
"Ck, Siapa yang peduli! KAMI.... !" ucap lelaki hanfu ungu. "Haha... Aturan itu tidak berlaku bagi kami! Dan kami bebas ke mana saja!"
Ucapan itu diangguki oleh teman- teman dari laki-laki berhanfu ungu itu. Karena mereka semua setuju dan membenarkan ucapannya. Karena bagi kelompok Bandit Tengkorak Hitam, dua orang yang ada di hadapannya ini tidak lebih adalah mangsa.
Walau salah seorang dari anggota Bandit Tengkorak Hitam itu, sebenarnya mengetahui dan menyadari kalau salah satu dari orang yang ada di hadapannya adalah seorang pelanggan, orang yang telah menyewa jasa mereka tapi dia sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Semua itu di karenakan perintah langsung dari pemimpin utama Bandit Tengkorak Hitam untuk merampok dan menguasai kediaman keluarga Ling.
"Apa katamu? Beraninya kau! Apa kau tidak tahu siapa kami? Sehingga berani lancang!" ucap Ling Ba Tin sambil berkacak pinggang.
Para Bandit tengkorak hitam semuanya pada tertawa, " Haha..... haha....haha!" Apa yang diucapkan oleh Kepala pelayan keluarga Ling itu sama sekali tidak di perdulikan, bagi mereka tidak lebih seperti angin yang berlalu.
(" Aku yakin, kalau mereka ini adalah komplotan Bandit Tengkorak Hitam yang telah aku sewa, tapi kenapa mereka juga ikut menyerang tempat ini? Bukankah sasaran utamanya adalah Ling Ling.") Pikir Ling Ba Tin keheranan.
Ling Ba Tin kembali lagi berpikir dengan mengernyitkan keningnya sejenak, (" Ling Ling ada di Paviliun Homeling, dan aku sudah memberitahukan hal ini kepada Tang Talun, dia pasti tahu tempatnya. Tidak mungkin salah tempat apalagi salah sasaran. Kenapa jadi begini?")
"Seraaaaang!" ucap Hei Lang kepada rekan - rekan banditnya.
WHUUUUUUUUUS
Ling Ba Tin tersadar dari lamunannya ketika mendengar sebuah teriakan dari Hei Lang. Dan hampir saja sebuah serangan dari dua orang bandit yang ada di dekatnya mengenai tubuhnya.
TAP---------
Beruntung secara spontan gerakan refleksnya menghindari serangan telah memyelamatkannya dari luka yang akan di alaminya.
"Bangsaaaat! Bajingan! Kau.., kalian..." Ucap Ling Ba Tin dengan emosi dan marah, tapi ucapannya itu tidak sampai di teruskan karena sudah terpotong oleh suara Ling In Wurong.
"Panggil segera para penjaga, Ling Ba Tin! Usir mereka dari kamarku. Hukum mereka dengan seberat- beratnya!"
Ling Ba Tin memalingkan mukanya ke kiri, di lihatnya tuannya Ling In Wurong yang masih setia pada posisinya yang bersandar pada ranjang mewahnya.
"Baik Tuan Ling In Wurong!" jawab Ling Ba Tin mengabulkan keinginan kepala keluarga Ling itu. "PENJAGAAAA! PENJAGAAAA CEPAT KE SINI..." teriak Ling Ba Tin dengan kencang memanggil- mangggil penjaga keluarrga ling.
"Haha...haha...haha..." Teriakan dari Ling Ba Tin hanya di sambut gelak tawa kawanan Bandit Tengkorak Hitam yang mengepungnya.
Beberapa waktu berlalu tapi tidak ada satu pun penjaga kediaman keluarga Ling yang datang menemui panggilan dari kepala pelayan Ling Ba Tin. Hal ini jelas menimbulkan keanehan dan keterkejutan dari kepala keluarga Ling itu.
"Kenapa tidak ada penjaga yang datang kemari?" Tanya Ling In Wurong heran dan mulai ada kepanikan dari nada ucapannya.
"Saya tidak tahu, Tuan! Kenapa mereka tidak datang? Mereka jelas tidak mungkin berani mengindahkan panggilanku!" jawab Ling Ba Tin mulai was -was akan keadaan sekitarnya.
"Haha ... Tidak akan ada yang datang! Mereka saat ini lagi sibuk. Jangan mengharapkan akan ada bantuan!" Sarkas Ji Bauji sambil menyunggingkan senyumnya dari wajah kakunya.
