
"Sudah! tidak ada tapi- tapian, Tri! pokoknya besok kau tidak perlu bekerja lagi, kau fokuslah pada pernikahan mu!" Sahut Jenny.
"Tapi Nyak, kalau saya tidak bekerja bagaimana saya mengirim uang pada keluarga di kampung?!" Seru Tantri memberanikan diri.
"Astaga! jadi kau pikir aku tidak akan menggaji mu selama persiapan pernikahan ya?!" Sahut Jenny.
"Bukan begitu Nyonya, tapi saya tidak mau di berhentikan bekerja dari sini, saya masih butuh pekerjaan ini!" Tutur Tri.
"Ya ampun.... Tri, siapa juga yang akan memecat mu?! aku hanya ingin kau mempersiapkan pernikahan mu, kalau masalah bekerja di sini, aku tidak akan pernah memecat mu jika bukan kak Tian sendiri yang menginginkanmu berhenti setelah menikah nanti!" Jawab Jenny seraya menghela nafas.
"J...jadi Nyonya tidak akan memecat saya?!" Tanya Tri masih ragu.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?!" Sahut Jenny balik bertanya.
Tantri tak menjawab lagi, dia benar-benar lega karena ternyata dugaannya salah. Awalnya Tantri pikir dia akan di pecat setelah menikah bersama Tian, apalagi Jenny mengatakan akan menarik Bibi Rosa yang tak lain pelayan senior di Villa keluarga Alvaro.
"Te...terimakasih banyak Nyonya, maaf saya sudah salah paham!" Ucap Tri seraya semakin menundukkan kepalanya.
"Tri... kau itu sudah aku anggap keluarga sendiri, jadi aku tidak mungkin membiarkan keluargaku kesulitan!" Lirih Kenny seraya memegang kedua pundak Tantri.
"Terimakasih banyak Nyonya, terimakasih... bo...bolehkah saya memeluk Nyonya sebentar saja?!" Pinta Tri penuh haru.
Jenny pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Akhirnya kedua perempuan berbeda usia tersebut saling berpelukan. Meski saat ini kehidupan Jenny jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya, namun sikap dan sifat baiknya tak pernah berubah. Dia selalu baik pada siapa pun juga tanpa memandang status sosial orang tersebut.
Siang itu juga, Jenny memanggil Tian untuk merundingkan pernikahannya bersama Tantri. Kedua calon pengantin itu benar-benar terharu atas kebaikan majikannya. Mereka benar-benar tak menyangka jika Jenny akan membantu pernikahan mereka hingga sejauh itu. Mulai dari gaun, gedung resepsi, dekorasi, serta makanan dan minuman untuk menjamu tamu undangan yang hadir, Jenny urus semuanya dengan sempurna.
"Nona aku benar-benar sangat berterimakasih pada anda dan Tuan Kenn, jika bukan karena kebaikan kalian! mungkin, pernikahan kami tidak akan semeriah ini," Tutur Tian saat dirinya sudah berdiri gagah di atas pelaminan.
"Kalian tidak perlu berterimakasih, kami hanya melakukan apa yang seharusnya, sekali lagi selamat ya... semoga pernikahan kalian langgeng dan segera di berikan momongan," Sahut Jenny seraya memeluk Tantri.
"Sayang, ayo turun! sepertinya Kenji dan Kea sudah menunggu!" Seru Kenny mengingatkan.
"Iya, Kenn! sekali lagi selamat ya," Ucap Jenny sebelum benar-benar meninggalkan pelaminan.
Sepulang dari pesta pernikahan Tian dan juga Tantri, Kenny mengajak sang istri ke sebuah Villa. Jaraknya yang lumayan jauh membuat Jenny terus mengoceh karena khawatir pada kedua anaknya yang mereka titipkan pada Ibu Tania dan juga Aldo.
"Kenn, kau mau membawaku kemana sih? anak-anak pasti mencari kita jika terlalu lama pergi!" Gerutu Jenny gelisah.
"Tenang lah sayang, mereka tidak akan rewel jika kau tidak mengkhawatirkannya berlebihan. Aku hanya ingin menunjukkan sebuah tempat padamu, aku harap kau menyukainya nanti!" Tutur Kenny menenangkan sang istri.
"Haist! kenapa tidak langsung beri tahu saja sih, aku benar-benar khawatir pada Kea, Kenn! bagaimana kalau dia ingin Asi?!" Sahut Jenny.
Beruntung sang putri tidak alergi susu formula, sehingga saat bepergian atau bekerja berjauhan dengan sang putri, baby Kea selalu menerima susu formula sebagai pengganti ASI dari sang Mommy.
"Kau lupa ya sayang, putri kita itu sangat pengertian! dia kan masih bisa meminum susu formula, sudahlah! sebaiknya kau tidur saja sekarang, perjalanannya masih lumayan jauh, mungkin sekitar 2-3 jam lagi untuk kita sampai!" Saran Kenny seraya mengecup sebelah tangan Jenny yang dia genggam sejak tadi.
"Hm... kau memang menyebalkan Kenn!" Gumam Jenny memanyunkan bibirnya kesal karena Kenny terus menjawab pertanyaannya dengan seenaknya.
"Hei... jangan cemberut begitu, bisa-bisa aku tidak tahan untuk menerkam mu di sini, sayang!" Ucap Kenny seraya memalingkan pandangannya ke arah sang istri di sela fokusnya mengemudi.
