
“Hm… baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang ya!” Sahut Aldo sambil melenggang ke arah pintu.
“Sayang, Ibu balur pakai minyak angin ya tengkuknya, wanita hamil muda itu memang biasanya mengalami muntah-muntah seperti ini, tapi kau harus tetap menjaga pola makan agar bayi yang kau kandung tumbuh sehat tanpa kekurangan gizi sedikit pun, biar pun mulut mu selalu terasa pahit, kau harus tetap memaksakan untuk makan, ya!” Tutur Ibu Erika memberi wejangan.
“Hm… terimakasih ya Bu, Jenny beruntung sekali bisa bertemu kembali dengan Ibu dalam keadaan seperti ini, Ibu benar-benar hadir di saat yang tepat,”.
“Apa kau menginginkan sesuatu untuk di makan?” Tanya Jo.
“Em…apa ya?” Jenny terlihat masih memikirkan apa yang dia inginkan saat itu, namun fokusnya harus terurai kala bunyi ponselnya menggema di ruangan tersebut.
Kring…
Kring…
“Sepertinya itu bunyi ponsel Jenny deh, tadi di simpan di mana ya?” Gumam Jenny.
“Mungkin tertinggal di toilet Jenn, biar aku periksa ya!” Seru Jo menawarkan diri.
“Terimakasih Kakak tampan ku!” Seloroh Jenny yang membuat kedua pipi Jo seketika memerah layaknya tomat masak.
Jo semakin tersipu kala Jenny terus menyunggingkan senyumannya untuk dirinya, Pria tampan itu akhirnya bergegas masuk ke dalam toilet untuk menyembunyikan wajahnya dan mencari keberadaan ponsel Jenny yang masih berbunyi tersebut.
“Astaga! Jenny benar-benar membuatku selalu terpesona saat melihat senyumnya, andai… ha… sudahlah, sekarang aku sudah sangat bahagia memilikinya sebagai adik ku, meski aku tidak bisa memilikinya sebagai kekasih, setidaknya aku masih bisa bersamanya sebagai seorang Kakak,” Batin Jo seraya mengambil ponsel Jenny yang ternyata benar-benar tertinggal di toilet.
Jo segera menyerahkan ponsel milik adik sambungnya itu pada sang empunya, setelah melihat siapa yang menelepon, Jenny segera menerima panggilan telepon tersebut dan menjawab pertanyaan dari sang penelepon yang sepertinya begitu mencemaskan nya.
“Halo Kak, ada apa?” Tanya Jenny setelah sambungan teleponnya terhubung.
“Nona! apa Nona baik-baik saja? Tuan Kenny sejak tadi mencari Nona, dia begitu khawatir dengan keadaan Nona, Tuan bilang tadi Nona sempat terdengar muntah-muntah, apa Nona baik-baik saja? kalau boleh saya tau Nona saat ini ada di mana? biar saya jemput jika Nona mau!” Tutur Tian bertubi-tubi bertanya.
“Emm…sepetinya Kak Tian perlu tau kondisi ku saat ini, agar dia bisa membantu ku bersandiwara hingga kejutan untuk Kenny nanti siap!” Batin Jenny.
“Nona! anda masih berada di tempat kan?” Tegur Tian yang masih khawatir.
“Kak Tian, kau datang ke kamar nomor 579 saja ya, aku ada di sini sekarang, tapi kau jangan beritahu Kenny dulu, ok! aku ingin berbicara empat mata dulu dengan Kakak,” Ucap Jenny.
“Baiklah Nona, aku akan segera ke sana sekarang!” Sahut Tian patuh.
Tak lama Aldo kembali dengan segelas minuman jahe hangat untuk sang adik tersayang. Sesaat setelah Aldo memberikan minumannya, pintu kamar hotel tersebut kembali terdengar di ketuk seseorang dari luar.
Ceklek…
“Kau! apa Kenny yang menyuruhmu ke sini?” Tanya Aldo yang kebetulan membuka kan pintu saat itu.
“Tidak Tuan, saya di telepon Nona tadi, apa Nona ada di dalam?” Sahut Tian.
“Dia ada di dalam, masuklah!” Saru Aldo memberi jalan.
“Terimakasih,” Ucap Tian sopan.