"Apa maksudmu?" Nyolot Ling Ba Tin dengan tatapan tajamnya, "Jelaskan?"
WHUUUUS
Sebuah serangan langsung dilancarkan oleh Ji Bauji sebagai jawaban atas pertanyaan yang di ajukan oleh kepala pelayan keluarga Ling itu.
Ling Ba Tin segera saja melompat tinggi untuk menghindari serangan Ji Bauji.
WHUUUUUS WHUUUUUS
Di susul kembali oleh dua serangan dari rekan Ji Bauji yang berdiri di samping kanan dan kirinya.
"Bajingaaaan! Keparat kalian!" Teriak Ling Ba Tin emosi luar biasa ketika melihat serangan yang datang mengarah padanya dari dua arah dengan jarak yang sangat dekat.
Ling Ba Tin yang masih dalam posisi di udara, seketika itu juga menepuk kantong penyimpanannya, untuk mengambil senjata andalan yang selama puluhan tahun ini selalu menemaninya.
TAAAAANG TIIIIIIIIIING
Begitu pedang panjang ada di dalam genggamannya. Dengan kecepatan tinggi dihalaunya serangan yang datang dari arah kiri itu, kemudian dia memutar badannya sedikit dan langsung mengayunkan pedangnya menghalangi laju tebasan pedang yang mampir saja menyentuh pinggangnya.
WHUUUUUS TAAAAANG
Kembali lagi serangan datang menghampiri Ling Ba Tin yang melayang di udara, dengan sigap kepala pelayan keluarga Ling itu menghalaunya. Tak terasa beberapa jurus telah mereka lalui, tapi belum bisa menunjukkan siapa yang bakal kalah.
Hal ini menunjukkan kalau kultivasi Ling Ba Tin berada di atas satu tingkat di atas ke tiga kawanan Bandit Tengkorak Hitam. Jadi tidak aneh walau sudah di keroyok masih bisa seimbang melawan mereka.
Sedangkan seorang rekan Ji Bauji yang hanya menonton pertarungan itu, mulai diam - diam mendekati ranjang Ling In Wurong. Di tangan lelaki tinggi gempal itu tergenggam sebilah golok.
" Kauuuu... Jangan mendekat! Pergiiii!" ucap Ling In Wurong ketakutan saat melihat ada seseorang mendekatinya.
Lelaki tinggi gempal itu hanya menyeringai melihat ketakutan dan kepanikan Ling Ba Tin, Di ayunkanlah golok itu menebas tubuh Ling In Wurong.
WHUUUUUS CRAAAS
Begitu serangan datang, Ling In Wurong kepala keluarga Ling itu hanya bisa melototkan matanya. Saat tebasan golok menyentuh tubuh ringkiknya. Dia tidak bisa menghindar, dia hanya bisa pasrah menerimah sabetan dan goresan menghias badannya. Bagaimana dia bisa menghindarinya kalau kondisinya telah lumpuh.
AAAUUUUHHHH
Ling In Wurong berteriak dengan kencang. Badannya kini bersimbah darah, luka yang dialaminya sangat parah, nafasnya mulai tersengal- sengal.
Dia tidak menyangkah kalau hidupnya akan berakhir hari ini. Mati di dalam kamarnya di atas ranjang empuknya, tanpa perlawanan sama sekali terhadap dewa mautnya.
"Su -sudah ber- berakhir a -aku ti- tidak sang- sanggup la- lagi!" ucap Ling In Wurong sesaat sebelum matanya menutup untuk selamanya.
Teriakan Ling In Wurong mampu mempengaruhi konsentrasi Ling Ba Tin, Lelaki itu memalingkan mukanya kearah ranjang, dimana majikannya terbaring. Dia terkejut melihat pemandangan yang disaksikannya itu. Orang yang paling dia hormati itu kini sudah tidak ada lagi di dunia ini.
WHUUUUUS CRAAAAAAS
Karena konsentrasi teralihkan, sehingga sebuah serangan dari Ji Bauji yang kembali datang dengan tiba - tiba, dengan serangan yang lebih cepat lagi, Ling Ba Tin tidak bisa menghindarinya lagi, mengakibatkan pundak kirinya mengalami luka yang cukup parah.
"Siaaal! Siaaaal! Kenapa semua jadi begini? Ini tidak sesuai dengan keinginanku! Bukan hal ini yang aku mau!" ucap Ling Ba Tin dengan menggengkan kepalanya sambil menepuk kantong penyimpanannya untuk mengambil pil yang bisa mengobati lukanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...