HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 6, Shock



"Itu ciuman pertama kamu?" kembali Haidar bertanya dengan nada menyesal.


Nay hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan tanpa memandang Haidar. Perasaan bersalah dalam diri Nay amatlah besar. Merasa mengkhianati Anindya yang sudah lumayan dia kenal.


"Andaikan disaat engkau memegang tanganku, memelukku dan menciumku ini adalah halal bagi kita berdua. Maka akulah orang yang paling bahagia saat ini. Tau ga sih, ketika kamu melakukan hal itu, dalam hati bercampur baur antara bahagia dan takut akan dosa" kata Nay dalam hati sambil mengeratkan tangannya mengusir rasa dingin.


Haidar hanya mengantar Nay sampai Lobby Hotel aja, dia langsung balik ke Jakarta karena besok pagi ada janjian main golf sama Pak Isam dan rekan bisnisnya. Tadi dihubungi oleh Pak Isam lewat panggilan telepon untuk menemani beliau. Rencana Pak Isam, Haidar akan diperkenalkan dengan cara ngelobi di lapangan golf. Hal yang belum dilakukan oleh Haidar. Pak Isam akan mengambil alih sebuah hotel lagi di daerah Banyuwangi.


🏵️


Nggak ada yang bisa memastikan kepada siapa dan kapan kita akan merasakan jatuh cinta, kadang kala seseorang merasa jatuh cinta kepada orang yang salah dan diwaktu yang nggak tepat. Seperti yang Nay rasakan sekarang ini, ketika ia mulai jatuh cinta sama seseorang, tapi lelaki tersebut sudah memiliki tunangan. Demikian pula Haidar, status sebagai tunangan orang menjadi hambatan untuk meneruskan rasa dengan Nay. Haidar bisa aja nekat, tapi Nay masih meragukan perasaan Haidar.


Nay akhirnya menyadari ia telah jatuh cinta sama pacar orang, walaupun awalnya nggak berniat untuk jatuh cinta, tapi keadaanlah yang membuatnya demikian. Terlanjur "kecebur" jadi bingung harus bagaimana, karena posisinya serba salah. Di satu sisi, mungkin ia merasa cintanya perlu diperjuangkan. Namun di sisi lain dia harus bersiap "mengotori" hatinya karena telah menyakiti perasaan kekasih dari orang yang dia jatuhi cinta.


🏵️


Dalam perjalanan pulang dengan rute Bogor Jakarta, Haidar kembali berpikir. Hidup memanglah pilihan dan pilihannya nggak selalu antara mudah dan susah. Kadang kita dibenturkan oleh pilihan antara susah dan sangat susah, harus pilih antara sakit dan sangat sakit. Bagi Haidar, jika memang yang sekarang ia rasakan adalah cinta yang dia butuhkan untuk hidupnya, seharusnya ia nggak boleh takut buat memperjuangkannya, meskipun akan banyak hati yang tersakiti, terutama Anindya dan keluarganya.


🌷


Nay mulai menjaga jarak sama Haidar, menghindari pembicaraan yang ga ada hubungannya sama pekerjaan, bahkan tidak menggubris panggilan telepon dan chat dari Haidar jika diluar jam kerja.


Jangan dikira hanya Nay yang sakit, Haidar pun mengalami hal yang sama. Ditambah tekanan dari orang tua Anindya yang ingin segera menginginkan Haidar dan Anindya menikah. Ada kekhawatiran kalo Anindya akan asyik sama dunia bisnis dan obsesinya sehingga akan terus melupakan pernikahan. Pak Isam pun mulai khawatir karena beberapa kali beliau memergoki Haidar memandang kearah Nay dengan tatapan penuh cinta.


🍒


Sudah sebulan berlalu dari kejadian Haidar mencium Nay di mobil, Nay masih berusaha sebisa mungkin menghindari berduaan dengan Haidar. Haidar yang mendapat perlakuan tersebut dari Nay makin lama bukannya menjauh malah terus berusaha mendekat, bahkan sudah seringkali timbul cekcok antara Haidar yang sudah ga peduli sama Anindya. Jangankan telepon, berkirim chat pun ngga.


Sudah dua kali Anindya datang ke kantor Haidar dan selalu berakhir dengan keluarnya Anindya dari ruangan Haidar disertai muka penuh amarah. Nay yang melihat hal tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya, apalagi kalo pandangan sinis dari Anindya mengarah kepadanya, makinlah Nay merasa terpojok dengan situasi.


