
“Baiklah Nek, tunggu sebentar ya!” Seru Jenny seraya menyimpan kembali ponselnya dan beranjak meraih buah apel yang tergeletak di sebuah wadah buah-buahan di atas meja di depannya.
Dengan cekatan dan begitu telaten, Jenny mengupas buah apel tersebut hingga bersih dan menjadi potongan-potongan kecil yang sangat pas untuk di lahap satu suapan.
“Apa Nenek ingin Jenny suapi lagi?” Tawar Jenny.
“Hm!” Jenny yang mengerti segera mengayunkan sebuah garpu yang sudah tertancap sepotong buah apel ke depan mulut Nenek Martha.
Meski sikap Nenek Martha terlihat masih ketus padanya, namun Jenny bersyukur karena Nenek Martha tidak menghindarinya lagi seperti saat kemarin dia di pertemukan kembali oleh Kenny. Bahkan, sepertinya Nenek Martha saat ini sangat menikmati waktunya bersama Jenny yang selalu memanjakannya dengan hal-hal sederhana yang dia minta.
“Terimakasih banyak untuk kepercayaannya Tuan, saya benar-benar sangat terbantu dengan investasi anda, semoga anda puas dengan hasil kinerja kami.” Tutur Kenny seraya berjabat tangan dengan koleganya yang bernama Hendrik itu.
“Sama-sama Tuan Kenn, saya harap anda tidak mengecewakan kepercayaan saya,”.
“Permisi Tuan! ada telepon dari Nyonya!” Seru salah satu pekerja Tuan Hendrik seraya menyerahkan sebuah telepon wireless.
“Halo sayang, ada apa?” Sapa Tuan Hendrik pada istrinya lewat sambungan telepon yang terhubung.
“Sayang! perut ku sudah terasa sakit, kau bisa pulang sekarang kah? aku tidak mau di antar supir!” Pekik istri Tuan Hendrik yang ternyata tengah menahan sakitnya kontraksi yang menunjukkan jika wanita di sebrang telepon itu akan melahirkan.
“Ok! baiklah-baiklah, kau tunggu aku sebentar ya sayang, aku akan segera menjemput mu sekarang!” Sahut Tuan Hendrik yang sudah terlihat panik dan gelisah.
“Tuan, apa kau baik-baik saja?” Tanya Kenny setelah melihat Tuan Hendrik mengakhiri sambungan teleponnya.
“Istriku sedang mengalami kontraksi Tuan, sebentar lagi putra kami akan segera lahir ke dunia ini, saya harus menjemputnya ke rumah untuk membawanya ke Rumah Sakit, kalau begitu saya tinggal sekarang ya, saya akan suruh Asisten saya untuk mengurus sisa kerjasamanya nanti,” Tutur Tuan Hendrik serya beranjak yang di ikuti Kenny dan juga Tian yang setia menemaninya.
“Baiklah Tuan, semoga proses persalinan nya nanti lancar, dan ibu serta bayinya selamat serta sehat.” Panjat Kenny menuturkan doa.
“Amin, terimakasih Tuan! kalau begitu saya pergi, mari!” Tuan Hendrik segera melenggang meninggalkan ruangan kerjanya.
Kenny hanya bisa menatap nanar punggung kolega nya itu hingga tak terlihat di balik pintu ruangan pertemuan mereka tadi. Entah apa yang sedang ada di pikiran Kenny saat itu, mungkin saja Kenny juga sedang membayangkan kebahagiaannya jika Jenny juga mengandung dan melahirkan anak nya kelak.
“Tuan, sebaiknya anda istirahat dulu saja di hotel yang sudah saya siapkan, biar saya yang mengurus sisa pekerjaannya.” Usul Tian penuh pengertian.
“Baiklah Ti, terimakasih ya, aku akan istirahat dulu sebentar sebelum pertemuan selanjutnya, nanti!” Tutur Kenny yang mengikuti saran dari asisten kepercayaannya itu.
Kembali ke ruangan rawat inap Nenek Martha.
Hari sudah semakin sore, kali ini Jenny sudah tak sendirian menunggu Nenek Martha di ruangannya. Mom Bella dan Papah Oscar ternyata sudah ikut bergabung kembali di ruangan perawatan VVIP tersebut setelah selesai dengan aktivitasnya hari itu.
“Sayang, sebaiknya kau pulang dulu saja sekarang! biar Mommy dan Papah saja yang berjaga lagi malam ini!” Seru Papah Oscar yang tak tega jika melihat menantunya harus menjaga sang Ibu mertua nya seharian full sendirian.
