
"Apaa? Bagaimana bisa semua terjadi pada saat yang bersamaan dan di berbagai tempat? Siapa yang mampu melakukan semua ini?" ucap Dong Ye Buchu heran kemudian melanjutkan perkataannya, " Aku akan menyampaikan kabar yang sangat menyedikan kepada kalian semua. Keluarga Dong kita telah kehilangan semua propertinya. Kekayaan dan pundi -pundi uang untuk keluarga kita telah habis terbakar. Bahkan tanaman yang siap di panenpun tak luput dari peristiwa ini.
"Siaaaaaal. Keluarga kita benar- benar terkena Siaaal. Siapa yang telah mengundang kesialan mampir pada keluarga Dong kita ini?" ucap Dong Irelu penuh keyakinan.
" Keluarga Dong kini telah jatuh miskin. Tidak, tidak bagaimana bisa dalam waktu satu dua tiga hari kita sudah tak memiki apa apa lagi? Jangan bercanda?" ucap Dong Dadalu tidak terima dengan keadaannya.
" Gudang di kediaman ini saja juga telah terbakar itu berarti untuk makan kita harus bersusah payah! Belum lagi menggaji para pelayan dan penjaga kita harus mengeluarkan biaya tidak sedikit!" ucap Dong Ye Ding.
"Tidak mungkin juga kita menyewa pembunuh bayaran bila tidak punya biaya? Bisa -bisa nyawa kita sendiri yang jadi bayarannya. Masalah kita jadi menumpuk yang paling utama kita pikirkan adalah perut kita itu lebih mendesak yang lain di tangguhkan saja," ucap Dong Law memberikan pendapatnya.
"Setuju! Ini lebih penting di tangani, kita harus cari solusinya. Siapa yang mau kelaparan?" ucap Dong Irelu di angguki sama anggota keluarga Dong yang lainnya.
*********
Pavilium Roseling
Saat ini kepala pelayan keluarga Ling sedang berbicara dengan Kepala Keluarga Ling menglaporkan kejadian yang di alami oleh keluarga Dong lewat mata- mata yang di tempatkan mengawasi kelurga dong.
"Keluarga Dong sedang mengalami masalah serius, Tuan! Properti mereka semua yang ada di kota Shan Shan ini mengalami kebakaran."
Baru saja Ling In Wurong mau bertanya pada Ling Ba Tin tiba - tiba datang pelayan dengan wajah panik dan tegang.
Pelayan itu berkata, "Maaf Tuan, Nona Ling In Chuan...! Nona ..." Belum selesai pelayan itu berbicara Ling In Wurong langsung berdiri dan keluar dari ruang kerjanya di ikuti dari belakang oleh Ling Ba Tin meninggalkan pelayan itu sendirian di tempat itu.
Dengan tergesah dan kwatir dengan keadaan Ling In Chuan membuat Ling In Wurong berjalan sangat cepat ke kamar anak gadisnya. Begitu sampai dia langsung masuk dan melihat Tabib Hang murka kepada pelayan yang di tugaskan membantu dirinya itu. Wajah dan badan pelayan itu babak belur dipukuli oleh Tabib Hang.
"Ada apa Tabib Hang? Kenapa kau murka sekali sama pelayan itu?" tanya Ling In Wurong setelah berada di hadapan Tabib Hang.
"Tuan Ling In Wurong, Maaf! Maaf! Maafkan saya! Saya siap mendapat hukuman apapun yang di jatuhkan kepada saya?" ucap Tabib Hang menundukkan kepalanya.
"Apa maksud Tabib Hang? Kenapa minta hukuman dari saya? Sebenarnya ada apa?" tanya Ling In Wurong sambil mendekati ranjang Ling In Chuan.
"Ayah... Tolong aku? Pelayan tak tahu diri itu telah berani memperkosa aku! Dia telah menjamah tubuhku suciku ini ,Yah! Hajar pelayan keparat itu! Bunuhlah dia, Yah! Bawahlah pergi pelayan rendahan itu dari sini. Aku tak mau melihat wajahnya yang menyebalkan itu." Kata dalam hati Ling In Chuan.
