
“Jenny?” Ucap Erfan heran.
“Kenapa kau terkejut seperti itu? kalian di hubungi Jenny kan untuk sarapan bersama?”.
“Ken, apa semalam kau dan Jenny tidur bersama?” Erfan memberanikan diri bertanya.
“Ya… bisa di bilang begitu lah, kenapa memangnya?”.
“Astaga, kau tidak menodai anak gadis orang kan Kenn? kalian kan belum menikah!” Erfan mengungkapkan kecemasannya.
“Haist! kau terlalu berpikir berlebihan Fan. Aku masih tau batasan ko, sudahlah… sebaiknya kita segera ke ruang makan saja, Jenny pasti sudah menunggu kita sekarang!” Kenny melenggang mendahului kedua pasangan suami istri baru itu.
“Sayang, sejak kapan Kenny sangat dekat dengan Jenny?” Erfan bertanya seraya melangkah menuju ruang makan.
“Aku lupa menceritakannya padamu sayang, sebenarnya mereka sudah resmi pacaran sekarang!” Tutur Renata.
“Pantas saja, hm… ya sudahlah, ayo kita temui dia!” Erfan dan Renata semakin mempercepat langkahnya.
Setibanya di ruang makan mereka pun segera duduk dan bersiap menyantap makanan yang Jenny buat.
“Wah… makanannya banyak sekali Jenn, kau yang masak semuanya ya?” Tanya Renata setelah berhasil duduk di salah satu kursi meja makan.
“Hm… semoga saja kalian suka ya dengan rasa masakannya,” Sahut Jenny yang baru ikut duduk bergabung setelah menuangkan masakan terakhirnya di atas meja makan.
“Sayang, sebaiknya kita makan sekarang ya, aku benar-benar sudah tidak tahan ingin segera menyantapnya!” Ucap Kenny bersemangat.
“Dasar penggila makanan kau Kenn, hati-hati loh… kau bisa kembali membesar seperti ikan buntal nanti!” Ejek Erfan.
“Biar saja! aku kan bisa diet lagi nanti,” Tutur Kenny cuek seraya memberikan piring kosong ke arah Jenny.
“Memangnya kau pernah gendut ya sebelumnya?” Karena penasaran akhirnya Jenny bertanya.
“Kalau kau tau foto Kenny kecil yang begitu bulat, aku pikir kau tidak akan mau menjadi kekasihnya saat ini Jenn,” Goda Renata di akhiri tawa renyah.
“Hei! itu tidak mungkin terjadi, Jenny kan menyukai ku apa adanya! benarkan sayang?” Tutur Kenny penuh percaya diri.
“Hm… suka gak ya?” Ucap Jenny yang mengundang tawa kedua pasangan pasutri baru di hadapannya.
“Haha… lihatlah Kenn, kau dengar sendiri kan kalau Jenny saja masih ragu padamu, haist! kau terlalu percaya diri Kenn,” Timpal Renata yang membuat Kenny semakin malu karena menjadi bahan tertawaan mereka.
Kenny yang terlanjur geram, menatap tajam ke arah sang kekasih bak menyiratkan kalau dia ingin memberikan hukuman setelah makan nanti. Namun yang di tatap malah terlihat tak terganggu sedikit pun seraya menyuapkan nasi yang sudah dia sendok ke dalam mulutnya.
Setelah puas menyantap sarapan mereka, Renata dan Jenny membersihkan semua peralatan makan yang sudah mereka gunakan. Sesekali mereka berdua asik tertawa dan berbincang yang entah apa itu seraya mencuci peralatan makan tersebut.
“Jenn, terimakasih ya sudah mau menjadi kekasih Kenny, aku dan Erfan sangat berhutang banyak padamu, aku yakin Kenny begitu bahagia sekarang bisa memiliki mu, aku bisa merasakan sikapnya yang kembali menghangat setelah belasan tahun menutup diri dari perempuan lain,” Lirih Renata setelah mereka menyelesaikan acara cuci mencuci peralatan makannya.
“Hm… sama-sama Re, aku hanya melakukan apa yang menurut hatiku benar, dan aku berharap semoga Kenny adalah orang yang tepat untuk aku cintai,” Sahut Jenny tak kalah lirih.
“Ya sudah, sebaiknya kita hampiri lagi mereka saja yuk ke ruang tengah!” Seru Renata mencairkan suasana yang mulai sendu.
"Baiklah,” Ucap Jenny menyahuti.
