
Setelah menemukan obat yang dia cari, Kenny segera meminumnya dan berbaring di atas tempat tidur beristirahat.
“Sebaiknya aku meminta Tian untuk membangunkan ku nanti, aku tidak yakin jika nanti aku bisa bangun tepat waktu, rasanya kepala ini semakin berdenyut,” Gumam Kenny seraya meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Tian.
Waktu bergulir begitu cepat, ke empat anak adam yang berencana makan malam bersama hari itu pun tengah bersiap di tempat mereka masing-masing. Jenny yang sedari tadi sudah di bangunkan Ibu Tania untuk segera bersiap akhirnya menurut juga untuk segera membersihkan diri dan bersiap. Sedangkan Kenny yang baru saja
selesai menyiapkan jamuan untuk makan malam mereka terlihat sudah rapi dan bersiap untuk menjemput Jenny di rumahnya.
“Tian, kau jangan lupa hubungi Erfan dan Renata ya, pastikan mereka datang tepat waktu, aku tidak ingin menunggu lama setelah aku tiba nanti!” Tian segera mengangguk tanda mengerti akan perintah Tuan mudanya.
“Baik Tuan muda,”.
Erfan sendiri baru saja selesai dengan tugasnya dan segera menjemput Renata yang sudah dia hubungi sebelumnya. Gadis cantik itu terlihat begitu bahagia saat tau jika mereka akan makan malam bersama.
“Mom, apa baju ini bagus? Re ingin terlihat cantik malam ini, Re tidak mau Erfan kecewa nanti!” Renata terus berputar di depan cermin. Dia begitu antusias saat Erfan mengajaknya untuk makan malam bersama.
“Anak Mommy kan memang sudah cantik sejak lahir, jadi mau kamu pakai baju apa pun pasti akan terlihat selalu sempurna sayang!” Sanjung Mommy Iren seraya mengusap lembut rambut putri kesayangannya itu.
“Putri siapa dulu dong!” Kekeh Renata seraya memeluk tubuh sang Mommy dengan gemas.
Tak lama berselang, seorang pelayan mansion Mommy Iren menghampiri mereka untuk memberi kabar jika Erfan sudah tiba untuk menjemput Renata.
“Permisi Nyonya, Nona! Di bawah ada Tuan Erfan,” Seru Pelayan mansion Mommy Iren.
“Oh, sudah datang ya, ya sudah aku turun sebentar lagi Bi, tolong suruh dia menunggu sebentar ya!” Renata segera menyemprotkan parfum favoritnya ke seluruh badan sebelum dia pergi.
“Emm… wanginya putri Mommy, ya sudah yuk kita turun! kasian Erfan kalau harus menunggu lagi!” Seru Mommy Iren seraya melenggang keluar dari kamar putrinya.
Sementara di kediaman Ayah Primus. Jenny masih terlihat di beri wejangan oleh sang Kakak yang begitu over protektif padanya.
“Kak! Jenny bisa jaga diri ko! lagi pula ini hanya makan malam, benarkan Tuan?” Tutur Jenny dengan rengekannya.
“Benar Kak, kami hanya ingin makan malam bersama saja ko, Kakak tenang saja! aku akan bertanggung jawab menjaga Jenny,” Ucap Kenny sungguh-sungguh dan berhasil menarik perhatian kedua orangtua angkat Jenny.
“Yah! Ayah merasa gak sih kalau nak Kenny itu suka sama anak kita? sikapnya benar-benar patut di acungi jempol ya, dia benar-benar tak gentar meski Aldo terus memberinya tatapan tajam,” Bisik Ibu Tania pada suaminya yang duduk tepat di sampingnya.
“Ayah pikir Ayah saja yang merasa seperti itu, ternyata kita sehati ya Bu, kamu memang jodoh sejati Ayah sayang!” Gombal Ayah Primus di sela balasan bisikan nya.
“Ish! Ayah mulai gombal deh, udah ah kita perhatikan lagi mereka,” Seru Ibu Tania tersipu.
Jenny beberapa kali melirik jam yang melingkar di tangannya, jika Aldo terus memberinya wejangan dan berdebat dengan Kenny, kapan mereka akan berangkat? bisa-bisa Jenny tidak akan jadi pergi.