🏵️


Mba Gita yang lebih banyak berada di Hotel yang satu lagi, hari ini menemui Nay di Hotel tempat Nay dan Haidar berada, dia memberi tahu kalo Pak Isam ingin bertemu disuatu tempat. Gita yang meminta ijin ke Haidar dengan alasan ada pelatihan untuk Sekretaris yang perlu Nay ikuti. Haidar ga curiga sama sekali, karena selama ini Mba Gita memang ga pernah angkat bicara tentang kehidupan pribadi Haidar. Demikian pula halnya dengan keluarganya, Haidar ga pernah ditanya tentang Nay.


🍐


Mba Gita membawa Nay untuk menemui Pak Isam, keduanya naik mobil milik Mba Gita. Sesampainya ditujuan, dengan langkah ragu, Nay memasuki ruangan Pak Isam. Dia dipersilahkan duduk di sofa oleh Pak Isam. Nay belum paham apa yang akan Pak Isam bicarakan.


Pak Isam mendekat menuju sofa dan duduk tepat berhadapan dengan Nay. Tatapannya sangat tajam, membuat Nay makin ga enak hati.


"Berapa uang yang kamu inginkan?" tanya Pak Isam tanpa basa basi.


"Maaf... maksud Bapak apa ya? saya tidak paham" jawab Nay sopan.


"Harga untuk kamu menjauh dari anak saya... Haidar" jawab Pak Isam.


"Saya dan Pak Haidar ga ada hubungan spesial, hanya sebatas atasan dengan Sekretarisnya, tidak lebih dari itu Pak" jawab Nay membela diri.


Pak Isam melemparkan foto-foto kebersamaan Haidar dan Nay saat wisuda sekolah Faqi, saat Haidar menatap Nay diacara fashion show bahkan saat di Puncak (restoran) dan beberapa foto saat mereka makan siang bersama klien. Nay jelas sangat kaget melihat foto-foto tersebut.


"Saya bisa jelaskan Pak, foto ini tidak seperti yang Bapak kira" ujar Nay lagi.


"Haidar sudah mau menikah sama Anindya, anak dari kalangan konglomerat juga, sepadan dengan keluarga kami. Wanita seperti kamu hanya akan jadi tissue bagi Haidar, setelah dipakai pasti akan dicampakkan. Jangan pernah merayunya. Atau memang bermimpi menjadi bagian dari keluarga kami?" kata Pak Isam makin tegas.


"Pak... saya tidak pernah merayu Pak Haidar dan tidak pernah bermimpi menjadi bagian keluarga Bapak" bela Nay lagi.


"Sekarang apa tujuan kamu kalo bukan karena uang?" lanjut Pak Isam.


"Pak... saya memang tidak sepadan dengan keluarga Bapak dan saya juga tau posisi saya hanya karyawan. Tapi saya masih punya harga diri, ga serendah itu juga mengorbankan diri saya hanya buat mengejar harta semata" ujar Nay yang mulai tersinggung.


"Oh bisa tersinggung juga orang seperti kamu rupanya. Ini cek dua ratus juta, saya rasa cukup buat kamu hengkang dari pekerjaan yang sekarang ini dan bikin usaha sendiri" kata Pak Isam sambil melempar cek tersebut ke meja dihadapan Nay.


Nay mulai meneteskan air matanya.


"Ga usah bersandiwara, wanita kaya kamu ini udah kebaca. Ingin hidup senang, punya banyak uang, perhiasan, bahkan rumah mewah. Ga peduli lelaki tersebut udah punya pasangan atau belum, yang penting keinginan tercapai. Bisa saja kamu pakai cara yang ga wajar sampai Haidar segila itu suka sama kamu. Dengan Anindya yang merupakan tunangannya aja dia ga pernah jatuh cinta. Apalagi dengan wanita seperti kamu yang ga ada kelebihannya. Atau memang disuruh orang tua untuk mengubah nasib?" tunjuk Pak Isam.


"Pak... teganya menuding saya seperti itu" jawab Nay.


"Saya bisa aja menghilangkan pekerjaan untuk orang tua kamu bahkan kamu. Kalo berani menentang tawaran ini maka jangan pernah berharap bisa kerja di perusahaan-perusahaan yang ada di Jakarta" marah Pak Isam.


"Saya ga akan lupa hari ini Pak... atas segala penghinaan Bapak terhadap saya, Bapak kira semua bisa selesai pake uang?" jawab Nay yang memang udah sangat tersinggung.


