
Jam sembilan malam, rombongan Rama baru sampai di apartemen milik Mas Haidar. Rama berinisiatif mengantarkan Izza sampai ke unitnya karena sudah sepi, jadi Rama nemenin naik dulu ke lantai tiga. Mang Ujang menunggu di mobil, dia masih ga ada semangat seperti biasanya.
"Jangan lama-lama anterinnya. Ngobrol juga seperlunya aja Mas Boss... ingat perjalanan kita masih satu jam lagi buat sampe ke rumah" ingat Mang Ujang yang masih bete.
"Iya .. " jawab Rama yang tumben agak sabar hari ini ngadepin tantrumnya Mang Ujang.
"Ga usah dianter juga gapapa kok Kak, cuma di lantai tiga aja .. deket. Ga jauh dari lift udah unitnya" kata Izza.
"Saya harus memastikan kamu aman sampai masuk pintu, lagi pula kamu bawa banyak barang, pasti repot bawanya" ujar Rama.
Rama membantu membawakan tas dan satu kardus sedang milik Izza.
"Bawa apa sih sampe sekardus gini? oleh-oleh?" tanya Rama.
"Oh itu kelom geulis, kemarin kan Izza bikin status di media sosial mau ke Tasikmalaya, eh teman-teman jastip (jasa titip) kelom itu, akhirnya sama Pak Isam dianterin ke pengrajinnya sebelum kita ke Villa" jelas Izza.
"Kelom itu sendal yang dari kayu itu kan? ciri khas Tasikmalaya" terka Rama.
"Iya .. jadi Izza foto kelomnya, terus mereka order mau yang mana. Langsung transfer, no cancel, kan ini nomernya sesuai sama ukuran mereka .. begitulah kalo jastip sistemnya, ga pake modal uang. Modalnya foto doang" tambah Izza.
"Ada aja idenya ya jualan model sekarang. Eh tapi pernah dengar juga sih yang jastip gitu, tapi biasanya dari luar negeri" kata Rama.
"Ya namanya juga memanfaatkan peluang Kak, lumayan kan bisa kejual sepuluh pasang, eh sama pengrajinnya dikasih bonus satu pasang buat Izza. Udah minta nomer kontaknya juga, ya siapa tau bisa jadi peluang bisnis kedepannya" ujar Izza.
"Ya kalo masih muda harus begitu, memanfaatkan peluang yang ada. Pokoknya kalo kamu mau bisnis, saya siap kasih modal, berapapun akan saya sediakan, tapi kalo kerja .. saya ga ijinkan" ucap Rama.
"Itu kan nanti kalo udah nikah, selama belum nikah mah jangan sampe saya memanfaatkan Kakak. Ini aja saya dikasih uang saku banyak banget, jujur sih.. saya memang butuh, nanti saya kembalikan kalo saya udah punya uang" janji Izza.
"Saya ga minta balikin. Anggap aja saya gaji kamu karena udah sering bersama Sachi. Kebahagiaan dia ga bisa dihitung pake materi" jawab Rama.
.
Izza sudah masuk ke unit apartemennya, meletakkan seluruh bawaannya kemudian mandi. Setelah itu dia sholat isya dan tertidur. Besok ada kelas pagi dan harus ambil uang di ATM (uang yang tadi ditransfer oleh Rama) karena didompetnya hanya tersisa sepuluh ribu rupiah saja, sedangkan besok banyak tugas yang membutuhkan uang untuk fotocopy dan ngeprint.
.
"Ini Mas Boss ngobrol apaan sih sampe satu jam belum turun-turun juga. Kan dinyamukin ini nunggu di parkiran. Didalam mobil rasanya bosan. Wah jangan-jangan mereka pacaran di kamar nih. Ga bisa dibiarin, gimana sih Mas Boss, kemarin lagaknya nasehatin Pipit biar jadi cewe yang bisa menjaga harga dirinya. Lah ini malah dia sendiri yang melakukan gaya pacaran bebas. Merusak anak gadis orang ... Mamang harus bisa jadi pahlawan buat Mba Izza. Lelaki begini nih yang merusak moral anak bangsa" gumam Mang Ujang sambil mengambil HP kemudian memencet nomernya Rama.
