Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 13 # Menguping



“Itu dulu Re, sekarang aku sudah menemukan pujaan hatiku, dan itu adalah Jenny, perempuan yang kau lihat tadi siang. Aku bersungguh-sungguh dengannya, jadi hargailah keputusanku ini Re, aku hanya ingin melihat kalian bahagia, begitu pun denganku, aku juga ingin bahagia dengan pilihanku kali ini!” Erfan menghela kasar nafasnya, diraihnya kedua tangan Renata dan di tatapnya lekat-lekat kedua bola mata indah gadis itu.


“Aku sudah merelakan mu untuk Kenny Re, berbahagialah dengannya!” Ucap Erfan seraya mengelus sebelah pipi Renata yang sudah basah dengan air mata.


Diluar kamar ternyata bukan hanya Kenny yang sedang menguping, melainkan Jenny juga. Dia menjadi penasaran saat mendengar percakapan Erfan dan Renata yang membawa-bawa namanya dalam perbincangan kedua anak manusia itu.


“Astaga! kenapa jadi seperti ini?” Gumam Jenny sambil melirik ke arah Kenny.


“Haist! kenapa kau ikut-ikutan menguping, sana pergi!” Kenny mencoba mengusir Jenny hingga tanpa sengaja sikutnya menyenggol handel pintu kamar Renata.


Beruntungnya kedua anak manusia yang berada di dalam kamar itu tidak menyadarinya. Kenny yang semakin geram akhirnya menatap tajam ke arah Jenny seakan dia ingin melahapnya hidup-hidup. Namun tiba-tiba saja suara langkah kaki terdengar mendekat dan membuat Kenny dan Jenny kebingungan sekaligus takut ketahuan karena mereka sedang menguping. Akhirnya Kenny menarik tangan Jenny untuk memasuki salah satu kamar yang ternyata tempat box besar di simpan.


“Hei Tuan menyebalkan! sampai kapan kita bersembunyi di sini? aku harus segera mencari box besar hadiah Tuan Willy saat ini!” Ucap Jenny setelah mereka berdua memasuki sebuah kamar yang cukup gelap. Ruangan yang hanya di beri beberapa lampu redup di setiap sudut ruangannya sebagai penerangan di kamar tersebut.


“Suutttt!! jangan berisik! kalau tidak kita akan ketahuan!” Kenny menempelkan jari telunjuknya di atas bibir ranum Jenny seakan memberi instruksi padanya agar Jenny tidak berisik.


“Tapi di sini gelap, aku tidak nyaman jika harus berlama-lama di sini!” Rengek Jenny seraya mulai gelisah. Kedua telapak tangannya pun mulai basah dengan keringat.


Tanpa aba-aba Kenny langsung mel**** bibir ranum Jenny saat mendengar suara langkah kaki yang terus mendekat ke arah kamar yang mereka tempati saat ini.


“Emmm…!” Jenny membulatkan matanya sempurna dan berusaha memberontak. Namun tak di biarkan begitu saja oleh Kenny yang sengaja melakukannya agar orang yang masuk ke kamar tersebut mengira kalau mereka sedang bercu*** dan tak ingin di ganggu.


Tap…tap…tap…


Suara langkah itu semakin terdengar mendekat, semakin dekat, dekat, dan…


Ceklek…


“Jenn??” Ucap pria yang begitu Kenny kenali.


Sontak Jenny pun mendorong tubuh Kenny dan melepaskan cium** bibir mereka.


“Ra…Rangga? sedang apa kau disini?” Tanya Jenny terbata-bata.


“Aku sedang mencari box besar yang ku bicarakan tadi di telpon, sepertinya aku mengganggu kalian ya, kalau begitu biar aku urus sendiri saja box besar itu!” Rangga menunjuk box besar yang berada tepat di belakang Kenny.


Jenny membulatkan matanya kembali saat menyadari jika box yang dia cari ternyata berada tepat di belakang tubuh tinggi milik Kenny.


“Astaga, kenapa aku tidak melihatnya tadi!” Gumam Jenny.


“Sudahlah Jenn, biar aku saja yang membawanya, kau santai saja!” Rangga mencoba membawa box besar yang ternyata begitu ringan itu dengan kedua tangannya.


“Apa kau yakin bisa membawanya sendiri Ga?” Tanya Jenny khawatir.


