
"Uum.... Emm.."
Kembali terdengar de-sahan dari bibir mungil Ling In Chuan yang semakin membakar gairah dan nafsu kejantanan dari lelaki tua Ling Ba Tin yang saat ini sedang berada di area kenyal gunung kembar yang menjadi favoritnya itu.
Sementara itu Ling In Chuan juga mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri, bagaimana bisa bibir dan tubuhnya tidak kompromi dengan akal sehatnya.
Kenapa bisa menjadi berubah tak ubahnya seorang ******. Tidak heran apabila tua bangka Ling Ba Tin dan juga tabib tua Tabib Hang mengincarnya untuk bisa melepaskan hasrat birahinya kalau dirinya ternyata mudah sekali terbakar gairah.
Ling Ba Tin setelah puas bermain dengan wilayah gunung kembar kini mulai bergerak perlahan ke bawah ke area inti milik Ling In Chuan. Dipermainkannya bagian inti itu dengan liar dan rakus. Sedangkan gadis cantik yang menjadi pelampiasannya semakin meracau menunjukkan kalau dia sudah benar-benar dikuasai oleh nafsunya dengan telak.
"He.. He...He Kau sangat menyukainya khan!"
Tanpa sadar Ling In Chuan menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan lelaki tua yang sedang menjamanya. Melihat apa yang dilakukan oleh gadis yang sudah di kuasai oleh nafsu birahi membuat lelaki tua kepala pelayan keluarga Ling tersenyum lebar.
" Sekarang giliranku untuk memuaskan hasrat birahiku! He... He... Terimalah ular saktiku yang akan membuatmu merasakan jauh lebih keenakan lagi!"
Usai berbicara Ling Ba Tin langsung saja memposisikan dirinya untuk membobol area hutan lindung gadis cantik itu. Ling In Chuan yang merasakan sesuatu mulai memasuki area intinya menjadi makin mende-sah dan meracau.
" Ahh.... Umm..."
Ling In Chuan sama sekali tidak menjawab ucapan dari lelaki tua kepala pelayan keluarga Ling sih Ling Ba Tin itu, karena saat ini Ling In Chuan merasakan enaknya disentuh.
Ling In Ba Tin bermain dari tempo lambat sampai akhirnya berubah jadi cepat, mulutnya pun tak kalah dengan gadis yang sedang ada di bawah kungkungannya, dia pun mendesah dan meracau. Dan pada saat pelepasannya Ling Ba Tin menancapkannya sedalam mungkin di dalam rahim Ling In Chuan, karena dia ingin gadis itu hamil olehnya.
Karena sejujurnya Ling Ba Tin tidak mau kalah dari tabib tua Tabib Hang. Sebab baik Ling Ba Tin maupun tabib tua Tabib Hang sudah membuat kesepakatan untuk bersaing, siapakah dari mereka berdua yang bisa memiliki keturunan dengan Ling In Chuan. Iya gadis cantik itu telah ditargetkan untuk mengandung anak mereka.
2 jam kamar itu penuh dengan aroma percintaan Ling Ba Tin dan Ling In Chuan. Kini kedua insan yang berlainan jenis itu tergeletak di ranjang tanpa memakai selembar benang pun menutupi tubuhnya.
Peluh keringat terlihat jelas dari tubuh keduanya, keletihan dan kelelahan nampak jelas dari raut wajah keduanya begitu juga dengan kepuasan yang baru mereka rengkuh.
" Terima kasih Ling In Chuan! Aku puas! Sangat puas sekali!" Ling Ba Tin berucap sambil menggerakkan bibirnya maju ke depan berusaha mencium Kening gadis cantik itu. Ling In Chuan berusaha menghindari kecupan kening itu.
" Kenapa menghindar? Bukannya tadi kamu juga merasakan ke enakan! Kamu juga menikmatinya!"
Ling Ba Tin tidak terima Ling In Chuan menghindari dan menolak kecupannya, dan itu menyulut amarah dan emosinya. Beraninya gadis yang baru di pakainya itu bertingkah di hadapamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...