
Ling In Chuan mendengar suara kaki semakin dekat ke arahnya, diapun semakin panik. Sebab sekarang, tidak ada lagi yang bisa menolong dan juga melindungi dirinya.
Ling In Chuan sadar, kalau Ling Ba Tin tidak akan melepaskan dirinya, lelaki tua bangka itu bakal melepaskan hasrat yang beberapa lama tidak bisa di lampiaskannya karena keberadaan Ling Ling.
"Jangan mendekat! Pergi...! Pergi...! Pergilah kau! Jauh- jauhlah kau dariku!"
Ling Ba Tin tersenyum sebelum menjawab ucapan Ling In Chuan. "Ohh... Benarkah! Sudah lama kita tidak bertemu! Bukannya kau merindukan diriku! Tidakkah kau kangen dengan kejantananku!"
"Ck, siapa yang rindu denganmu apalagi dengan kejantananmu. Aku jijik kau sentuh!"
"Haha...Sayangnya aku tidak peduli, kau suka apa tidak aku sentuh, yang pasti aku suka sekali di atas tubuhmu. Emm...Cukup lama juga kita berdua tidak melepaskan hasrat! Bagaimana kalau kita berdua mengulanginya lagi? Mumpung sekarang ada kesempatan untuk melakukannya! Ayo Ling In Chuan sayang, kita bersenang- senang jangan kita buang waktu yang ada dengan sia - sia! Hehe..."
Ling Ba Tin kini duduk di ranjang Ling In Chuan, kedua tangannya langsung saja menyentuh dan meremas kedua buah gunung kembar gadis cantik itu.
"Ahh... Kurang ajar!" Ling In Chuan kaget sekaligus marah ketika tangan Ling Ba Tin menyentuh bagian tubuhnya.
"Kau berani menyentuhku? Kau tidak takut peringatan Ling Ling!" Ling In Chuan berusaha menakut-nakuti Ling Ba Tin agar tidak menuruskan berbuatan bejatnya.
Dengan sekuat tenaga Ling In Chuan berusaha bisa menggerakkan kedua tangannya yang lumpuh, yang masih dalam proses perawatan dan pengobatan oleh Ling Ling untuk menepis tangan lelaki tua itu. Dia tidak rela asetnya di mainkan sesuka hati oleh kepala pelayan keluarga Ling itu.
"Kenapa kita harus takut? Kita melakukannya dengan diam-diam maka semuanya akan aman terkendali! Hihi..."
"Ti- tidak! Cu-cukup! Jang----"
Ling In Chuan tidak bisa meneruskan ucapannya karena mulutnya sudah dibungkam oleh bibir tebal Ling Ba Tin. Air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya dengan sendirinya. Menandakan kehancuran hatinya.
Kedua tangan Ling Ba Tin yang aktif itu mulai melepaskan hanfu yang dipakai oleh Ling In Chuan juga hanfu yang dipakainya sendiri.
Begitu keduanya dalam keadaan polos tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi. Lelaki tua itu tangannya seperti hidup, mulai meraba dan meremas, apa yang bisa diremas dari tubuh gadis cantik yang ada di hadapannya itu.
Di saat seperti ini, Ling In Chuan berharap kalau Ling Ling datang untuk menjenguk dan memeriksa keadaannya. Dengan begitu dirinya akan terbebas dari terkaman lelaki tua bangka itu.
"Uhh... Emm..."
Bunyi suara yang lolos dari mulut Ling In Chuan saat dirinya mulai terbakar nasfunya, Dan hal itu terdengar merdu di telinga Ling Ba Tin, membuat nasfunya makin terbara.
Setelah puas mencium bibir Ling In Chuan sekarang bibir tebalnya mulai pindah menelusuri leher jenjang gadis cantik itu dan berhenti tepat di salah satu pujuk gunung kembar.
Ling Ba Tin tak ubahnya bayi besar yang sedang ke hausan. Dengan rakusnya dia berpindah- pindah dari pucuk gunung kanan ke pujuk gunung kiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...