
"Haha..., Aku Ling Ba Tin memang pelayan rendahan tak tahu diri. Pelayan rendahan yang telah sering menidurimu! Pelayan rendahan yang telah menaburkan benih berulang kali padamu! Pelayan rendahan yang sudah tua tapi bisa menikmati gadis muda belia anak majikkannya. Hehe..."
"CUKUUUUP! TUTUP MULUTMUUU! BAJINGAN TUA! KU BUNUH KAUUUU...!" teriak Ling In Chua, Gadis itu marah sekali, badannya sampai gemetaran. Dia bangkit dan sekuat tenaga mendekati Ling Ba Tin yang berdiri di pinggir ranjang.
WHUUUUS TAP----
Ling Ba Tin menghindar dengan mencondongkan badannya ke samping sehingga serangan dari Ling In Chuan tidak mengenai tubuhnya, serangan itu mengenai tempat yang kosong.
Tentu saja kepala pelayan keluarga Ling itu, dengan mudah menghindari serangan yang datang dari aling In Chuan, karena serangannya itu masih sangatlah lemah.
Sekali gerakan balasan dari Ling Ba Tin, langsung mampu menangkap tangan kiri Ling In Chuan. Gadis cantik itu merontak berusaha melepaskan tangan kirinya dari genggaman kepala pelayan keluarga Ling. Tapi usahanya sia-sia, karena dia tidak mampu membebaskan tangan kirinya.
"Mau menyakitiku? Jangan harap bisa kau lakukan! Kau tidak akan pernah mampu! Kau itu hanyalah gadis yang sangat lemah!" Ejek Ling Ba Tin, meremehkan gadis yang berdiri di hadapannya itu.
" Lepaskan tanganku tua bangkah!" Ling In Chuan kembali menarik tangan kirinya dengan kuat, namun tetap tidak bisa lepas dari cengkraman tangan Ling Ba Tin. Tangan Kanan Ling In Chuan yang bebas langsung bergerak dengan cepat menyentuh pipi Ling Ba Tin.
WHUUUS PLAAAK
Bunyi sebuah tamparan yang cukup keras di peroleh Ling Ba Tin saat tangan kanan Ling In Chuan Menyentuh pipinya.
" Dasar gadis galak! Kau memang perlu untuk di jinakkan! Agar tidak liar lagi! Dan aku adalah pawangmu! Haha..." ucap Ling Ba Tin menekankan setiap katanya.
DEG
Mendengar apa yang diutarakan Ling Ba Tin jantung gadis itu berdetak dengan cepat. Sekilas Ling In Chuan cemas tapi tak lama kemudian dia tenang. Dia bukan Ling In Chuan yang dulu, yang hanya bisa pasrah dan menerima keadaan, tapi sekarang dia bisa melawan karena dia bukan lagi gadis lumpuh.
Dengan cepat Ling Ba Tin meraih tangan kanan gadis cantik itu, di putarnya ke belakang. Kini baik tangan kanan mau pun tangan kiri sama -sama tertahan di belakang tubuhnya. Bahkan nafas Ling Ba Tin terasa di tengkuknya, dan hal ini membuat Ling In Chuan merinding.
Ling Ba Tin malah dengan sengaja menyisikan rambut gadis itu ke samping. Dan tindakan selanjutnya yang di lakukannya adalah meniup- niup tengkuk gadis cantik itu. Badannya pun makin di rapatkannya.
SRUUUUP
Ling Ba Tin kemudian menjulurkan lidahnya, menjilat leher jenjang putih yang terekspos karena rambut panjang yang menutupi telah lebih dulu di singkirkan oleh Ling Ba Tin. Di leher jenjang Ling In Chuan itu juga, terlihat jelas bekas kepemilikan dari tabib tua Hang. Dan hal itu tidak luput dari mata tajam Ling Ba Tin
Ling Ba Tin bukan hanya menjilat leher itu tapi juga mulai mencium, menggigit dan menyesap meninggalkan tanda kepemilikannya.
" Apa yang aku lakukan? Hehe... Tentu saja aku mau menjinakkan ja-lang liarku! Hemm..."