"Apalagi sih tujuan kamu kalo ga uang" ejek Pak Isam makin menjadi.


"Saya tidak menyangka, begini perlakuan orang terhormat pemilik kerajaan bisnis Abrisam group. Seharusnya Bapak bisa bijak melihat kenyataan, bukan sekedar menerima laporan dari orang-orang suruhan Bapak. Ingat.. suatu hari nanti, uang pun ga akan bisa menyelamatkan keluarga Bapak" ketus Nay dengan penuh amarah.


"Hahaha... apa yang ga bisa dibeli pakai uang jaman sekarang? anak kemarin sore berani menantang saya?" tantang Pak Isam dengan angkuhnya.


Nay keluar dari ruangan Pak Isam dengan penuh deraian air mata. Dia langsung kembali ke rumah, beberapa kali Haidar menelpon tapi ga diangkat.


Haidar benar-benar bingung lost contact sama Nay hari ini. Haidar tanya ke Mba Gita, tapi jawabannya sudah pulang sejak dua jam yang lalu.


Haidar langsung nekat pergi ke rumah Nay. Ibunya Nay terpaksa berbohong ke Haidar, kalo Nay belum pulang ke rumah.


🌷


Tiga hari sudah Nay ga masuk kantor, dia hanya dirumahnya aja. Setiap pagi dan malam, Haidar selalu mampir ke rumah Nay dan selalu dijawab Nay sekarang tinggal sama Tantenya. Ibunya Nay menitipkan surat pengunduran diri ke Haidar.


"Kami tidak tau apa yang terjadi Pak Haidar, jadi kami harap, Bapak ga perlu kesini lagi. Nay sudah memutuskan untuk resign dari kantor Pak Haidar" ucap Bapaknya Nay.


"Saya benar-benar tidak tau apa yang terjadi sehingga Nay memutuskan resign. Tolong saya untuk bisa bicara sama Nay" pinta Haidar.


"Maaf kami tidak bisa. Nay sudah dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya" ujar Bapaknya Nay.


Haidar dengan penuh tanda tanya meninggalkan rumah Nay.


🏵️


Pak Isam sedang berbincang dengan Mba Mentari dan Faqi di ruang keluarga. Wajahnya sangat tegang karena dari beberapa universitas yang Faqi ikuti test nya, semua gagal.


Faqi diam-diam ikut tes masuk ke arsitektur seperti rencana awal. Pak Isam tentu aja ga setuju bahkan akan mengirim Faqi kembali ke negara lain untuk ikut test.


Ketika suasana menegang, Haidar masuk ke rumah dan langsung naik ke lantai dua.


Saat sedang naik ke tangga.


"Kusut aja mukanya Haidar, ada masalah di kantor?" tanya Mba Mentari.


Haidar turun kembali dan berencana untuk bergabung dengan keluarganya.


"Cape" jawab Haidar sambil duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa.


"Masa Boss cape.. kan punya anak buah, punya Sekretaris yang bisa urus semua juga" ujar Mba Mentari.


"Udah tiga hari Nay ga masuk dan ga ada berita. Itu yang bikin banyak kerjaan ke pending" sahut Haidar sambil memejamkan matanya.


"Mba Nay Sekretarisnya Mas Haidar itu?" tanya Faqi meyakinkan.


"Ya..." jawab Haidar lemah.


"Kalo karyawan indisipliner gitu baiknya dipecat aja Haidar, masih banyak yang mau jadi Sekretaris kamu"ucap Pak Isam tegas.


"Tapi Haidar hanya mau dia Pi" kata Haidar makin lemah.


"Kamu jangan macam-macam ya Haidar, buka mata kamu, kamu tuh tunangan orang, pembesar di perusahaan keluarga kita" kata Pak Isam mulai marah.


"Buat apa Papi kotori tangan ini buat nyingkirin wanita murahan itu" jawab Pak Isam.


"Apa Papi bilang... wanita murahan?" tanya Haidar.


"Apalagi yang pantas sebutannya kalo bukan itu? Wanita kaya gitu cuma ngincer harta kamu, setelah dia dapat pasti akan pergi" kata Pak Isam lagi.


"Tunggu Pi... kalo Mba Nay ngincer harta, kenapa belum dapetin Mas Haidar dia udah pergi? Atau Papi yang udah kasih uang ke Mba Nay buat dia pergi?" Faqi ikut menganalisa, kecerdasannya memang diatas rata-rata, hingga dengan mudah bisa membuat orang sulit berkutik kalo bohong.


