Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 110 # Bermanja dan saling memaafkan.



Tiba-tiba saja, ponsel Kenny berbunyi dan menampilkan nomor seseorang yang paling Jenny curigai. Kebetulan saat itu, Kenny meninggalkan ponselnya begitu saja di atas nakas samping tempat tidur, tepat di samping gelas yang tadi Jenny ambil untuk meneguk air minum.


“Gea? kenapa wanita genit ini menghubungi Kenny?” Gumam Jenny setelah melihat nama Gea di layar ponsel suaminya.


Klik…


“Halo Kenn, apa kau ada di kantor? atau kau ada di Rumah Sakit? aku dengar Nenek sedang di rawat ya? aku turut bersedih ya Kenn, sore nanti aku akan menjenguknya, apa kau bisa menemani ku?” Ucap Gea pajang kali lebar.


“Maaf! suamiku tidak akan pernah menemani mu Nona Geandra!” Sahut Jenny yang akhirnya menjawab ucapan Gea lewat sambungan teleponnya itu.


“Oh ho… kebetulan sekali kau yang menerima teleponku ini, kalau begitu aku tidak perlu repot-repot lagi bersembunyi-sembunyi meminta suami mu untuk menemani ku Nona Jenny Alexa, kau pasti sudah tau kan niat ku tadi! jadi tolong sampaikan ucapan ku tadi itu pada Kenny ya,” Tutur Gea dengan nada menyebalkan.


“Haist! dasar wanita genit, kau sudah tidak laku ya sampai harus merebut suami orang, kau pikir aku akan membiarkan Kenn pergi begitu saja dengan mu, hah? jangan mimpi Nona!” Sahut Jenny lantang.


“Kau yakin sudah menjaga suamimu dengan baik? apa kau pikir selama ini Kenny hanya berbisnis saja dengan ku?” Tutur Gea sengaja mengompori.


“Aku sangat percaya pada suamiku, jadi tolong jangan hubungi suami ku lagi jika bukan urusan bisnis yang mendesak, bye!” Sahut Jenny seraya memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


“Hm… sombong sekali dia! lihat saja! apa suami mu itu bisa percaya padamu sekarang, Jenny Alexa!” Geandra menunjukkan seringai di bibirnya setelah mengirim sebuah foto ke nomor ponsel milik Kenny.


Jenny yang masih terbawa emosi akhirnya memilih masuk ke kamar mandi untuk berendam. Hari ini benar-benar hari yang begitu melelahkan untuknya, dia harus di hadapkan dengan kenyataan-kenyataan yang menyakitkan dan menguras pikiran serta perasaannya.


Di sebuah taman, di Villa milik keluarga Alvaro. Kenny terlihat menyesap sebatang rokok yang hampir selama ini tidak pernah dia sentuh, entah kenapa kali ini pria bertubuh atletis itu memilih menenangkan pikirannya dengan hal itu.


“Tuan, sebaiknya anda kurangi merokok, itu sangat tidak baik untuk kesehatan, apa lagi jika Tuan sedang menjalani program hamil bersama Nona, itu pasti sangat berpengaruh,” Tegur Bibi Rosa memberi petuah.


“Biarkan aku menyesapnya sekali ini saja Bi, aku benar-benar membutuhkan nya, ini tidak akan berpengaruh pada Jenny, lagi pun sepertinya akhir-akhir ini dia sering menolak sentuhan-sentuhan ku, entah kenapa itu membuatku kesal! belum selesai semua masalah di kantor di tambah lagi Nenek yang tidak mau menerima Jenny, pikiran ku saat ini benar-benar kusut Bi, jadi tolong jangan larang aku lagi untuk merokok!” Tutur Kenny meluapkan perasaannya.


“Bibi memang tidak tau permasalahan apa yang sedang Tuan hadapi saat ini, tapi Bibi hanya ingin menyarankan, selesaikan lah segala permasalahan itu dengan kepala dingin dan sebijak mungkin, Bibi yakin Tuan mampu mengatasi semuanya dengan baik,”.


“Maaf jika Bibi berbicara lancang, Bibi hanya tidak ingin melihat Tuan kacau seperti ini, Bibi sudah mengasuh Tuan semenjak Tuan masih kecil, dan Bibi sudah menganggap Tuan seperti putra Bibi sendiri, jadi jika ada suatu hal yang ingin Tuan bicarakan, datanglah pada Bibi, Tuan! Bibi sangat bersedia menjadi pendengar setia Tuan, bahkan jika Bibi bisa membantu Bibi akan lakukan dengan senang hati,” Sahut Bibi Rosa mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya pada Tuan mudanya itu.


