Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 161 # Ciuman yang tercuri lagi.



Naasnya kakinya kembali tergelincir karena lantai yang sedikit licin dan membuatnya terjatuh tanpa aba-aba menimpa tubuh Jo yang berada tak jauh dari posisinya saat itu.


Brukkk...


Posisinya mereka terjatuh membuat mereka kembali menempelkan bibir keduanya tanpa sengaja.


"Emm... kau mencuri ciumanku lagi Tuan!! kenapa kau selalu mesum sih!" Rutuk Anggun yang masih betah berada di atas tubuh Jo yang tertindih oleh tubuhnya saat terjatuh.


"Astaga! Nona, kau yang lebih dulu menarik ku barusan, seharusnya kau minta maaf dan bertanggung jawab dengan punggungku yang terasa remuk ini, tubuhmu benar-benar terasa sangat berat!" Sahut Jo seraya memekik kesakitan.


"Hah! astaga!! maaf-maaf, ayo aku bantu berdiri!!" Seru Anggun segera beranjak dari tubuh Jo dan membantu pria tampan itu untuk duduk di sofa ruang televisi.


Karena merasa bersalah, Anggun berniat menebusnya dengan mengobati punggung Jo dengan minyak urut yang dia punya, meski awalnya Jo menolak tapi sepertinya punggungnya memang membutuhkan minyak urut tersebut sebagai peredam nyeri. Mau tak mau akhir ya Jo bersedia menerima tawaran Anggun.


"Aku akan mencari minyak urut dulu, Tuan tunggu sebentar ya!" Seru Anggun.


"Tunggu!! minyak urut untuk apa?" Cegah Jo.


"Tentu saja untuk membalur punggung Tuan, aku rasa sakitnya akan sedikit berkurang jika di balur dengan minyak urut milik ku, sebentar! aku cari dulu minyak nya ya," Sahut Anggun yang kembali melenggangkan kakinya ke arah kamar untuk mencari minyak yang dia butuhkan.


"Haist! kau tidak perlu melakukan itu, punggungku tidak apa-apa ko!" Ucap Jo yang masih bisa di dengar oleh Anggun karena jarak ruang televisi dan kamarnya sangat berdekatan.


"Tidak apa-apa Tuan, aku hanya ingin menebus kesalahanku padamu, jadi tunggulah sebentar! nah... aku sudah menemukannya," Gumam Anggun dari dalam kamarnya.


"Tapi..." Ucap Jo tercekat.


"Sudahlah Tuan, kau berbaring telungkup saja sekarang, aku akan melakukannya dengan hati-hati, aku janji!" Seru Anggun meyakinkan.


"Ha... baiklah!" Sejurus kemudian Jo pun membuka pakaian atasnya agar memudahkan Anggun untuk mengolesi punggung nya dengan minyak urut.


"Astaga! mataku ternodai oleh tubuh seksinya," Batin Anggun seraya memejamkan kedua matanya saat melihat Jo melepas pakaiannya.


Jo yang menangkap kegugupan Anggun kembali di dera rasa ingin menggodanya, entah mengapa dia begitu mudah dekat dengan Anggun, padahal selama ini dia selalu bersikap dingin pada wanita mana pun selain Jenny, Ibu Erika dan Oma Dona.


"Kenapa dia terlihat menggemaskan begini, apa aku harus menggodanya lagi?!" Batin Jo.


Anggun yang masih di landa rasa gugup dan gelisah, masih asik memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Meski gadis cantik itu menyukai Jo, namun Anggun tak pernah berpikir jika dia bisa sampai sedekat ini dengan Jo.


"Apa Tuan Jo sudah telungkup? Ya Tuhan kenapa degup jantungku kencang sekali?! aku rasa aku harus pergi ke Dokter untuk memeriksa kesehatan jantungku," Gumam Anggun dalam hatinya seraya mencoba mengintip keadaan Jo dengan sedikit membuka ujung matanya.


"Kau sedang apa? apa tubuhku begitu mengerikan ya sampai kau memejamkan mata?!" Tanya Jo yang sudah berada tepat di depan wajah Anggun.


"Ti...tidak Tu...Tuan, bu...bukan begitu, aku hanya tak terbiasa melihat punggung seorang pria," Ucap Anggun polos.


Seketika ide gilanya Jo semakin meronta ingin di salurkan. Pria tampan itu terus mendekatkan wajahnya kembali ke arah wajah Anggun yang terus mundur menghindar, hingga akhirnya Anggun tak dapat bergerak mundur lagi karena terpentok sandaran sofa yang menyandar langsung pada dinding kokoh Apartemennya.


"Tu...Tuan, kau mau apa?" Tanya gugup Anggun.


"Kau rasa aku sedang apa?" Hembusan nafas keduanya sudah semakin dekat dan beradu menyapu masing-masing wajah mereka yang sudah sangat dekat.


Cup...


"Itu hukuman untuk mu karena sudah membuat punggung ku sakit!" Gumam Jo tanpa merasa bersalah setelah mendaratkan satu kecupannya di bibir ranum Anggun.


"Astaga! ciuman kedua ku..." Rengek Anggun dalam hatinya.


Meski dia juga tak menampik dengan ciuman itu, namun Anggun sungguh masih terlalu malu jika secepat itu harus beradu ciuman kembali dengan Jo.


