Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 190 # Nenek Martha meninggal.



Karena sebelum kondisi Nenek Martha kembali drop, dia pernah berpesan jika dia ingin bertemu Jenny. Nenek Martha ingin meminta Jenny agar kembali pada Kenny untuk yang kesekian kalinya. Meski itu hal yang tak pasti, tapi Nenek Martha tetap ingin mencobanya demi sang cucu.


"Iya Nek, ini Jenny! Nenek harus kuat, Nenek pasti bisa sembuh lagi," Tutur Jenny seraya mempererat genggaman nya di tangan Nenek Martha.


"Nenek sudah tua, sayang! mungkin ini memang saatnya Nenek pergi, tapi sebelum itu terjadi, Nenek mohon padamu untuk yang terakhir kalinya Jenn, kembalilah pada Kenny, dia masih sangat mencintaimu..." Nenek Martha menghela sejenak nafasnya.


"Sekian tahun dia hidup dalam penyesalan karena sudah membuat mu pergi, dia benar-benar menderita, Jenn!" Ucap Nenek Martha.


"Nek, Nenek tidak perlu banyak bicara, Jenny susul Kenny panggil Dokter, ya!" Sahut Jenny mengalihkan perbincangan.


Saat kaki jenjangnya hendak melangkah, Jenny kembali terdiam kala Nenek Martha menarik sebelah tangannya dengan sisa tenaga yang ada. Perempuan tua itu benar-benar sudah tidak tahan melawan penyakitnya lagi, dia hanya ingin tenang sebelum dia kembali kehadapan sang pencipta.


"Berjanjilah, Jenn! kau akan memenuhi keinginan terakhir Nenek, kembali lah pada Kenny, dan hiduplah bahagia sampai maut memisahkan kalian..." Seketika alat medis pendeteksi detak jantung Nenek Martha berbunyi nyaring seiring menutupnya kedua mata perempuan tua itu.


Jenny benar-benar panik, dia segera mengguncang tubuh renta Nenek Martha agar kembali tersadar. Namun sepertinya usahanya itu sia-sia, Nenek Martha dinyatakan telah meninggal dunia setelah Dokter datang dan memeriksa keadaannya.


"Kami turut berduka cita, Tuan! Nyonya Martha sudah tiada sekitar 5 menit yang lalu, kami benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya, kami sudah melakukan yang terbaik semaksimal mungkin untuk menolongnya, namun Tuhan ternyata berkehendak lain, kami akan segera mengurus keterangan waktu wafatnya Nyonya, kami permisi!" Tutur Dokter penuh sesal, seraya meninggalkan ruangan Nenek Martha.


Mom Bella dan yang lainnya yang sejak tadi menunggu di luar pun segera bergegas masuk dengan derai air mata yang berlimpah di masing-masing wajah mereka. Kepergian Nenek Martha benar-benar menyisakan kesedihan yang mendalam pada keluarga besar Kenny.


Betapa tidak, perempuan Tua yang begitu mereka sayangi selama ini harus mereka ikhlaskan karena kondisi tubuhnya yang sudah tak mampu lagi melawan penyakitnya. Isak kan tangis menggema di ruangan ICU tersebut, menandakan betapa mendalamnya duka yang mereka rasakan saat itu. Seperti yang Jenny rasakan pula saat ini, meski statusnya di keluarga itu hanya sebatas manta menantu, namun dia juga merupakan orang yang paling bersedih karena hal ini.


Jenny benar-benar menyayangkan, karena dirinya belum bisa mewujudkan keinginan Nenek Martha sebelum perempuan tua itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.


"Sudahlah Kenn, Nenek sudah tenang sekarang! kau harus mengikhlaskannya, Nenek pasti sudah bahagian di alam sana, sekarang!" Tutur Papah Oscar menenangkan sang putra yang terlihat lebih terpukul akibat kepergian Nenek Martha tersebut.


Pasalnya Kenny adalah cucu kesayangan Nenek Martha sejak dulu, dia paling dekat dengan mendiang Nenek Martha. Setiap tahunnya, Nenek Martha akan berkunjung ke rumah anak-anaknya. Namun Nenek Martha lebih senang menghabiskan lebih banyak waktunya di kediaman Mom Bella. Dia sangat senang menemani dan ikut mengurus Kenny sejak kecil.


"Tapi Kenn belum sempat mewujudkan keinginan terakhir Nenek, Pah! Kenny benar-benar cucu yang buruk, bukan?! padahal Nenek hanya ingin melihat Kenn kembali berumahtangga, tapi... Kenn tidak bisa mewujudkannya, Pah!" Isak Kenny.


Jenny yang sejak tadi ikut terisak, mencoba menguatkan diri dan menghampiri Kenny yang sangat terpuruk.


"Kenn..." Panggilan lirih itu berhasil membuat Kenny mengangkat kepalanya yang tengah tertunduk menangis.


"Sayang... Nenek sudah pergi, Jenn! Nenek meninggalkan ku," Ucap Kenny dengan sorot mata sayu dan sembabnya.


"Maafkan aku, aku... aku mau menikah lagi denganmu!" Tutur Jenny mantap.


"Be...benarkah? kau tidak sedang bercanda, kan?!" Tanya Kenny seraya beranjak berdiri.


"Hem!" Jenny hanya bergumam dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Seketika itu pula Kenny memeluk Jenny dengan begitu erat. Dia benar-benar bahagia meski saat ini suasana hatinya masih berkabung.


