
Dan hal itu ternyata di kabulkan segera oleh Ken kecil yang segera meminta turun dari gendongan Jo dan berlari ke arah Kenny. Seketika pasangan Ayah dan anak itu saling berpelukan melepaskan rasa rindu yang sempat terbendung. Kenny benar-benar selalu menikmati momen berpelukan dengan sang putra. Betapa tidak, selama bertahun-tahun dirinya tak memiliki kesempatan itu, baru kali ini lah dia di pertemukan kembali, jadi wajar saja jika dia masih sangat merindukan putra tampannya itu.
"Ken! kaki Daddy masih sakit, kau harus berhati-hati, kau bisa melukainya nanti!" Seru Jenny mengingatkan.
Entah mengapa bibirnya berucap begitu saja, mungkin Jenny lebih tak ingin bertanggung jawab atas ulah putranya kelak jika kaki Kenny sampai semakin sakit, bisa-bisa dia di jadikan bahan tebusannya oleh Kenny.
"Kau tenang saja sayang, kaki ku sudah jauh lebih baik ko," Ucap Kenny seraya mendudukkan Ken kecil di pangkuannya yang saat ini memilih duduk di salah satu kursi yang tersedia.
"Daddy, aku lapar," Keluh Ken kecil.
"Aku juga Dadd, apa kita bisa pergi mencari makan sekarang?" Sahut Marsya ikut bersuara.
"Ok! ayo kita pergi sekarang! kalian mau makan dimana? tapi sebaiknya kalian ajak Mommy juga ya, biar dia yang menentukan tempatnya," Tutur Kenny.
"Aku memang sudah memesan tempat makan Kenn, sudahlah! kalian tinggal ikut saja sekarang, ayo Ken! kau tidak boleh manja seperti itu lagi ya, kau bisa membuat orang lain repot nanti," Sahut Jenny seraya menasehati putranya.
Kenny segera menggandeng tangan mungil putrinya untuk menyusul, namun sebelum dia berhasil melangkah Jo terlebih dahulu mencegahnya.
"Ku harap kau tidak berniat menyakiti Jenny lagi Kenn, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi!" Tegur Jo seraya kembali melenggang ke dalam panti untuk menyusul Oma Dona dan Ibu Erika.
Kenny hanya bisa tersenyum kecut, dirinya bahkan masih harus berjuang untuk mendapatkan hati Jenny kembali, namun baru saja hendak berusaha dirinya sudah mendapat peringatan dari Jo.
Tapi bukan Kenny namanya jika dia langsung menyerah begitu saja. Ucapan Jo yang sedikit mengancamnya tadi membuat dia justru semakin bersemangat untuk mendapatkan kembali kekasih hatinya, Kenny membulatkan tekadnya agar dia bisa bersatu kembali dengan Jenny.
Setibanya di sebuah Restoran, Kenny sedikit tak nyaman karena mendapat tatapan menusuk dari orang-orang yang sudah duduk satu meja dengannya.
Tatapan-tatapan yang di sorot kan dari kedua bola mata Oma Dona dan Jonathan itu berhasil membuat Kenny tak berkutik, dia hanya berucap kala Ken kecil atau pun Marsya meminta sesuatu padanya.
"Daddy aku mau makan sosisnya!" Seru Ken kecil.
"Aku juga...aku juga!" Sahut Marsya yang tak ingin tertinggal.
"Baiklah, Daddy akan memberi kalian masing-masing 2 potong, kalian makan yang banyak ya." Ucap Kenny seraya menyimpan potongan sosis di masing-masing piring makan, putra dan putrinya.
Tak di sangka, saat mereka tengah menikmati makan siangnya, sepasang suami istri menghampiri menyapa mereka.
"Sayang, itu seperti Jenny!" Seru Mirea seraya menunjuk ke arah meja Jenny.
"Mana?!" Tanya Aldo.
"Itu sebelah sana! sepertinya mereka sedang makan siang bersama deh, kita sapa yuk!" Tutur Mirea seraya menarik lengan suaminya agar mendekat ke meja Jenny.
Keduanya masih belum menyadari jika di sana ada dua orang manusia berbeda jenis kelamin dan usia sedang ikut bergabung bersama Jenny. Mirea nampak paling antusias saat menghampiri jenny, dia paling senang jika bertemu dengan Ken kecil.
"Jenn! apa kalian sedang makan bersama? kenapa tidak mengajak kami juga?!" Tegur Mirea seraya berpura-pura merajuk.
"Mirea, ah... maafkan aku, aku tidak merencanakannya sebelumnya, apa kalian mau bergabung juga?" Seru Jenny.
"Keponakan Om sedang apa di sin... kau!" Tutur Aldo tercekat saat kedua bola matanya menangkap sosok yang begitu dia benci.