Mang Ujang sampe nelpon lima kali baru diangkat sama Rama.
"Mas .. telpon ga diangkat-angkat, yang bener aja dong, udah satu jam belum turun-turun juga. Nyasar atau niat nginep? ngobrolin apa aja sih" sembur Mang Ujang.
"Apaan sih Mangggg... segala ngomel mulu dari tadi pagi, saya ini baru aja selesai mandi, wajar dong kalo ga diangkat teleponnya, kan ga bawa HP ke kamar mandi" kata Rama menjelaskan.
"Mandi??? ngapain mandi disini Mas Boss, kan kita mau pulang. Mas Boss jangan macam-macam ya.. abis ngapain tuh segala mandi dulu. Mas Boss berbuat yang aneh-aneh ya sama Mba Izza" ingat Mang Ujang.
"Ya Allah... lupa ada Mamang di parkiran bawah, naik sini ke lantai tiga, nanti saya chat nomer unitnya. Sekalian baju yang di tas bawain ya" ucap Rama sambil menepuk jidat.
"Kita nginep bertiga di kamarnya Mba Izza? enak dikita ga enak di Mba Izza dong Mas Boss. Nanti kita digerebek gimana? kalo Mamang suruh kawinin sih mau aja, tapi udah dimacam-macamin belum sama Mas Boss? ya kali saya dapat bekasan" berondong Mang Ujang.
"Ribet ya pertanyaannya... udah buruan naik, kalo ga mau nginep disini ya pulang aja, tapi tas saya bawain kesini" kata Rama.
"Mamang harus ngineplah, jadi wasit. Nanti Mas Boss sama Mba Izza melakukan hal yang ga boleh dilakukan gimana? pantes ya .. hari ini baik banget sama Mba Izza, ternyata eh ternyata... buaya buntung... ada maunya. Mang Ujang harus menyelamatkan Mba Izza" omel Mang Ujang.
"Mang Ujang tadi makan apa sih? kok ngomongnya ngelantur. Jangan mobil aja yang dicuci, otak Mang Ujang juga perlu disikatin biar bersih. Emang saya tipe lelaki kaya pacarnya Pipit" oceh Rama yang ga terima dituduh macam-macam.
.
Mang Ujang mengetuk pintu unit yang nomornya tadi dikirim via chat oleh Rama. Begitu masuk unit, Mang Ujang langsung celingukan mencari sosok Izza.
"Diumpetin kemana nih Mba Izzanya, atau jangan-jangan lagi mandi? wah telat dong nih menyelamatkan Mba Izza dari terkaman buas Mas Boss" kata Mang Ujang dalam hatinya.
"Nyari apa sih Mang?" tanya Rama.
"Mba Izza dimana?"ucap Mang Ujang.
"Dua unit dari sini itu kamarnya" jelas Rama.
"Terus ini punya siapa? kita nginep disini malam ini?" tanya Mang Ujang.
"Yup.. kita bermalam disini, berhubung tempat tidurnya cuma satu, Mang Ujang tidur di lantai karpet atau di sofa ya" jawab Rama.
Rama membuka kopernya dan mengambil sarung dan sajadah untuk melaksanakan sholat isya.
⬅️⬅️
Sebelum pulang ke Jakarta, Mas Haidar memberikan kunci salah satu unitnya yang kosong. Sudah dibersihkan oleh orang yang dipercaya untuk membersihkan unit milik Mas Haidar yang kosong.
"Daripada kamu balik ke rumah, mending nginep aja di unit yang kosong. Ini kuncinya. Mas tau kamu pasti risau kalo Izza sendirian. Apalagi dalam situasi seperti ini, Mas juga khawatir dia kena culik atau tindakan kejahatan lain oleh jaringannya Mba Gita. Tapi Mas ga ada pilihan. Kamu asyik sibuk sama kerjaan, sedangkan Izza harus segera pindah dari Panti Asuhan. Makanya Mas tawarkan unit itu yang kebetulan kosong" jelas Mas Haidar sambil menyerahkan kunci unit apartemennya.
