
“Sudahlah sayang! Kak Aldo tidak salah ko, dia begitu juga pasti karena sangat khawatir padamu, ini tidak apa-apa ko, aku akan mencuci lukanya di kamar mandi, kalian jangan bertengkar lagi ya!” Sanggah Kenny seraya melenggang ke kamar mandi.
“Haist! kenapa kau berteriak seperti tadi sih kalau hanya bergurau, Kakak kan jadi berpikiran yang tidak-tidak tadi, tapi kau benar tidak apa-apa kan?” Tutur Aldo setelah memastikan Kenny masuk ke dalam kamar mandi.
“Jenny baik-baik saja ko Kak,” Jawab Jenny yang tiba-tiba meraih kembali ponselnya yang di letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya.
Jo yang tadi tidak menjawab telepon dari Jenny ternyata menelepon balik gadis itu untuk mengurai rasa penasarannya.
“Siapa yang menelepon?” Tanya Aldo saat melihat Jenny begitu bersemangat setelah meraih ponselnya.
“Tuan Jo Kak, sebentar ya Jenny angkat dulu teleponnya!” Izin Jenny seraya menjawab panggilan telepon dari Jonathan.
“Tuan Jo? sepertinya aku baru mendengar nama itu, apa Jenny punya pria lain selain Kenny ya?” Batin Aldo bertanya-tanya.
Sementara Kenny yang baru saja keluar dari kamar mandi segera di hampiri Tian yang kebetulan sudah sampai dan menunggunya untuk menyerahkan pesanan Tuan nya. Kenny segera bergegas masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya.
Setelah selesai Kenny segera membuka beberapa kotak sarapan yang di bawa Tian. Ada banyak makanan yang sengaja Kenny pilih untuk sarapannya. Kenny sengaja memilih banyak menu untuk sarapan karena takut jika Aldo dan Ibu Tania atau mungkin Rangga dan ayahnya akan berkunjung kembali ke Rumah Sakit pagi itu. Sehingga mereka bisa sarapan bersama tanpa perlu mencari makanan lagi nantinya.
“Kak, ayo sarapan!” Seru Kenny setelah menata hidangan sarapannya.
“Ya sudah kalau begitu aku minta maaf ya Tuan, sekali lagi terimakasih untuk pengertian mu,” Tutur Jenny sebelum mengakhiri sesi teleponnya.
“Jenn, ayo! kau juga harus sarapan!” Seru Aldo setelah sang Adik menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
“Jenny belum lapar Kak, kalian makan saja duluan,” Sahut Jenny.
Kenny yang ingin kekasihnya segera sembuh pun berinisiatif untuk menyuapi gadisnya itu dengan tangannya sendiri, dia beranjak dengan satu kotak makanan yang sudah dia buka sebelumnya dan menghampiri Jenny di tempat tidurnya.
“Aku suapi ya sayang, kau harus makan agar cepat sembuh, sini! aku ikatkan rambut mu dulu!” Seru Kenny dengan telatennya mengikat rambut Jenny yang terurai.
“Pria menyebalkan ini benar-benar mencintai Jenny ternyata, semoga aku tidak salah telah merestui hubungan mereka,” Batin Aldo yang sejak tadi memperhatikan tingkah Kenny yang terlihat begitu tulus.
Selesai menghabiskan satu kotak makanan yang akhirnya di habiskan berdua oleh Kenny dan Jenny. Mereka menghabiskan pagi menjelang siang itu dengan menikmati secangkir teh hijau hangat dan cemilan pendamping yang Tian beli tadi bersamaan sarapan pesanan Tuan nya.
“Jenn, Kakak tidak bisa berlama-lama di sini. Kakak masih harus membetulkan beberapa elektronik di rumah, kau tidak apa-apa kan kalau Kakak pulang sekarang?” Tutur Aldo.
“Tidak apa-apa Kak, sebentar lagi kan Ibu juga ke sini! Kakak pulang lah, dan jangan lupa istirahat ya!” Sahut Jenny.
“Hm… ya sudah! kalau begitu Kakak pulang dulu ya. Kenn! Kakak titip Jenny ya,” Ucap Aldo sebelum melenggang keluar dari ruangan rawat inap Jenny.
“Kakak tenang saja, Kenn pasti menjaga Jenny dengan baik,” Tutur Kenny penuh percaya diri.