“Terimakasih Bi, tapi untuk saat ini Kenny hanya butuh menyendiri, Bibi kembali lah ke dalam, ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan Bibi!” Seru Kenny.


“Hm… baiklah! kalau begitu Bibi masuk dulu ya Tuan, Tuan juga segera lah masuk, jangan terlalu lama diam di luar!” Bibi Rosa nampak melenggang masuk setelah memberi petuahnya.


Di kamarnya, Jenny sudah terlihat lebih segar dengan gaun malam yang dia kenakan. Karena merasa sepi, akhirnya dia pun memilih keluar kamar dan mencari keberadaan suaminya, setelah mencari ke setiap ruangan, Jenny masih tak kunjung menemukannya juga, Jenny tak pantang menyerah, dia masih terus mencarinya, hingga akhirnya langkahnya terhenti di sebuah taman yang berada di samping Villa, di tatapnya pria yang tengah mengepulkan asap rokok itu dari kejauhan.


Sebenarnya Jenny ingin sekali segera memberikan kabar kehamilannya itu, namun dia masih harus menahannya karena mengingat ulang tahun Kenny yang tinggal menghitung hari, gadis itu menghela kasar nafasnya sebelum menghampiri suaminya yang tengah terduduk seraya mengisap sebatang rokok yang di apit oleh kedua jari tangannya.


“Sayang! sejak kapan kau merokok?” Tegur Jenny yang sengaja merubah panggilannya pada Kenny dengan sebutan sayang.


“Aku tidak bisa tidur jika tidak ada kamu sayang, kau sedang apa di sini?” Jenny akhirnya ikut duduk di samping sang suami yang masih asik menyesap rokok nya.


“Kenapa kau mengganti panggilan mu padaku? kau tidak sedang demam kan?” Kenny nampak bingung dengan sikap istrinya yang mendadak manja padanya.


“Apa aku tidak boleh ya memanggil suamiku sendiri dengan sebutan sayang? atau kau tidak suka aku panggil sayang?” Ucap Jenny pura-pura merajuk.


“Bukan begitu sayang, aku hanya khawatir kau sedang kerasukan makhluk halus, biasanya kan kau panggil aku dengan nama saja,” Tutur Kenny menjelaskan.


Dan tanpa sadar pria itu mematikan rokok yang sejak tadi dia sesap, pria itu memilih menatap lekat ke arah sang istri yang malam ini terlihat begitu cantik tanpa riasan apa pun. Rasanya segala masalahnya hari ini sirna semua setelah menatap wajah teduh istrinya.


“Sayang! kau sedang menggodaku lagi ya?” Ucap Kenny seraya membelai samping wajah istrinya dengan lembut.


“Siapa yang menggoda? kau kan memang selalu mesum! sudahlah! ayo! kita tidur sekarang, aku sudah sangat mengantuk, hubby!” Dengan manja nya Jenny menarik tangan suaminya agar beranjak dari taman tersebut untuk mengarungi alam mimpi di kamar mereka.


“Astaga! kenapa kau begitu menggemaskan,” Gumam Kenny yang masih bisa di dengar oleh Jenny.


Di kamar…


“Sayang, maafkan aku ya! aku sama sekali bukan menolak sentuhan mu, tapi perut ku benar-benar sedang tidak nyaman jika di sentuh seperti tadi, kau tidak marah kan?” Gumam Jenny yang saat ini sudah berada di dalam pelukan sang suami yang terbaring di tempat tidur mereka.


“Aku juga minta maaf ya sayang, tidak seharusnya aku memaksakan keinginanku jika kau sendiri sedang tidak baik-baik saja, maaf kan aku ya! dan untuk soal Nenek, aku janji akan membuatnya bisa menerima kau secepatnya!” Tutur Kenny mengecup dalam kening istrinya.


“Hm… asal kau selalu bersamaku dan selalu percaya padaku, aku tidak mengkhawatirkan apa pun lagi sayang, tetap lah seperti ini ya!” Pinta Jenny sebelum keduanya memejamkan mata untuk berselancar ke alam mimpi mereka.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys… 😘😘😘