Sekitar pukul 11.00 mereka semua akhirnya meninggalkan Apartemen mewah milik Kenny. Renata dan Erfan memilih pulang ke mansion orang tua mereka untuk berkunjung, sedangkan Jenny memilih pulang ke rumahnya bersama Kenny.
“Aku pulang!” Teriak Jenny seraya memasuki rumahnya.
“Ehh… putri cantik Ibu baru pulang ya, bagaimana semalam? filmnya seru kan?” Tutur Ibu Tania sambil menggiring Jenny duduk di sofa ruang tamunya.
“Film? kenapa Ibu tau kalau Jenny menonton semalam? Jenny kan tidak memberitahu siapa pun semalam,”.
“Hehe… nak Kenny yang memberitahu Ibu semalam, tepatnya sih pada Rangga,” Sahut Ibu Tania.
“Sayang apa kau tidak ingin membawakan kekasihmu minuman? dia pasti haus setelah mengemudi, benarkan nak?” Tutur Ibu Tania.
“Hm… ya sudah deh, tunggu sebentar ya!” Jenny beranjak dan berjalan ke arah dapur rumahnya.
“Nak Kenn, bagaimana? Jenny sudah memberikan jawabannya kan untuk segera menikah?” Tanya Ibu Tania setelah Jenny menghilang dari ruang tamu.
“Belum Tan, sepertinya Jenny masih ragu, tapi Tante tenang saja, Kenny akan terus berusaha membujuknya ko!” Seru Kenny penuh semangat.
“Ha… anak itu keras kepala sekali sih, padahal Ibu yakin kalau kau pria yang tepat untuk Jenny, ya sudah lah kau jangan patah semangat ya, Tante mendukungmu nak,” Tutur Ibu Tania memberi semangat.
“Pasti Tan, Kenny akan terus berusaha hingga Jenny luluh!” Kenny mengepalkan tangannya untuk menunjukkan keseriusannya.
“Kalian sedang membicarakan apa sih?” Tegur Jenny dengan secangkir kopi yang masih mengepul.
“Sepertinya bersemangat sekali?”.
“Eh… iya Jenn, tadi Ibu memberi tahu Kenny supaya lebih waspada kalau sedang berkendara di malam hari, sekarang kan marak begal mobil lagi!” Alasan Ibu Tania.
“Oh…begitu ya,”.
Tak lama Kenny pun berpamitan untuk ulang. Dia terpaksa meninggalkan Jenny di rumahnya karena harus mengurus beberapa pekerjaan yang sudah menunggunya untuk di kerjakan.
“Sayang, nanti aku telepon lagi ya kalau sudah selesai, kau jangan kemana-mana ok! tunggu saja di rumah, aku tidak mau kau jadi perhatian laki-laki lain di luar sana!”
“Baiklah-baiklah! sekarang kau bisa pergi Kenn, aku akan tiduran di rumah seharian ini, hati-hati ya!” Jenny melambaikan tangannya seraya mengantar Kenny masuk ke dalam mobilnya.
“Sayang! kiss me please!” Seru Kenny setelah berada di dalam mobil.
“Kenn! ini di luar, kau pergi saja ya!” Tolak Jenny.
“Sebentar saja sayang, satu kecupan, please… biar aku tambah semangat,” Bujuk Kenny memelas.
“Hm… baiklah, tapi hanya kecupan ya!" Ucap Jenny mengalah seraya mendekatkan wajahnya ke arah jendela mobil di samping Kenny.
Tanpa ba bi bu lagi Kenny langsung melu*** bi*** ranum kekasihnya itu dengan dalam, membuat Jenny membulatkan matanya sempurna karena terkejut dengan aksi nekadnya Kenny tersebut.
“Emm…Kenn, kau benar-benar keterlaluan, kalau ada yang melihat bagaimana coba!” Gerutu Jenny sambil mengusap bi*** ranumnya yang masih terasa basah.
“Hehe… kau terlalu menggemaskan sih, ya sudah aku berangkat ya sayang, bye honey!” Kenny melajukan mobilnya dan meninggalkan halaman rumah sederhana milik keluarga kekasihnya itu.
Sesampainya di kantor, Kenny segera di suguhkan dengan berbagai pekerjaan yang sudah Tian siapkan sebelumnya. Karena pembukaan cabang perusahaannya tinggal dua pekan lagi, membuat pria tampan itu mau tidak mau menghabiskan banyak waktunya untuk mengurus ini dan itu supaya tidak ada yang terlewatkan sedikit pun.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode... 😘😘😘