
Duarr….
“Astaga! suara apa itu pak?” Tanya Jenny terkejut.
“Sepertinya ban mobilnya pecah Nona, saya akan mengeceknya dulu sebentar!” Seru supir taksi sambil menepikan mobilnya di pinggiran jalan yang cukup sepi.
Jenny mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seketika ingatan Jenny kembali berputar ke masa lalunya, dimana saat Ayahnya di serang orang tak di kenal sepulang mereka dari taman hiburan. Sepertinya saat itu trauma Jenny kambuh lagi dan membuatnya sedikit merasa sesak dan berkeringat yang cukup banyak untuk membasahi seluruh tubuhnya yang kian melemas.
Dengan susah payah Jenny memilih keluar dari mobil untuk mencari udara segar, namun ternyata kakinya sudah tidak kuat untuk menopang beban tubuhnya yang kian terasa lemas menahan rasa takut yang kembali menyerang perasaan dan ingatannya.
Bruk… Jenny pun terkulai lemas di atas aspal.
Sang supir yang masih sibuk mengganti ban mobilnya di sisi yang berlawanan dengan arah Jenny, saat keluar dari kendaraan tersebut pun sama sekali tidak menyadari jika sang penumpang yang sedari tadi bersamanya sudah tidak sadarkan diri saat itu. Hingga akhirnya ada sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di belakang taksi tersebut dan menghampiri tubuh Jenny yang tergeletak lemas di atas aspal.
“Astaga! kenapa ada wanita tidur di samping taksi seperti itu? sepertinya supir taksinya juga tidak menyadari kalau ada wanita yang tergeletak di samping mobilnya!” Gumam Jo yang saat itu kebetulan lewat setelah mengantarkan karyawan barunya pulang.
“Jika di biarkan, wanita itu bisa mendapatkan perlakuan asusila dari pria tak bertanggung jawab, aku harus menolongnya, lagi pula di depan sana sudah masuk jalan yang ramai, aku bisa meminta bantuan orang-orang setempat jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi,” Tambahnya lagi seraya menepikan mobilnya dan bergegas turun untuk menolong gadis malang tersebut.
Ketika Jo sudah menepikan mobilnya, dia langsung menghampiri wanita tersebut dan menyibak rambut yang menutupi wajah wanita tersebut. Seketika Jo nampak begitu terkejut sekaligus khawatir setelah mengetahui jika wanita yang hendak dia tolong adalah Jenny. Wanita yang masih dia sukai sampai saat ini.
“Astaga! Jenn! kenapa aku selalu menemukanmu dalam kondisi seperti ini? dimana suami mu yang selalu kau jaga perasaannya itu?” Gumam Jo dengan segala emosinya.
Jo segera menggendong Jenny untuk dia bawa ke dalam mobilnya, namun aksinya itu harus terhenti tak kala sang sopir taksi mencegahnya, supir taksi itu benar-benar takut saat melihat Jo membawa Jenny pergi, supir taksi itu takut jika kelak dia di tuduh membantu penculikan jika sampai terjadi sesuatu pada penumpangnya, sehingga dia berjuang untuk menahan Jo agar tidak membawa Jenny pergi kemana pun.
“Tunggu Tuan! kau mau bawa kemana penumpang ku?” Tegur supir taksi.
“Aku akan membawanya ke rumah sakit, sepertinya dia tidak baik-baik saja saat ini,” Sahut Jo yang kembali melangkah ke arah mobilnya.
Sejurus kemudian sebuah mobil yang tak kalah mewah dari milik Jo terparkir dengan tergesa di depan taksi. Seorang pria terlihat turun dari mobil tersebut dengan langkah yang tak kalah tergesa dari mobil yang dia parkir tadi.
“Jo! kenapa kau menggendong istri ku? cepat kembalikan dia!” Seru Kenny yang tak lain pria yang baru saja turun dari mobil mewah tadi.
