Ling Ling

Ling Ling
Bab 87



" Walaupun kau berteriak sangat kencang tidak akan ada yang datang menolongmu! Kau tahu kenapa hal itu bisa terjadi?" ucap tabib tua tabib Hang.


"Karena semua orang saat ini sedang gembira merayakan Festival Bunga! Yang ada di Paviliun Roseling hanya ada kau dan aku! Hehe..."


Usai berbicara tabib tua Tabib Hang tersenyum mesum menatap lekat pada tubuh Ling In Chuan. Baru saja tabib tua Hang memegang tali hanfu Ling In Chuan tiba - tiba ada yang mengetuk pintu kamar Ling In Chuan. Terpaksa menyudahi aksinya.


Mata tabib tua tabib Hang melotot melihat orang yang baru saja mengusik kesenangannya. Hati Tabib tua Hang Jengkel setengah mati. Setelah sekian lama tidak bersenang - senang akhirnya ada kesempatan. Tapi harus bersabar sebentar.


"Ada apa?" tanya tabib tua Hang sedikit membentak. " Kau mencariku perlu apa?" Tabib Hang matanya melotot siap bertengkar dengan Siapa saja yang mengusik kesenangannya.


" Maaf, Maaf Tuan Tabib Hang! Itu di cari oleh Tuan Ling In Wurong! Anda di minta kesana dengan segera!" ucap pelayan yang merawat Ling In Wurong.


" Bilang pada tuanmu aku akan ke sana sebentar lagi! Mintalah dia sabar sebentar karena aku juga ada urusan sedikit! sekarang Pergilah kau dari sini!" perintah tabib tua tabib Hang pada pelayan setengah baya itu.


Tabib tua Tabib Hang kembali masuk ke dalam kamar Ling In Chuan. Dia mendekati ranjang dan akan memulai lagi aksinya.


Tanpa membuang waktu, langsung saja tabib tua Tabib Hang membelai rambut Ling In Chuan dan tak lupa dia juga mulai mencium kening Ling In Chuan kemudian merembet ke pada ke dua pipinya langsung mengarah pada bibir ranum Ling In Chuan dan lanjut ke bagian yang lainnya.


"Ti...Tidaak! Ti... dak! Aku tidak ma...,mau!" Teriak Ling In Chuan ingin sekali melawan perbuatan dan tindakan dari tabib tua tapi apa daya dirinya tidak mampu bergerak. Air matanya mengalir membasahi pipinya, menandakan keputus asaan akan nasibnya.


"Uuh....Emm.." Terdengar dari mulut Ling In Chuan akibat ulah agresif dan kenakalan dari tabib tua tabib Hang. Bibir Ling In Chuan tidak melarang lagi ulah dari tabib tua itu, sekarang yang ada adalah ******* yang menandakan kalau Ling In Chuan telah di kalahkan oleh nasfunya sendiri.


Mendengar rintihan dari bibir mungil Ling In Chuan membuat tabib tua tabib Hang semakin bersemangat dan menggebu- gebu nafsunya. ******* Ling In Chuan itu terdengar sangat merdu di telinganya.


Tabib tua tabib Hang mulai melepaskan hanfu yang di pakai oleh Ling In Chuan. Dan sekarang semuanya tergeletak di lantai dan tabib tua tabib Hang dengan tergesah- gesah menanggalkan hanfu yang di kenakannya. Tanpa menghentikan aktifitasnya yang lain.


Kini keduanya sama-sama polos tak ada benang menutupi badan. Tabib tua tabib Hang langsung saja menuntaskan hajat yang sangat diinginkannya itu.


Dan dia sekarang sedang kelelahan serta keletihan karena baru saja pertempur dengan ganas bersama Ling In Chuan.


Selama satu jam aktivitas yang di lakukan oleh tabib tua tabib Hang kepada Ling In Chuan. Walau sudah tua tetap masih mampu lama.


("Ada apa denganmu Ling In Chuan? Kenapa bisa seperti ini? Mengapa malah ikut hanyut dalam permainan gila tua bangka itu!") ucap dalam hati Ling In Chuan.


Ling In Chuan diam saja dan tidak peduli apa yang di ucapkan oleh tabib tua Hang. Dia marah, benar -benar marah pada dirinya sendiri, Dia Jijik dan muak dengan badannya sendiri. Yang membuat dirinya merasa lebih hina adalah dia malah terlena oleh perbuatan dari tabib tua Hang.


Sadar gadis yang baru saja di nikmatinya itu tidak juga merespon mengucapkannya. Tabib tua Tabib Hang langsung saja bertindak seenaknya pada Ling In Chuan yang hanya bisa pasrah terhadap apa yang di lakukan oleh tabib Hang kepada dirinya.


"Ahh..." Itulah yang keluar dari mulut mungil Ling In Chuan.


Tabib tua tabib Hang tertawa mendengarnya. Dia jadi gemas karena ******* kaget Ling In Chuan saat ke di perlakukan kurang ajar dan kasar oleh dirinya.


"Haha.... ! Kau membuatku jadi pengen lagi! hehe... Mumpung masih ada kesempatan! Hihi ..Kita akan mengulanginya lagi!" ucap Tabib Hang dengan senyum mesum.


Mendengar apa yang diucapkan oleh tabib tua tabib Hang. Ling In Chuan terkejut bukan main. Itu sesuatu yang sangat tidak diharapkannya. Mana mungkin dirinya sudi mengulangi perbuatan terkutuk itu.


"Akan aku tunjukkan seberapa perkasanya diriku ini padamu? Ini adalah bukti, seberapa besar sayang dan perhatianku padamu!"


Selesai berkata Tabib tua Hang mengambil sesuatu di kantong penyimpanan miliknya. Sebuh pil kecil berwarna biru cerah. Pil itu adalah salah satu pil penambah kejantanan. Tabib Hang langsung saja meninumnya. Tanpa menunggu lama pil itu bereaksi.


Dan Tabib tua Hang pun mulai kembali menerkam Ling In Chuan. Kali ini lebih buas, ganas dan liar karena pengaruh dari pil yang telah di minumnya.


"Hehe... Puas! Sangat puas sekali! Dan aku senang sekali rahimmu bertaburan oleh benihku! Hihi.... Harapanku sih semoga saja tumbuh!"


"Ehh ...! Ti... Tidak! Aku tidak Ma..., mau! It...itu tidak bo...,boleh terjadi!" ucap Ling In Chuan ada sedikit ketakutan dan kekhawatiran bila hal itu terjadi padanya.


"Ohh.. Jadi kamu tidak rela mengandung anakku? Hihi... Sayangnya, benihku telah singgah di dalam rahimmu! Suka tidak suka, kita cuman bisa melihat dan menunggu hasilnya. Hehe... Lagian aku tahu, kalau sekarang ini adalah masa suburmu ,Nona Ling In Chuan." ucap tabib tua Habib Hang tersenyum dengan penuh kemenangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...