
" Ada apa dengan diriku ini ? Kenapa bisa aku jadi malah melayaninya nafsunya? Bagaimana bisa aku menjadi binal seperti ini? Apakah benar apa yang dikatakan oleh tabib tua bangka itu, kalau aku ini sudah ketagihan sentuhan laki-laki! Aku telah menjadi Ja - lang!" dalam benak Ling In Chuan.
Gadis itu benar -benar tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Tapi satu fakta yang harus di akuinya, kalau dirinya sekarang ini gampang sekali di pancing gairah nafsunya.
Ling In Chuan segera turun dari ranjang dan bergegas mengambil hanfunya yang tergeletak di bawah ranjangnya. Dengan buruh - buruh dia memakai kembali hanfunya itu, untuk menutupi tubuh polosnya yang penuh dengan tanda kepemilikan, bekas dari tabib tua Hang dan juga Ling Ba Tin.
"Ling Ling aku...!" Hanya kata -kata itulah yang bisa terucap dari mulut Ling In Chuan. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Perasaan malu itulah yang kini di alaminya. Dia berbicara sambil menunduk, dan berdiri tidak jauh dari Ling Ba Tin.
Beda halnya dengan Ling Ba Tin, setelah dia memakai kembali hanfunya. Kepala pelayan itu mengangkat wajahnya memandang ke lima gadis cantik yang ada di hadapannya. Terutama pada Ling Hui dan Ling Nui , mata Ling Ba Tin menajam seolah meyadari kalau Ling Ling ada di sini karena ulah mereka berdua.
Ling Ling memandang dengan tajam, ke dua orang yang habis melakukan olahraga bercinta walau belum tuntas sepenuhnya di karenakan kehadiran dirinya.
"Apa Anda tahu Nona Ling? Anda terlalu ikut campur urusan pribadiku! Badahal aku tidak perna mengganggu apa lagi mengusik serta merugikan kepentinganmu! Jangan melewati batas Nona! Tanganku bisa tergelincir..." Ucap Ling Ba Tin tanpa rasa takut, setelah tidak bisa menguasai dirinya dari rasa amarah yang mulai bergerak di hati.
WHUUUS PLAAAK PLAAAK
Ling Ling mengalirkan Aura pada telapak tangan kanannya dan kemudian menampar dengan cepat dan keras pada kedua pipi Ling Ba Tin. Sekarang kedua pipi kepala pelayan Ling Ba Tin telah tergambar lima jari tangan.
"Kurang ajaar! Kau berani mengancamku! Kau pikir aku ikut campur urusanmu? Haha... Kau itu tidak Penting!" Ling Ling mengejek lelaki tua itu dengan pandangan jijik. " Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh lagi Ling In Chuan! Tapi lihat...! Kau yang bertingkah...!"
Amarah Ling Ba Tin makin tersulut, Ling Ling telah menamparnya dan Gadis itu juga yang telah membuat hasrat birahinya yang sudah di ubun-ubun langsung padam.
"KELUUUAR!" Terdengar teriakan Ling Ling mengusir Ling Ba Tin dengan menelunjuk pintu kamar.
Ling Ba Tin memandang Ling Ling dengan penuh dendam. " Awas kau! Tunggu saja pembalasan dariku! Aku pastikan, kau akan membayarnya dengan sangat mahal! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Haha... Ling Ba Tin kau musuhi, kau akan tahu akibatnya!" Dalam benak Ling Ba Tin.
Ling Ba Tin bergegas meninggalkan kamar Ling In Chuan, dia tidak mau lama-lama di dalam kamar itu karena kuatir tidak dapat menahan diri lagi untuk menyerang Ling Ling.
Mereka berenam memandang punggung Ling Ba Tin sampai tidak terlihat lagi. Dalam kamar itu sekarang ini hanya ada 6 gadis cantik.
" Maaf Nona, kami berdua tidak berani langsung menolong anda! Kami tidak sanggup melawan tuan Ling Ba Tin! Mengakibatkan nona Ling In Chuan mengalami pelecehan!" Kata Ling Hui, gadis pelayan ini juga menunjukkan kepala seperti halnya dengan teman baiknya.
