
Jadi sesakit dan seperi apapun, tidak akan menjadi masalah selama dirinya tidak cacat dan kembali normal lagi. Ling In Chuan sudah bersyukur, apa lagi mengingat kalau dirinya bisa membalaskan sakit hatinya pada dua tua bangka yang telah memanfaatkan dan mengambil untung dari dirinya saat dirinya tidak berdaya.
("Tua bangka tunggulah pembalasanku! Aku tidak sabar ingin menghukum kalian berdua dengan tanganmu sendiri! Kalian harus merasakan sakitnya, seperih apa hatiku ini saat kalian sentuh!") ucap Ling In Chuan dalam hati.
Membayangkannya saja Ling In Chuan tanpa sadar tersenyum- senyum sendiri. hal ini membuat dua Pelayan cantik yang selama ini merawat dan menjaga dirinya menjadi keheranan.
"Ehh, apa yang saat ini sedang anda pikirkan nona? Kenapa Anda senyum-senyum sendiri? Apakah ada sesuatu yang menarik? Bolehkah kami mengetahuinya?" tanya Ling Hui sangat penasaran.
" Kalian ingin tahu saja! Ini rahasia, aku tidak bisa menceritakannya kepada kalian. Cukup aku saja yang tahu!" Gumam gadis cantik itu sambil melirik kedua pelayannya itu secara bergantian.
AAHHHH....
Ling In Chuan terpekik sesaat, saat dirinya berusaha kembali menggerakkan anggota badannya. Tapi dia menyerah, ia mengulanginya lagi gerakan itu, walau tiap gerak dia berusaha untuk tidak teriak atau pun mengeluh sakit dengan jalan menggigit bibir bawahnya.
"Pil pemberian dari Nona Ling Ling ini ternyata sangatlah mujarab, jelaslah kalau itu Pil kelas tinggi dan harganya bisa dipastikan sangat mahal sekali." ungkap Ling Nui ketika melihat hasil dan bukti dari pil yang di kasihkan oleh Ling Ling.
"Yup, bener banget, apa yang telah kau ucapkan? Pil semacam ini pasti tidak mudah untuk mendapatkannya. Aku pun yakin Pil ini sukar sekali untuk membuatnya. Pastilah Alkamis ternama dan sangat hebat yang mampu membikinnya. Tabib tua Tabib Hang lewat sudah ..." Kata Ling Hui sambil menghibaskan tangannya saat nama tabib tua Hang di sebutkan.
" Aku minta tolong pada kalian Ling Hui dan Ling Niu, untuk bisa merahasiakan kondisiku dari kedua tua bangka itu. Aku tidak ingin mereka mengetahuinya, hingga mereka melakukan sesuatu yang akan merugikan diriku, karena aku sangat yakin bila kedua bedebah tua itu, menginginkan diriku ini tergantung pada diri mereka!" Ling In Chuan berbicara dengan wajah memelas.
"Tentu Nona Ling In Chuan! Mana mungkin kami akan mengungkap semua ini bila nona tak mengijinkannya!"
"Nona Ling In Chuan jangan kuatir kami bisa menjaga rahasia ini!"
" Baguuuus, aku percaya sama kalian!"
Mereka berbincang-bincang hingga tidak menyadari kalau waktu cepat sekali berlalu, sekarang ini matahari tepat berada di atas kepala. Seorang gadis cantik datang menghampiri mereka bertiga.
"Bagaimana kondisimu saat ini Ling In Chuan? Aku rasa saat ini kau sudah bisa bergerak! Sudah waktunya tidak diam saja, kau harus ekstra untuk menggerakkan tubuhmu. Kau harus bertekad bulat bila ingin bisa berjalan lagi! Jangan seperti gadis lemah yang merasakan sakit sedikit saja sudah menjerit dan merintih yang berakibat jadi malas menggerakkan badan. Aku tak mau kalau hal itu yang terjadi!"
Ling Ling berkata sedikit tegas dan pedas untuk memprovokasi Ling In Chuan, sebab Ling Ling tahu kalau gadis ini sangatlah manja sehingga memperlukan dorongan untuk membakar semangatnya.