"Bener juga apa yang Faqi bilang... Papi pasti ada dibalik semua ini, kan terakhir kali Nay lagi kerja itu diajak Mba Gita ikut pelatihan. Setelahnya ga pernah menunjukkan batang hidungnya. Demikian pula sama Mba Gita yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi" selidik Haidar.


Pak Isam sudah mulai terpojok. Ga menyangka kedua putranya langsung punya kesimpulan seperti itu.


"Papi ga tau. Kalo Gita memang sudah mengajukan cuti dari bulan kemarin. Dia mau rehat diluar negeri. Sudah dua tahun dia ga bisa cuti karena kesibukan Papi" jawab Pak Isam berbohong.


Memang Mba Gita diminta untuk pergi keluar negeri sebagai bonus atas bantuannya membawa Nay kehadapan Pak Isam. Sudah diinstruksikan juga untuk memblokir nomer HP nya Haidar. Dia juga diberikan uang tutup mulut atas apa yang terjadi hari itu. Sebagai bawahan, Mba Gita ga punya pilihan selain mengikuti semua arahan dari Pak Isam.


"Pi... sampai kapan Papi mengatur hidup anak-anak Papi? Haidar akui kalo sudah jatuh cinta sama Nay. Haidar akan memutuskan tunangan sama Anin dan akan mencari Nay sampai keujung dunia" ucap Haidar yakin.


Sebuah tamparan keras melayang kepipi Haidar. Sebuah tamparan dari Pak Isam yang sangat marah mendengar pengakuan Haidar.


"Haidar... kamu harusnya sadar kalo udah punya Anindya, dia lebih baik dari perempuan manapun" ucap Pak Isam.


"Baik menurut Papi belum tentu buat Haidar. Buat apa meneruskan hubungan dimana ga ada cinta didalamnya?" kata Haidar yang sudah mulai unjuk gigi


"Cinta bisa kamu dapat selepas menikah. Lagi pula kalian kan juga akrab, ga perlu penyesuaian lagi" jawab Pak Isam.


"Semua mimpi Haidar sudah Papi kubur, tapi kali ini Haidar akan berjuang demi cinta dan kebahagiaan Haidar sendiri. Untuk kali ini keputusan Haidar udah bulat, terserah nanti apa yang terjadi kedepannya. Bahkan harus Papi usir pun Haidar udah siap" kata Haidar sambil mengambil HP dan menekan sebuah nomer.


"Anin..... mulai detik ini, hubungan pertunangan diantara kita putus. Kita cari jalan masing-masing" ucap Haidar tanpa basa basi dan langsung menutup HP.


Dia berjalan menuju kamar dan membanting kencang pintunya.


Anindya langsung menelpon balik Pak Isam, menceritakan tentang telepon dari Haidar tadi. Pak Isam mencoba membujuk Anindya dengan alasan mungkin Haidar lagi cape dan stress.


🌷


Lewat tengah malam, Haidar memacu mobilnya tak tentu arah. Hatinya kalut ditengah rindu yang membalut. Akhirnya dia memutuskan buat ke rumah Nay. Rindunya sudah tak tertahan.


Dari kejauhan tampak sudah ada keramaian, suara sirene mobil pemadam kebakaran saling bersautan. Haidar memarkir mobilnya disebuah minimarket karena udah ga bisa mendekat. Dia berjalan kearah jilatan api yang tampak masih meninggi. Kebakaran sedang terjadi. Semakin didekati semakin Haidar merasa ngeri, rumah sederhana milik keluarga Nay lah yang menjadi korban lalapan sang jago merah.


Suasana kepanikan dan teriakan tak terkendali. Memang jarak rumah Nay dengan tetangganya lumayan jauh. Rumah Nay terletak paling pojok dan dikelilingi oleh kebun kosong yang baru akan dibangun oleh yang punya tanah. Memang masih ada wilayah di pinggiran Jakarta yang belum padat seperti ini.


Dari info yang didapatkan kalo semua keluarga dirumah tersebut menjadi korban. Sudah ditemukan dua mayat yang hangus didalam rumah, diperkirakan itu kedua orang tua Nay karena ditemukan didalam kamar orang tuanya. Tapi mayat Nay dan adiknya belum diketemukan.


Haidar tetap menerobos barisan untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri kondisi keluarga Nay. Hatinya makin tak menentu. Dari mulutnya terucap do'a agar penghuninya bisa selamat.