"Selamat sayang, Papah ikut bahagia untuk kalian!" Ucap Papah Oscar seraya menepuk sebelah bahu sang putra.


"Terimakasih, Pah!" Jawab Kenny.


Kini pria tampan itu menatap Jenny dengan lekat, mencari ketulusan yang pernah dia temukan di kedua bola mata kekasih hatinya itu.


"Apa kau benar-benar yakin, Jenn?! aku memang pernah melukaimu di masa lalu, tapi aku berjanji akan selalu membahagiakan dan menjaga mu dengan Kenji di masa depan. Aku mencintaimu sayang," Ucap Kenny seraya menggenggam kedua tangan Jenny.


"Aku memang masih ragu, tapi aku tidak akan pernah tau jika aku tidak mencobanya, semoga saja kau bisa membuktikan ucapan mu itu, Kenn!" Sahut Jenny.


"Aku pasti membuktikannya, Jenn!" Ucap Kenny mantap.


"Baiklah Pah, Kenny akan mengantar mereka ke rumah Tante Regina saja, setelahnya Kenn akan menyusul Papah untuk membantu," Sahut Kenny seraya menghampiri Mom Bella dan Tante Regina.


Kedua wanita paruh baya tersebut mau tak mau harus merelakan kepergian sang Ibunda tercinta. Meski berat, tapi mereka harus ikhlas dan menerima kenyataan yang ada. Karena sekarang Nenek Martha sudah tenang di alam sana.


"Mom, Tante... ayo kita pulang! kalian harus istirahat, kalian sudah menunggu Nenek beberapa hari ini, kalian butuh istirahat, sebelum melihat pemakaman Nenek, nanti!" Tutur Kenny.


"Kenny benar Mih, ayo! biar Viky yang mengantar kalian!" Sahut Viky seraya merangkul bahu sang Ibu dan mengajaknya pulang. Sedang Mom Bella sudah di rangkul Jenny sejak tadi.


Akhirnya ketiga perempuan berbeda generasi tersebut di antar pulang oleh Kenny dan Viky. Meski kedua pria tampan itu masih dalam suasana berkabung, namun mereka berusaha tegar demi kedua perempuan yang sangat berarti bagi mereka, Mom Bella dan Tante Regina.


Setibanya di rumah Viky, Kenny segera mengajak Jenny ke kamarnya yang berada di rumah tersebut. Di bangunan luas itu, Kenny sering menghabiskan waktu bersama dengan Viky saat kecil dulu. Namun setelah kedua orangtuanya memutuskan menetap di Tanah Airnya, Kenny sangat jarang mengunjungi rumah Tantenya itu, mungkin hanya sesekali saja, itu pun jika dia sedang kebetulan ada bisnis di Negara tersebut.


"Istirahatlah, sayang! aku akan membangunkan mu jika pemakaman Nenek sudah siap!" Tutur Kenny seraya menyelimuti tubuh Jenny.


"Kenn! cepatlah kembali!" Seru Jenny seraya memegang sebelah pergelangan tangan Kenny yang hendak melenggang pergi.


"Pasti, sayang! aku akan cepat kembali jika persiapan pemakamannya selesai," Ucap Kenny seraya mendaratkan satu kecupan di kening Jenny.


"Hati-hati!" Lirih Jenny seraya melihat kepergian Kenny yang menghilang di balik pintu kamar besar tersebut.


Sementara di Negara kelahiran Jenny. Oma Dona yang baru saja menerima kabar kematian sahabatnya, sangat terkejut dan sempat terkena serangan jantung. Sahabat yang sudah sangat lama menemaninya itu dalam suka dan duka, harus pergi sebelum dia sempat menjenguknya.


"Bu, bagaimana keadaan Oma sekarang?" Tanya Jo yang baru saja tiba di sela bulan madunya bersama sang istri.


"Oma masih di periksa di dalam, Jo! kondisinya benar-benar lemah. Setelah mendengar kabar kematian Nenek Martha, Oma langsung terkena serangan jantung," Tutur Ibu Erika menjelaskan.


"Astaga! semoga Oma baik-baik saja, apa ibu sudah meminum obat juga? Ibu juga harus menjaga kesehatan, Jo tidak ingin Ibu juga ikutan sakit, sebaiknya sekarang Ibu istirahat saja ya, biar Jo dan Anggun yang menunggu Oma di sini!".


"Tapi Ibu tidak akan tenang sebelum mengetahui keadaan Oma mu, Jo! Ibu benar-benar cemas dengan kondisinya," Sahut Ibu Erika.


"Ya sudah, Ibu boleh menunggu di sini dengan kami, tapi jika Ibu sudah merasa lelah, Ibu langsung bilang pada Jo, ya! buat nanti Jo suruh supir untuk mengantar Ibu pulang," Tutur Jo khawatir.


"Kau tidak perlu cemas, sayang! Ibu pasti baik-baik saja, ko! maaf ya, gara-gara Ibu memberi kabar, bulan madu kalian jadi terganggu," Ucap Ibu Erika.


"Ibu jangan sungkan, lagi pula kesehatan Ibu dan Oma lebih penting bagi kami," Sahut Anggun menjawab.


"Terimakasih ya, sayang!" Ucap Ibu Erika seraya mengusap punggung tangan menantunya.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys 😘😘😘