"Coba saja kalau berani!" Tantang Jenny seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Seketika Kenny menepikan mobilnya, pria tampan itu seperti di beri di lampu hijau saat hasratnya benar-benar sudah tak bisa dia tahan sejak Jenny memanyunkan bibirnya. Ba GG i pria tampan bertubuh atletis itu, Jenny selalu terlihat menggoda. Apa lagi jika sang istri memanyunkan bibirnya seperti tadi, membuat keinginan merekamnya langsung meroket seketika itu pula.
"Kenn! jangan bercanda! kita masih di pinggir jalan!" Tegur Jenny seraya membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa? bukannya tadi kau yang menantang ku ya?!" Tanya Kenny seraya membuka sabuk pengaman yang dia kenakan dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Jenny.
"Kenn... nanti ada yang melihat!" Cegah Jenny.
"Biar saja, aku sudah tidak perduli sayang!" Tutur Kenny seraya mendaratkan bibirnya di bibir Jenny.
Cup....
Jenny terkesiap. Suaminya benar-benar mengecupnya saat itu. Jantungnya seakan ingin melompat dari sarangnya saat Kenny kembali melum** bibir ranumnya dengan rakus. Sebisa mungkin Jenny memberontak dan melepas pagutan mereka.
"Hm... baiklah, sepertinya kita harus mencari Hotel dulu sekarang!" Gumam Kenny kembali duduk di bangku mengemudi dan menyalakan kembali mesin mobilnya untuk melaju mencari sebuah Hotel terdekat.
Jenny benar-benar tak habis pikir dengan sikap mesum suaminya yang semakin menjadi. Dia sampai kewalahan setiap malam jika saja baby Kea tidak merengek di kala mereka melakukan olah raga malam.
Kita kembali ke gedung resepsi pernikahan Tian dan juga tabri, keduanya benar-benar tengah berbahagia sekarang, apa lagi Tian yang sudah sangat mendambakan hari bahagianya itu tiba sejak sebulan yang lalu, namun harus dia undur karena Kenny terus memberi ya pekerjaan. beruntung dia memiliki majikan perempuan yang begitu baik dan pengertian seperti Jenny. Jika saja Kenny masih bersama Gea, entah bagaimana nasib percintaannya saat ini.
Kemungkinan Tian akan membujang seumur hidupnya dengan melayani Kenny yang selalu uring-uringan setiap waktu. Sangat berbanding berbeda setelah Jenny kembali lagi pada majikannya itu. Tian benar-benar sangat bersyukur karena Jenny merupakan majikan idaman bagi setiap karyawan, dia tidak pernah berlaku semena-mena pada setiap karyawannya atau pun pada karyawan suaminya.
"Sayang, akhirnya aku bisa menikahinya juga, setelah ini aku akan membawamu ke Apartemen baru kita!" Tutur Tian.
"Aku akan ikut kemana pun Tuan pergi, sekarang aku sudah menjadi milik Tuan seutuhnya," Sahut Tri.
"Hei... kenapa kau masih memanggilku Tua, sekarang kita sudah menjadi suami istri, ubahlah panggilan mu itu padaku, aku sangat risih di panggil Tuan olehmu! aku sekarang suamimu, bukan atasan mu!" Protes Tian.
Tantri sedikit terkekeh melihat reaksi Tian yang begitu menggemaskan menurutnya, jika sedang merajuk seperti ini, Tian tak terlihat seperti pria dewasa yang gagah seperti biasanya, sisi kekanak-kanakan nya begitu terlihat saat dia merajuk seperti itu.
"Kenapa kau malah tertawa?! apa aku terlihat lucu?!" Sarkas Tian.
"Tidak, aku hanya bahagia karena bisa memilikimu, sayang!" Ucap Tri yang membuat kedua pipi Tian seketika memerah karena tersipu.
"Aih... sejak kapan kau pandai menggoda, hem?! membuatku semakin tak sabar saja," Sahut Tian mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri.
"Ehem... kalian sudah tidak sabar ya," Telur Viky.
"E...eh, Tuan Viky! maaf... " Ucap Tian salah tingkah, sedangkan Tantri sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Haist! kalian membuatku iri, Ti! selamat ya... semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut yang memisahkan!" Tutur Viky seraya merangkul ala pria pada tubuh gagah Tian.
"Terimakasih banyak Tuan, semoga anda juga segera cepat menyusul!" Ucap Tian.
"Semoga saja Ti, ya sudah kalau begitu aku pamit ya, kebetulan hari ini aku harus kembali ke Negara asal ku, aku turut berbahagia untuk kalian!" Tutur Viky seraya berpamitan.
Sesaat pria tampan itu tengah menuruni tangga pelaminan, seorang perempuan cantik dengan gaunnya yang menjuntai terlihat kehilangan keseimbangannya karena tak terbiasa mengenakan heels meski tingginya tak seberapa.
"Awww..." Pekik sang perempuan seraya memejamkan kedua matanya saat tubuhnya merasa melayang hendak terhempas ke atas lantai.
Huppp...
Gerakan refleks yang tak di sangka itu sangat terlihat memukau dan berhasil membuat semua mata yang memandangnya terkagum-kagum.
"Eh... kenapa punggungku tidak sakit?!" Gumam sang perempuan yang masih memejamkan kedua matanya.
Sementara sang pria yang menolongnya hanya bisa terpesona seraya menatap lekat wajah cantik di depannya itu.
"Cantik! kenapa aku baru melihatnya sekarang?" Batin Viky. Ya! Viky lah yang menolong perempuan cantik yang hampir terjatuh tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira siapa hayo yang di tolong Viky??? masih pengen lanjut kah??? In Sya Allah besok Mom tambahin lagi bab bonusnya deh buat reader tercinta...
Jangan lupa dukungannya ya guys, see you 😘😘😘