“Jenny tidak apa-apa ko Pah, lagi pula Kenny tidak akan pulang malam ini, dia sedang melakukan perjalanan bisnis di Negara tetangga, mungkin besok siang dia baru pulang, jadi biar Jenny saja ya yang menunggu Nenek malam ini,”.
“Haist! pantas saja kau mau menunggu ku, ternyata kau tidak mau kesepian ya!” Cibir Nenek Martha, padahal dalam hatinya dia bersorak gembira jika Jenny sampai mau menginap menemaninya. Sepertinya Nenek Martha sudah sangat nyaman dan ketagihan dengan perhatian dan perlakuan tulus yang Jenny berikan padanya.
“Tapi kau kan tidak membawa pakaian ganti Jenn, kau tidak akan nyaman jika memakai terus pakaian mu ini seharian sayang, atau Mommy suruh Jeck untuk membelikan kau pakaian baru saja ya!” Seru Mom Bella yang nampak cemas pada menantu kesayangannya itu.
“Tidak perlu Mom, Jenny bisa meminta bantuan Kak Bruno ko nanti, dia supir baru yang Kenny utus untuk mengantar Jenny kemana pun akhir-akhir ini,” Tutur Jenny.
“Ha… ya sudah, kalau begitu sebaiknya kau suruh dulu saja si Bruno itu untuk mengambil pakaian mu, jadi kau bisa mengganti pakaian mu sebelum tidur nanti.” Sahut Mom Bella.
“Baiklah Mom, Jenny coba telepon dulu orangnya ya!” Jenny segera mencari ponselnya dan menghubungi Bruno untuk di mintai tolong mengambil pakaiannya yang berada di rumah.
Sebelumnya, Jenny juga menelepon Tantri agar menyiapkan pakaian yang nanti akan di ambil Bruno ke rumah nya itu, agar supir pribadinya itu tak menunggu lama lagi setelah tiba di rumah majikannya itu.
“Ya sudah, hati-hati di jalan ya Kak!” Ucap Jenny mengakhiri sesi komunikasinya via ponsel genggamnya itu.
“Kau sepertinya sangat akrab ya dengan supir pribadi mu itu! apa jangan-jangan kau selingkuh ya dengan supir mu sendiri?” Tuduh Nenek Marta yang segera di sahut oleh Papah Oscar.
“Mih, Jenny bukan gadis seperti itu, dia terlihat akrab karena dia memang selalu berlaku baik pada siapa pun, dan itu juga yang membuat Oscar bangga padanya. Dia tidak pernah membeda-bedakan status sosial pada orang yang dia temui, Mih!” Tutur Papah Oscar membela.
“Papah terlalu berlebihan, Jenny tidak sebaik itu ko Pah,” Sahut Jenny merendah.
“Tapi itu kenyataannya sayang, Mommy juga sering mendengar cerita Bibi Rosa yang sering memuji mu jika sedang berkunjung ke villa. Belum lagi pelayan-pelayan mansion Mommy yang selalu kagum jika kau menginap di sana, mereka selalu terbantu karena kau selalu ikut terjun ke dapur atau mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya, kadang Mommy jadi iri padamu sayang, kau bisa melakukan banyak hal tanpa mengeluh sedikit pun, Mommy benar-benar beruntung menikahkan kau dengan Kenny, Jenn!”Tambah Mom Bella.
“Kalau gadis ini benar-benar sebaik itu, lalu bagaimana dengan perkataan-perkataan Gea? sebenarnya siapa yang harus aku percaya? hm… kalau begitu biar aku pinta Gea datang menjenguk saja besok, aku akan pastikan sendiri gadis mana yang cocok untuk menjadi pendamping Kenny ku!” Batin Nenek Martha.
Malam menjelang. Saat ini Kenny tengah beristirahat di kamar hotelnya setelah menyelesaikan pertemuan terakhir dengan koleganya.
“Ha… Jenny sedang apa ya sekarang? astaga! aku lupa tidak memeriksa ponsel ku yang satunya lagi, aku taruh dimana ya?” Kenny sedikit kalang kabut saat tidak mendapati ponselnya yang dia lupakan seharian itu. Hingga akhirnya pria tampan itu memutuskan memanggil sendiri ponselnya lewat ponselnya yang satunya lagi, dan akhirnya dia menemukan ponsel yang dia cari-cari itu di saku jas yang tadi dia kenakan seharian ini.
.
.
.
.
.
.
.
Siap-siap di bikin kesel di episode-episode berikutnya ya guys, biar Mom tambah semangat up nya, jangan lupa sertakan juga dukungan kalian ya.
See you next episode… 😘😘😘