Ling Ling

Ling Ling
Bab 141



Baru setengah jalan menuju Paviliun Homeling, gadis Pelayan cantik itu melihat Ling Ling dan kedua pelayan pribadinya di taman. Dia langsung bergegas mendekat.


"Nona Ling Ling, syukurlah saya bertemu Anda di sini! Mari.., ikut saya ke Paviliun Roseling! Tolonglah majikan saya Nona Ling In Chuan! Tuan Ling Ba Tin mau memperkosanya!"


" Ohh.. Kebetulan sekali, Aku juga mau berkunjung ke Paviliun Roseling." ucap Ling Ling setelah mendengar pengaduan Ling Nui sambil mempercepat langkah kakinya. "Aku dengar kabar kalau Tabib tua Tabib Hang telah mati. Dan kematian tabib tua Hang di Pavilion Roseling. Aku rasa kematiannya ini pasti ada hubungannya dengan majikan kalian, Ling In Chuan khan! Bener bukan tebakkanku?"


Ling Nui dengan cepat menganggukkan kepalanya. Karena dia menyadari, cepat atau lambat Ling Ling pasti akan mengetahui kebenarannya. " Iya Nona, Tabib tua Tabib Hang mati di tangan Nona Ling In Chuan. Tapi kejadiannya, saya tidak tahu! Saya tahu kalau nona Ling In Chuan yang membunuh, semua itu karena Nona Ling In Chuan sendiri yang mengakui perbuatannya!"


Mereka terus berbicara hingga tak terasa sudah berada di depan pintu kamar Ling In Chuan. Dan di sana sudah ada Ling Hui yang menunggu kehadiran Ling Nui dan Ling Ling.


"Kenapa kau ada di luar? Apa semua sudah beres?" tanya Ling Nui pada teman karibnya itu.


"Semua pekerjaan sudah beres! Aku keluar tak lama setelah dirimu pergi untuk memanggil Nona Ling Ling! Aku tidak bisa terus- terusan berada di dalam! Aku, Hehe.... Tak sanggup!" ucap Ling Hui menjawab pertanyaan Ling Nui sambil tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ling Ling yang faham akan ucapan Ling Hui hanya menarik sudut bibirnya. Tapi bukan hanya Ling Ling, mereka bertiga Ling Nui, Ling Chi dan Ling Yun juga faham. Ke lima gadis muda itu menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan sangat kasar, sebelum masuk kedalam.


Ling Ling wajib masuk, sedangkan ke 4 gadis itu mau tidak mau mereka harus bertekad masuk, karena tidak mungkin membiarkan Ling Ling sendirian. Dan mereka pun mendengar suara - suara dari arah ranjang yang....


Amm Umm Emm


Kini para gadis muda itu melihat dan juga ikut menyaksikan percintaan dua orang beda usia. Yang pria adalah lelaki yang sudah tua dan yang wanita itu adalah gadis muda belia.


Ling In Chuan mau pun Ling Ba Tin sudah sama- sama di kuasai oleh gairah nasfu. Ling In Chuan sudah tidak menolak atau pun memberontak. Dia melayani gairah Ling Ba Tin dengan menggebu.


Ling In Chuan sekarang ini malah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya, apa lagi dengan kepala pelayan Ling Ba Tin. Kepala pelayan Keluarga Ling itu memang sejak awal tahu dan sadar. Kalau perbuatan dan tindakannya pada Ling In Chuan telah di lihat dua pelayan pribadi gadis itu. Tapi dia tidak memperdulikannya sama sekali keberadaan kedua pelayan itu.


Karena Ling Ba Tin tahu, kedua pelayan cantik itu tidak akan mengganggu, apalagi menghalangi perbuatan mesumnya kepada Ling In Chuan. Sebab kepala pelayan keluarga Ling telah mengancam keselamatan keluarga Ling Nui dan Ling Hui.


Dan keselamatan keluarga itu adalah kelemahan tersebar kedua pelayan cantik itu. Hal inilah yang di manfaatkan oleh Ling Ba Tin untuk kepentingan dirinya.


Ling Ling tidak bisa tinggal diam, dia tidak mau kalau mata indahnya terpapar noda karena kelamaan melihat adegan mesum yang ada di hadapannya itu.


" LING BA TIIIIN....!" teriak Ling Ling menggelegar di dalam kamar. Membuat dua orang yang sedang bercinta itu seketika terlonjak karena kaget. Baik Ling Ba Tin maupun Ling In Chuan secara spontans sama-sama melihat ke asal suara. Di lihatnya Ling Ling berdiri tidak jauh dari ranjang dan di belakangnya Ling Ling ada empat gadis cantik yang berjajar.


"Beraninya kamu melanggar laranganku! Kau berani melawan perintah dariku! Apa kau memang sengaja menantang diriku!" ucap sarkas Ling Ling memandang dengan jijik.


Kehadiran Ling Ling bagaikan petir di siang hari. Gairah Ling Ba Tin yang tinggal sedikit lagi hampir pelampiasan terpaksa harus dihentikan mendadak. Mau tidak mau harus mengakhiri percintaan mereka.


Tapi karena terkejut, secara otomatis senjata ajaib kebanggaan kepala pelayan Ling Ba Tin itu langsung lemas, walau masih berada di dalam lubang kenikmatan Ling In Chuan.


"Sial..! Sial..! Dasar perempuan pembawa sial. Kenapa perempuan ini harus datang disaat seperti ini? Kenapa Ling Ling tidak datang di saat aku sudah selesai menuntaskan hasrat! Aku tidak sabar, ingin segera menghilangkan gadis ini dari dunia." ucap Ling Ba Tin dalam hati penuh dengan dendam.


Ling Ba Tin segera turun dari atas tubuh Ling In Chuan, kemudian kepala pelayan keluarga Ling itu pun bergeser kesamping turun dari ranjang. Dengan tidak tahu malunya, Ling Ba Tin itu tidak menutupi tubuhnya untuk mengambil hanfu miliknya yang di buangnya sembarangan, yang tidak jauh dari Ling Ling dan 4 orang pelayan cantik berdiri, dalam kondisi masih telanjang bulat.


Apa yang di lakukan Ling Ba Tin tak ubahnya dia memang sengaja memamerkan tubuhnya yang masih kekar dan berotot itu kepada kelima gadis yang masih belia yang ada di hadapannya itu.


"MENJIJIKKAN.... Cepat kamu pakai hanfumu itu! Kalau tidak..., aku tidak akan segan, segera memotong barangmu itu!" Ling Ling berbicara sambil menelunjuk barang ajaib Ling Ba Tin yang sudah mengecil.


" Dan akan aku gantung serta pajang di pintu gerbang kediaman keluarga Ling sebagai peringatan dan juga tontonan!" Ucap Ling Ling kembali dengan begitu sadisnya.


Kepala pelayan Ling Ba Tin mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat sampai kuku- kuku tangannya memutih. dia pun segera menyambar hanfunya yang ada di lantai kamar dan dengan gerakkan yang sangat cepat di mengenakannya kembali hanfunya itu.


Sementara Ling In Chuan termenung. Dia sedikit menyalakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya akhirnya malah melayani gairah nafsu dari kepala pelayan keluarga Ling itu.


" Ada apa dengan diriku ini ? Kenapa bisa aku jadi malah melayaninya nafsunya? Bagaimana bisa aku menjadi binal seperti ini? Apakah benar apa yang dikatakan oleh tabib tua bangka itu, kalau aku ini sudah ketagihan sentuhan laki-laki! aku telah menjadi Ja - lang!" dalam benak Ling In Chuan.