Aldo akhirnya meninggalkan mereka berdua di ruangan rawat inap VVIP tersebut. Tanpa menunggu aba-aba lagi Kenny segera menghampiri sang kekasih dan mendaratkan satu kecupan di kening Jenny.
“Kenn, ada apa?” Tanya Jenny yang entah mengapa menangkap raut penasaran di wajah Kenny.
“Sayang, siapa yang tadi menelepon mu saat aku ganti pakaian?” Tutur Kenny bertanya.
“Oh… tadi itu Tuan Jo, dia memberi tahu ku supaya aku tidak perlu pergi ke Negara A jika aku memang masih sakit, dan kebetulan jadwalnya di ubah menjadi hari ini, dan itu berarti aku tidak bisa memenuhi keinginannya untuk mendekor di Negara A,” Papar Jenny menjelaskan.
“Tuan Jo? maksudmu Jonathan?” Tanya Kenny penuh intimidasi, dan Jenny hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepalanya saja.
“A…aku tadinya mau memberitahumu Kenn, tapi aku lupa! maafkan aku ya,” Ucap Jenny penuh sesal karena dia lupa untuk memberitahu Kenny perihal keberangkatannya ke Negara A.
“Hm… ya sudah! aku mau menghubungi Tian dulu sekarang!” Kenny beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rawat Jenny.
“Apa dia marah ya? duh.. kenapa aku bisa lupa juga sih!” Batin Jenny merutuki kebodohannya.
20 menit berlalu begitu saja, namun Kenny tak kunjung kembali ke ruangan Jenny. Di dalam ruangan yang cukup luas itu Jenny menjadi tambah gelisah karena Kenny sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya lagi. Akhirnya Jenny memutuskan menghubungi kontak Kenny dari ponselnya untuk menepis rasa penasaran dan cemasnya. Jenny merasa kalau Kenny sedang salah paham lagi saat ini.
“Kenn, kau kemana sih? apa dia benar-benar marah ya padaku?” Gumam Jenny seraya terus mencoba menghubungi nomor ponsel Kenny.
Tiba-tiba saja pintu ruangan rawat Jenny di ketuk seseorang dari luar. Setelah mempersilahkan masuk, orang yang mengetuk pintu pun masuk dan menyapanya.
“Selamat siang Nona, maaf sudah mengganggu istirahat anda, tapi saya benar-benar tidak bisa menghubungi Tuan sejak tadi, saya pikir Tuan pasti masih berada di sini!” Tutur Tian setelah berhasil masuk ke dalam ruangan Jenny.
“Kak, Kenny sudah pergi dari sini sejak 20 menit yang lalu, aku juga tidak tau dia pergi kemana.” Tutur Jenny lirih.
“Nona, maaf! tapi apa kalian sedang bertengkar?” Tanya Tian penasaran.
“Tidak Kak, aku dan Kenny tidak sedang bertengkar, hanya saja sebelum Kenny pergi tadi aku baru saja meminta maaf padanya karena lupa untuk menyampaikan rencana kepergian ku ke Negara A yang tak lain permintaan Tuan Jo, tapi itu pun sudah aku batalkan karena kondisi ku yang tidak memungkinkan untuk pergi.” Tutur Jenny mengungkapkan kegelisahannya.
“Begitu ya, em… ya sudah kalau begitu saya mencari Tuan di tempat lain lagi saja ya Nona, permisi!” Pamit Tian.
Di saat Jenny mencoba terus berpikir positif tentang kekasihnya, tiba-tiba saja sebuah chat masuk dan menunjukkan sebuah foto yang membuat hati Jenny seketika terasa sesak. Pasalnya foto yang di kirim entah oleh siapa itu memperlihatkan posisi Kenny yang sedang tertidur pulas di pangkuan wanita yang begitu Jenny waspadai.
“Astaga! i…ni! siapa yang mengirim foto ini? sepertinya foto ini di ambil di Rumah Sakit ini juga?” Gumam Jenny seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
Ting… bunyi sebuah chat masuk.
“Ah… ternyata benar, Kenny masih di Rumah sakit ini, aku harus segera mencarinya untuk meminta penjelasan!” Ucap Jenny seraya beranjak dengan kondisi kakinya yang masih terasa sakit.
.
.
.
.
.
.
.
Guys jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya ya, semoga karya Mom yang kedua ini bisa menghibur para readers semua ya...
See you next episode...