
“Tidak perlu Tri, aku akan memakan buah pisang ini saja, kau tolong buatkan susu yang berada di dalam toples di atas lemari penyimpanan saja ya!” Tutur Jenny seraya melahap buah pisang yang sudah dia kupas kulitnya.
Tantri hanya menurut dan segera membuatkan majikannya itu susu yang di pinta Jenny tadi. Dia sedikit heran, karena dia sangat tahu jika Jenny tidak pernah menyukai susu, namun akhir-akhir ini , majikannya itu terlihat memaksakan meminumnya meski dengan cara menutup hidungnya agar tak tercium anyir.
“Ini Nona, apa ada lagi yang anda butuhkan?” Tanya Tantri setelah meletakkan segelas susu hangat di atas meja makan di hadapan Jenny.
“Tidak Tri, terimakasih ya, kau istirahat saja! aku akan membawa gelas ini ke dalam kamar sekarang,” Tutur Jenny seraya beranjak dan melenggang ke dalam kamarnya kembali.
Di sebuah kamar Apartemen, terlihat sepasang manusia yang lebih pantas di anggap sebagai pasangan ayah dan anak baru saja menuntaskan hasrat mereka. Keduanya terduduk bersandar di kepala tempat tidur sambil menikmati segelas wine yang mereka teguk sejak memulai pergumulan panasnya.
“Baby, kau harus segera bertindak cepat, aku sudah tidak bisa menunggu lagi!” Ucap si pria paruh baya yang bernama Mark tersebut.
“Sabar lah Mark, kau bisa menemui ku kapan saja nanti, bahkan kita bisa melakukan hal menyenangkan seperti tadi tiap hari kedepannya jika aku sudah berhasil merusak rumah tangga Kenny dengan gadis kurang ajar itu!” Sahut Gea yang tak lain wanita yang baru saja bergulat panas dengan Mark.
“Hm… baiklah, kalau begitu malam ini aku akan mengurung mu hingga pagi.” Seru Mark yang segera menindih tubuh Gea yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Akhirnya pergumulan panas pun terulang kembali, bahkan mereka seolah-olah tak pernah puas dengan permainannya.
*****
Beberapa hari kemudian, Kenny semakin bersikap dingin, bahkan dia hanya pulang untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian saja, pria itu seolah-olah sudah tak menganggap keberadaan istrinya yang selalu setia menyediakan kebutuhannya meski Kenny mengacuhkannya.
Sejak hari di mana Nenek Martha di nyatakan koma, Kenny tak sedikit pun menyentuh atau bahkan mendekati istrinya, pria itu benar-benar berubah begitu dingin dan acuh. Hingga akhirnya Jenny memberanikan diri untuk bertanya kembali alasan kenapa Kenny mengacuhkan dan mendiamkannya seperti itu.
“Kenn! aku ingin bicara!” Seru Jenny yang saat ini sedang memperhatikan suaminya menggunakan kemeja kerjanya.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Jenn! aku sudah muak berbicara dengan mu!” Ucap Kenny dingin.
“Tapi Kenn, apa alasannya kau muak pada ku? apa aku melakukan kesalahan? atau kau sudah menemukan wanita lain?” Tutur Jenny yang di iringi isak tangis yang keluar begitu saja di bibir ranumnya dengan nada sedikit meninggi.
“Heh! apa tidak terbalik ya? bukannya kau sendiri yang sudah memiliki pria lain?!” Sahut Kenny dengan senyum kecutnya.
“Apa maksud mu Kenn? aku tidak perah berselingkuh!” Ucap Jenny.
“Pembohong! lalu bagaimana bisa kau hamil kalau tidak berselingkuh, hah!” Teriak Kenny menggelegar di seluruh ruangan kamar yang cukup luas itu.
“A…aku, se…sejak kapan kau tau kalau aku hamil?” Tutur Jenny gugup.
“Heh! itu tidak penting! sebaiknya sekarang kau jujur padaku jika anak itu memang bukan anak ku!”.
“Tidak Kenn! anak ini anak kita! aku tidak pernah berselingkuh dan bermain gila di belakang mu!” Isak Jenny seraya menghampiri sang suami dan hendak memeluk lengan kekarnya. Namun baru saja dia mendekat, Kenny sudah memberinya peringatan agar tak lagi mendekat.
