Ling Ling

Ling Ling
Bab 150



Yuan Jing melompat dan mengarahkan pedang yang ada di tangannya menghadang laju golok besar yang mau menebas pinggang ramping Ling Yun.


WHUUUUS HAP----- TRAAANG


Bunyi senjata yang beradu saat pedang dan golok bertemu, serangan dari Chan Huli berhasil digagalkan oleh Yuan Jing.


"Selamat .... Hampir saja tubuhku yang indah makin bannyak goresannya! Huh.. Sial, dia memang bukanlah lawanku! Melawannya sendirian aku tidak akan pernah sanggup." ucap Ling Yun dengan nafas tersengal - sengal sambil memandang Chan Huli, kemudian memalingkan pandangannya pada penolongnya, "Terima kasih,Tuan. Anda penyelamat hidupku, aku berhutang budi padamu!"


Chan Huli terlihat kecewa sekaligus juga marah serangan yang di lancarkannya telah di hadang oleh pihak lain, sehingga targetnya berhasil lolos dengan selamat.


" Sial... Tinggal sedikit saja, aku sudah bisa melukai dan memperdaya perempuan yang berani meludahi wajah tampanku ini." Wajah Chan Huli makin menggelap tak rela bila buruannya terlepas. Lelaki itu kemudian menggertakkan gigi kepada orang yang ikut campur dalam pertarungannya. "Brengseeeek... Aku bunuh kau! Sebelum Aku mencincang tubuh ja- lang itu, nyawamu lah yang lebih dulu harus aku ambil!"


"Mundurlah.... Serahkan orang ini padaku! Obati dulu luka yang kau derita!" ucap Juan Jing dengan datar kepada Ling Yun. "Ambil ini.." Pemuda tampan itu melempar sebuah pil kepada Ling Yun.


Ling Yun menangkap sebuah pil kecil berwarna biru yang dilempar oleh penolongnya. Gadis itu pun dengan terseok-seok menepi menjauhi dua orang yang saling berhadapan yang sebentar lagi bakal memulai kembali pertarungannya.


*****


Sementara Ling Chi mau ke tempat pertarungan Ling Ling. Gadis itu memandang sekilas pertarungan yang tak jauh darinya, yaitu pertarungan antara Yuan Jing dan Chan Huli. Yuan Jing saat ini telah menggantikan Ling Yun, yang tak mampu lagi untuk meneruskan pertarungannya. Kehadiran Yuan Jing saat tepat, karena telah menyelamatkan gadis itu dari kondisi berbahaya yang mengancam nyawanya.


Ling Yun sekarang ini berada di sudut ruangan dalam kondisi terluka, darah segar membasahi badan dan hanfu yang di kenakannya. Hanfu itu pun sudah tak berbentuk lagi, gadis itu hampir setengah telanjang.


Ling Yun saat ini sedang bermeditasi menyerap khasiat pil biru yang dikasih penolongnya. Sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.


"Aih... Ling Yun, itu gimana? Bisa-bisanya dia lebih memilih memulihkan diri lebih dulu! Tidak lihat apa? Kalau dirinya itu setengah telanjang! Apa dia mau pamer! Ehh..., tidak takut kalau yang datang ke tempat ini bukannya aku, tapi malah pihak lawan, apa jadi?" Ucap Ling Chi tak habis pikir dengan keteledoran teman baiknya itu.


Apa yang di lakukan oleh Ling Yun itu adalah sebuah kefatalan, karena tanpa disengaja gadis itu sama saja menggoda dan menantang kejantanan lawan jenisnya yang melihat kondisinya, tak heran bila penolongnya sama sekali tidak mau melihatnya, dan musuhnya makin jelalatan melihat dirinya.


WHUUUS HAP-----


Ling Chi melesat mendekati Ling Yun, gadis cantik itu menepuk kantong penyimpanannya. Tak lama kemudian muncul sebuah hanfu warna kuning di tangannya. Segera saja gadis itu menutup separuh tubuh sahabat baiknya itu dengan hanfu kuning yang ada di tangannya.


