
"Aku..." Sahut pria asing tersebut tercekat kala ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
"Maaf, aku harus menerima panggilan ini dulu, tidak apa-apa, kan?" Tanya pria asing tersebut dengan sopan.
"Tentu, angkatlah... siapa tau telepon itu sangat penting untukmu!" Sahut Jenny yang akhirnya memilih menghampiri bibir pantai seraya merentangkan kedua tangannya.
Kedua kelopak matanya terpejam menikmati merdunya deburan ombak, menghanyutkan semua pikiran kusutnya yang sedang dia pukul saat ini.
"Tuhan, jika aku boleh meminta, aku hanya ingin hidup damai bersama putraku, aku tidak menginginkan apa pun lagi selain melihat Kenji tumbuh dewasa dan bahagia," Batin Jenny.
Sementara pria asing yang sedang menerima telepon tadi nampak terpesona dengan aura kecantikan Jenny yang semakin bertambah kala angin pantai yang menyapu rambut indahnya. Membuat wajah cantiknya semakin terlihat sempurna dan bercahaya.
"Benar-benar ciptaan Tuhan yang paling sempurna." Gumam si pria asing.
Nampaknya pesona Jenny telah membuat pria asing itu lupa jika dia masih dalam sambungan telepon yang masih terhubung, sehingga membuat si penelpon beberapa kali menegurnya dengan menyerukan nama pria asing tersebut.
"Vik!!! Viky!!! kau masih di sana kan?? haist... kenapa dengan pria play boy ini sih?!" Gerutu Kenny yang tak lain orang yang menelepon pria asing tersebut yang ternyata memiliki nama Viky.
"Ha... suara ombak ini benar-benar membuatku tenang," Gumam Jenny yang tak menyadari jika Viky sudah berada tepat di sampingnya.
"Apa kau sangat menyukai ombak?!" Tegur Viky yang membuat Jenny terkejut hingga kehilangan keseimbangannya saat berpijak di pasir yang lembut itu.
Seketika tubuh rampingnya siap terpelanting, beruntungnya Viky segera meraih pinggang Jenny dan menopangnya sekuat tenaga.
"Ahhh..." Pekik Jenny.
Deg.
"Kenapa wajahnya semakin cantik jika di lihat lebih dekat, rasanya aku sangat ingin mencicipi bibirnya yang merah segar itu," Batin Viky.
"Astaga, lama-lama pria asing ini benar-benar membuatku kesal, bisa-bisanya dia membuatku terkejut, untung aku tidak jadi jatuh! kalau tidak, aku pasti tidak akan memaafkannya," Batin Jenny.
"Kau tidak apa-apa Nona? maaf jika aku mengejutkanmu," Tutur Viky bertanya.
"A...ahh... aku tidak apa-apa Tuan, terimakasih sudah menolong ku!" Ucap Jenny seraya membenarkan posisi tubuhnya untuk berdiri dengan benar.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, semalam tinggal Tuan," Tutur Jenny seraya melangkah.
Grepp...
Jenny kembali mematung kala salah satu pergelangan tangannya di cekal Viky.
"Tunggu! biar aku antar ya! kau tinggal dimana?!" Tanya Viky.
"Sebenarnya maunya apa lagi sih, tidak bisa ya membiarkan aku pergi begitu saja?" Batin Jenny menggerutu.
"Tidak perlu repot-repot Tuan, aku bisa pulang sendiri ko, lagi pula rumah ku tidak jauh ko dari sini!" Sahut Jenny.
"Baiklah kalau begitu, tapi... apa kita bisa bertemu lagi? aku harap kau tidak keberatan jika suatu hari nanti kita bertemu lagi di suatu tempat," Tutur Viky.
"Kita lihat saja nanti, Tuan! kalau begitu sampai jumpa lagi," Sahut Jenny dengan senyum yang membuat Viky semakin tergila-gila padanya.
"Sepertinya aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, perempuan itu benar-benar sangat berbeda," Gumam Viky.
Jenny terus mengayunkan kakinya menuju pinggiran jalan besar yang di lalui kendaraan, namun meski begitu di sana hanya di lewati kendaraan pribadi saja, sangat sulit untuk memesan atau menemukan angkutan umum seperti bus atau pun taksi.
