
Ling In Wurong tiba di kamar Ling In Chuan dan dia melihat anak gadisnya makin pucat saja.
" Ling In Chuan belum minum obatkan? Dan kondisinya makin parah? Tabib, kau tidak benar mengobatinya? Ingat ... Kalau terjadi apa - apa sama Ling In Chuan, nyawamu dan keluargamu yang jadi taruhannya," Ancaman Ling In Wurong pada tabib itu.
Tabib itu ketakutan dengar ancaman Ling In Wurong, kalau dirinya boleh milih dia tidak akan mau mengobati Ling In Chuan.
"Nona Ling In Chuan mengalami luka dalam jadi selain obat juga butuh perawatan, Tuan!" jawab tabib itu dengan badan agak gemetar.
"Ini ramuan obatnya, Tuan! Nona menggeleng kepala terus tidak mau meminumnya?!" ucap tabib itu.
"Berikan obatnya," Ling In Wurong kemudian membujuk anaknya agar mau minum.
"Jangan kwatir dendammu pada Ling Ling akan segera terbalas! Ayah sudah minta kakak kamu pulang! Dia yang akan menyiksa wanita rendahan itu. Jadi kau harus sembuh agar bisa melihat dan menyaksikan kehancurannya," ucap Ling In Wurong menghibur anaknya.
*********
Pagi Di Pavilium Homeling
Ling Ling terbangun saat merasa ada yang memelus- elus pipinya, saat matanya terbuka sesosok wajah tampan sedang tersenyum kepadanya. Ling - Ling pun tersenyum indah melihat dan memandang good looking yang ada di depannya itu. Cukup lama mereka berdua saling pandang sampai kesadaran kembali pada jiwanya yang sempat terhipnotis oleh keadaan.
"Kauuu ....! Kauu ! Kenapa bisa masuk kamarku? Bukannya sudah aku kunci?"
Pemuda itu bukannya menjawab dia menelunjuk pintu yang terbuka lebar.
HMM
"Apa aku membiarkannya terbuka semalaman? Aih...., itu dak mungkin! Itu cuma alasan kamu!"
"Bukan aku yang cari alasan, tapi itu adalah alibimu yang sesungguhnya! Kenapa tidak bilang langsung aja, kalau aku ini boleh keluar masuk kamar kamu," ucap Yuan Long percaya diri sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ihh, amit - amit! Keluar ! Sana buruan keluar! Aku mau mandi..." ucap Ling Ling mengusir Yuan Long.
Usai mandi Ling Ling memeriksa tiap ruangan pavilium Homeling dan Yuan Long mengekor di belakangnya.
"Sebenarnya apa yang kau cari dari tadi bongkar- bongkar tiap ruangan Ling'er?" tànya Yuan Long.
"Apa ling'er! Woii...Kita ini tidak saling mengenal jadi jangan merasa dekat! Kita memang sebelumnya membuat kesepakatan, bukan aku menjual diriku padamu."
"Sekarang kita sudah tidak ada ikatan apapun! Jalani hidupmu dan aku menjalani hidupku! Kita jalan masing - masing!" ucap Ling Ling.
"Kau adalah hidupku! Sekarang kaulah duniaku! Kamu adalah wanitaku!" ucap Yuan Long dalam hati.
"Kata siapa tidak saling kenal? Semenjak bibirku bersentuhan oleh bibirmu kita sudah saling kenal! Dan kau tidak akan perna bisa apalagi mampu mencampakkanku", ucap Yuan Long dengan sungguh- sungguh.
"Jadi dari tadi itu kamu cari harta. Kenapa tidak bilang? Aku bisa memberi sebanyak yang kau mau!" ucap Yuan Long memberi tahu Ling Ling.
"Kediamanku telah dibakar beserta isinya jadi mereka harus menggantinya." ucap Ling Ling.
"Lukisan ini indah sekali! Ling Ling Lihatlah kemari? Ada kejutan untukmu? Kau akan sangat menyukainya?" Yuan Long memanggil Ling Ling agar ketempat dirinya berdiri.
Ling Ling mendekat dan dia melihat lukisan Burung Phoenix bersama seorang wanita cantik.
"Lihat baik -baik lukisan itu, lebih teliti dan cermat! Kau gadis pandai pasti tahu maksud aku?" ucap Yuan Long kepada Ling-Ling.
"Lukisan kuno! Lukisan ini seperti hidup?" ucap Ling Ling mulai meraba lukisan. "Ini lukisan kuno dan ada yang aneh tapi apa? Ya ada aura terpancar dari lukisan Burung Phoenixnya? Seperti energi yang melimpah! Yuan Long kau tau sesuatu?"
Tanpa berkata Yuan Long yang ada di sebelah Ling Ling langsung menggunakan kekuatan dan kemampuannya di arahkan pada lukisan Phoenik. Dari lukisan Burung Phoenik tiba- tiba tercipta sebuah lubang yang menghisap keduanya masuk dalam lukisan.
Mereka tiba di sebuah tempat dan melihat pemandangan seekor Phoenix dan wanita ada dalam lukisan bercengkrama dan bermain bersama.
Tak lama kemudian wanita itu perlahan mulai memudar dan menghilang meninggalkan burung Phoenix sendirian. Burung itu langsung merentangkan sayapnya dan terbang mendekat ke arah Ling Ling dan Yuan Long.
Burung Phioenix terbang memutari keduanya tiga kali putaran dan langsung menukik ke arah Ling Ling.
Begitu cepatnya burung itu melesat hingga Ling Ling tanpa mampu menghindar burung itu tembus masuk kedalam pahi Ling Ling.
Tubuh Ling Ling gemetaran mendapatkan asupan energi yang meluap- luap tak ubahnya banjir bandang.
Segera saja dia berusaha bersikap lotus untuk menjinakkan dan menstabilkan energi itu.
Begitu Ling Ling mulai larut dalam kultivasinya ingatan burung Phoenik menyatu dengan ingatannya.
Kemampuan, pengetahuan dan wawasan Burung Phoenix secara tak langsung telah di wariskan padanya . Yang pertama adalah teknik bahasa binatang. Yang kedua adalah teknik menakhlukan dan mengendalikan binatang dan yang ketiga adalah teknik pengendalian api.
Lukisan kuno
Begitu pemahaman dan kekuatan sisa Burung Phioenix yang tertinggal telah dikuasai. Ling Ling mulai membuka mata yang bertepatan dengan lubang penghisap yang mengirim mereka kembali ke depan lukisan burung Phioenix dan wanita cantik.
"Hmm, tinggal kau pelajari! Dan semuanya telah tertanam dalam benakmu tinggal kapan kamu mempraktekannya!" ucap Yuan Long. "Selamat untukmu jadi mewarisi kemampuan Phioenix".
*********