Seketika itu air mata yang sudah mengalir sejak tadi pun kembali membanjiri kedua bola mata Jenny yang indah. Membuat hati gadis itu begitu hancur, Dengan sekuat tenaga Jenny berusaha meraih tangan kekar suaminya kembali untuk meyakinkan. Namun kali ini Kenny malah mendorong tubuhnya hingga dia terjatuh terduduk di lantai dengan cukup kencang. Membuat gadis itu sedikit meringis seraya memegangi perutnya yang terasa sakit di bagian bawah.
“Ahhhh!” Pekik Jenny.
“Aku tidak akan sudi mengakui anak itu anak ku sebelum mengetahui kebenaran nya! jika setelah melahirkan nanti anak itu terbukti bukan anak ku, aku akan menceraikan mu saat itu juga!”.
“Dan mulai saat ini, aku akan tinggal di mansion Mommy hingga waktu itu tiba.” Ucap Kenny penuh emosi.
“Kenn, aku mohon percayalah padaku! anak ini anak kita! aku akan membuktikannya jika aku sudah bisa melakukan tes DNA pada bayi kita nanti! tapi aku mohon jangan tinggalkan aku di sini sendiri Kenn, aku mohon!” Tangis Jenny kian meraung tak terbendung, dirinya bahkan sudah sangat terlihat menyedihkan dengan wajah pucat yang memerah akibat air mata dan emosinya yang meluap-luap.
“Lepas Jenn! aku sudah tidak tahan lagi hidup dengan seorang pembohong seperti mu!” Tutur Kenny yang berhasil melepaskan pegangan tangan Jenny di kakinya.
Pria tampan itu tampak melenggang dengan cepat ke luar dari rumah mewahnya sendiri. Kenny segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang untuk meninggalkan rumah mewahnya bersama Jenny.
“Sebesar itu kah rasa benci mu Kenn? apa aku sudah tak ada artinya lagi di hatimu?” Batin Jenny yang masih terisak dan terduduk di tempatnya semula di atas lantai dingin terakhir kali Kenny menjatuhkannya.
“Aku harus segera berkonsultasi dengan Dokter untuk melakukan tes DNA secepatnya, aku tidak mau anak ku ini tidak di akui oleh Daddy-nya sendiri,” Gumamnya lagi.
“Nak! Mommy janji akan membuktikan pada Daddy mu jika kau memang dara dagingnya, kau yang kuat di dalam perut Mommy ya sayang!” Ucapnya penuh percaya diri.
Jenny benar-benar tak ingin membuang waktunya, dia segera mengunjungi Rumah Sakit untuk berkonsultasi pada Dokter kandungannya. Setelah selesai, Jenny menyempatkan mengunjungi Nenek Martha di ruangan ICU yang masih berada di Rumah Sakit yang sama.
“Jenn! apa kau kemari dengan Kenny?” Tanya Mom Bella yang selalu setia menemani sang Ibu yang masih terbujur kaku di atas tempat tidur perawatannya.
“Tidak Mom, Jenny kemari sendiri, Mom apa kabar?” Jawab Jenny mengecup pipi kanan dan kiri mertuanya.
“Mom sudah jauh lebih baik sayang, apa kau ingin menemui Nenek?” Tanya Mom Bella kembali.
“Iya Mom, Jenny masuk dulu sebentar ya!” Pamitnya seraya membuka pintu ruangan ICU.
Setelah mengganti pakaiannya dengan baju steril. Jenny segera masuk dan duduk di samping tempat Nenek Martha terbaring.
“Nek! Jenny datang lagi hari ini, Nenek cepatlah sadar, Jenny sangat rindu mendengar celotehan Nenek yang baru beberapa hari lalu Jenny dengar dan rasakan. Nek! apa boleh Jenny bercerita?” Lirih gadis cantik itu seraya menggenggam tangan keriput nan renta milik Nenek Martha.
.
.
.
.
.
.
.
Kenny tega banget ya guys 😭😭😭
Jangan lupa untuk selalu dukung Mom biar selalu semangat up ya...
See you next episode…😘😘😘