"Nanti mau Rama pindahin, maaf ya Mas .. Izza ga bisa tinggal di apartemen milik Mas. Saya kan udah bilang, jangan memberikan perhatian berlebihan sama dia" ucap Rama.
"Cemburu? hei .. kalo Mas mau, udah kawin deh Mas sama dia. Come on Rama, kalo cinta tuh akui aja, ga usah kebanyakan gaya" ledek Mas Haidar.
"Saya hanya ga mau sampai kejadian masa lalu terulang dua kali. Dulu Mba Nay juga ga punya tempat tinggal setelah peristiwa kebakaran rumahnya, Mas hadir memberikan bantuan bak pahlawan, tapi apa jadinya? malah mengajaknya berkalang dosa dan membuatnya sengsara" ingat Rama.
"Kamu jangan kurang ajar ya, itu semua kekhilafan. Ga perlu kamu ungkit terus sepanjang waktu. Mas curiga .. kenapa kamu selalu membela Nay ... cinta sama dia? atau jangan-jangan kalian sudah .." jawab Mas Haidar.
Rama langsung melotot, keduanya sudah saling berhadapan siap berkelahi satu sama lain, tapi Sachi rupanya melihat keduanya hingga mereka ga jadi saling baku hantam.
"Jagain tuh wanita kamu, Mas harap jangan mengulangi kebodohan yang Mas lakukan terhadap Nay. Mas hanya kasian sama dia" bisik Mas Haidar.
"Jangan cari masalah ya Mas.. kemarin pas Mas bilang mau bawa Izza ke apartemen kan udah Rama larang. Tapi Mas bawa juga. She's mine (dia milikku)" sahut Rama.
Memang ada ketegangan diantara Rama dan Mas Haidar setelah Izza menginap di rumah Pak Isam. Rupanya Rama memergoki Kakaknya memberikan perhatian penuh ke Izza. Sedangkan Rama tau kalo Mas Haidar sedang membangun sebuah komitmen dengan seorang wanita.
💐
Rama dan Mang Ujang berangkat ke kantor jam enam pagi, kalo dari sini ke Head Office Abrisam Group sekitar satu setengah jam, Rama ada morning meeting jam delapan pagi.
Mang Ujang masih ga diperbolehkan nyetir sama Rama karena semalam sepertinya masih kurang tidur.
"Udahlah Mang .. mau sampai kapan begini terus. Atau mau saya kasih cuti biar agak fresh dikit?" tanya Rama.
"Kalo cuti juga mau kemana Mas Boss, pulang kampung malah tambah sedih nanti banyak omongan ini itu, mau ke tempat wisata atuh buang-buang uang aja" keluh Mang Ujang.
"Ya udah di rumah Papi aja. Atau kalo mau di apartemen yang semalam kita tempatin. Nanti saya lapor ke Mas Haidar" tawar Rama.
"Ntar kalo lapar gimana? mending di rumah Boss Papi segala ada" jawab Mang Ujang.
"Atau mau saya kenalin sama cewe?" tanya Rama lagi.
"Cewe yang Mas Boss kenal mah pasti levelnya ketinggian. Mana mau sama Mamang" sahut Mang Ujang.
"Ya udah.. sekarang maunya gimana?" ujar Rama rada serba salah menghadapi Mang Ujang.
"Ga tau" jawab Mang Ujang.
HP Rama berbunyi, ada panggilan dari Alex. Dia langsung mengangkatnya.
"Pagi Boss, ada perkembangan tentang Mba Izza" kata Alex.
"Nanti saya telpon ya, lagi nyetir" jawab Rama sambil mematikan sambungan telepon.
.
Sesampainya di Kantor, Rama langsung masuk ke ruangannya dan menelpon Alex.
"Gimana Lex?" tanya Rama tanpa basa-basi.
