Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 6 # Pagi yang menyebalkan



"Ya sudah, jangan lama-lama ya! lepas itu segera makan, ok!" Ucap Ibu Tania seraya melenggang ke arah dapur rumahnya.


Sebelum mandi Jenny menyempatkan diri untuk memeriksa keadaan kakaknya terlebih dahulu.


"Kak! masih belum selesai ya?" Tanya Jenny saat melihat sang kakak yang masih mengotak-atik sebuah televisi.


"Sedikit lagi Jenn! kau baru pulang ya?" Aldo masih berkutat dengan peralatannya saat Jenny menghampirinya dan duduk di atas tempat tidurnya sambil melihat Aldo yang sedang membenarkan sebuah televisi milik salah satu tetangga mereka.


"Baru saja kak. Kak Aldo sudah makan? kalau belum kita makan sama-sama ya, Jenny akan memanggil Kakak lagi setelah selesai mandi nanti, ok!" Seru Jenny seraya beranjak tanpa menunggu jawaban dari Kakaknya.


Jenny sudah sangat hafal dengan kegilaan Kakaknya jika sudah berkutat dengan pekerjaan kesukaannya, pria yang berselisih umur 5 tahun lebih tua dari Jenny itu selalu lupa dengan waktu jika sudah berurusan dengan peralatan servicenya. Apa lagi dengan masalah mengisi perut, Jenny sering kali menegurnya jika waktu makan Aldo sampai terlewat, bahkan Jenny jugalah yang sering mengingatkan dan mengajaknya untuk makan.


"Haist!! anak itu selalu lupa menutup pintu kalau sudah keluar masuk kamarku!" Gumam Aldo yang kembali fokus dengan pekerjannya setelah melihat pintu kamarnya yang masih sedikit terbuka pasca Jenny keluar dari kamarnya.


Sekitar 15 menit kemudian, Jenny sudah terlihat jauh lebih segar dan rapih dengan setelan piyama tidurnya. Dia kembali memasuki kamar sang Kakak untuk mengajaknya makan malam bersama.


"Jenn, sepertinya Polisi tadi suka sama kamu deh!" Celoteh Rangga yang membuat perhatian semua orang yang ada di ruang makan tertuju pada Jenny.


"Polisi? kalian tidak membuat onar kan Ga?" Tanya Ayah Primus yang tak lain suami Ibu Tania.


"Engga ko Yah! tadi dia cuman mengantar Jenny kembali ke hotel saja ko," Sahut Jenny menjawab.


"Apa benar hanya itu Jenn? sejak kapan putri Ibu punya kenalan Polisi? tampan tidak?" Goda Ibu Tania.


"Ish... Ibu ko malah bertanya begitu sih! tapi Tuan Erfan memang tampan sih!" Jenny terkekeh di ujung ucapannya sendiri.


Jika di ingat kembali, Jenny pikir Erfan memang tampan, tapi sayangnya Jenny tidak memiliki perasaan apa pun padanya, Jenny hanya mengaguminya sebagai seorang aparat penegak hukum yang begitu gagah dan berwibawa.


"Oh... jadi namanya Erfan ya! wah... Yah! sepertinya kita sebentar lagi bakal punya menantu nih!" Goda Bu Tania kembali.


"Jenny cuman kagum sama wibawanya aja ko Bu, Jenny gak punya perasaan apa-apa sama Tuan Erfan," Sahut Jenny yang sedari tadi menyadari tatapan tajam Kakaknya.


"Ya sudah! sebaiknya kita lanjut makan saja ya! mumpung masih pada hangat!" Seru Ayah Primus menengahi.


Keesokan harinya. Jenny bangun lebih awal karena harus memeriksa ball room hotel yang akan di gunakan oleh konsumennya malam ini. Sambil terburu-buru Jenny melahap roti isi yang sudah di sediakan oleh Bu Tania.


"Hati-hati sayang! kamu bisa tersedak jika makan seperti itu!" Tegur Bu Tania yang selalu memberikan nasihat dan perhatian lebih pada putri angkatnya itu.


"Tenang saja Bu! Jenny berangkat sekarang ya, dah Ibu!" Jenny segera mengecup pipi kiri Bu Tania yang sudah dia anggap seperti Ibu kandungnya sendiri.


"Hati-hati sayang! Ga, kamu tidak ikut kerja hari ini?" Teriak Bu Tania saat Jenny sudah menghilang di balik pintu rumahnya.


"Rangga hari ini hanya bagian kontrol malam Bu, itu pun di tempat yang sama dengan Jenny, jadi Rangga siang ini mau mengantar dulu Shakira!" Sahut Rangga yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Oh begitu ya, Ya sudah cepat. mandi gih! Ibu sudah buatkan sarapan di meja, nanti sekalian panggilkan juga Kakak mu ya," Seru Bu Tania seraya masuk ke kamarnya untuk membangunkan sang suami.


"Ok Bu!".


...****************...


Pagi hari di bawah langit yang sama namun berbeda tempat. Seorang pria terlihat baru saja terbangun dari tidurnya yang jauh dari kata nyenyak, sebab semalam tadi dirinya masih sulit untuk beradaptasi di tempatnya yang baru.


"Astaga! tulang punggung ku rasanya remuk semua! arrgghhh... ini semua gara-gara gadis menyebalkan itu! awas saja nanti, kalau aku bertemu lagi dengannya aku akan buat dia membayar semua ini!" Gerutu Kenny seraya beranjak.


