
"Sebentar Nyonya, biar saya periksa dulu pasiennya ya!" Seru Dokter seraya memeriksa beberapa alat yang terpasang di tubuh Nenek Martha dan memeriksa keadaan wanita tua itu secara rinci.
Sejurus kemudian, Nenek Martha terlihat membuka mata keriputnya. Di liriknya sang cucu yang masih setia menunggu di dalam ruangan bersama Jenny.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, semua pemeriksaan pun cukup baik hasilnya, terus support pasien agar bisa segera pulih ya, terutama dukungan dari orang-orang terdekat sangat berpengaruh bagi kesembuhan pasien," Tutur Dokter.
"Syukurlah, terimakasih banyak, Dokter!" Ucap Kenny.
Sementara Jenny sudah duduk kembali di kursi samping tempat tidur Nenek Martha. Jenny menyunggingkan senyum sambil mengusap tangan Nenek Martha dengan lembut. Dia benar-benar bahagia karena Nenek Martha bisa siuman dan melewati mas kritisnya.
"Nenek, Jenny benar-benar senang bisa melihat Nenek lagi, Nenek harus cepat sembuh, ya!" Ucap Jenny.
"Jenn... maafkan Nenek sayang, dulu Nenek sudah berlaku tak baik padamu," lirih Nenek Martha dengan nafas yang masih tersengal.
"Nenek, itu semua sudah berlalu, Jenny sudah melupakannya, yang terpenting sekarang Nenek harus cepat sembuh!" Sahut Jenny.
"Nenek sudah tua, Jenn! umur Nenek sudah tidak lama lagi, jika suatu saat Nenek pergi, apa kau mau mewujudkan satu keinginan Nenek?!" Lirih Nenek Martha.
"Nenek jangan berbicara seperti itu, Nenek pasti sembuh, Jenny yakin jika Nenek pasti sehat lagi seperti sedia kala," Sanggah Jenny seraya meremas jemari tangan Nenek Martha yang masih dia genggam.
"Nenek ingin melihat kalian bersama lagi, Jenn! kalian tidak boleh berpisah lagi, maafkanlah Kenny! hanya itu keinginan terakhir Nenek," Ucap Nenek Martha seraya menghela nafasnya susah payah.
"Nek, Nenek tidak boleh terlalu banyak bicara dulu, Nenek istirahat saja ya!" Seru Jenny yang tak bingung mendengar penuturan Nenek Martha yang menurutnya sangat menyedihkan.
"Sayang, Tante Regina dan Om Kevin sudah datang, sebaiknya kita keluar dulu sekarang!" Tutur Kenny.
"Tapi Kenn, aku..." Sahut Jenny tercekat.
"Kau bisa kembali setelah bergiliran dengan yang lainnya sayang, ayo! kau juga masih harus banyak beristirahat, aku akan pesankan ruangan juga di sini untukmu," Sanggah Kenny.
"Tidak Kenn, sebaiknya aku mencari hotel saja, jika aku istirahat di sini, kasian Kenji! aku akan mencarinya lewat online saja," Ucap Jenny.
"Nek, Jenny keluar dulu ya! nenek harus segera sembuh," Tutur Jenny sebelum keluar dari ruangan rawat Nenek Martha.
"Iya sayang, Nenek harap kau bisa mengabulkan keinginan Nenek tadi, Jenn!" Lirih Nenek Martha menimpali.
Jenny tak menjawab, dia hanya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Entah dia sanggup atau tidak untuk mewujudkan keinginan Nenek Martha tersebut.
Sejurus kemudian, Mom Bella dan Papah Oscar terlihat baru saja kembali dari mengajak sang cucu membeli beberapa makanan dan mainan. Jenny mengambil alih Ken kecil dari pangkuan Papah Oscar. perempuan cantik itu memilih mengajak sang putra untuk mencari hotel yang sudah dia pesan melalui online.
"Mommy... lihat mainan baru ku!" Seru Ken kecil antusias seraya menunjukkan mainan barunya pada sang Mommy.
"Wahh... bagus sekali, kau tidak nakal kan selama ikut Oma dan Opa?!" Sahut Jenny seraya mencubit hidung sang putra dengan gemas.
"Dia anak yang pintar, Jenn! Ken sangat mandiri dan patuh. Kami tidak merasa di repot kan jika menjaganya!" Sahut Papah Oscar.
"Apa Tante mu sudah tiba, Kenn?!" Tanya Mom Bella.
