Oma Dona.
“Tentu Oma, Oma jangan khawatir! Jo sudah biasa hidup mandiri, seharusnya kalian yang berhati-hati di sana, ya!” Sahut Jo seraya memeluk wanita tua yang selama ini selalu menemani dan menyayanginya.
“Kami pasti baik-baik saja, sayang! kalau begitu kami pergi sekarang, ya!” Seru Ibu Erika bergantian memeluk sang putra angkat.
Setelah kedua wanita berbeda generasi tadi berpamitan, kini giliran Jenny yang menghampiri sang Kakak yang semakin terlihat tampan di usianya yang semakin matang, bahkan seharusnya Jo saat ini sudah memiliki kekasih atau pun istri, namun sepertinya pria tampan itu masih senang melajang dan menghabiskan waktunya dengan bisnis yang dia kelola.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys… 😘😘😘