
"Aku baik-baik saja, sayang! kenapa kau baru kemari lagi? apa istri dan anak mu sudah kembali juga?" Sahut Mom Bella.
"Sudah Tan, oh iya! apa Kenn sudah pulang?" Tanya Erfan.
"Dia baru saja ke kamarnya, sebenarnya apa yang terjadi pada kakinya sih? kenapa di balut seperti itu?" Sahut Mom Bella seraya balik bertanya.
"Dia mengalami kecelakaan kecil sebelum pulang tadi Tan, tapi sepertinya Tian sudah mengurusnya dengan baik! kalau begitu Erfan lihat kondisinya dulu ke atas ya, Tan!" Seru Erfan seraya beranjak ke kamar Kenny.
Di perusahaan Alva corp.
"Aku dengar Tuan Kenny baru saja mengalami kecelakaan, kakinya mengalami retak tulang, kasihan sekali ya," Gumam salah satu karyawan perusahaan Kenny yang saat ini sedang berada di toilet.
"Kenny kecelakaan? apa dia baik-baik saja?" Batin Jenny yang ternyata sedang di dalam toilet juga.
"Iya benar, tapi sebelum dia kecelakaan tadi, aku dengar dia sempat mengamuk, setiap karyawan yang berpapasan dengannya pasti kena semprot amukannya, aku sendiri sampai tidak bisa membayangkan kalau aku yang kena semprotannya, ihh... Tuan Kenny kalau sudah marah seram juga ya!" Tutur salah satu karyawan lainnya.
"Aku harus menemuinya! aku takut jika Ken juga kena amukannya, bisa-bisa putraku memiliki trauma nantinya," Gumam Jenny seraya keluar dari toilet.
Kedua kaki jenjangnya terlihat melangkah bergegas ke arah ruangannya. Jenny segera meraih tas yang dia gunakan bekerja dan memesan taksi via online.
Perempuan cantik itu merasa sangat khawatir dan cemas dengan keadaan putra semata wayangnya, Jenny tidak ingin jika Kenny membawa pengaruh buruk untuk putranya.
"Awas saja kalau kau macam-macam pada Ken kecil, ku! aku tidak akan membiarkan mu untuk menemuinya lagi!" Gumam Jenny penuh amarah.
"Tapi aku harus mencarinya kemana dulu sekarang? hm... oh iya, Tian!" Seketika Jenny mengingat Asisten andalan Kenny yang sudah pasti tau keberadaan putranya.
Secara, Tian lah yang sebelumnya di tugaskan Kenny untuk menemani Mom Bella menjaga anak-anak. Seketika jemari lentiknya mengotak-atik ponsel mencari kontak Tian untuk menghubunginya.
Kring....kring....kring...
"Hei! kau ingin membuat putraku terbangun ya, ayo cepat matikan ponsel mu itu!" Tegur Kenny saat bunyi ponsel Tian berdering.
"Ma...maaf Tuan, tapi ini dari Nona Jenny," Tutur Tian seraya menunjukkan layar ponselnya pada Kenny.
"Jenny?!" Gumam Kenny, dia berpikir jika Jenny pasti mengkhawatirkan dirinya setelah mengetahui kabar kecelakaannya.
Namun ternyata tebakannya salah, Jenny hanya mengkhawatirkan putranya saja dan meminta Kenny untuk mengembalikan putranya kembali.
"Angkat! dan pakai pengeras suara!" Titah Kenny yang segera di wujudkan oleh Tian.
"Ha...halo No... Nona!" Ucap Tian terbata, pasalnya Kenny saat ini menatapnya dengan begitu tajam.
"Halo kak, apa Ken kecil bersama mu?" Sahut Jenny di sebrang telepon. Kenny terlihat menganggukkan kepalanya dan berbicara pelan pada Tian.
"Bilang padanya untuk datang ke Mansion jika ingin mengambil Ken," Ucap Kenny pelan.
"Halo... Kak! kau masih di sana kan?" Seru Jenny yang belum mendapat jawaban dari Tian.
"I...iya Nona, Tuan kecil sudah bersama saya di Mansion Nyonya besar, Nyo...Nyonya bilang jika Nona mau mengambilnya, Nona bisa langsung datang saja kemari," Tutur Tian beralasan.
Kenny nampak menyunggingkan senyum di bibirnya, dia rasa Tian tepat sekali memberikan jawab pada Jenny dengan alsan sang Mommy yang memintanya datang, karena hal itu pasti tidak akan di tolak oleh Kenny.
"Hm... baiklah, kalau begitu aku akan segera ke sana sekarang!" Sahut Jenny seraya memutus sambungan telepon secara sepihak.
Tok...tok...tok...
"Kenapa dia cepat sekali?" Tutur Kenny seraya mengerutkan keningnya.
Ceklek...
"Kenn!" Seru Erfan yang ternyata si pengetuk pintu.
"Kau! aku pikir..." Kenny menggantung ucapannya. Wajahnya terlihat sangat jelas menggambarkan kekecewaan setelah tau siapa yang datang.
"Kau pikir aku Jenny ya?!" Ucap Erfan melanjutkan ucapan Kenny.
