Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 192 # Menuju pernikahan.



"Ha... mereka benar-benar membuatku iri, pokoknya aku akan segera menikahi Tantri secepatnya agar bisa seperti mereka," Batin Tian.


Dua hari kemudian, tibalah hari yang di tunggu-tunggu Kenny. Pernikahan keduanya bersama Jenny sengaja dia gelar dengan sangat meriah dan mewah. Dia benar-benar sangat ingin menjadikan pernikahan keduanya ini bersama Jenny menjadi lebih berkesan.


"Kenapa waktu terasa lambat?! aku benar-benar sudah tak sabar ingin segera menemui Jenny," Gerutu Kenny di ruangan khusus mempelai pengantin pria.


"Sabarlah, Kenn! Jenny kan masih di rias agar tampil secantik mungkin, lagi pula kau seperti baru menikah saja, lebai!" Sahut Erfan yang menemani Kenny di ruangan tersebut.


Sesaat mereka tengah berbincang, sebuah ketukan pintu terdengar nyaring di arah depan ruangan Kenny.


Tok...tok...tok...


"Siapa yang mengetuk pintu?" Tanya Kenny.


"Entahlah, biar aku lihat!" Sahut Erfan seraya menuju ke arah pintu dan membukanya.


Ceklek...


"Kak... aku pikir tadi siapa, mari masuk!" Seru Erfan menyapa seseorang.


"Terimakasih, tapi apa boleh aku berbicara berdua saja dengan Kenny di dalam?!" Tanya seseorang tersebut yang tak lain, Aldo.


"Tentu, aku akan menunggu kalian di bawah! kalian santai saja! aku akan kembali jika acaranya sudah mau di mulai!" Tutur Erfan.


"Terimakasih!" Sahut Aldo.


"Tak masalah, Kak! kalau begitu aku ke bawah ya," Ucap Erfan seraya melenggang pergi.


Ceklek... Pintu pun Aldo tutup kembali dan melenggang menghampiri Kenny.


"Siapa yang datang, Fan?!" Tanya Kenny yang kini sedang bercermin seraya membenarkan kerah baju yang dia kenakan tanpa menoleh.


"Aku..." Ucap Aldo tegas.


Seketika Kenny membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menyahut. Sejurus kemudian ketegangan menghinggapi atmosfer ruangan tersebut. Tiba-tiba Kenny di landa rasa gugup dan gemetar saat melihat sorot kedua mata Aldo yang menatap tajam ke arahnya.


"K...Kakak, apa K... Kakak butuh sesuatu?!" Kenny berusaha bertanya di sela gugupnya.


"Ya! aku memang membutuhkan sesuatu, aku butuh berbicara pada mu, saat ini!" Tegas Aldo menjawab.


"Bi.. bicara? K... Kakak mau bi...bicara apa memangnya?" Tanya Kenny memberanikan diri.


"Aku ingin menegaskan dan memperingatkan mu untuk yang terakhir kalinya, jika kelak aku mendengar mu menyakiti hati adik ku lagi, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu atau mengubur mu hidup-hidup, camkan itu!" Ucap Aldo penuh ketegasan.


"A...aku janji, Kak! kali ini aku tidak akan menyakitinya lagi, aku bersumpah!" Sahut Kenny seraya mengacungkan dua jari tangannya untuk berjanji.


"Hm... kau memang harus seperti itu! dan satu lagi! berilah Kenji kasih sayang seorang Ayah yang seharusnya kau berikan sejak dia dalam kandungan Ibunya. Cobalah kau ajak dia untuk berkonsultasi juga pada psikiater untuk mengobati traumanya akibat bullyan teman-temannya, dulu!" Tutur Aldo sedikit sendu kala mengingat Kenji yang begitu ketakutan dulu karena di bully teman-temannya.


"Dia putra ku, Kak! aku pasti akan memberikan yang terbaik untuknya!" Jawab tegas Kenny.


Entah kenapa hatinya menjadi mantap saat menjawab pertanyaan Aldo perihal Kenji. Mungkin karena jiwa seorang Ayahnya begitu menggebu-gebu, sehingga membuat dia berani menjawab Aldo dengan tegas pula.


"Bagus! aku rasa sekarang aku bisa lega, bahagiakan lah selalu mereka berdua, aku percayakan mereka padamu lagi, Kenn!" Ucap Aldo sedikit melemah seraya menepuk sebelah bahu Kenny.


"Hem!" Kenny menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Hatinya merasa lega saat Aldo secara tidak langsung memberikan restunya kembali untuknya. Di lain ruangan, tepatnya di ruangan mempelai pengantin wanita. Jenny yang baru saja selesai di rias oleh tim make up profesional, terlihat beranjak berdiri yang di bantu dua orang pekerja butik untuk mengenakan gaun pernikahannya.