"Aku dari tadi sudah belajar bergerak! Aku sudah lama berbaring, Mana mungkin tak mencobanya! Aku sudah bosan di ranjang ini." Ling In Chuan menjawab ucapan Ling Ling, dia tidak terima di sudutkan.
"Apa yang di ucapkan Nona Ling In Chuan itu benar, Nona? Kami berdua saksinya!" Ling Nui membela, sebab ia telah melihatnya sendiri bagaimana seorang Ling In Chuan tak kenal lelah mencoba menggerakkan badannya.
Tak lama kemudian Ling Ling pun akhirnya memeriksa kondisi dan keadaan dari Ling In Chuan. Dia pun memberitahu bahwa pengobatan masih sama seperti kemarin, bahwa pil harus di minum sesuai dengan aturan dan petunjuknya.
Ling Ling pun tidak lupa memberikan cara atau teknik untuk menerapi dan melatih otot serta saraf Ling In Chuan agar bisa menompang tubuhnya, dengan begitu berjalan lancar tinggal menghitung hari saja.
*************
Markas Bandit Tengkorak Hitam
Beberapa hari setelah mendapatkan laporan dari Tang Talun kalau Ling Ba Tin ingin rencana yang di sepakati mereka untuk di percepat. Karena Ling Ba Tin sudah tidak mau menunggu lagi. karena baik itu sekarang ataupun nanti hasilnya akan tetap sama saja.
Telah berkumpul ketua dan enam anggota Bandit Tengkorak Hitam yang memiliki kedudukan yang tinggi, yang memiliki bawahan tiap kelompok sebanyak 15 orang.
"Bagaimana Pemimpin rencananya? Apakah masih tetap sama sesuai kesepakatan kita ataukah perlu ada perubahan?" Tanya Fu Liang meminta kepastian akan strategi yang di pakai guna menghadapi Ling Ling.
Fang Bi Kang melihat tangan kananya itu sambil tersenyum lebar, "Haha... Masih tetap sama! Tidak akan ada perubahan."
"Haha... Ling Ba Tin salah menjadikan kita sekutu, karena kita pun ingin merampok kediaman Keluarga Ling! Hehe.., kalau bisa malah mau menguasainya!" Tang Yu Labing tertawa terbahak- bahak mengolok kebodohan Ling Ba Tin yang begitu saja percaya kepada mereka.
"Terus kapan kira -kira kita menjalankan rencana ini pimpinan? Jujur saja kami tidak sabar?"
"Hihi... Apa yang kau katakan besar sekali saudara Fu Yudeng. Apa lagi, mengingat apa yang telah diucapkan oleh Tang Talun, bahwa di kediaman Keluarga Ling, banyak sekali wanita cantik yang masih muda dan segar bugar! Aku jadi tidak sabar!"
"Ihh, Kau membuat aku jadi makin bersemangat! Pinginnya cepat-cepat! Hihi..., merasakan kembali kulit halus mulus! Pasti mengasihkan sekali! Dari yang satu wanita pindah ke wanita yang lainnya."
"Baiklah, kalau semua sudah tidak sabar! Kita akan memulai rencana ini satu bulan lagi! Persiapkan semuanya selama 30 hari ini! Harus berhasil, tidak boleh sampai gagal!" ucap Fang Bi Kang selaku pimpinan Bandit Tengkorak Hitam kepada anak buahnya.
"Beres pemimpin! Pasti bisa karena kita telah mengetahui seluk beluk kediaman keluarga Ling! Semua ini berkat kepintaran Saudara Tang Talun dan kebodohan Kepala pelayan Keluarga Ling."
HAHA... HAHA.... HAHA
Mereka bertujuh seketika itu juga tertawa senang bersama- sama karena membayangkan keberhasilan yang akan mereka raih. Mereka yakin bakal bisa menakhlukkan kediaman Keluarga Ling. Para anggota Bandit Tengkirak Hitam itu pun setelah selesai membahas rencananya langsung berpesta pora dengan menenggak puluhan arak yang sebelumnya telah di persiapkan.