Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 160 # Kehebohan di Apartemen Anggun.



"Hah! siapa yang menyentuh bahuku? apa jangan-jangan di apartemen ini ada hantunya ya?!" Batin Anggun seraya diam tak berkutik.


Perlahan Anggun menolehkan wajahnya untuk mencaritahu sosok yang menepuk pundaknya itu, setelah berhasil mengetahui siapa orangnya, Anggun terkejut bukan main dan sempat menjerit saat melihat wajah Jo yang begitu dekat.


"Sepertinya gadis ini sedang ketakutan, apa aku goda sekalian saja ya?!" Batin Jo yang tiba-tiba memiliki ide jahil untuk menggoda Anggun.


Di dekatkan nya wajah tampan miliknya itu, seraya meniup halus tepat di belakang tengkuk Anggun yang terekspos karena gadis itu mengikat rambutnya seperti buntut kuda. Sejurus kemudian sang empunya tengkuk terlihat meremang dan bergidik. perlahan namun pasti Anggun menolehkan wajahnya, Dan...


"Aaaaaaa!!! emm..." Jerit Anggun yang tak di sangka segera di bungkam oleh bibir seksi milik Jo.


"Emm... ha... apa yang kau lakukan, dasar mesum!! menyebalkan!!" Gerutu Anggun setelah Jo melepaskan pagutan bibirnya.


"So...sorry, habisnya kau tadi langsung berteriak, aku kan jadi ikut terkejut juga," Sahut Jo seraya memegang bibirnya yang masih terasa basah.


"Tapi tidak harus mesum seperti itu juga kan! haa... ciuman pertamaku lenyap deh, ups!!" Gerutu Anggun seraya menutup mulutnya sendiri di akhir ucapannya.


"Jadi barusan itu ciuman pertama mu ya? aku tak percaya! kau kan sudah pernah menikah, tidak mungkin jika kau belum pernah melakukannya dengan suami mu kan!" Tutur Jo.


"Aku memang belum melakukannya, suamiku..." Lirih Anggun tercekat seraya menundukkan kepalanya.


"Apa aku salah bicara, maaf!" Ucap Jo merasa bersalah karena kini Anggun terlihat begitu sedih.


"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya masih belum bisa move on dari calon suamiku saja, dia pergi terlalu cepat sih..." Tutur Anggun yang bercerita begitu saja tanpa Jo minta.


"Calon suami?? pergi?? maksudmu bagaimana?? apa itu berarti kau belum pernah menikah??" Cecar Jo yang tak sadar menjadi semakin penasaran dengan kisah hidup Anggun.


Anggun terlihat mematikan kompor sebelum menjawab. Setelah di rasa sarapannya matang siap dan aman di makan, Anggun menghampiri meja makannya yang hanya terdiri dua kursi berhadapan yang terhalang sebuah meja berukuran sedang.


Gadis itu menyeru Jo secara tidak langsung agar ikut duduk bersamanya. Anggun meraih dua sendok dan garpu untuk membantunya menyuap sarapan bersama Jo. Ya! Anggun ternyata berniat menawarkan Jo juga untuk menikmati sarapannya yang dia buat.


"Duduklah! mungkin aku bisa bercerita padamu kali ini, sebenarnya aku tidak mudah memberitahu tentang hal pribadiku pada seseorang, tapi kali ini kau termasuk pengecualian Tuan!" Tutur Anggun yang masih di dengarkan tanpa bantahan oleh Jo.


Sepertinya pria tampan itu sudah terhipnotis oleh pesona Anggun yang baru dia sadari akhir-akhir ini, Jo seakan selalu terpesona jika melihat wajah Anggun yang selalu saja tersipu jika bertemu dengannya.


"Saat menunggu calon suamiku datang untuk mengucap janji suci pernikahan, aku di kejutkan oleh berita calon mertuaku yang tiba-tiba saja terkena serangan jantung," Ucap Anggun memulai cerita.


"Karena calon suamiku anak tunggal, jadi hanya dia satu-satunya yang harus menyusul beliau ke Rumah Sakit sebagai wali dari calon mertuaku yang hanya tinggal sebatang kara, Ayahnya Marsel sudah meninggal beberapa tahun sebelum kami menjalin hubungan, sehingga saat aku akan menikah dengannya hanya Ibunya saja yang bisa mendampinginya untuk menikahkan kami," Tutur Anggun menjelaskan.


"Jadi nama suami mu Marsel ya?!" Gumam Jo seraya mengingat nama yang terdengar tak asing di telinganya.