Gerakan dari Ling Chi tak berhenti begitu saja, gadis cantik itu pun segera membantu kawan baiknya itu menyerap khasiat dari pil, kalau kelamaan kuatir juga, akan ada musuh datang menyusul dan menyerang ke Paviliun Homeling.


"Ling Chi..." ucap Ling Yun ketika kedua kelopak matanya terbuka, wajah sahabat baiknya inilah yang ada di hadapananya.


"Emm... Syukurlah tidak perlu lama nyerap obatnya! Tapi.. Lain kali kalau melakukan sesuatu lihatlah dulu kondisi sekitarmu, jangan sampai kecerobohanmu hari ini terulang lagi!"


"AIH... Lihatlah dirimu itu! Kau mau di jarah! Kau malah menunjukkan kemolekan tubuhmu! Apalagi aset dada kembarmu itu, aku yang perempuan saja tergiur!" sarkas Ling Chi.


Mendengar ucapan dari sahabat baiknya, Ling Yun barulah memeriksa kondisinya, dia akhirnya menyadari kalau dirinya ternyata setengah telanjang, untung sekarang sudah tertutup oleh hanfu milik Ling Chi.


DUAAAR WHUUUS HAP----


Pada saat terdengar ledakan, tiba-tiba saja tubuh Chan Huli meluncurnya dengan cepat ke arah Ling Yun dan Ling Chi berada. Untungnya kedua gadis itu berhasil menghindar di saat yang tepat, sehingga tubuh mereka tidak sampai bertabrakan dengan tubuh Chan Huli.


WHUUUS BRAAAK AAHHH...


Oleh karena gadis pelayan cantik Ling Chi mau pun Ling Yun menghindar, mengakibatkan tubuh Chan Huli akhirnya menabrak tiang. Jeritan kesakitan keluar dari mulut lelaki itu. Begitu kerasnya tabrakan itu, hingga Chan Huli seketika itu juga menyemburkan seteguk darah segar.


"Bangun.... Bukannya kau itu laki-laki, Masa luka begitu saja sudah tidak mampu berdiri lagi! Haha.." cemo'oh dari Yuan Jing.


Chan Huli berusaha bangkit dengan tubuh sempoyongan, dia tidak memperdulikan lagi badannya yang penuh luka, begitu berdiri dengan susah payah dia berusaha menstabilkan kondosinya, pandangannya nyalang melihat pemuda tampan lawannya itu.


"Brengseeeek ...! Kau .... Kau!" Chan Huli menggenggam golok besarnya yang kini mulai basah karena darahnya sendiri. Golok itu di genggamnya makin erat.


WHUUUS CRAAS WHUUUS


Segera saja Chan Huli melesat menyerang Yuan Jing dengan tenaga dan kekuatan yang sudah menurun draktis. Yuan Jing langsung saja menyonsong dengan mengayunkan pedangnya. Sekali tebas pedang itu mampu menggores tubuh Chan Huli, dan pedang itu kembali lagi dengan kecepatan yang sama menusuk Chan Huli.


JLEEEP AAAARRRHHHH...


Teriakan cukup keras terdengar saat pedang Yuan Jing menusuk tetap dada Chan Huli. Dengan sekali sentakan tubuh yang tertusuk itu melayang jatuh terjengkang ke belakang.


********


Teriakan kesakitan Chan Huli terdengar juga di area sebelah, di pertarungan antara Ling Ling dan Tang Talun.


Ling Ling tersenyum ketika mendengarnya, "Ohh... Teriakan kesakitan temanmu terdengar sangat merdu! Hehe... Kau mendengarnya bukan?"


Sedangkan Tang Talun yang mendengar jeritan itu wajahnya makin menggelap saja, dia sadar kalau rekan Bandit Tengkorak Hitam yang di bawanya menyerbu Paviliun Homeling sudah tidak ada yang selamat. Kemungkinan yang tersisa tinggal dirinya saja, padahal yang dia bawa itu, sudah di pilih dari beberapa kandidat yang paling tinggi kemampuannya.


"DIAM KAU!" Tang Talun membentak Ling Ling setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh gadis cantik itu.