“Kak Tian, duduk lah! aku ingin memberitahu sesuatu padamu, tapi kau harus berjanji padaku agar tak membocorkannya pada Kenny, ok!” Dengan patuh pria yang bekerja pada suaminya itu pun duduk di sebrang sofa yang Jenny duduki.
Jenny akhirnya menceritakan semua rencananya pada Tian tentang kejutan ulang tahun untuk Kenny, gadis itu benar-benar memilih orang yang tepat. Sejurus kemudian Tian sudah membereskan semua keperluan Jenny untuk membuat kejutan tersebut melalui ponsel pintarnya yang terhubung langsung dengan ara anak buah andalannya. Jenny pun tersenyum lega dan tak sabar menunggu hari kejutan itu tiba.
“Sama-sama Nona, itu sebagian dari tugas saya juga ko, kalau begitu saya pamit sekarang ya, saya takut Tuan curiga jika saya tidak ada di sekitarnya!” Tutur Tian berpamitan.
“Ok, Kak! aku mengandalkan mu ya!” Seru Jenny nampak begitu ceria.
“Duh… putri Ibu ternyata romantis banget sih… semoga kejutannya nanti lancar ya sayang!” Ucap Ibu Erika.
Di gedung acara…
“Tian kemana sih? dia kenapa belum memberi kabar juga? aku kan sudah sangat cemas dengan keadaan Jenny,” Gerutu Kenny seraya menghubungi nomor sang Asisten.
“Iya Tuan, Nona sudah baik-baik saja sekarang, tapi dia meminta saya untuk memberitahu Tuan agar tidak cemas, karena Nona sedang menyiapkan hadiah untuk Tuan Rangga dan Nona Shakira di sebuah kantor layanan travel, Nona ingin memberikan hadiah tiket bulan madu untuk Kakak nya.” Tutur Tian setelah sambungan telepon yang Kenny lakukan terhubung.
“Hm… apa kau yakin jika istriku tidak apa-apa?” Tanya Kenny yang masih terdengar begitu cemas dan khawatir.
“Tuan tenang saja, saya sudah memastikannya tadi, dan Nona juga berpesan agar Tuan pulang lebih dulu saja jika acaranya sudah selesai, karena kemungkinan Nona akan menemani beberapa sanak saudaranya yang datang dari luar kota,”.
“Kenapa Jenny terdengar tidak ingin di temani oleh ku ya? apa jangan-jangan dia sudah tau ya kejadian malam itu…” Batin Kenny.
“Tuan! apa masih ada yang ingin saya kerjakan?” Tegur Tian di sebrang sambungan telepon.
“Hm… tidak perlu, kau siapkan supir saja untuk istriku pulang nanti, sepertinya aku akan pulang ke mansion Mommy dulu sebelum pulang ke rumah,” Sahut Kenny seraya memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Di salah satu sudut ruangan acara yang masih menyajikan hiburan life music dan berbagai hidangan yang menggugah selera. Dua wanita paruh baya terlihat begitu menikmati obrolan mereka. Keduanya begitu asik membicarakan masa-masa muda mereka dulu hingga mengabaikan seorang gadis yang menemani mereka saat itu di sana.
“Kau ingat tidak saat dulu kita mendaki gunung bersama Simon dan George?” Tanya salah satu wanita paruh baya.
“Tentu saja, aku tidak akan melupakannya Mar, itu kan kenangan kita bersama suami-suami kita, dulu! ha… kalau mereka masih ada mungkin kita berdua tidak akan kesepian seperti sekarang ya, aku benar-benar merindukan suami ku, Mar!” Lirih Oma Dona yang menyahuti perkataan wanita paruh baya tadi yang tak lain Nenek Martha.
“Hasit! membosankan! kenapa juga sih aku harus ikut duduk dengan kedua wanita tua ini, aku kan ingin berduaan dengan Kenny, dia kemana ya?” Batin seseorang yang ikut duduk bersama dengan Oma Dona dan Nenek Martha.
“Oh iya! apa kabar dengan anak dan cucu mu? mereka juga ikut hadir kan?” Tanya Oma Dona.
“Mereka ikut ko, Bella dan Oscar sedang makan di meja lain, sedangkan Kenny tadi pamit pergi ke toilet,” Jawab Nenek Martha.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya ya guys, biar Mom tambah semangat Up nya, see you next episode... 😘😘😘