"Hm... Marsel Augusta. Saat perjalanan ke Rumah Sakit itulah dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya, Marsel tak tertolong setelah tim Dokter berjuang mempertahankan kondisinya yang begitu kritis," Anggun tak kuasa lagi menahan air matanya, seketika isak itu meluncur begitu saja dari bibir ranumnya.


Jo yang tersentuh beranjak menghampiri dan memeluknya tanpa pikir panjang lagi. Pria tampan itu terlalu tak tega jika sudah melihat seorang wanita yang menangis.


"Aku turut berdukacita, aku benar-benar tidak tau jika kebenarannya seperti itu," Tutur Jo.


"Tidak apa-apa, aku mengerti! emm... maafkan aku, aku jadi membuat pakaianmu basah karena air mataku," Sahut Anggun setelah melerai pelukan Jo yang begitu nyaman.


"It's ok, jika menangis bisa membuatmu lega, maka lakukanlah... oh iya, sebenarnya tujuan utamaku kemari adalah mencari Jenny, apa dia dan Ken menginap di sini tadi malam?!" Ucap Jo seraya bertanya tentang tujuannya datang ke Apartemen Anggun.


"Jenny?! aku hanya bertemu dengannya kemari di kantor Tuan Kenny untuk menyerahkan berkas-berkas penting, tapi setelah itu aku tidak bertemu lagi dengannya, karena aku harus mengecek bahan kain yang akan di gunakan untuk pertunjukan Nona Jenny nanti," Sahut Anggun.


"Itu artinya semalam dia tidak menginap di sini ya! lalu dimana dia membawa Ken ya?!" Gumam Jo seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Jo terlihat menyunggingkan senyum di bibirnya, dengan pasti, pria tampan itu meraih sendok yang tergeletak di samping mangkuk di atas meja makan.


Jo sampai menghabiskan sebagian banyak sarapan yang di buat Anggun tersebut, karena seharian kemarin dia mencari Jenny dan Ken, Jo sampai melupakan isi perutnya yang di lupakan.


"Apa makanannya seenak itu?!" Tanya Anggun.


"Hem... ini makanan terenak yang pernah aku makan, terimakasih ya, ha... perutku rasanya kenyang sekali!" Ucap Jo seraya mengusap perut kotak-kotak nya.


"Dia semakin terlihat tampan jika di tatap sedekat ini, ha... beruntungnya Nona Jenny bisa memilikinya," Batin Anggun yang tak sadar terus menatap wajah Jo.


"Ada apa?! kenapa kau menatapku seperti itu, apa ada sesuatu di wajahku?!" Tanya Jo menyadarkan lamunan Anggun.


"Ehh... tidak ko, kalau begitu aku akan mencuci piringnya dulu sekarang, jika Tuan ingin minum ambilah di lemari pendingin itu," Tutur Anggun terbata seraya beranjak meraih mangkuk kotor untuk di cuci


Sayangnya, karena dia terlalu gugup, kakinya tak sengaja tersandung kaki kursi saat melintas, membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir saja tersungkur jika Jo tak gesit menangkap tubuhnya.


"Aaahh!!" Jerit Anggun saat hampir terjatuh.


"Hati-hati!! apa kau baik-baik saja?!" Panik Jo seraya menopang tubuh Anggun.


"Hei?! tunggu-tunggu, apa yang dia pegang saat ini?!" Batin Anggun.


Seketika pandangannya melirik ke arah tangan Jo yang kokoh menopang kedua bukit kembarnya, dan...


"Aaaahhhh! Tuan kenapa kau selalu mesum!!" Teriak Anggun seraya membenarkan posisi berdirinya dan melepaskan kedua tangan Jo yang menopang kedua gunung kembarnya.


"Astaga!! ma...maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja, a...aku hanya ingin menolong mu saja barusan," Tutur Jo yang baru menyadari apa yang dia pegang barusan.


"Lumayan besar," Batin Jo seraya menunjukkan seringai di bibirnya.


"Ishh!! kenapa kau tersenyum seperti itu, kau tidak berpikir yang macam-macam kan!" Tegur Anggun seraya menyimpan mangkuk di tempat pencucian piring.


Naasnya kakinya kembali tergelincir karena lantai yang sedikit licin dan membuatnya terjatuh tanpa aba-aba menimpa tubuh Jo yang berada tak jauh dari posisinya saat itu.


Brukkk...


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys... 😘😘😘