
Hanya dengan melihat sikap tenang dan kepercayaan diri Jenny saja, Nenek Martha sudah sangat tau jika yang sedang berbohong saat ini adalah Gea, karena surat-surat perhiasan itu di kirim belakangan ke alamat yang langsung Kenny tujukan, dan itu sudah pasti di kirimkan pada Jenny. Karena kurir yang mengirim surat-surat perhiasan itu tidak akan sembarang memberikan surat-surat perhiasan tersebut jika bukan pada tangan yang seharusnya menerimanya.
Pertikaian kedua gadis itu terus berlangsung, hingga akhirnya Gea tak sengaja terpingkal ke arah Nenek Martha yang membuatnya terjatuh karen tak siap menerima tubuh Gea yang tiba-tiba saja menimpa nya. Seketika, Nenek Martha tak sadarkan diri karena kepalanya terbentur ujung nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
“Nenek!” Jerit Jenny seraya menghampiri Nenek Martha, sedangkan Gea segera pergi dari ruangan rawat inap tersebut dengan tergesa-gesa, dia sampai melupakan perhiasan yang sejak tadi dia perebutkan dengan Jenny.
Jenny segera menekan tombol untuk memanggil Dokter di ruangan Nenek Martha, bertepatan dengan itu Mom Bella dan Papah Oscar datang yang di susul dengan Kenny di belakangnya.
“Jenn! apa yang terjadi dengan Nenek?” Tanya Mom Bella cemas.
“Nenek jatuh Mom, kepalanya terbentur ujung nakas, Jenny benar-benar takut kalau Nenek sampai tak tertolong,” Tutur Jenny dengan derai air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.
“Jenn! sebenarnya apa penyebab Nenek jatuh sih? kau sengaja ya mencelakai nya?” Tuduh Kenny yang tak kalah cemas saat menunggu Nenek Martha yang kini tengah di tangani oleh Dokter di dalam ruangannya.
“Ak…aku benar-benar tidak tahu Kenn, Nenek terjatuh begitu cepat saat Gea terpingkal setelah mendapatkan tas milik ku,” Tutur Jenny mencoba menjelaskan.
“Gea? kenapa kalian berebut tas yang tak penting itu dan mengorbankan Nenek? kau benar-benar tega Jenn, ini semua pasti gara-gara kau! kau pasti penyebab Nenek terjatuh!” Jenny mendongak kan kepalanya yang sedari tadi menunduk karena sedih menunggu kabar Nenek Martha, namun dirinya menjadi heran sekaligus tak percaya jika sang suami bisa menuduhnya sekejam itu.
“A…apa kau tidak percaya padaku Kenn?” Tanya Jenny di sela isak tangisnya.
“Ya! aku benar-benar sudah tidak percaya lagi padamu, Jenny Alexa! kau sudah banyak membohongi ku selama ini!” Ucap Kenny dengan lantangnya.
Membuat Mom Bella mau tak mau menghampirinya untuk menenangkan sang putra yang terlihat begitu kacau.
“Kenn, sudahlah! sebaiknya kita duduk dan berdoa, semoga Nenek tidak apa-apa!” Seru Mom Bella seraya menggiring Kenny untuk duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan Nenek Martha.
Sementara itu, Papah Oscar yang tak tega melihat kondisi menantunya ikut menghampiri untuk menenangkan Jenny. Papah Oscar memang tidak tahu kejadian yang sebenarnya terjadi pada mereka, namun Papah Oscar yakin jika menantunya tidak akan setega itu.
“Jenn, bangunlah! kau pasti belum makan apa pun kan? ayo! Papah belikan kamu makanan ya!” Seru Papah Oscar dengan penuh kasih sayang.
“Jenny tidak lapar Pah, Jenny ingin menunggu Nenek di sini! Jenny tidak mau kemana-mana, Jenny ingin melihat Nenek sadar kembali,” Isak Jenny.
“Tapi kau bisa sakit jika tidak memakan apa pun! kalau begitu kau tunggu sebentar di sini ya! biar Papah belikan makanan ringan untuk mengganjal perut mu!” Papah Oscar segera melenggang pergi untuk mencari makanan.
Pria paruh baya itu sangat tahu kondisi menantunya yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan, jadi sebisa mungkin dia memperhatikan menantunya itu di saat sang istri dan juga anaknya tergulung cemas menunggu penanganan Nenek Martha selesai.
