
Ling In Chuan sangat marah, benar- benar marah kepada Ling Ba Tin. Kenapa bisa Kepala pelayan keluarga Ling kepercayaan ayahnya ini tidak langsung menghukum dan membunuh Tabib Hang. Malah membiarkan kejadian yang telah menimpahnya.
Ling In Chuan sekarang, matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang di alaminya. Kejadian ini seperti mimpi saja. Ling Ba Tin telah berani menyentuh dan mempermainkan kedua gunung kembarnya.
"Jangan di teruskan! Cukup Ling Ba Tin! Kau Gila... Berani pada majikanmu! Mana janji kesetiaanmu? Kau telah berkhianat ! Teganya kau melempar aib pada wajah ayahku Ling In Wurong!" Ucap Ling In Chuan sangat marah pada kepala pelayan keluarga Ling itu.
Cukup lama tangan Ling Ba Tin mempermainkan dada Ling In Chuan. Tabib Hang yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan. Karena Tabib Hang tahu Ling Ba Tin cukup lama di tinggal mati istrinya , jadi pasti sudah lama juga tangan itu tidak merasakan yang kenyal-kenyal.
Tabib Hang mendekati Ling Ba Tin kemudian berbicara, "Enak bukan rasanya? Sangat asik dan menyenangkan bukan?"
Ling Ba Tin menoleh pada Tabib Hang tapi tangannya tidak mau berhenti meremas gunung indah Ling In Chuan bahkan kini pucak gunungnya sekali - kali di cubitnya.
" Hem... Sudah tahu pakai tanya segala? Apakah wajib aku jawab! " ucap Ling Ba Tin kepada Tabib Hang yang tersenyum padanya.
" Haha .. Tidak , tapi kalau di jawab itu akan baik jadinya. Asal kamu tahu aku tidak perna bosan berada di atas tubuhnya. Aku tidak bohong, Ling In Chuan luar biasa nikmat tubuhnya."
"Benarkah...!" ucap Ling Ba Tin menaikkan sebelah alisnya dan menatap tajam tabib Hang yang kini berada di sebelahnya.
"Ck, tidak percaya? Cobalah! Baru kau akan tahu aku ini jujur apa bohong!"
Ling Ba Tin terdiam, dan hal ini di manfaatkan sebaik mungkin oleh Tabib Hang untuk semakin mempengaruhinya. Dan untuk memanasi keadaan Tabib Hang sekarang merenggangkan kaki Ling In Chuan, kemudian wajahnya membenam diarea hutan lebat Ling In Chuan.
Ling Ba Tin yang melihat begitu asiknya Tabib Hang diarea bawah secara perlahan membangkitkan hasratnya menginginkan lebih. Dia pun dengan lahap dan buas membenamkan wajahnya di gunung Ling In Cuan terutama pucuknya membuatnya makin rakus
"Tabib Hang.. Tadi kamu sudah melepaskan bisa ularmu di gua indah Ling In Chuan. Hehe... Sekarang biarkan aku leluasa bermain. Kamu cukup menonton saja. Aku juga pengen rasanya memuntahkan bisa ular juga di gua itu."
Ling Ba Tin sudah sepenuhnya di kuasai oleh hawa nasfunya , dia sudah tidak perduli lagi Ling In Chuan masih sangat muda. Wanita yang lagi di gerayanginnya itu anak dari majikannya.
"Baiklah Ling Ba Tin, Aku mengalah padamu khusus di hari ini. Kau boleh sesuka hatimu! Karena ini pertama kalinya, dirimu bersenang- senang setelah puasa sekian lamanya. Bermainlah sampai puas! Sampai pagi pun tidak masalah asal kuat saja dirimu! Haha..."
Tabib Hang melangkah meninggalkan Ling In Chuan dan Ling Ba Tin. Tak membuang waktunya Ling Ba Tin kini mulai menanggalkan pakaian yang di kenakannya dan segera naik ke ranjang kemudian Ling Ba Tin menerkam Ling In Chuan dengan sangat ganasnya.
Air mata Ling In Chuan mengalir deras saat ular Ling Ba Tin memasuki gua indah miliknya. Satu jam Ling In Chuan di bolak balik dan di permainkan Ling Ba Tin.
"Benar kata tabib Hang! Kau benar- benar nikmat Nona Ling In Chuan!" ucap Ling Ba Tin sambil meremas kedua gunung. " Tubuhmu luar biasa enaaak bila di naiki! Aku tak perna menyangkah bakal bisa beginian dengan Anda!" kata Ling Ba Tin sambil tangannya pindah menusuk- nusuk area hutan lebat.
"Sungguh beruntung diriku yang lebih tua dari ayahmu! Ini bisa merasakan tubuhmu! yang muda , masih segar , walau pun anak majikan! Hehe... Aku akan sering berkunjung! Terutama gua indahmu itu, wajib ada aktifitas rutin ularku memasukinya. " ucap Ling Ba Tin memandang mesum Ling In Chuan.
"Huh.. Beruntung sekali aku datang ke kamar ini! Aku jadi punya tempat untuk bersenang - senang! Tidak perlu diam- diam datang ke rumah nikmat lagi. Hehe ..."
"Bagaimana tidak beruntung? Yang aku nikmati adalah seorang Nona, masih muda, bekas dua laki- laki saja, tidak seperti rumah nikmat aku menjadi laki yang ke berapa yang jelas tidak bisa di hitung."
Ling Ba Tin benar- benar sudah menjelma menjadi lelaki tua bangka yang sangat mesum tak kalah dengan tabib Hang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...