"Sepertinya itu Nona, aku harus bergegas, aku tidak boleh terlambat sedikit pun!" Gumam Bruno dari dalam mobil yang dia kemudikan seraya menghampiri Jenny yang tengah berdiri lesu di tepian jalan.
"Nona, akhirnya saya menemukan anda juga, Tuan berpesan agar Nona segera pulang sekarang, karena Tuan mudah Ken sedang menangis ingin bertemu di mansion Nyonya besar saat ini," Tutur Bruno setelah menepikan mobil majikannya.
"Astaga, aku sampai melupakan putraku! ya sudah kalau begitu antar aku menemuinya sekarang ya Kak," Seru Jenny seraya masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju Vila terlebih dahulu, membuat Jenny kembali di dera kesal pada manta suaminya itu.
"Maaf Nona, tapi apa Nona tidak ingin mengambil barang-barang Nona terlebih dahulu sebelum pulang?" Sahut Bruno mengingatkan.
"Ah, iya benar! tas dan ponselku masih ada di dalam kamar, tunggu sebentar ya, kak!" Tutur Jenny bergegas turun.
Bertepatan dengan itu, Kenny keluar dari pintu utama Vila sambil menenteng tas milik mantan istrinya.
"Apa kau ingin mengambil ini?!" Tanya Kenny seraya mengulurkan tas Jenny ke arah mantan istrinya itu.
"Ah... terimakasih," Ucap Jenny sambil mencoba meraih tas tersebut, namun dengan sigap Kenny menyembunyikannya di baling punggungnya.
"Kenn, ayolah! aku tidak mau bermain-main lagi, Ken sedang menangis sekarang, aku harus segera menemuinya," Seru Jenny.
"Kita akan menemuinya bersama sayang, ayo!" Sahut Kenny seraya melenggang mendahului Jenny.
"Haist!!! pria ini benar-benar menyebalkan!" Rutuk Jenny yang akhirnya ikut membuntuti Kenny karena khawatir pada sang putra yang di kabarkan tengah menangis menunggunya.
Padahal itu semua hanya ide Kenny saja yang di laksanakan oleh Bruno. Kenyataannya Ken kecil saat ini tengah bersenang-senang bersama Opa dan Omanya yang mengajaknya berenang di kolam samping mansion nya.
"Lagi Opa, lagi!!! Ken mau terjun seperti tadi lagi!" Seru Ken kecil dengan riang.
"Ok, bersiaplah ya.. Opa akan menghitung sampai tiga untuk persiapan meluncurnya lagi sayang,1, 2, 3... meluncur..." Sahut Papah Oscar tak kalah riang gembira menemani sang cucu menikmati perosotan yang di belinya dadakan semalam.
Byurrr...
"Mau lagi, mau lagi..." Ucap Ken kecil yang nampak tak ada puasnya.
"Ken, sudah dulu sayang, kau belum mengisi perut mu dengan makanan sejak tadi, kita makan dulu ya, habis itu kau bisa melanjutkan berenang lagi nanti!" Seru Mom Bella menegur.
"Yahh Oma, tapi Ken sedang seru, sebentar lagi ya... please..." Tutur Ken kecil memohon.
"Ahahaha... lihatlah cucu tampan kita Mom, dia benar-benar menggemaskan jika sedang memohon seperti itu," Sahut Papah Oscar terbahak.
"Haist!! Papah memang benar, ya sudah kalau begitu Oma akan bawa makanannya kemari saja deh, tetap hati-hati ya sayang!" Ucap Mom Bella.
...****************...
"Sayang, apa hari ini kita jadi pergi? sepertinya Fano sudah sangat tak sabar ingin segera bertemu Kakaknya!" Seru Renata yang kini tengah menggendong sang putra yang tengah menangis tak biasanya.
"Tentu sayang, aku sudah menelpon Tante Bella juga tadi, katanya Ken saat ini sedang berenang di mansion bersama Om Oscar," Sahut Erfan.
"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang saja ya!" Seru Renata.
Dan hal itu ternyata benar-benar membuat bayi Fano langsung terdiam dari tangisnya, sepertinya bayi mungil itu benar-benar ingin bertemu sang Kakak sesuai janji kedua orangtuanya.
.
.
.
.
.
.
.
Mom kasih bonus Tahun baru nih... Mom kasih spesial dua bab hari ini, jangan lupa dukungannya yang buanyakkkk ya guys 😁😁😁
See you next episode... 😘😘😘