"Tabib Hang katakan kenapa sama Ling In Chuan? Jangan diam saja? Aku butuh penjelasan?" ucap Ling In Wurong mulai gusar dan marah.
"Tuan Ling In Wurong, pelayan rendahan ini telah berani menyentuh Nona Ling In Chuan saat saya tinggal sebentar untuk membuat obat," jawab Tabib Hang.
"Apaaaa?" Kata Ling In Wurong dan Ling Ba Tin bersamaan. " Apa katamu? Coba kau ulangi lagi tabib?" tanya Ling Ba Tin ke pada Tabib Hang. "Pelayan yang Anda suruh membantu saya merawat Nona Ling In Chuan, telah mengambil kesucian Nona Ling In Chuan, saya sendiri dan seorang pelayan yang mengantarkan pakaian yang anda kirim yang memergokinya baru saja selesai melepas hasrat bejatnya kepada Nona Ling In Chuan."
"Di balik selumut itu Nona Ling In Chuan masih telanjang dan ada buktinya juga bila pelayan ini telah menjamahnya!" ucap Tabib Tang menjelaskan.
Tubuh Ling In Wurong gemetaran karena luapan emosi yang sangat besar. Langsung saja dia menerjang pelayan yang sudah babak belur itu.
"Keparaaat! Brengseeek! Bajingaan! Pelayan rendahan beraninya kau memperkosa Ling In Chuan! Dasar tak tahu diri? " ucap Ling In Wurong menghajar dengan brutal pelayan itu.
"Maaf Tuan saya sendiri bingung bagaimana bisa pertiwa itu terjadi. Aku tadi membantu tabib dan tidak ada niatan menjamah Ling In Chuan. Aku hanya ingat aku haus lalu minum. Minuman yang biasa di minum oleh Tabib Hang. Tapi kenapa bisa aku melakukan hal itu?" Kata hati pelayan yang di hajar.
Darah mengalir dari hidung ,mulut dan pelipis membasahi wajahnya. Pelayan itu diam saja sama sekali tidak membela dirinya.
"Kau dan seluruh keluargamu akan membayar atas apa yang kau lakukan pada diri Ling In Chuan? Tidak ada ampun bagi kalian?" ucap Ling In Wurong penuh amarah.
"Maaf Tuan! Saya tidak tahu kenapa saya bisa memperkosa Nona? Saya juga tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi? Saya bingung? Saya heran?" ucap pelayan itu mengungkap semua kegundahan yang ada dalam hatinya kepada Ling In Wurong.
Ling In Wurong menendang pelayan itu hingga terbang keluar dari kamar Ling In Chuan dan terjatuh di depan pintu. Ling In Wurong berteriak kencang, "Penjagaaaa!" Tak lama kemudian dua penjaga datang dengan tergesah - gesah menghampiri Ling In Wurong. "Seret dan siksa pelayan bajingan ini hingga mati!" perintahnya kepada dua penjaga tersebut.
Kedua penjaga menjawab, "Baik Tuan!" Kemudian Di seretnya pelayan itu dengan kasar dan brutal dari depan Ling In Wurong.
Ling In Wurong berjalan mau mendekati ranjang Ling In Chuan tapi di hadang oleh Tabib Hang. "Tuan juga harus memberi saya hukuman? Karena ini kelalaian saya dalam merawat Nona Ling In Chuan. Ini sangat fatal karena saya tidak bisa menjaga dan melindungi pasien saya ."
Ling In Chuan yang mendengar apa yang di katakan Tabib Hang ingin rasanya dia memaki dan menamparnya, "Kau pun sama saja Tabib Tua Hang! Kau telah berani menyentuhku tua bangkah! Kau sering melecehkanku. Tiap hari kau menciumku, memainkan gunung kembarku, dan kau suka sekali jadi bayi yang kehausan."