
“Kak! sebaiknya Kakak turuti saja yang di ucapkan Kak Aldo, tidak baik membuat keributan di Rumah Sakit, jika Jenny tau kalian bertengkar seperti ini, dia pasti sangat sedih!” Seru Mirea.
“Dia benar Kenn, sudahlah! aku juga tidak ingin dan tidak pernah berniat untuk mencari ribut denganmu,” Ucap Jo membenarkan ucapan Mirea.
“Hm… baiklah! kali ini kau selamat lagi Jo! tapi aku tidak akan melepaskan mu lagi jika aku tau kau mendekati Jenny lagi!” Ancam Kenny memberi peringatan.
Suasana kian hening setelah Kenny melepas cengkeramannya di kerah baju Jonathan, pria itu kembali diam dengan sejuta hal yang dia pikirkan. Mulai dari Keberadaan Jo yang ada saat Jenny pingsan, foto-foto pelukan mesra Jenny, dan masih banyak lagi hal yang Kenny pikirkan. Hingga akhirnya dia menentukan sebuah keputusan untuk hubungannya bersama Jenny.
Cekrettt… pintu ruangan Jenny terbuka lebar.
“Bagaimana kondisi adik saya Dok?” Tanya Aldo.
“Nona baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan terlalu menahan sakit di bagian pergelangan kakinya, kami sudah memberikan obat pereda nyeri dan suntikan vitamin untuk mempercepat penyembuhannya, mungkin sebentar lagi Nona akan segera siuman,” Tutur Dokter menjelaskan.
“Ha… syukurlah, terimakasih banyak ya Dok, apa kami sudah boleh masuk sekarang?” Tanya Aldo lagi.
“Silahkan Tuan, jika tidak ada yang ingin di tanyakan lagi kami permisi, mari!” Sahut Dokter.
Jenny mencoba membuka matanya dan menatap orang-orang yang kini sedang menatapnya dengan cemas.
“Kalian…” Lirih Jenny.
“Kau jangan terlalu banyak bicara dulu Jenn, kau harus banyak istirahat!” Tegur Mirea.
“Mirea benar sayang! kau harus banyak beristirahat!” Tambah Aldo seraya mengusap kepala Jenny dengan lembut.
“Tuan Jo! kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Jenny setelah melihat keberadaan Jonathan.
“Aku kebetulan sedang mampir untuk menebus obat Migrain Ibu ku tadi, dan aku tidak sengaja melihatmu hampir…”.
“Sayang! kau baik-baik saja kan? kau tidak perlu banyak bertanya pada pria itu, kau harus segera sembuh karena malam ini juga aku ingin menikahi mu, aku sudah menyuruh Mommy untuk mempersiapkan kembali pernikahan kita, kau tidak keberatan kan!”.
“Kenapa begitu mendadak Kenn?” Tanya Jo.
“Kenapa kau terkejut seperti itu? kami memang sudah merencanakan pernikahan ini sebelumnya dan itu sudah di setujui Jenny dan semua pihak keluarga!” Ucap Kenny dengan bangganya.
“Apa itu benar Jenn?” Tanya Jo yang masih belum percaya dengan ucapan Kenny.
Jenny hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia pikir menikah dengan Kenny saat ini juga adalah pilihan yang tepat agar Jo tidak berharap lebih padanya lagi, juga agar Gea tidak mengusiknya lagi dengan teror dan ancaman-ancamannya.
“Kalau begitu aku ucapkan selamat untuk kalian, semoga kalian berdua selalu bahagia sampai maut memisahkan kalian,” Tutur Jo lirih.
“Terimakasih Tuan, semoga kau juga segera mendapatkan gadis yang baik untuk kau nikahi secepatnya juga!” Sahut Jenny memanjatkan doa.
“Hm… kalau begitu aku permisi! aku harus memberikan obat ini pada Ibu ku! sampai jumpa Jenn, semoga kau lekas sembuh! mari semuanya!” Seru Jo berpamitan.
Sepeninggalan Jonathan dari ruangan rawat Jenny, Kenny kembali menghubungi kedua orangtuanya untuk membicarakan keinginannya itu. Awalnya Mom Bella menolaknya karena kasian pada Jenny yang belum benar-benar sembuh, namun setelah Kenny menjelaskan maksudnya Mom Bella segera mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan putranya yang sempat tertunda itu dengan sesegera mungkin.
“Haist! anak itu selalu… saja merepotkan, kalau bukan Jenny yang akan menjadi menantu ku , mana mungkin mau aku membantu anak nakal itu! awas saja kau Kenn, kalau sampai dia tidak secepatnya memberi ku cucu! aku akan memisahkannya dengan menantu kesayangan ku itu!” Gumam Mom Bella setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan sang putra.
