
Dengan rasa kesal yang masih bercokol di hatinya, Aldo akhirnya mengalah untuk berhenti memperdebatkan kehadiran Kenny. Dia juga tidak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya karena memarahi Kenny yang tak menunjukkan perlawanan sedikit pun.
Setelah perjumpaan mereka hari itu, Kenny semakin tak gentar mendekati Jenny, dukungan sang putra yang terus semakin lengket padanya membuat pria tampan itu memiliki alasan yang ampuh untuk berdekatan kembali dengan sang mantan istri.
Seperti hari ini, Ken kecil terus menangis karena meminta di pertemukan dengan Daddy-nya yang sudah dua hari tak dia jumpai.
"Mommy... ayolah hubungi Daddy, Ken kangen sama Daddy..." Rengek Ken kecil seraya menarik-narik ujung blazer yang Jenny kenakan.
"Sayang, Mommy takut mengganggu Daddy jika menelepon sekarang, kau kan tau sendiri kalau Daddy itu Bos besar, jadi dia pasti sibuk, lain kali saja ya!" Bujuk Jenny seraya menenangkan sang putra.
"Kau kemana sih Kenn, sudah dua hari ini kau tidak ada ke rumah, apa dia benar-benar sedang sibuk ya?" Batin Jenny yang tak sadar mengharapkan kehadiran Kenny. Mungkin karena akhir-akhir ini mereka selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan sang putra.
"Kenapa dengan perasaanku, ini tidak boleh dibiarkan! aku tidak boleh goyah oleh tipu muslihatnya!" Gumam batin Jenny.
Semakin sore, Ken kecil yang masih merajuk akhirnya memilih menggambar di ruangan kerja sang Mommy. pria kecil menggemaskan itu mengayunkan tangannya untuk menghasilkan sebuah gambar. Meski usianya masih dini, namun bakatnya dalam menggambar sudah tak dapat di ragukan lagi, mungkin itu semua merupakan keahlian yang sang Mommy turunkan sebagai seorang desainer.
"Astaga, dia sampai tertidur! sebaiknya aku pindahkan dulu saja di sofa," Gumam Jenny seraya meraih tubuh putranya kedalam gendongannya untuk di pindahkan ke atas sofa.
Ceklek...
"Sayang?!" Seru Kenny yang langsung masuk ke dalam ruangan Jenny begitu saja. Membuat sang empunya ruangan tersebut sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Suutttt! jangan berisik, Ken baru saja tertidur!" Bisik Jenny seraya menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Ok!" Sahut Kenny tak kalah berbisik.
Setelah selesai menempatkan putranya di sofa dengan posisi yang nyaman, Jenny kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dia bahkan tak menghiraukan lagi Kenny yang sedari tadi terus memperhatikan gerak geriknya.
"Apa kau sesibuk itu?!" Tanya Kenny dengan suara serendah mungkin agar tak mengganggu tidur putranya
"Kenapa harus bertanya kalau sudah tahu jawabannya?!" Sahut Jenny yang tak menoleh sedikit pun ke atas sang penanya.
Tanpa jenny sadari, Kenny beranjak dari duduknya dan menghampiri perempuan cantik itu yang tengah memasang beberapa jarum untuk membentuk pola hasil desainnya pada sebuah manekin.
Dan, grebbb...
"Kenn, apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" Seru Jenny seraya mencoba melepaskan pelukan Kenny.
Ya! tanpa permisi, pria tampan itu langsung memeluk tubuh Jenny dari belakang.
"Biarkan begini sebentar saja sayang, aku merindukanmu!" Lirih Kenny seraya menyusupkan wajahnya di sebelah bahu Jenny.
"A...apa kau baik-baik saja?" Tanya Jenny sangsi.
"Tidak, aku baik-baik saja, hanya..." Sahut Kenny menggantung ucapannya.
"Hanya apa? apa kau sedang ada masalah?" Tutur Jenny kembali bertanya.
"Dua hari ini kondisi Marsya sangat memperihatinkan," Lirih Kenny yang tak dapat menyembunyikan kesedihannya lagi.
"Marsya... apa yang terjadi padanya?" Jenny masih mencari tahu penyebab Kenny bersedih dengan terus bertanya padanya.
"Sejak lahir, dia di nyatakan mengidap penyakit ginjal bawaan, sehingga mengharuskan dia untuk rutin melakukan pencucian darah setiap bulannya." Tutur Kenny menjelaskan.
"Astaga! tapi kenapa bisa?" Jenny menyahut seraya melerai pelukan Kenny dan menghadapkan tubuh mereka untuk saling menatap.