“Kak, sudah ya! ini sudah semakin malam, nanti yang ada Jenny tidak jadi pergi, Jenny kan ingin bertemu dengan Nona Renata juga di sana!” Tegur Jenny yang membuat Aldo mengakhiri tingkah over protektifnya.
“Ha… ya sudah baiklah kalian hati-hati ya di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!” Tutur Aldo mengingatkan untuk kesekian kalinya.
“Siap Kak! kalau begitu kita pamit dulu ya, Om, Tante, kita berangkat sekarang ya,” Ucap Kenny menyahuti seraya berpamitan pada kedua orangtua angkat Jenny.
“Hati-hati ya sayang, kabari Ibu kalau kau tidak akan pulang, ok!” Pinta Ibu Tania berbisik.
“Ibu apaan sih, Jenny pasti pulang ko, ya sudah Jenny pergi ya, bye…” Jenny bergegas menuju mobil Kenny yang sudah di bukakan pintunya oleh Tian.
Mereka akhirnya melaju menuju tempat yang sudah Kenny siapkan untuk acara makan malam mereka berempat.
“Tuan, apa tempatnya masih jauh?” Tanya Jenny saat mereka dalam perjalanan.
“Tuhan… kenapa pria ini terlihat begitu tampan sekali malam ini, rasanya bib**nya begitu menggoda ketika tertarik senyum seperti ini,” Batin Jenny.
“Hei! kenapa kau menatapku seperti itu? kau suka ya padaku?” Tegur Kenny percaya diri.
“Astaga!! Tuan, kau terlalu percaya diri, aku hanya sedang berpikir, apa nanti kau bisa membayar semua makanan kami? aku tidak ingin kena imbas malunya lagi!” Ucap Jenny berbohong.
“Apa aku terlihat begitu miskin ya? kenapa kau masih belum percaya kalau aku masih mengantongi uang banyak? aku ini seorang CEO sukses Jenn, kalau hanya makan malam berempat sih tidak akan membuat kantongku menipis,” Tutur Kenny menjelaskan.
“Baiklah-baiklah, aku percaya ko! tapi Tuan, kita tidak akan menginap di sana kan? aku ada jadwal bekerja besok siang! Jadi aku ingin segera pulang setelah selesai nanti,” Pinta Jenny.
“Tenang saja, kau ini terlalu banyak bicara Jenn, bahkan kita saja belum sampai di tempat tujuan,” Kekeh Kenny seraya mengusap pucuk kepala Jenny dengan gemas.
“Hei Tuan, kau merusak tatanan rambut ku!” Tepis Jenny kesal.
Kenny malah terus menggodanya sampai mereka tak sadar kalau ada sepasang mata yang selalu memperhatikan tingkah menggemaskan mereka berdua. Tian yang sudah mengabdi pada Kenny lumayan lama itu ikut tersenyum kala sang Tuan nya tertawa lepas menggoda sang gadis yang entah sejak kapan merubah kepribadian Kenny yang selalu serius menjadi bar-bar seperti saat ini.
“Tuan, kita sudah sampai!” Ucap Tian setelah dia berhasil memarkirkan mobil mewah milik majikannya itu.
“Oh, sudah sampai ya, ayo Jenn!” Seru Kenny seraya membantu gadis itu untuk turun dari kereta kencana nya.
“Terimakasih!” Ucap Jenny tulus.
Kata pertama kali yang Jenny ucapkan setelah melihat tempat yang sudah Kenny sediakan untuk mereka adalah…
“Cantik…” Gumam Jenny dengan kedua mata yang terlihat berbinar.
“Ya! memang cantik, seperti kau! dan aku spesial membuatnya untuk makan malam kita hari ini!” Sahut Kenny seraya meraih kedua jari-jemari Jenny.
“Maksud mu?” Jenny menatap lekat kedua netra coklat milik pria tampan di hadapannya itu.
“Aku khusus menyiapkan ini semua untuk kita berdua nanti, aku ingin melanjutkan malam denganmu berdua setelah Erfan dan Renata pulang nanti!” Tutur Kenny terlihat begitu serius.
Jenny masih tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Kenny padanya. Rasanya Jenny sedang bermimpi. Menikmati malam yang indah bersama seorang pria tampan yang entah sejak kapan dia sukai.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys...
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan terbaiknya ya...