"Sudah Mom, kabar baiknya lagi Nenek baru saja siuman, tadi saat Kenny dan Jenny di dalam, Nenek membalas genggaman tangan Jenny, dan tak lama Nenek siuman dan berbincang ringan dengan kami," Tutur Kenny menjelaskan.
"Syukurlah, ini semua berkat kuasa Tuhan sayang, dan Mommy semakin yakin jika kau adalah pembawa keberuntungan bagi keluarga kami, Jenn! kau selalu membawa kebahagiaan untuk kami semua, Mommy harap kau dan Kenn bisa kembali sayang," Sahut Mom Bella panjang lebar.
"Tapi pikirkanlah, Jenn! semoga kau bisa memutuskan yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya, Papah hanya bisa mendoakan kalian agar selalu bahagia, apa lagi sekarang kalian harus memikirkan Kenji yang memerlukan perhatian khusus dari kalian berdua, jadi bijak- bijaklah dalam mengambil keputusan, Jenn!" Sahut Papah Oscar menambahkan.
"Jenny akan coba pikirkan lagi Pah, kalau begitu Jenny pamit untuk mencari hotel dulu ya, ayo sayang berpamitan pada Oma dan Opa!" Seru Jenny memerintahkan putranya untuk berpamitan pada kedua mantan mertuanya.
Tak berselang lama, Tian menyusul ke Rumah Sakit. Beruntung Kenny dan Jenny masih ada di halaman Rumah Sakit. Dengan tergopoh-gopoh Tian berlari menghampiri majikannya untuk menyerahkan kartu akses kamar hotel yang sudah dia pesan sesuai permintaan majikannya itu.
Saat di ruangan Nenek Martha tadi, Kenny sebenarnya hendak memerintah Tian untuk memesankan ruangan rawat untuk Kenny, namun dia batalkan segera dan menggantinya dengan meminta di pesankan satu kamar hotel untuk satu keluarga.
"Tuan... ha... syukurlah aku masih sempat, ini kartu aksesnya, kamar anda ada di lantai 7," Tutur Tian dengan nafas yang tersengal.
"Kak Tuan habis dari mana? kenapa terlihat lelah sekali?!" Tanya Jenny saat melihat Tian yang menghampirinya.
"Kenn! kenapa kau masih saja memerintah seenaknya sih, Kak Tian juga manusia yang butuh istirahat! kau pasti yang membuatnya lelah begitu, kan!" Tuding Jenny yang memang benar adanya.
"Ti... tidak ko, aku hanya memintanya memesan kamar hotel untuk kita, apa itu perintah yang terlalu berat, ya?! sepertinya itu sangat mudah di lakukan deh," Gumam Kenny beralasan.
"Memang mudah Tuan, jika kau tidak meminta hal yang lainnya lagi dalam waktu yang bersamaan, untung aku punya koneksi banyak di sini, jadi aku bisa dengan mudah mewujudkan semua keinginan anda, mulai dari persediaan makanan dan pakaian untuk kalian, aku sudah menyelesaikannya dengan baik," Gerutu Tian dalam hatinya.
"Apa benar begitu, Kak? Kenny tidak menyuruhmu yang lainnya juga, kan?!" Tanya Jenny memastikan.
"Benar Nona, Tuan menyuruhku bagai pekerja rodi, bahkan dia sempat mengancam akan memotong gajih ku jika tak bisa mengabulkan keinginannya, ha..." Keluh Tian yang sayangnya hanya bisa dia ucapkan dalam hati.
"Be...benar Nona, Tuan hanya meminta saya untuk memesan kamar, kalau begitu mari saya antar anda semua ke hotel!" Seru Tian.
"Ha... ya sudah ayo! sepertinya aku memang butuh istirahat, ayo sayang!" Sahut Jenny seraya menggandeng tangan mungil putranya. Namun belum sempat Ken kecil melangkah, tubuhnya sudah melayang karena Kenny menggendongnya.
"Jagoan Daddy pasti lelah juga, bukan? ayo Daddy gendong sampai mobil!" Ucap Kenn seraya melangkah menuju mobil yang sudah Tian parkir kan di depan lobi Rumah Sakit.
"Daddy yang terbaik," Sahut Ken kecil seraya menunjukkan jari jempolnya ke arah sang Daddy.
Tanpa Jenny sadari, senyumannya melengkung begitu saja di bibir ranumnya. Ada kebahagiaan yang entah apa itu jika dia melihat Kenji bahagia bisa berdekatan dengan Daddy-nya.
"Apa aku harus mengalah demi, Ken?! sepertinya dia benar-benar bahagia bisa berada di samping Daddy-nya," Batin Jenny.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys 😘😘😘