"Mba Izza sedang diburu sama jaringannya Mba Gita. Ternyata Mba Izza itu adik kandungnya Mba Gita" jawab Alex.
"Saya udah tau kalo hal itu" kata Rama santai.
"Boss tau dari mana?" tanya Alex.
"Mba Gita yang ngaku sendiri" jawab Rama.
"Big Boss jaringan itu sudah dijanjikan sama Mba Gita, kalo Mba Izza akan diserahkan ke dia. Yang kasus Mba Izza diculik dan dibawa ke Audah Hotel itu ulah Mba Gita, seolah-olah Mba Izza diculik dan kena rudapaksa. Kalo sudah kejadian, mau ga mau nanti kan Mba Izza bisa menerima pinangan Big Boss itu" jelas Alex.
"Jadi Izza diburu sekarang bukan karena dia adiknya Mba Gita, tapi karena Big Boss suka sama dia?" ujar Rama.
"Betul Boss" jawab Alex.
"Siapa Big Bossnya? kenapa sampai dia terobsesi sama Izza?" tanya Rama.
"Mba Izza sangat mirip sama wanita yang dicintainya. Wanita yang menolak untuk dinikahi oleh Big Boss karena akan dijadikan istri kedua dan wanita ini tau kalo Big Boss itu punya bisnis haram" jawab Alex.
"Sekedar mirip sampe sebegitunya mengejar Izza? ga masuk akal" kata Rama.
"Cinta mana masuk akal Boss. Wajah, jabatan atau apapun bentuknya ga akan bisa jadi patokan. Prinsip Big Bossnya, kalo tidak bisa mendapatkan Mba Izza secara baik-baik, maka akan dimiliki secara ga baik-baik" lanjut Alex.
"Mereka udah tau sekarang Izza tinggal dimana?" tanya Rama.
"Tau Boss. Mereka menyewa kamar disebelah unit Mba Izza" kata Alex.
"Jadi disetiap gerak Izza akan selalu diawasi?" tegas Rama.
"Betul Boss .. maaf sebelumnya, tapi tempat teraman saat ini ya rumahnya Boss. Mereka ga akan berani masuk. Kalo dijalan, saya bisa mengawal, tapi kalo sudah masuk unit apartemen, saya ga bisa karena ga punya kartu akses. Saya khawatir mereka menjebol unit Mba Izza" lapor Alex lagi.
"Sekarang kamu harus terus nempelin Izza. Nanti sore saya jemput dia untuk saya pindahkan" ucap Rama.
"Mau dipindahkan kemana Boss? nanti saya akan bersihkan dulu areanya" kata Alex.
"Minta orang kamu untuk cari kost wanita didekat kampus. Yang bagus dan ada security nya. Orang ini ga akan bisa masuk kesana karena lelaki kan?" ide Rama.
"Baik Boss, saya akan mencarikan, tapi sebelumnya akan saya minta anak buah untuk menggantikan posisi saya guna mengikuti Mba Izza" jawab Alex.
"Oke .. laporkan jika ada perkembangan" ucap Rama.
Sambungan telepon dimatikan.
"Kenapa mendengar Izza disukai oleh pria lain rasanya ga suka ya? apa hati ini udah terbuka buat dia? Za ... daya tarik apa yang kamu punya hingga membuat pria tergila-gila? kenapa selalu ingin melindunginya? bukankah tujuan menikahinya selain demi Sachi, membuat dia merasakan kesengsaraan seperti Mba Nay? adilkah dia menanggung kesalahan yang tidak dia lakukan?" tanya Rama berpikir keras.
"Pak ... Pak ... Pak Rama" panggil Farida memecah lamunan Rama.
"Ya ..." jawab Rama gelagapan.
"Bapak sakit?" tanya Farida.
"Ga .. cuma lelah aja karena menyetir" jawab Rama.
"Bapak sudah ditunggu di ruang meeting" kata Farida.
"Lima menit lagi saya kesana, tolong laptop saya dibawa kesana" pinta Rama.