Ling In Chuan tangannya terkepal, dia tidak terima dirinya di katakan sebagai ja-lang. Apa lagi itu keluar dari mulut lelaki tua yang berulang kali memperkosa dirinya , yang memaksakan nasfu birahinya bisa terlampiaskan kepada tubuhnya yang tak berdaya.
"Apa kau bilang? Beraninya kau? Siapa yang Ja -lang? Tua Bangkah Brengseeek!"
Ling Ba Tin tidak menjawab kata - kata Ling In Chuan. Yang di perbuatnya justru melempar Ling In Chuan ke atas ranjang. Kemudian dengan gerakan cepat dia langsung menindih gadis cantik itu, dengan maksud mengunci pergerakannya, dengan begitu Ling In Chuan tidak bisa menghindar apalagi melarikan diri dari dirinya.
BREEEET
Dengan beringas dia merobek hanfu yang di pakai oleh Ling In Chuan. Bibirnya tak berhenti menyesap leher gadis itu, yang sekarang mulai penuh dengan tanda kepemilikan.
Sekali robekan, langsung memperlihatkan dua gunung kembar yang terlepas bebas, karena matanya sudah berkabut gairah langsung saja dia menerkam salah satu gunung kembar. Di hisapnya dengan sangat kuat pujuk gunung itu.
"TOLOOONG! TOLOOONG!" Ling In Chuan berteriak sangat kencang, berharap akan ada yang menolongnya. " Cukup! Aku tidak mau! Aku bukan budak nasfumu! Hentikaaan!" Ling In Chuan hampir menangis, kedua mata hijaunya berkaca - kaca.
Ling Nui dan Ling Hui yang masih ada di dalam kamar Ling In Chuan membersihkan darah tabib tua Hang yang ada di lantai menjadi bingung antara ingin menolong atau tidak menolong. Kedua pelayan cantik itu saling melirik.
Semua kejadian telah mereka berdua saksikan dari awal, karena mereka berdua tidak perna meninggalkan sejengkal pun kamar Ling In Chuan. Ingin ikut campur, mereka berdua tidak berani, karena dulu Ling Nui dan Ling Hui sudah perna diberi peringatan dan ancaman oleh Ling Ba Tin. Kalau hanya mereka berdua saja yang menanggungnya, itu tidak masalah. Tapi keluarganya juga di ikut sertakan.
(" Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin sekali menolong Nona Ling In Chuan! Tapi..., aku tidak berani menghadapi langsung Tuan Ling Ba Tin! ") kata hati Ling Nui, kemudian dia termenung tidak tahu harus apa. (" Nona Ling Ling.. Iya aku harus memberitahu Nona Ling Ling! Aku harus diam- diam pergi dari sini! ")
Ling Nui melihat peraduan. Dia menyaksikan kepala pelayan Ling Ba Tin mulai mau menggagahi majikannya. Lelaki paruh baya itu tidak peduli dengan sekelilingnya. Bahwa perbuatannya itu akan diketahui dan di saksikan orang lain. Kepala pelayan Ling Ba Tin itu, sekarang ini hanya terfokus pada Ling In Chuan. Dan hal ini adalah kesempatan untuk Ling Nui untuk segera meninggalkan kamar.
Ling Nui berbisik kepada Ling Hui menjelaskan rencananya. Dan Ling Hui menganggukkan kepala menyetujui idenya. Segera saja Ling Nui keluar dari kamar Ling In Chuan. Begitu berada di ruang tamu Paviliun Roseling, gadis itu berlari secepat kilat menuju Paviliun Homeling tempat Ling Ling berada.
Baru setengah jalan menuju Paviliun Homeling, gadis Pelayan cantik itu melihat Ling Ling dan kedua pelayan pribadinya di taman. Dia langsung bergegas mendekat. "Nona Ling Ling, syukurlah saya bertemu Anda di sini! Mari.., ikut saya ke Paviliun Roseling! Tolonglah majikan saya Nona Ling In Chuan! Tuan Ling Ba Tin mau memperkosanya!"