
"Aku ingin menunjukkan kepandaianku dan keperkasaanku di atas ranjang padamu! Uhh... Senjata ajaibku beraksi kembali! Haha... Mau gimana lagi? Sebelum masuk kamar ini, Aku lebih dulu meminum ramuan obat kuat! Akukan memang berencana menghabiskan malam denganmu! Hehe..."
Langsung saja tabib tua Hang menerkam gadis cantik itu. Dia menjamanya dengan sangat ganas dan sedikit lebih brutal. Penyatuan yang kedua ini dia lebih bersemangat, karena gadis yang menjadi targetnya itu tidak melawan sama sekali.
Ling In Chuan seolah pasrah menerima nasib. Gadis cantik itu bahkan sepertinya menikmati persetubuhannya dengan tabib tua Hang. Dan penyatuhan kedua itu pun memakan waktu satu jam juga.
Tabib tua Hang langsung roboh di sebelah Ling In Chuan, tenaganya benar- benar terkuras. Tak perlu menunggu waktu lama akhirnya lelaki tua itu pun menutup matanya. Tak lama kemudian terdengar dengkuran, yang menandakan orang itu sudah pergi jauh ke alam mimpi.
Ling In Chuan baru menggerakkan tubuhnya, ketika dia memastikan kalau lelaki tua itu sudah benar- benar tertidur. Dengan sangat hati-hati dia turun dari ranjang, jangan sampai pergerakannya itu membuat lelaki tua bangka sampai terusik dan akhirnya terbangun.
Begitu kakinya menyentuh lantai dengan segera dia memunguti hanfunya yang berserahkan. Segera di kenakannya hanfu hijaunya itu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat, yang penuh dengan tanda kepemilikan dari tabib tua bangka itu.
Dengan perlahan dia menuju meja di sudut kamarnya. Walau tiap lima langkah, dia harus berhenti dan sedikit gemetaran tapi tidak menyurutkan tekadnya, di sana ada seguci air putih.
Apa lagi pil penunda kehamilan yang Ling IN Chuan simpan dalam kantong penyimpanan juga di taruhnya di dalam laci meja. Mau tidak mau Ia harus mendekati meja.
Begitu sampai meja, di langsung menyambar kantong penyimpanannya. Dan pil yang dia butuhkan kini sudah ada di dalam genggaman tangannya. Tak mau menunda waktu lagi langsung saja pil itu di konsumsinya dengan air putih.
Ling In Chuan juga mulai mengambil pedang pendek senjatanya dari dalam kantong penyimpanan. Dengan perlahan dan hati -hati dia mulai melangkakkan kakinya yang tertatih- tatih mendekati ranjang tidurnya.
Tepat berada di samping tubuh tabib tua Tabib Hang, Langsung saja Ling In Chuan mengarahkan pedang pendek itu kepada Tabib tua Hang sekuat tenaganya.
WHUUUUS JLEEEP
Pedang pendek itu dengan cepat mendarat di dada tabib tua Tabib Hang. Lelaki tua itu, seketika itu terbangun dari tidurnya. Dia sangat terkejut ketika melihat sebuah pedang pendek menancap di dadanya. Sedangkan Ling ln Chuan tersentak kaget saat menyadari buruannya terbangun dan tidak langsung mati karena tikamannya. Rupanya tikaman itu meleset 1 inci dari jantung.
"Sial.. Tua bangka itu ternyata masih hidup! Aku telah gagal membunuhnya! kesempatan yang begitu baik telah aku sia-siakan!"
Secepat kilat gadis cantik itu menarik pedang pendek yang ada di dada tabib tua. Darah segar seketika itu juga mengalir dari luka tusukkan yang diakibatkan oleh pedang pendek itu. Dada lelaki tua itu kini berwarna merah.
"Brengseeek! Beraninya ****** sepertimu melukaiku! Kau ingin membunuhku! Ck, tidak semudah itu!" Tabib tua Hang sangat marah sampai wajahnya memerah.
Ling In Chuan kembali lagi menusuk dada tabib tua Hang dengan sangat cepat. Tapi sayang, usahanya kali ini gagal, pedang pendek itu telah berhenti di udara.
