
Di depan loby hotel terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam nan mengkilat terparkir dengan perlahan. Setelah mobi itu benar-benar berhenti, kedua pelayan sekaligus penjaga keamanan di depan loby menghampiri mobil mewah tersebut untuk membantu membuka kan pintunya.
Perlahan satu persatu penumpang mobil mewah tersebut turun dan memijakkan kaki mereka di pelataran loby. Ke tiga orang dewasa tersebut segera di sambut Kenny dengan senyuman merekah, apa lagi saat seorang Nenek tua melambaikan tangannya ke arah Kenny untuk memintanya menghampiri.
“Nenek! apa kabar? maaf kemarin Kenny tidak bisa menjemput langsung, Kenny banyak pekerjaan di kantor,” Tutur Kenny setelah menghampiri sang Nenek.
“Tidak apa-apa Kenn, lagi pula kemarin Nenek di jemput seseorang ko, kau tenang saja! Nenek mengerti kalau kau pasti sibuk, kau kan pengusaha sukses, pasti kau akan begitu sibuk jika harus menjemput Nenek di jam makan siang seperti kemarin,”.
“Ya sudah, sebaiknya kita masuk sekarang ya! aku ingin mengenalkan Nenek pada seseorang nanti,” Seru Kenny seraya menggiring sang Nenek masuk ke dalam tempat acara pernikahan Rangga di gelar.
Di tempat acara, Kenny mengedarkan penglihatannya untuk menemukan sosok yang dia cari, namun setelah beberapa kali mencari, dirinya tak kunjung menemukan keberadaannya juga. Akhirnya Kenny memutuskan untuk menghubungi ponsel istrinya agar dia bisa mudah menemukan keberadaannya.
“Sayang! kau dimana? aku sudah bersama Mom dan yang lainnya sekarang,” Tutur Kenny setelah sambungan telepon yang dia lakukan terhubung dengan sang istri.
“Tunggu sebentar ya Kenn, aku sedang…hoek…” Belum selesai menjawab, Jenny kembali memuntahkan isi perutnya tanpa menghiraukan panggilan suaminya lagi.
“Sayang! apa kau baik-baik saja? kenapa akhir-akhir ini kau selalu muntah-muntah?” Tanya Kenny yang ternyata tak di dengar oleh Jenny karena ponselnya sudah dia letakkan di sembarang tempat ketika tak kuat menahan gejolak perutnya yang terasa mual.
“Sayang! Jenn! kau masih bisa mendengar ku kan?” Kenny masih mencoba memanggil istrinya, berharap Jenny kembali berbicara padanya.
“Astaga! sebenarnya apa yang terjadi padanya sih? aku kan jadi khawatir,” Gumam Kenny terlihat cemas sekaligus kesal karen tak dapat bertanya lagi tentang keberadaan istrinya.
Akhirnya dengan langkah tergesa Kenny mencari Jenny ke setiap penjuru tempat dan toilet-toilet yang berada di gedung tersebut satu persatu.
“Kenn? kau sedang apa di toilet wanita?” Tanya seorang wanita dengan gaun seksinya.
“Ge, aku sedang mencari Jenny, apa kau melihatnya?” Sahut Kenny balik bertanya.
“Emm… aku tidak melihatnya Kenn, apa kau mau aku bantu mencarinya?” Ucap Gea.
“Tidak perlu Ge, aku akan menyuruh Tian saja,” Sahut Kenny seraya menghubungi asistennya melalui sambungan telepon pada ponselnya.
Sejurus kemudian Nenek Martha menghampiri kedua anak manusia berbeda jenis kelamin tersebut dengan senyuman merekah.
“Kenn, ternyata kalian di sini ya! Nenek sudah menunggu mu dari tadi, sebaiknya kita beri ucapan selamat pada kedua mempelai sekarang, ayo!” Tegur Nenek Martha.
“Nenek benar Kenn, ayo! sebaiknya kita memberi selamat dulu saja pada kedua mempelainya,” Sahut Gea mendukung usulan Nenek Martha.
Kenny sempat gelisah dan dilemma. Pasalnya dia masih khawatir dan cemas dengan keadaan istrinya yang belum dia temukan keberadaannya, namun dia juga tak bisa menolak juga ajakan Nenek nya yang memang sudah tak bisa menunggu lama lagi untuk segera memberi selamat pada kedua mempelai pengantin yang sedang berbahagia hari itu.
