
Ling Ling tersenyum semrik melihat dua orang yang ada di hadapannya itu. Dua orang tua yang sama - sama sangat mesum.
"Ck, kenapa diam? Haha.... Sadar kalau ucapanku benar! Dan tidak bisa menyangkal!?" ucap Ling Ling dengan tatapan yang merendahkan.
" Sayang sekali, bukan hanya saya yang keberatan! Tapi tuan Ling In Wurong juga. Dia sangat percaya dengan tabib tua Hang!" jawab Ling Ba Tin kepada Ling Ling.
" Tuan Ling In Wurong bukan hanya percaya tapi dia juga sangat tergantung kepadaku!" ucap tabib tua Hang membela dirinya untuk bisa bertahan di keluarga Ling.
"Ohh... Benarkah! Haha... Itu karena dia tidak tahu perbuatanmu! Kebejatan dari tindakanmu terhadap putrinya! Coba bayangkan kalau dia tahu..."
Ucapan Ling Ling bagaikan petir di siang hari yang menghantam telak mereka berdua. Baik Ling Ba Tin mau pun tabib tua tabib Hang tidak perna berpikir ke sana.
Melihat mereka berdua terdiam dan tidak berkata apa-apa, Ling Ling kembali lagi berbicara, "Kalian berdua pergi dari sini! Aku tidak mau kalian berdua merusak pandangan mataku!"
Selesai berbicara Ling Ling segera melangkahkan kakinya meninggalkan Ling Ba Tin dan Tabib Hang masuk ke dalam Pavilium Roseling.
Mereka kedua memperhatikan punggung Ling Ling sampai menghilang di balik pintu Pavilium. Barulah Tabib tua tabib Hang kembali bersuara, "Bagaimana Tuan Ling Ba Tin? Apakah berhasil?"
Tanpa melihat Tabib tua Hang dia pun menjawab, "Tentu saja berhasil? Kalau tidak, Apakah mungkin aku sudah kembali?"
"Haha…, ini kabar yang sangat bagus! Syukurlah anda berhasil! Perayaan Festival Bunga, ternyata juga membawa keberuntungan untuk kita. Hehe.." Tabib tua Hang sangat gembira mengetahui kabar ini.
"Iya kau benar! Oleh karena itu kita harus merayakannya! Kita maanfaatkan hari baik ini!"
"Hehe .... Aku sudah! Tadi siang merayakan Festival Bunga bersama dengan Nona Ling In Chuan! Hihi …,puas sekali! Tapi kalau bisa merayakannya lagi, aku ya tidak keberatan! Hehe ..." ucap Tabib Hang sambil mengingat kembali peristiwa tadi siang yang telah terjadi antara dirinya dengan Ling In Chuan.
"Apaaaa? Bagaimana bisa?" tanya Ling Ba Tin kepada rekannya itu karena dirinya merasa selalu kalah selangkah.
" Hem... Selama Nona Ling ada, kita tidak bisa apa apa! Kita tidak bisa membiarkan Nona Ling Ling semakin mengusik dan menekan kita. Sebaiknya para bandit segera bertindak!"
" Ya tidak bisa langsung juga! Kita harus memiliki sebuah rencana! Jangan lupa nona Ling juga memiliki kemampuan yang cukup tinggi! Dan masih ada pengawal pribadinya! Kita harus singkirkan lebih dulu pengawalnya!"
Kedua orang itu merencanakan tindakannya untuk menghadapi Ling Ling sambil berjalan meninggalkan Pavilium Roseling. Mereka sama sekali tidak takut apa bila rencana yang akan mereka jalankan itu terdengar oleh orang lain.
Sementara Ling Ling yang ada di kamar Ling In Chuan. Sedang melakukan metodenya untuk mengobati kelumpuhan yang sedang di alami oleh Ling In Chuan.
Dan cara pengobatan itu, Ling Ling ambil dari pengalamannya di dunianya yang dulu. Termasuk juga obat, yang dulu telah di buatnya di dunianya itu.
Dunia yang modern dengan kecanggihan tehnologi dan kekuatan spiritual yang hidup berdampingan. Obat yang di perlukan itu ada di dalam Cincin dimensi yang juga mengikutinya ke zaman ini.
"Ini adalah tahap pertama penyembuhanmu! Tidak bisa langsung sembuh! Jadi kau harus bersabar! Dan prosesnya teramat menyakitkan!" ucap Ling Ling kepada gadis cantik yang telah berbaring lama di ranjang itu.
Sebenarnya bisa saja Ling Ling memberinya obat anti nyeri, yang akan bisa menahan rasa sakit yang dialaminya saat proses penyembuhan di lakukan, tapi Ling Ling memang sengaja tidak melakukannya.
" Aku akan mulai! Tapi apakah kau sanggup, menahan rasa sakitnya? Kalau kau tidak sanggup katakan saja?" Tanyanya Ling Ling kepada Ling In Chuan.
" A.. Aku si.., ap! A... Apa pun i..., itu! A...Ku a...,akan ber...,ta...,han! La.., ku..., kan, lah..." ucap terbata - bata dari Ling In Chuan penuh dengan tekad.
Bagaimana Ling In Chuan tidak bertahan. Kesembuhan yang sangat diharapkannya sebentar lagi bisa terwujud. Jadi dirinya harus bisa menahan rasa sesakit apapun yang bakal dialaminya. Karena membayangkan dirinya bisa terbebas dari budak **** dan juga membalas dendam pada mereka membuat tekadnya makin menggebuh.
("Walau sakit aku bisa menahannya? Dan itu harus. Aku mau sembuh! Karena aku harus mempertahankan diriku, agar tidak disentuh dan di lecehkan lagi oleh dua orang tua bangkah itu. Dan aku juga harus membuat perhitungan dengan tua bangka Tabib Hang dan juga pelayan rendahan Ayahku Ling Ba Tin, kalau aku tidak sembuh, bagaimana aku bisa menyiksa dan membunuh mereka?") ucap dalam hati Ling In Chuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...