
"Kawanan Bandit? Kau tidak salah ucapkan? Bagaimana bisa Bandit bisa menyerang? Apa lagi tanpa merusak pintu gerbang?" Betapa terkejutnya Ling Daeng akan laporan bawahannya itu.
"Benar Tuan, mereka bandit, Bandit Tengkorak Hitam. Itu bisa dilihat dari ciri khas mereka memakai tato tengkorak. Karena saya dulu perna menghadapi mereka." ucap pimpinan pengawal.
Wajah Ling Daeng makin menggelap dia kwatir akan keselamatan para penghuni kediaman keluarga Ling.
"KALIAN SISIR SEMUA TEMPAT, JANGAN ADA YANG TERLEWAT! BILA KETEMU JANGAN LANGSUNG MENYERANG TAPI BERTERIAKLAH AGAR YANG LAINNYA SEGERA DATANG MEMBANTU!" Perintah Ling Daeng pada para pengawalnya dengan lantang.
Seketika itu juga para pengawal yang bersama Ling Daeng berpencar ke beberapa tempat. Dan tidak ada yang pergi sendirian paling sedikit harus dua orang.
Sementara Ling Daeng bersama putrinya Ling Wan bergegas menuju ke Paviliun Homeling untuk mengecek keadaan Nona pertama keluarga Ling itu.
" Ling Wan, kau jangan jauh- jauh dari ayah!" ucap Ling Daeng sambil memandang anak gadisnya. "Waspadalah!"
"Iya Ayah, jangan kwatir! Kita harus cepat. Aku ingin memastikan apa dia baik -baik saja."
Dengan langkah cepat dan hampir berlari Ling Wan memimpin ayahnya ke tempat Ling Ling. Sejak awal kedatangan Ling Ling di Kota Shan Shan, Ling Wan adalah satu- satunya nona di kediaman cabang Ling kota Shan Shan yang menerima kehadiran Ling Ling.
Tapi karena Ling Wan sering di bawa ayahnya Ling Daeng menjalankan tugasnya di luar, membuat interaksi Ling Ling dan Ling Wan terbatas.
Sekitar 15 menit akhirnya anak dan ayah itu tiba. Dan keduanya terkejut melihat kondisi Pavilium Homeling. Ada beberapa bagian yang rusak tapi mereka tidak melihat ada satu pun mayat baik itu penjaga atau pun anggota dari bandit.
" Rupanya tempat ini tidak luput dari pertarungan! Dan kelihatannya sudah berakhir! Semoga Nona Ling Ling baik-baik saja."
Sedangkan Ling Daeng hanya mengikuti ke mana langkah kaki anaknya karena dia juga ingin memastikan keselamatan anaknya. Walau Paviliun Homeling sepi tapi tidak menuntut kemungkinan kalau masih ada anggota bandit.
Kini Ling Wan dan Ling Daeng melihat ada sesosok tubuh yang berbaring di atas ranjang dan sedang menghadap dinding kamar.
DEG DEG DEG
Dengan hati yang berdebar Ling Wan mendekati ranjang. Dia yakin kalau yang ada di hadapannya itu Ling Ling. Dan dia juga tahu kalau yang berbaring itu masih hidup dari pergerakan nafasnya yang teratur. Tapi Ling Wan masih tetap ingin memastikannya.
Begitu Ling Wan sudah ada di samping ranjang terdengar suara lirih yang menghentikan gerakannya.
" Hooaah...Kau mau apa? Kau telah mengganggu tidurku! "
Ling Ling menegur Ling Wan, gadis cantik itu sebenarnya sudah bangun sejak pendengarannya menangkap gerakan langkah kaki Ling Wan dan Ling Daeng yang memasuki kamarnya.
Walau Ling Ling tidur tapi kewaspadaannya terhadap sekelilingnya tetap terjaga. Dengan malas gadis itu membalik badannya menghadap tamu yang mengusik istirahatnya.
" Maaf, maaf bukan maksud kami mengganggu!" cicit Ling Wan.
"Benar apa kata Wan'er, Nona Ling! Kami hanya memastikan saja! Kami baru tiba. Dan kondisi Kediaman Ling seperti ini. Harap di maklumi!" ucap Ling Daeng memperkuat ucapan anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...