" Kalian berdua tidak perlu meminta maaf! Aku tahu, kalian berdua mana mungkin berani melawan kepala pelayan Ling Ba Tin. Aku juga tidak menyalahkan kalian! Ini sudah menjadi nasibku!" ucap Ling In Chuan kepada kedua pelayan pribadinya.
" Apa kau tidak ingin membersihkan tubuhmu, Ling In Chuan? Apa kau ingin, keringat kepala pelayan Ling Ba Tin masih menempel di badanmu? Ohya... Persiapkan dirimu, tidak lama lagi kamu harus ikut aku ke ibukota!"
Selesai berbicara Ling Ling membalikkan badannya langsung saja melangkakan kakinya meninggalkan kamar Ling In Chuan, di ikuti dari belakang oleh Ling Chi dan Ling Yun.
🌿🌿🌿
Barak Penjaga Kediaman Ling
Ling Ba Tin yang di usir Ling Ling dari Paviliun Roseling saat ini sedang menemui salah satu anak buah dari Bandit Tengkorak Hitam yang bernama Tang Talun. Anggota Bandit Tengkorak Hitam ini, di bawa langsung oleh Ling Ba Tin sendiri.
"Beritahu kepada pimpinanmu Tuan Fang Bi Kang dalam 7 hari kedepan, aku ingin Ling Ling sudah mati! Aku tidak mau menungguh lebih lama lagi! Bayarannya akan aku naikkan dua kali lipat!" Ling Ba Tin berbicara masih dengan amarah di hatinya. Dia memerintahkan Tang Talun menghubungi Pimpinan Bandit Tengkorak Hitam.
"Haha... Tuan Ling Ba Tin rupanya sudah tidak sabar lagi! Bayaran dua kali lipat siapa yang bakal nolak! Saya akan menghubunginya saat ini juga! Jangan lupa untuk segera menyiapkan bayarannya! Hihi... Kami tidak mengenal kata berhutang!" ucap Tang Talun dengan senyum merekah di wajah sangarnya.
Tak lama kemudian Tang Talun mengeluarkan sebuah Giok yang mirip dengan telinga. Dan giok itu adalah giok komunikasi yang diambil dari dalam kantong penyimpanannya.
Tang Talun memegang giok komunikasi tak jauh dari bibirnya, tak lama kemudian dia berbicara. "Pemimpin, maaf kalau saya mengganggu! Ini Ling Ba Tin ingin rencananya di percepat lagi. Dia meminta kita menyelesaikan target incaran dalam waktu 7 hari lagi. Dan Tuan Ling Ba Tin akan membayar kita dua kali lipat."
"Haha... Baiklah! Tidak masalah, mau sekarang atau nanti. Bagi kita tidak akan ada bedanya. Dengan senang hati aku menyambutnya. Hehe... Beritahu dia untuk membayar kita di muka." Ucap pimpinan Bandit Tengkorak Hitam yang terdengar dari giok komunikasi yang di pegang oleh Tang Talun.
" Yang benar saja, masa harus dibayar semuanya di muka. Itu tidak bisa! Pembayaran di muka hanya separuh saja dan separuhnya lagi akan di bayar atau di lunasi apa bila pekerjaan kalian sudah selesai." Ling Ba Tin langsung menjawab perkataan Pimpinan Bandit Tengkorak Hitam Fang Bi Kang dengan menarik giok komunikasi dari Tang Talun.
Fang Bi Kang yang mendengar suara Ling Ba Tin dari Giok komunikasi sangat kaget. Dia tidak tahu apa bila Ling Ba Tin saat ini sedang bersama anak buahnya itu. Dan kepala pelayan Ling Ba Tin telah mendengarkan semua pembicaraan dirinya dengan Tang Talun. Untung saja dia tidak sampai menyinggung rencana sesungguhnya yang akan di lancarkan oleh Bandit tengkorak Hitam kepada kediaman keluarga Ling.