"Baik Pak .. ada lagi yang bisa dibantu?" tanya Farida.
"Ga ada" jawab Rama.
🌺
Izza pulang dari kampus sore hari, tadi siang dia mengerjakan tugas di kost an temannya. Perut mulai terasa lapar karena dia makan terakhir siang kemarin dan hari ini sedang shaum sunnah Senin Kamis. Tadi dia ga bangun sebelum Subuh karena lelah, jadinya ga bisa bersantap sahur.
Izza menunggu didepan lift untuk naik ke lantai tiga. Izza mulai merasa ga nyaman karena ada dua lelaki yang mengikutinya sejak dari kampus.
Begitu naik lift, mereka hanya bertiga, tadinya Izza mau keluar tapi dicegah oleh kedua pria yang sudah menodongkan pisau dipunggungnya Izza.
Rasa ketakutan menyergap, dalam hatinya hanya bisa berdo'a, berharap ada yang menolongnya dengan cepat.
"Jangan berteriak kalo ingin selamat, jalan terus sampai ke kamar" ingat salah satu pria.
Begitu lift terbuka, secepat kilat Rama menarik tubuhnya Izza. Mang Ujang yang akan masuk kedalam kamar jadi kaget. Buru-buru dia berlari kearah Izza. Rama sedang berkelahi sama kedua pria.
Rama merasa ga enak hati jadi memutuskan pergi ke apartemen, ditambah ada laporan dari anak buahnya Alex kalo ada yang mengikuti gerak gerik Izza.
"Mang Ujang ... cepet cari security... " pinta Izza.
"Tapi Mba Izza gimana?" tanya Mang Ujang takut.
"Saya akan masuk ke kamar, Mang Ujang ga usah khawatir" jawab Izza.
Izza berlari menuju kamar, Mang Ujang juga lari untuk mencari security.
"Za .. jangan masuk kamar" teriak Rama untuk mencegah.
Ada penghuni lain yang keluar kamar karena mendengar teriakan Rama, tapi melihat ada perkelahian, mereka masuk lagi.
Rupanya sudah ada dua orang pria di kamar yang Izza tempati. Izza langsung ditangkap dan dibawa lewat tangga darurat.
Rama mencoba mengejar tapi dua pria yang sedang berduel dengannya masih belum bisa ditaklukkan.
.
Bogem mentah langsung dilayangkan Alex begitu kedua pria yang membawa Izza, keluar dari pintu darurat.
Alex berusaha membebaskan Izza tapi kemampuan bela dirinya masih dibawah kemampuan kedua pria tersebut.
Ada sebuah mobil mendekati Izza. Security mulai kearah depan pintu darurat. Rama pun sudah ada disana. Kawanan penculik berusaha memasukkan Izza kedalam mobil. Posisi Alex lebih dekat, dia menjepit tubuh pelaku yang ada didepan pintu kemudian menarik Izza kuat-kuat.
Tubuh Izza terpelanting dan hilang keseimbangan. Tangan Rama menahan tubuh Izza. Rama langsung memeluk dan berputar seratus delapan puluh derajat melindungi Izza. Dia melihat pria bersenjata siap menghunuskan pisau lipatnya kearah Izza untuk mengancam.
Bertarung pisau bukanlah tarung biasa, tetapi soal mempertahankan nyawa dan diri dari serangan. Saat SMA Rama pernah ikut belajar bela diri dengan pisau. Sehingga dia paham bagaimana menjaga keseimbangan dan presisi agar aman.
Kawanan penjahat ada satu yang dibekuk oleh security, yang lain bisa melarikan diri.
"You are safe with me (kamu aman denganku)" bisik Rama berulang kali.
Tubuh Izza bergetar karena takut. Jilbabnya sudah berantakan karena tadi sempat mencoba melawan. Rama menutupi rambut Izza dengan menarik jilbab Izza kearah depan.
"Kita ambil barang-barang kamu, terus kita ke rumah Papi ya... hanya itu tempat yang aman sekarang" bisik Rama.
Izza mengangguk pelan.