Kruyuuukkk...


"Ah... sial! kenapa pagi-pagi buta begini sudah lapar sih? mana tidak ada stok makanan lagi! ha... aku mandi dulu saja lah, habis itu cari makan," Gumam Kenny seraya melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Jenny baru saja sampai di depan lobby hotel tempat dia mendekor saat ini. Dia segera melebarkan langkahnya menuju ball room yang sudah dia sulap menjadi ruangan megah nan indah bertabur bunga mawar berwarna pink.


"Wah... ternyata bakat dekorasi ku semakin meningkat! aku harap konsumen ku kali ini puas dengan hasil jerih payah ku ini!" Gumam Jenny berbangga diri setelah memeriksa semua dekorasi yang dia kerjakan terlihat sempurna.


"Haist! dasar perut tidak tau waktu, barusan kan sudah aku ganjal dengan roti isi buatan Ibu, masa sudah lapar lagi sih! emm... aromanya lezat sekali! kira-kira makanan di sini mahal-mahal tidak ya?" Jenny akhirnya melangkah masuk ke dalam Restoran yang berada di dalam hotel tersebut dan segera mendaratkan bokongnya di salah satu kursi pelanggan yang masih kosong.


Tak lama kemudian seorang pelayan pun menghampirinya seraya memberikan buku menu yang berisi daftar nama-nama makanan andalan Restorannya.


"Selamat pagi Nona, ini menunya!" Sapa seorang pelayan Restoran seraya memberikan sebuah buku menu makanan pada Jenny.


Disaat yang bersamaan seorang pria tampan baru saja menapaki kakinya di Restoran yang sama dengan yang saat ini Jenny singgahi. Matanya terlihat mengelilingi mencari tempat duduk yang masih kosong yang akan dia gunakan untuk menikmati sarapannya pagi itu.


"Maaf Tuan, tempatnya sudah penuh semua! apa anda sudah mengatur janji sebelumnya?" Seru seorang pelayan Restoran menghampiri.


Karena tidak mungkin lagi untuk mencari Restoran lain, akhirnya Kenny memiliki ide yang cerdik untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah berdemo minta di isi.


"Oh, iya! aku sudah membuat janji dengan seseorang, emm... dia duduk di mana ya? aku lupa bertanya padanya tadi!" Ucap Kenny berbohong seraya celingukan mencari kursi yang sekiranya bisa dia singgahi selama menyantap sarapannya.


Karena ini jam-jam nya orang-orang sarapan, Restoran tersebut menjadi penuh dengan pengunjung. Kebanyakan dari mereka yang berkunjung karena mereka tidak memiliki bakat memasak untuk membuat sarapannya, ada juga yang hanya ingin menikmati suasana Restoran itu sendiri, karena kebetulan Restoran tersebut juga memiliki penataan ruang yang begitu estetik dan menarik bagi para pengunjungnya.


"Oh kalau begitu silahkan bergabung Tuan! apa Tuan sudah tau rekannya duduk di kursi mana?" Tanya pelayan Restoran.


"Emm... sepertinya dia yang sedang melihat buku menu itu deh, biar aku hampiri sendiri saja deh, mari!" Sahut Kenny seraya menghampiri kursi seorang gadis yang terlihat sedang memilih menu di daftar nama-nama makanan yang di sediakan Restoran tersebut.


Tanpa Kenny ketahui ternyata gadis yang sedang duduk di kursi tersebut adalah gadis yang sudah membuatnya kesal semalaman.


"Excuse me, bolehkan aku bergabung?" Seru Kenny membuat sang gadis yang sedang memegang buku menu itu segera berbalik menoleh nya.


"Kau!!!" Ucap Jenny dan Kenny bersamaan.


"Haist!! kenapa harus bertemu dengan pria menyebalkan ini lagi sih!" Umpat Jenny seraya melipat buku menu di tangannya dengan sedikit kasar.


"Heh! kau pikir aku juga sudi ya bertemu denganmu lagi? dasar gadis aneh menyebalkan!" Kenny tak kalah menggerutu dan sedikit membuat kegaduhan dengan tingkah konyol mereka berdua.


Akhirnya mereka pun mendapat teguran dari pelayan Restoran karena bisa membuat kenyamanan pelanggannya yang lain terganggu.


"Maaf Tuan, Nona! jika kalian ingin berdebat sebaiknya jangan di sini! kami juga memiliki pelanggan yang lainnya selain anda berdua yang membutuhkan ketenangan dan kenyamanan saat menikmati hidangan mereka! kamu harap kalian mengerti dengan peraturan Restoran kami!" Tegas pelayan Restoran.


Kruyuuukkk...


"Maafkan kami ya, kami hanya sedikit berbeda pendapat tadi, benarkan?" Kenny melirik Jenny dengan tatapan memohon nya. Dia benar-benar sudah sangat kelaparan saat itu.


Setelah memilih menu, makanan pesanan mereka pun datang dan di sajikan di atas meja.


"Silahkan Tuan, Nona! selamat menikmati hidangannya! kami harap kalian tidak membuat keributan lagi setelah ini!" Seru Pelayan Restoran seraya memberi mereka tatapan tajam penuh intimidasi agar keduanya tidak berulah kembali.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya ya readers... see you next episode 😘