Sementara itu Kenny hanya diam menyaksikan pria yang membawa box besar itu keluar dari kamar penyimpanan barang tersebut.


Meninggalkan kedua anak manusia yang masih enggan membuka suara mereka masing-masing. Jenny begitu kesal karena Kenny dengan seenaknya menyerangnya seperti tadi, sedangkan sang pelaku hanya diam sambil terus memegangi bibir tipisnya.


“Hei tuan mesum, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” Jenny akhirnya memulai percakapan.


“Apa? oh… atau kau ingin kita mengulang lagi ciuman yang tadi ya?” Seloroh Kenny yang membuat Jenny kembali membulatkan matanya sempurna.


“Ish!! dasar pria mesum… tidak tau malu! bukannya minta maaf malah terus berpikir mesum,” Umpat Jenny seraya terus memukul lengan Kenny.


Tanpa sengaja kakinya tersandung sebuah dus barang yang cukup besar, hingga membuat keseimbangan Jenny oleng dan ambruk menimpa tubuh tinggi atletis Kenny yang sigap menahan tubuh rampingnya.


“Ahhh…” Pekik Jenny sambil menutup matanya.


Brukk… Suara pantat dan punggung yang menyentuh lantai pun tak terelakkan.


“Emm!!” Jenny membulatkan matanya kembali sambil berusaha bangun dari atas tubuh Kenny saat bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir pria tampan itu.


“Haist!! kau benar-benar munafik beo! tadi saja bilangnya mesum padaku, taunya kau juga sama saja, curi-curi kesempatan mengambil keperjakaan bibir sensual ku ini!” Ucap Kenny yang menyusul bangun dan berdiri di hadapan Jenny.


“Hei… jangan kau samakan ya!! tadi itu kecelakaan, dasar pria menyebalkan! eh…” Pekik Jenny saat lampu kamar hotel tiba-tiba padam.


Padahal kamar tersebut pun sedari tadi memiliki pencahayaan yang kurang terang, hanya ada beberapa lampu sudut berukuran kecil saja yang terlihat terpasang di setiap sudut kamar hotel tersebut. Kini ketakutan Jenny semakin meningkat dan membuatnya mulai menggigil ketakutan seraya terisak.


“Astaga, ternyata hotel ini harus banyak di renovasi, akan aku adukan semua kerusakan ini pada Om Willy nanti!” Gumam Kenny sambil mencoba melenggang pergi ke arah pintu keluar.


Namun langkahnya terhenti saat kedua tangan Jenny memeluk tubuhnya dari belakang sambil terisak dan menggigil.


“Eh…” Kenny terkejut seraya mengernyitkan keningnya, namun sejurus kemudian dia tau jika Jenny sedang ketakutan saat ini.


“Jangan pergi, kumohon! aku takut gelap!” Lirih Jenny di balik punggung pria tampan bertubuh atletis itu seraya mengeratkan pelukannya.


Kenny berbalik dan membalas pelukan Jenny, dia membawanya melangkah dengan perlahan ke arah pintu keluar. Saat keduanya sudah berada di luar kamar, Kenny melerai pelukannya dan membingkai wajah Jenny dengan kedua tangannya.


“Kita sudah di luar sekarang! kau tidak perlu takut lagi, apa kau ingin pergi ke suatu tempat denganku?” Kenny mengusap air mata yang sudah terlanjur membasahi pipi putih milik Jenny.


Jenny menganggukkan kepalanya tanda setuju, mereka berdua akhirnya pergi dari hotel tanpa ada satu orang pun yang tau. Semakin malam ball room hotel yang sudah Jenny sulap menjadi ruangan indah penuh bunga itu pun semakin ramai dengan tamu-tamu undangan, hingga tibalah acara puncak dari pesta ulang tahun Renata malam itu. Gadis cantik itu di giring oleh kedua orangtuanya ke panggung khusus yang disediakan untuk acara meniup dan memotong kue ulang tahunnya.-


“Ayo sayang, kita mulai saja tiup lilinnya, jangan lupa make a wish dulu!” Ucap Mommy Iren setelah mereka sudah berada di atas panggung.


“Iya Mom,” Renata memejamkan kedua mata indahnya seraya memanjatkan doa.


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan terbaik kalian guys, see you next episode...