“Ha… baiklah, ayo!” Sahut Kenny lesu.
“Semoga saja Tian bisa segera menemukan keberadaannya saat ini,” Batin Kenny berharap.
Setelah Kenny dan yang lainnya sampai di atas altar pernikahan Rangga, mereka segera memberi selamat pada Shakira dan juga Rangga secara bergantian. Sesaat Rangga nampak bingung dengan gerak gerik Kenny, sepertinya pria tampan itu sedang gelisah, dan yang membuat Rangga tak kalah bingung saat melihat wanita lain yang berada di samping adik iparnya itu. Seharusnya yang bersama Kenny saat ini kan adik angkatnya, kenapa jadi wanita lain yang di gandeng Kenny? mungkin Rangga pikir wanita itu kerabatnya Kenny, sehingga dia pun segera menepis pikiran buruknya terhadap Kenny.
“Selamat ya sayang. kau benar-benar cantik hari ini!” Ucap Nenek Martha ada Shakira yang di ketahui sebagai cucu dari sahabatnya.
“Benarkah? wah… kalau begitu aku harus segera menyusulnya sekarang, kalian cepat-cepat punya momongan ya sayang, Nenek menemui Oma mu dulu ya!” Sahut Nenek Martha nampak antusias.
“Nek, hati-hati! Nenek bisa jatuh jika tergesa-gesa seperti itu!” Seru Gea yang langsung menggandeng lengan Nenek Martha.
“Pah, Mommy ko jadi takut ya, jangan-jangan Mamih suka sama Gea, lalu bagaimana dengan nasib menantu kesayangan Mommy, Pah?” Bisik Mom Bella setelah melihat interaksi Nenek Martha dengan Gea.
“Papah rasa Jenny juga pasti bisa di sukai Mamih ko, Mom! menantu kita kan punya keunikannya sendiri dalam mencari perhatian, dan yang harus Mom tau, kalau menantu kita itu selalu tulus, tidak seperti gadis yang bersama Kenny itu, dia begitu terlihat mencari perhatian pada Mamih,” Tutur Papah Oscar menuturkan pendapatnya.
“Papah benar, ha… tapi kenapa dia belum juga terlihat ya dari tadi? apa dia begitu sibuk ya membantu keluarganya? secara dia kan yang jadi penanggung jawab acara pernikahan Kakak angkatnya ini!”.
“Bisa jadi Mom, sudahlah! sebaiknya kita nikmati hidangannya saja sekarang, Papah sudah lapar nih, kita makan sekarang yuk!” Seru Papah Oscar membujuk.
“Hm… ya sudah deh, ayo!” Sahut Mom Bella seraya mengaitkan tangannya ke lengan sang suami.
Kembali ke kamar hotel Ibu Jenny. Saat ini gadis cantik itu sedang duduk di atas sofa dengan di temani oleh Kedua Kakaknya beserta sang Ibu yang membantunya membalur minyak angin di tengkuk dan kening Jenny. Gadis itu terlihat begitu lemas dan pucat, Jenny benar-benar kehabisan tenaganya setelah aksi muntah-muntah nya tadi selesai.
“Sayang, tolong pesankan minuman jahe hangat ya! sepertinya adikmu sangat membutuhkannya saat ini!” Seru Ibu Erika pada Jo.
“Baiklah Bu, Jo akan mencarinya sendiri sekarang!” Sahut Jo segera bergegas.
“Tuan sebaiknya aku saja yang pergi mencari minumannya, kau duduk saja di sini, setidaknya jika aku tidak bisa menemukannya nanti aku bisa membuatnya sendiri di kitchen room gedung ini,” Usul Aldo yang menyusul Jo beranjak.
“Apa tidak merepotkan Kakak? oh iya, aku sudah bilang kan tadi jangan panggil aku Tuan lagi, itu terlalu formal saat kita di luar kantor seperti ini, Kakak boleh panggil namaku langsung saja jika sedang tak di kantor, ok!” Ucap Jo.
“Hm… baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang ya!” Sahut Aldo sambil melenggang ke arah pintu.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode…😘😘
Vote mingguannya jangan lupa ya guys 🤗🤗🤗