WHUUUUS TAP----
Serangan Ling In Chuan gagal di karenakan tabib tua Tabib Hang lebih dulu menahan dan menghalangi dadanya tertusuk lagi. Lelaki tua itu menangkap tangan yang sedang memegang pedang pendek.
Ling In Chuan merintih kesakitan saat pergelangan tangannya yang memegang pedang pendek dicengkram dengan kuat oleh Tabib tua Hang. Pedang pendek yang ada di dalam genggamannya terlepas jatuh ke lantai kamar.
WHUUUUS BUUUK
Tabib tua Hang seketika itu juga mengalirkan Auranya pada Kedua telapak tangannya. Langsung saja dia memutar pergelangan tangannya dan memukul telak perut gadis cantik yang baru di tidurinya itu.
AUHHH... BRAAAK
Ling In Chuan langsung menjerit kesakitan saat perutnya mendapat serangan dari tabib tua Hang. Begitu kuat pukulan yang di terima oleh Ling In Chuan itu sampai dia harus terlempar dan menabrak dinding.
HUEEEK
Ling In Chuan memuntahkan seteguk darah segar. Gadis cantik itu terlentang dengan tubuh yang gemetaran. Dia berusaha bangun tapi tidak sanggup.
Kesempatan itu digunakan oleh tabib tua tabib Hang menggerakkan badannya untuk turun dari ranjang. Dengan luka yang masih mengalir, ia bergegas mengambil hanfu miliknya yang berserakan di lantai. Tabib tua Hang saat ini sedang mencari keberadaan kantong penyimpanannya.
" Sial... Di mana kantong penyimpananku? Bagaimana bisa tidak ada di sini! Aneh sekali... Celaka kalau aku tidak menemukannya. Bagaimana aku bisa mengobati Lukaku? Aku harus segera menghentikan darah yang mengalir ini... Kalau ini berlanjut aku bisa mati karena kehabisan darah." Tabib tua Hang sangat panik dengan keadaannya.
Ling In Chuan tersenyum, saat melihat kepanikan dan kecemasan dari tabib tua. Tabib Hang saat ini berusaha mencari kantong penyimpanannya. Andai Dia tahu, kalau kantong penyimpanan yang di carinya itu, sudah lebih dulu disingkirkan oleh Ling In Chuan. Kantong penyimpanan itu saat ini berada d dalami laci meja. Ling In Chuan memang sengaja menyembunyikannya.
Setelah dicari, tetap saja tidak menemukannya perlahan tatapan mata tabib tua Tabib Hang mengunci Ling In Chuan. Dan dia mulai menyadari sesuatu...
"****** keparat! Ini pasti semua adalah ulahmu! Kembalikan..." Tabib tua Hang perlahan mendekati Ling In Chuan yang masih terlentang, dengan badan yang mulai terhuyung- huyung.
Wajah Tabib tua Hang mulai terlihat jelas kalau pucat pasih. Dia mulai kehabisan darah sebab luka tikaman yang di berikan oleh Ling In Chuan itu masih deras mengeluarkan darah.
Saat tabib tua Hang berada di depan Ling In Chuan, kedua tangannya langsung saja mengarah ke leher jenjang gadis itu. Ling In Chuan tidak sempat menghindar saat lehernya di cengkram kuat.
Tetapi tak berapa lama kemudian cengkraman tabib tua Tabib Hang di leher gadis cantik itu perlahan-lahan melemah dan akhirnya tubuh tabib tua Hang roboh menindih Ling In Chuan.
Tabib tua Hang telah jatuh pingsan. Ling In Chuan mendorong tubuh tabib tua Hang dari atas tubuhnya. Dengan mengumpulkan segenap tenaganya, gadis cantik itu berusaha bangun. Kemudian berjalan dengan tertatih-tatih. Ling ln Chuan bermaksud mengambil kembali Pedang pendeknya yang tergeletak di lantai.
Begitu pedang pendek sudah berada dalam genggaman, gadis cantik itu melirik pada tabib tua Hang, dan mata gadis itu menampakkan kebenciannya. Perlahan namun pasti Ling In Chuan melangkahkan kakinya mendekati tabib tua Hang.