"A...apa k...kabar Kak?" Sapa Kenny terbata.
"Berani-beraninya kau menunjukkan wajahmu lagi di sini, apa kau mau membuat adik ku semakin tersiksa lagi ya!" Amuk Aldo seraya menyorotkan tatapan tajam pada Kenny.
"Ti...tidak Kak, a...aku ha...hanya ingin makan bersama saja, iya benar makan saja!" Tutur Kenny seraya mengacungkan dua jari tangannya untuk meyakinkan ucapannya.
"Tapi Jenn, Kakak tidak sudi jika kau harus kembali lagi dengannya, apa kau sudah lupa dengan semua perbuatannya dulu yang menyakitimu?!" Ucap Aldo yang masih di penuhi amarahnya.
"Om Aldo kenapa memarahi Mommy dan Daddy sih? mereka kan tidak membuat kesalahan, Om Aldo jahat! Ken kecewa pada Om!" Rajuk Ken kecil meluapkan perasaannya yang melihat ucapan kasar yang Aldo tujukan pada kedua orangtuanya.
"Sayang, Om Aldo tidak memarahi Daddy dan Mommy ko, Om Aldo sangat sayang pada kami, dia hanya menegur saja barusan, Daddy dan Mommy tidak apa-apa ko!" Gumam Kenny memberi alasan agar putranya tak mengira Aldo berkata kasar padanya.
"Hik...hik... tapi Daddy, aku tidak pernah melihat Om Aldo seperti itu, aku... takut!" Isak Ken kecil seraya menyusupkan wajahnya ke dada bidang sang Daddy.
Dengan penuh kasih sayang, Kenny memeluk tubuh sang putra dan mengelus punggungnya yang tengah terguncang oleh tangisannya. Pria tampan itu berusaha menenangkan perasaan putra tampannya yang tengah bersedih karena keterkejutannya melihat dan mendengar Aldo yang menegurnya tadi.
"Tidak apa-apa Ken, semuanya akan baik-baik saja! jangan takut, ok! Daddy tidak akan meninggalkan mu lagi sayang!" Tutur Kenny seraya terus mengelus kepala serta punggung putranya agar berangsur tenang.
"Kak, kau sudah menakuti Ken! sebaiknya Kakak jangan menegur Kenny seperti tadi lagi di depan Ken, dia sangat takut dengan nada suara yang begitu keras," Tutur Jenny mengingatkan sang Kakak.
"Ma...maafkan Om sayang, Ken mau kan memaafkan Om?!" Seru Aldo seraya menyentuh bahu Ken kecil agar menghadap ke arahnya.
Namun sepertinya pria kecil menggemaskan itu masih betah bersembunyi di balik Jas yang Daddy-nya kenakan. Ken semakin menyusupkan wajahnya dan mempererat pelukannya di tubuh Kenny.
"Ha... ini semua gara-gara kau! baru kali ini aku di acuhkan oleh Ken, pokoknya aku tidak akan membiarkan kau menemui Jenny dan Ken lagi setelah ini!" Tutur Aldo.
"Apa itu berarti aku juga tidak akan bertemu lagi dengan Mommy?!" Gumam Marsya yang ternyata sudah siap meluncurkan bulir bening dari setiap sudut matanya.
"Anak siapa lagi ini? kenapa dia bisa bersama dengan kalian?" Tanya Aldo setelah menoleh ke arah Marsya.
"Sayang... redam lah emosimu, mereka hanya anak-anak yang merindukan kasih sayang kedua orangtuanya, sebaiknya kau mengalah dulu saja ya, atau kita pindah tempat duduk saja agar tak membuat mereka ketakutan lagi!" Seru Mirea seraya mengusap sebelah bahu sang suami untuk menegur dan menenangkannya.
"Tapi sayang, aku juga ingin makan bersama dengan Ibu dan Jenny, kalau ada yang harus pindah dan pergi dari meja ini. Itu bukan kita! seharusnya dia dan bocah perempuan ini yang pergi!" Ucap Aldo.
"Do... sudah lah! Ibu akan senang jika kita makan bersama-sama tanpa ada perdebatan lagi, ayo! kau mau makan apa?!" Tutur Ibu Erika yang akhirnya angkat suara untuk mengakhiri percekcokan yang terjadi.
"Ibu benar Kak! sebaiknya sekarang kita makan lagi saja, aku akan memesankan kalian makannya!" Sahut Jo yang ikut menimpali.
Dengan rasa kesal yang masih bercokol di hatinya, Aldo akhirnya mengalah untuk berhenti memperdebatkan kehadiran Kenny. Dia juga tidak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya karena memarahi Kenny yang tak menunjukkan perlawanan sedikit pun.
.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys...😘😘😘