"Ha... sudahlah! by the way, thanks ya untuk yang tadi," Tutur Kenny seraya merebahkan tubuhnya di samping sang putra yang masih terlihat lelap dalam tidurnya.
"Tak masalah, apa itu putra mu?" Tanya Erfan seraya menunjuk ke arah Ken kecil yang masih terpejam nyenyak.
"Hm... dia putra ku Fan, putraku dengan Jenny," Lirih Kenny seraya menopang kepalanya dengan sebelah tangannya sambil menyamping ke arah Ken kecil.
"Tampan... pantas saja Jenny tak mau kembali lagi padamu, dia sudah memiliki gantinya!" Ucap Erfan.
"Hm... ya! kau benar! jadi, apa rencana mu untuk selanjutnya?" Tanya Erfan.
"Aku akan memperjuangkannya kembali, Fan! aku akan membuatnya mencintaiku lagi untuk yang kedua kalinya," Tutur Kenny optimis.
"Bagus! kalau begitu kau tidak boleh ceroboh lagi seperti tadi, aku akan kembali ke Mansion Mommy Iren sekarang! sepertinya istriku dan putra ku sudah menunggu di sana," Sahut Erfan seraya berbalik badan untuk kembali ke Mansion mertuanya.
Baru saja tiba di depan kamar, Erfan di buat terkejut karena melihat sosok yang sudah lama tak ia lihat. Sosok yang semakin cantik dan juga bersinar.
"Jenn!" Ucap Erfan terpaku di tempatnya.
"Tu...Tuan Erfan! apa kabar?" Tanya Jenny menyapa.
"Aku baik, kau terlihat semakin cantik, pantas saja... ah, sudah lah! kau ingin menemui mantan suami mu atau putra mu?" Tanya Erfan lagi.
"Aku ingin mengambil putraku, Mommy bilang dia tertidur di sini," Tutur Jenny yang belum tau jika kamar yang dia tuju kamar Kenny.
Setelah kepergian Jenny 5 Tahun lalu, Kenny memindahkan kamarnya ke kamar yang lain yang ada di Mansion Keluarga Alvaro, dia tidak ingin terus tersiksa mengingat semua kenangannya bersama Jenny di kamarnya dulu.
"Ya! dia memang ada di dalam, kalau begitu aku duluan ya!".
"Dan satu lagi Jenn, berhati-hatilah!" Ucap Erfan sebelum meninggalkan perempuan cantik yang sempat dia sukai.
"Hati-hati? memang ada apa di kamar ini?" Gumam Jenny.
Belum sempat dia memutar handle pintu, Jenny kembali di buat terkejut karena Tian yang keluar dari balik pintu kamar yang akan dia tuju.
"Astaga! Kak, kau membuatku terkejut!" Ucap Jenny seraya mengelus dadanya.
"Ma...maafkan aku Nona, kalau begitu aku permisi!" Sahut Tian seraya bergegas pergi.
"Kenapa dengan Kak Tian?! dia seperti sudah melihat hantu! atau jangan-jangan... Tuan Erfan juga berpesan hati-hati tadi, apa ada sangkut pautnya dengan... ishh... ko aku jadi merinding ya?!" Gumam Jenny yang masih berdiri di depan pintu.
Jenny masih mengumpulkan keberaniannya sebelum masuk, namun rasa khawatir pada sang putra akhirnya membuat dia berhasil masuk ke dalam kamar yang entah sejak kapan membuat bulu kuduk nya berdiri.
"Astaga! kenapa kamarnya minim cahaya begini? padahal kan ini masih sore!" Gumam Jenny seraya mengusir rasa ketakutan sekaligus traumanya akan gelap.
"Ken! sayang! apa kau sudah bangun?!" Seru Jenny seraya melangkah hati-hati.
Trek...
"Ka...kau?!" Ucap Jenny terkejut dengan keberadaan Kenny di dalam kamar itu yang terlihat mengkhawatirkan.
"Sayang! apa kau kemari untuk menjenguk ku?!" Lirih Kenny.
"Ke...kenapa dengan kaki mu?! apa itu karena..." Tanya Jenny tercekat. Sepertinya perempuan cantik itu tidak memiliki keberanian untuk melanjutkan ucapannya.
"Iya sayang, tulang kaki ku retak karena kecelakaan tadi!" Jawab Kenny membenarkan dugaan Jenny.
"Lalu dimana putra ku? kau tidak menyembunyikannya kan?!" Sarkas Jenny.
"Mana mungkin aku menyembunyikan putra ku sendiri sayang, apa kau tidak ingin melihat kondisi ku terlebih dahulu? aku begini juga kan karena kau menolak ku," Tutur Kenny seraya mencoba bangkit duduk dari posisinya berbaring.
Kenny berakting seolah-olah dia terluka sangat parah, sehingga membuat perempuan yang dia cintai merasa tak tega dan membantunya bangkit untuk sekedar duduk.
"Apa lukanya separah itu?" Tanya Jenny seraya menghampiri Kenny dan membantunya duduk.
.
.
.
.
.
.
.
Senin lagi guys, jangan lupa dukungan dan vote nya ya... see you next episode... 😘😘😘