“Kenapa Kenny sampai bicara seperti itu? apa dia benar-benar sudah tidak percaya padaku?” Batin Jenny.
Setelah mendapat makanan yang di inginkan, Papah Oscar kembali dan menyerahkan makanan ringan itu ke tangan menantunya. Sesaat Jenny membuka kantong makanan tersebut, seketika itu juga perutnya kembali terasa bergejolak dan membuatnya mual.
Hoek…
“Jenn, kau tidak apa-apa nak?” Tanya Mom Bella menghampiri.
“Jenny tidak apa-apa Mom, Jenny permisi dulu ke toilet ya,” Pamitnya seraya meninggalkan ketiga orang yang masih menunggu Nenek Martha.
“Jenny kenapa ya Pah? Mommy jadi khawatir deh kalau kondisi Jenny seperti itu terus,” Tutur Mommy Bella seraya menatap nanar punggung menantunya yang menghilang di balik pintu toilet yang tak jauh dari tempat mereka menunggu Nenek Martha.
“Dia pasti mengalami morning sickness, aku terlalu bodoh selama ini, tapi aku tidak boleh gegabah, aku akan telusuri kebenaranya sendiri sampai dapat!” Batin Kenny.
“Dia sudah biasa seperti itu Pah, nanti juga dia biasa lagi!” Ucap Kenny datar.
Tidak ada raut kecemasan sedikit pun di wajah tampannya, pria itu benar-benar telah termakan hasutan Gea yang terus menjelekkan Jenny dengan bukti-bukti buatan dari wanita licik itu. Sejurus kemudian pintu ruangan Nenek Martha di buka oleh Dokter yang baru saja selesai menangani kondisi Nenek Martha. Dokter sangat menyayangkan kejadian terjatuhnya Nenek Martha tersebut, karena saat ini Nenek Martha di nyatakan koma, dan harus segera di pindahkan ke ruangan ICU.
“Dokter, bagaimana keadaan Mamih?” Tanya Mom Bella.
“Kami sudah berusaha yang terbaik Nyonya, namun sepertinya nasib baik sedang tidak memihak pada kita, meski kami berhasil mempertahankan nyawanya, namun kondisi Nyonya Martha saat ini sangat kritis, beliau mengalami koma setelah kepalanya terbentur cukup keras.” Tutur Dokter menjelaskan.
“A…apa?!” Ucap Mom Bella yang seketika menjatuhkan tubuhnya tak sadarkan diri.
Dengan sigap Kenny dan Papah Oscar memboyong tubuh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu ke dalam ruangan Nenek Martha, mereka memilih membaringkan Mommy Bella di sofa yang berada di ruangan tersebut.
“Dokter! tolong periksa istri saya sekalian ya!” Seru Papah Oscar yang tak membuang buang kesempatan.
“Baiklah Tuan!” Dokter yang baru saja menangani Nenek Martha pun segera memeriksa keadaan Mom Bella. Beruntung wanita paruh baya itu hanya terkena serangan syok ringan akibat daya tubuhnya yang sedang menurun.
Setelah selesai menuntaskan rutinitasnya, Jenny kembali ke depan ruangan Nenek Martha, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana dan melihat pintunya sedikit terbuka, al hasil Jenny segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Nenek Martha.
“Apa Nenek sudah sadar, Kenn?” Tanya Jenny setelah berhasil masuk menghampiri.
“Untuk apa kau peduli lagi dengan Nenek? kau pasti senang bukan Nenek koma, kau pasti memiliki dendam pada Nenek ku!” Tuduh Kenny dengan teganya.
“A…apa maksud mu Kenn, aku tidak pernah dendam pada Nenek, a… aku tidak pernah berpikir…” Belum selesai Jenny berbicara, Kenny sudah menyelanya dengan perkataannya yang sangat menyakitkan di hati Jenny.
“Cukup! sekarang juga kau pergi dari sini, dan mulai hari ini kau bukan istriku lagi, Jenny Alexa.” Ucap Kenny yang membuat Papah Oscar turun tangan.
.
.
.
.
.
.
.
Nyesek gak sih guys? Mom sendiri ketiknya sampe gemes banget nih, huaaaa…😭😭😭
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak dukungannya biar Mom tambah semangat Up ya…
See you next episode…😘😘😘