"Itu semua karena Gea tak menjaga kandungannya dengan benar saat dia hamil, dia selalu mengkonsumsi minuman beralkohol meski Dokter sudah memperingatinya berkali-kali," Tutur Kenny menjelaskan kembali.
"Kenapa dia setega itu? bukannya harusnya dia menjaga bayi mu dengan baik?! dia kan sangat terobsesi padamu sejak dulu," Ucap Jenny yang tak habis pikir dengan tingkah Gea.
"Jenn, sebenarnya Marsya bukan anakku!" Ungkap Kenny lirih.
"A...apa? tapi bukannya kau menikahinya dulu karena dia hamil anak mu ya?!" Sahut Jenny.
Jenny terus mendengarkan penuturan Kenny, perempuan cantik itu masih terkejut dengan penjelasan yang Kenny sampaikan padanya.
"Astaga! lalu siapa Ayah gadis malang itu?" Tanya Jenny.
"Dia... Mark, pria yang sudah menolongnya dari dulu sejak Gea dan keluarganya aku buat bangkrut tak bersisa. Mungkin ini semua karma untuk ku juga Jenn, aku berusaha ikhlas menerimanya," Lirih Kenny.
Di ujung kedua sudut matanya sudah terlihat air mata yang siap meluncur, pria tampan itu terlihat begitu rapuh kala mengingat kejadian-kejadian yang selama ini menimpa hidupnya.
"Huh... ya sudah sebaiknya sekarang kau fokus saja pada pengobatan Marsya, Kenn. Dia sedang membutuhkan mu saat ini!" Tutur Jenny seraya mengusap sebelah bahu Kenny.
Kenny meraih tangan Jenny, di kecup nya dengan dalam. Raut wajahnya benar-benar menyiratkan betapa merindukan dan mendambanya pria tampan itu pada sosok mantan sang istri yang masih sangat dia cintai itu.
"Apa kau mau menemaniku merawatnya?!" Ucap Kenny yang masih betah menggenggam tangan Jenny.
"Aku masih banyak pekerjaan Kenn, apa lagi pertunjukkannya tinggal satu Minggu lagi, aku ingin memberikan hasil yang terbaik kali ini," Tutur Jenny seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Kenny.
"Jenn! jadilah istriku lagi, aku mohon..." Pinta Kenny lirih.
"A...aku... aku tidak bisa Kenn, aku ingin fokus membesarkan Ken, aku..." Ucap Jenny tercekat.
"Kita bisa membesarkan Kenji bersama-sama sayang, aku mohon... berilah aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya," Sanggah Kenny seraya meraih kembali kedua tangan Jenny dan menggenggamnya di depan dadanya.
"Tapi aku belum siap Kenn, aku masih belum bisa membuka hatiku kembali," Tutur Jenny menundukkan kepalanya.
"Aku akan memberimu waktu sayang, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang, ya penting kau mau memaafkan ku dan tak menghindari ku lagi jika kita saling bertemu dimana pun," Sahut Kenny.
Jenny nampak berpikir keras untuk keputusannya, meski jauh di dalam hatinya masih mencintai Kenny, tapi rasa sakit hati atas perlakuan Kenny masih lebih mendominasi perasaannya saat ini.
Sejurus kemudian, Kenny mendekat dan membingkai wajah cantik Jenny dengan kedua tangannya, kedua netra mereka saling beradu, menyelam ke masing-masing lembah mahligai cinta yang tersisa dari keduanya.
Semakin dekat, hembusan nafas Kenny semakin terasa hangat menyapu wajah Jenny, hingga akhirnya...
"Mommy..." Seru Ken kecil yang ternyata terbangun karena kehausan.
Secepat kilat, Jenny melepaskan diri dan menghampiri Ken kecil.
"I...iya sayang, kenapa kau terbangun?!" Ucap Jenny terbata seraya salah tingkah takut-takut putranya itu melihat adegan romantisnya tadi bersama Kenny.
"Aku haus Mom, aku ingin minum!" Tutur Ken kecil.
"Wah... anak Daddy kehausan ya sayang, kau mau minum apa? biar Daddy bawakan untuk mu ya!" Sahut Kenny menghampiri.
"Daddy?! aku kangen! sejak kapan Daddy datang? apa Marsya juga ikut?" Seru Ken kecil seraya berhambur memeluk sang Daddy.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys... 😘😘😘
Yang mau tambah bab ketik di kolom komentar ya 👍🏻🤗