"Kenapa? apa hukumannya masih kurang?" Tanya Jo yang di hiasi dengan seringai di bibirnya.


"Ti...tidak-tidak! sebaiknya sekarang Tuan telungkup saja, aku akan mengolesi punggung Tuan sekarang!" Seru Anggun seraya mengarahkan tubuh Jo agar segera telungkup.


Namun hal yang tak terbayangkan oleh Anggun terjadi lagi. Dengan santainya Jo menggunakan paha Anggun sebagai bantalan seraya bersiap di olesi minyak urut di punggungnya.


"Astaga! bisa mati terkejut aku! kenapa dari tadi sikap Tuan Jo terus membuatku jantungan sih?!" Batin Anggun seraya mulai menuang minyak urut untuk membaluri punggung Jo.


"Ah... ti...tidak juga Tuan, aku hanya sedikit terkejut," Jujur Anggun.


"Maaf, tapi kau tidak memberikan aku bantal sih, jadi aku berinisiatif sendiri menjadikan paha mu bantalan, kau tidak keberatan, kan?!' Tutur Jo.


"I...iya sudah, aku akan membalur punggung Tuan sekarang, kau berhentilah bicara," Sahut Anggun seraya memulai mengoleskan minyak urut secara merata di punggung Jo.


Seketika, Jo merasa ada seribu bulu angsa yang menggelitik di perutnya, entah apa yang pria itu rasakan pastinya, namun seperti ya Jo menikmati sekali sentuhan Anggun tersebut. Bahkan dia sampai terjun ke alam mimpinya dengan posisi masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang Anggun.


"Apa dia tertidur? tapi kenapa cepat sekali?" Gumam Anggun pelan.


Di tengok nya wajah tampan yang selalu menguasai mimpi-mimpinya. Saat Anggun menundukkan kepalanya dia melihat kedamaian di wajah pria idamannya itu, sepertinya Jo sangat nyaman tidur di pangkuannya. Hingga akhirnya pagi itu Anggun ikut tertidur lagi seraya menopang kepala sang pujaan hati di atas pangkuannya.


...****************...


Kita kembali ke Apartemen. Dimana Jenny dan dua pria yang menyayanginya masih terlihat terlelap di atas tempat tidur yang sama.


"Emm... jam berapa ini?!" Gumam Jenny seraya meraih ponselnya dari atas nakas samping tempat tidur.


"Masih pukul 7, sebaiknya aku siapkan sarapan saja untuk mereka," Ucapnya lagi seraya beranjak menuju dapur.


Dibukanya lemari es milik sang mantan suami, ternyata di sana hanya tersisa telur dan pasta semalam. Beruntung hari masih pagi, sehingga Jenny memiliki kesempatan untuk berbelanja di pasar tradisional terdekat dari Apartemen lama milik Kenny itu.


"Ha... aku rasa ini sudah cukup, aku harus bergegas agar tak kesiangan dan segera pulang ke rumah," Tutur Jenny bermonolog.


Sesampainya di apartemen Kenny, Jenny segera mengolah semua bahan masakan yang sudah di belinya, setelah selesai Jenny pun menata nya di atas meja makan dan berniat membangunkan kedua pria berbeda generasi itu untuk sarapan bersama.


Namun sebelum dia membangunkan kedua pria itu, Jenny memilih membersihkan diri terlebih dahulu.


"Ha... segarnya, aku harus membangunkan mereka sekarang!" Ucap Jenny seraya menghampiri tempat tidur untuk membangunkan kedua pria yang menyayanginya.


"Sayang, ayo bangun! Mommy sudah buatkan sarapan, kau cuci muka dan gosok gigi dulu ya!" Seru Jenny membangunkan sang putra terlebih dahulu.


"Emm... aku masih mengantuk Mom, sebentar lagi ya!" Sahut Ken kecil seraya memeluk badan Kenny yang tidur menyamping ke arahnya.


"Tapi kita harus bergegas pulang Ken, Mommy bisa terlambat bekerja! lagi pula kita harus pulang dulu ke rumah untuk berganti pakaian," Tutur Jenny.


"Hem... jagoan Daddy masih mau tidur ya?" Gumam Kenny yang mulai terusik dan terbangun karena pelukan sang putra.


"Iya Dad, tapi Mommy menyuruhku untuk segera bangun!" Sahut Ken kecil.


"Ayolah Ken, sarapannya nanti keburu dingin, Mommy tidak punya waktu banyak, sayang!" Seru Jenny kembali membujuk.


"Ya sudah kita bangun saja sayang, kasian Mommy sudah membuat sarapan untuk kita," Sahut Kenny membantu membujuk sang putra.


"Tapi sayang, kau masak apa? bukannya di dalam lemari es tidak ada bahan masakan apa pun ya? atau kau pesan online?" Tutur Kenny bertanya mengingat semalam tidak mendapati bahan masakan untuk di olah selain telur dan pasta.


"Aku belanja di pasar tradisional tadi, sudahlah cepat bantu Ken bangun, ini sudah sangat siang, aku masih harus pulang ke rumah untuk mengganti pakaian sebelum berangkat kerja!" Seru Jenny seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuh sang putra.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys... 😘😘😘