Secepat kilat Kenny merebut tubuh istrinya yang berada di gendongan Jonathan dengan sigap. Dia begitu tidak suka jika miliknya di sentuh oleh orang lain, apa lagi itu istrinya yang begitu dia sayangi dan cintai.
“Kenn, berhati-hatilah! sepertinya Jenny sedang tidak baik-baik saja saat ini!” Ucap Jo mengingatkan.
“Tuan-tuan, sebenarnya kalian ini siapanya penumpang taksi saya? saya tidak bisa membiarkan kalian membawanya pergi begitu saja jika diantara kalian tidak ada yang menunjukkan identitas kalian,” Sanggah sang sopir taksi.
“Aku suaminya! dan jika kau ingin tahu siapa aku, kau bisa datang ke kantor Alva corp, kau bisa tanyakan siapa pemilik perusahaan tersebut di sana untuk menemui ku." Tutur Kenny begitu terdengar dingin.
“Hei! jangan banyak bicara! aku tidak butuh ocehan mu itu, kau bisa saja berbohong kan untuk mengelabui ku!” Sangkal supir taksi tersebut yang masih takut tertipu oleh kedua orang pria bertubuh atletis di hadapannya.
Karena geram, Kenny akhirnya memasukkan terlebih dahulu tubuh istrinya ke dalam mobil dan kembali lagi menghampiri supir taksi tersebut seraya memberinya kartu nama miliknya. Seketika sang supir pun ternganga setelah melihat jabatan yang Kenny sandang yang tertera pada kartu nama tersebut. Hingga akhirnya Tian datang menyusul dan menyelesaikan sisa urusan atasannya itu.
“Maaf Tuan, saya terlambat!” Sesal Tian.
Sementara itu, Jo yang tak kalah diam di tempatnya hanya bisa menatap kepergian mobil mewah yang Kenny kemudikan sendiri untuk membawa istrinya pulang ke rumah mereka. Rasa sakit di hatinya kian membesar kala dia harus tersadar kembali jika Jenny sudah ada yang memiliki.
“Kenapa aku masih tidak bisa move on dari mu Jenn? apa aku salah menjaga rasa ini untuk mu?” Batin Jo sendu.
Setelah Tian memberikan sejumlah uang untuk sang supir, Tian juga menghampiri Jonathan dan menyuruhnya untuk segera pulang setelah Tian sendiri berterimakasih juga pada pria tampan tersebut mewakili Tuan dan Nona mudanya.
“Tuan Jo, sebaiknya anda juga pulang saja sekarang, dan sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menolong Nona muda kami lagi kali ini,” Tutur Tian dengan tulus.
“It’s ok, kalau begitu aku akan pergi juga sekarang, sampai jumpa!” Sahut Jo yang tak membuang waktunya lagi untuk tetap berdiri di tempat sepi itu.
Setibanya di rumah megah barunya. Kenny segera membawa istrinya ke kamar mereka dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dengan telaten Kenny membuka sepatu dan mengganti pakaian Jenny dengan piyama tidur istrinya.
“Sayang! bertahanlah! aku sudah menghubungi Dokter Anna untuk memeriksa keadaan mu saat ini juga!” Gumam Kenny seraya membuka sepatu istrinya yang dia lanjutkan dengan menggantikan pakaian istrinya yang sudah basah dengan keringat Jenny sendiri.
Flash back start.
Sebelum Jenny memilih keluar dari mobil taksi tadi, Jenny menghubungi Kenny terlebih dahulu untuk memintanya datang saat itu juga.
“Kenn, aku takut!” Seru Jenny setelah sambungan telepon yang dia lakukan terhubung dengan suaminya.
“Sayang! apa yang terjadi? kau ada di mana sekarang? kenapa kau terdengar begitu ketakutan?” Tanya Kenny dengan segala rasa paniknya.
“Kenn, taksinya mengalami pecah ban, dan sekarang kami sedang berhenti di tempat yang gelap dan sepi, aku takut!” Gumam Jenny yang di iringi isak dari mulut manisnya.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys… 😘😘😘
like, komen, gift sama vote nya jangan lupa ya...