"Aku bisa memakainya sendiri, kalian tunggulah di luar! aku benar-benar tidak nyaman jika kalian ikut masuk ke dalam!" Bujuk Jenny yang merasa malu jika harus berganti pakaian di temani dua orang asing. Meski mereka sama-sama perempuan, tapi tetap saja Jenny merasa canggung dengan hal itu.


"Baiklah Nona, jika kau butuh bantuan, segeralah panggil kami! kami akan menunggu Nona di depan!" Sahut salah satu pekerja butik tersebut.


"Ok, aku akan masuk sekarang!" Ucap Jenny seraya melenggang masuk dan mengunci pintunya.


Sekitar 10 menit kemudian, Jenny kembali membuka pintu ruangan gantinya dan berjalan menuju cermin.


"Nona benar-benar cantik, gaunnya terlihat lebih indah jika Nona yang mengenakannya," Sanjung salah seorang pekerja butik.


"Kau terlalu berlebihan, gaunnya memang sangat indah... aku benar-benar suka," Sahut Jenny.


Ceklek...


"Wahh... Jenn, kau benar-benar cantik! apa kau sudah siap?" Tegur Mirea menghampiri.


"Aku baru saja selesai, bagaimana? apa gaunnya sudah benar?!" Sahut Jenny bertanya.


"Emm... sepertinya sudah sempurna, kau benar-benar cantik, Jenn! sebaiknya kita turun sekarang, acaranya akan di mulai sebentar lagi!" Seru Mirea.


"Huuu... kenapa aku jadi gugup ya, padahal ini kan pernikahan kedua ku," Gumam Jenny seraya menghela nafasnya.


"Tenanglah, hal itu sangat wajar, Jenn! ayo aku bantu pegang gaun mu!" Sahut Mirea seraya membantu Jenny mengangkat ekor gaunnya.


Kedua perempuan tersebut akhirnya bergegas ke lantai 5 di mana acara pernikahan akan di langsungkan. Setelah tiba di sebuah singgasana khusus menunggu, Jenny terlihat semakin pucat dan berkeringat.


"Jenn, apa kau baik-baik saja? kenapa wajahmu memucat? apa kau sakit?" Cerca Mirea.


"Entahlah, mungkin aku terlalu gugup Mi, apa kau punya minyak angin?" Sahut Jenny balik bertanya.


"Ada, sebentar aku ambilkan dulu ya!" Seru Mirea seraya mencari tasnya.


Sejurus kemudian, Jenny sudah merasa sedikit lebih baik setelah Mirea membantunya membalur minyak angin di beberapa bagian tubuh dan tengkuknya.


"Sayang, kau di sini ya?! acaranya akan segera di mulai, sebaiknya kau temani Ibu dan Oma ya!" Tegur Aldo menghampiri.


"Baiklah! Jenn, aku tinggal dulu ya," Tutur Mirea berpamitan.


"Ya, terimakasih ya, Mi!" Ucap Jenny.


Sepeninggalan Mirea, kini Jenny mulai bersiap memasuki altar pernikahan dengan di dampingi oleh Aldo. Namun sebelum mereka berdua melangkah ke sana. Aldo sempat memberi wejangannya pada Jenny. Dia harap jika pernikahan adiknya kini adalah pernikahan untuk yang terakhir kalinya. Aldo benar-benar mengharapkan jika sang adik bisa bahagia di pernikahan keduanya ini.


"Selamat sayang, Kakak selalu berdoa untuk mu dan Kenji, semoga kalian berdua selalu bahagia," Tutur Aldo seraya memeluk sang adik.


"Terimakasih, Kak! Kakak adalah Kakak terbaik yang pernah Jenny miliki, Jenny selalu sayang Kakak!" Sahut Jenny membalas pelukan sang Kakak.


Sejurus kemudian mereka Oun melerai pelukan dan kembali bersiap untuk menuju altar pernikahan. Dengan gagahnya, Kenny sudah terlihat berdiri di depan pastur yang akan menikahkan mereka.


Iringan musik pun di perdengarkan kala mempelai wanita memasuki mulut altar. Perlahan namun pasti, Jenny dan Aldo melangkahkan kakinya secara beriringan. mereka berdua terlihat sangat serasi dengan balutan gaun dan jas yang ki kenakan keduanya yang sama-sama berwarna putih.


Setelah sampai di hadapan Kenny, Aldo segera menyerahkan tangan sang adik yang sudah di sambut oleh Kenny.


"Aku serahkan adik ku padamu untuk yang kedua kalinya, Kenn! semoga kali ini kau benar-benar bisa menepati janjimu!" Tutur Aldo seraya menautkan tangan Jenny dan Kenny.


.


.


.


.


.


.


.


Kalau sempat nanti Mom susul bab terakhirnya ya guys, terus ikutin cerita-cerita Jenny menuju ending ya, dan jangan lupa sertakan dukungan kalian...


See you next episode 😘😘😘