Langit berangsur menggelap, saat ini Jenny benar-benar sedang di rias oleh tim make over yang Mom Bella panggil khusus ke Rumah Sakit di mana Jenny di rawat. Rencananya Kenny akan menikahi Jenny di Rumah Sakit itu malam ini juga. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa sebelum dia berangkat ke Negara A untuk melangsungkan pembukaan cabang baru perusahaannya.
“Sayang kau benar-benar cantik Jenn! Ibu benar-benar masih tidak percaya kalau kau akan menikah malam ini!”.
“Jenny juga Bu, semua ini rasanya seperti mimpi bagi Jenny!”.
Tok…tok…tok…
“Sebentar!”.
“Hai besan, apa Jenny sudah siap?” Sapa Mom Bella bertanya setelah di buka kan pintu oleh Ibu Tania.
“Dia baru saja selesai di make over Nyonya, silahkan masuk!” Sambut Ibu Tania.
“Ish! besan bagaimana sih, ko masih panggil saya Nyonya! kita kan sebentar lagi jadi keluarga!”.
“Hehe… saya belum terbiasa sih Nyo…eh besan,” Sahut Ibu Tania canggung.
“Ya sudah tidak apa-apa, aku ingin melihat Jenny sekarang! sayang… kau sudah siap kah?” Seru Mom Bella antusias.
“Mommy! Jenny baru saja selesai di make over Mom, bagaimana? apa Jenny terlihat cantik?” Tanya Jenny seraya mencubit ujung gaun yang dia kenakan di atas kursi roda.
Ya! saat ini Jenny mau tidak mau harus duduk di atas kursi roda demi kesembuhan kakinya, itu pun setelah Kenny dan Aldo yang membujuknya.
“Kau sempurna sayang! Kenny benar-benar beruntung bisa memiliki mu!” Sanjung Mom Bella seraya mengelus sebelah pipi Jenny dengan sebelah telapak tangannya.
Tepat pukul 9 malam. Kenny dan Jenny mengucapkan ikrar pernikahan mereka dengan begitu lancar dan hikmat. Keduanya terlihat begitu bahagia meski di dalam hati mereka masing-masing masih menyembunyikan banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan pada satu sama lain.
“Sayang, aku benar-benar bahagia malam ini, akhirnya kau resmi juga menjadi milikku seutuhnya, aku benar-benar mencintaimu sayang!” Kecup Kenny tepat di bi*** sang istri setelah mengungkapkan perasaan bahagianya.
“Cie… yang main sosor sosor, udah gak kuat ya Kenn? jangan di sini dong, kau bawa Jenny ke hotel gih, gak modal banget sih Kenn!” Ejek Renata yang sudah di hubungi Mommy Bella sebelumnya.
“Haist! dasar pengganggu, ya sudah sayang kita pergi dari sini saja yuk!” Ucap Kenny seraya menggendong Jenny dan membawanya pergi dari Rumah Sakit.
“Awww!! Kenn, pelan-pelan, aku takut jatuh!” Seru Jenny yang saat ini sudah melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
“Tenanglah sayang, aku tidak mungkin melepaskan mu lagi kali ini,” Sahut Kenny yang masih melangkah menuju lift untuk turun ke lantai dasar di mana mobilnya terparkir.
“Hei Kenn, kau mau bawa kemana menantu Mommy?” Teriak Mom Bella yang segera di cegah oleh sang suami yang mencekal pergelangan tangannya yang hendak mengejar Kenny.
“Mom, biarkan saja mereka pergi, mereka mungkin ingin membuat cucu untuk kita, bukannya itu yang Mommy inginkan juga ya?” Ucap Papah Oscar.
“Papah benar, tapi kenapa Mommy jadi khawatir sama menantu kita ya? Kenny tidak akan menyiksanya habis-habisan kan malam ini?” Tutur Mom Bella dengan polosnya.
“Sudahlah Mom, kita tunggu hasil dari perbuatan Kenny saja sebulan mendatang, ok!” Sahut Papah Oscar yang menggiring istrinya untuk pulang meninggalkan Rumah Sakit dan berpamitan pada semua orang yang masih ada di ruangan tersebut.
Semua orang yang tersisa di ruangan rawat Jenny saat itu akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan pasangan pengantin baru tadi ternyata saat ini baru saja sampai di Villa dekat pantai keluarga Alvaro.
.
.
.
.
.
.
.
Budayakan kasih dukungan buat author ya guys, dengan klik fav, like, komen, serta gift atau pun vote...
See you next episode guys...😘😘😘