Nay teriak histeris tepat dibelakang Haidar, dia baru pulang sehabis menjadi model buat tata rias salah satu salon dan mendapati rumahnya sudah tinggal puing tembok yang ga utuh, hanya dalam waktu empat puluh menit semua habis.


Haidar langsung menangkap tubuh lunglai dibelakangnya.


"Nay... Nay... bangun Nay" ucap Haidar cemas.


Dia dibantu oleh beberapa orang untuk menggendong tubuh Nay masuk kedalam mobilnya dan segera dia membawa Nay ke rumah sakit.


Haidar mengguncang tubuh Nay yang belum kunjung siuman.


Sesampainya di IGD, Nay langsung ditangani tim medis Rumah Sakit.


"Pasien mengalami penurunan kesadaran yaitu kondisi saat kesadaran menurun sebagai akibat berbagai macam gangguan atau penyakit" buka dokter IGD.


"Rumahnya kebakaran dan dia baru pulang ke rumah sepulang kerja. Jadi kaget sepertinya dok" jawab Haidar.


"Maaf Mas siapanya pasien?" tanya dokter lagi.


"Calon suaminya dok, tolong ditangani dengan baik dok" pinta Haidar.


"Semua pasien yang datang pastinya akan kami tangani dengan baik Mas. Pertolongan pertama yang sudah dilakukan terhadap pasien meliputi ABCs (Airway Breathing Circulations) dan C-spine, yaitu menilai kelancaran jalan napas pasien. Selain itu, sedang diperiksa glukosa darahnya juga. Sejauh ini semua dalam nilai yang normal. Mungkin karena kejadian seperti ini ya kita pantau terus aja dulu" ucap dokter IGD.


Haidar menunggu hingga hampir Dzuhur, masih juga ga sadarkan diri. Denyut jantung dan pernafasan masih normal.


"Mungkin sebaiknya rawat inap saja Mas, agar lebih intensif lagi untuk dicek secara keseluruhan" saran dokter.


"Baik dok, saya urus dulu administrasinya" jawab Haidar.


Ketika Haidar menuju ruang administrasi rawat inap, dia merasa ada yang mengikuti, akhirnya diputuskan untuk kembali ke IGD untuk menjaga Nay, daripada nanti ada yang berniat jahat melenyapkan nyawa Nay.


Rupanya begitu sampai di IGD, Nay tampak mulai siuman. Haidar langsung berdiri tepat disampingnya.


"Bagaimana sama orangtua dan adik saya Mas?" tanya Nay yang mulai panik.


"Tenang dulu Nay, kamu kuatin dulu fisik dulu, nanti kita akan cari infonya" jawab Haidar sambil memeluk tubuh Nay.


Tangis Nay pecah dibahu kekar Haidar. Haidar mengelus punggung Nay. Dekapannya pun makin dieratkan. Cukup lama mereka seperti itu, hingga ciuman dikening Nay membuat Nay melepaskan pelukan Haidar.


"Kita harus kembali kesana Mas, saya harus tau kondisi keluarga saya" kata Nay sambil berlinang air mata.


"Ya... Mas akan antar kamu, tapi janji ya, kamu harus sabar dan ikhlas menerima semua kenyataan apapun" ucap Haidar sambil memegang erat tangan Nay.


🍒


Sesampainya di lokasi kebakaran, pihak polisi menyampaikan temuannya. Korban diketemukan dalam kondisi hangus terbakar dan jenazah sudah dibawa ke Rumah Sakit.


Nay didampingi Haidar langsung menuju Rumah Sakit yang diinfokan pihak berwajib. Tapi rupanya pihak Rumah Sakit sudah menyerahkan kedua jenazah ke keluarganya. Ada berkas yang ditandatangani sebagai serah terima jenazah.


Nay mulai panik, karena tidak kenal dengan nama yang tertera diberkas tanda terima jenazah. Kedua orang tuanya tidak diakui keluarga karena Ibunya memutuskan menjadi seorang muslim saat akan menikah dengan Ayahnya Nay, jadi sudah "dibuang" oleh keluarganya. Sudah pernah mencoba beberapa kali untuk bersilaturahmi tapi ga kunjung boleh menginjakkan kaki ke rumah keluarganya. Jadi orangtua Nay memutuskan menjalani kehidupan tanpa kehadiran keluarga besar. Ayahnya Nay pun dari panti sosial yang dirawat disana sejak kecil, Neneknya Nay pernah ada disana sebelum meninggal saat melahirkan. Neneknya Nay menjadi korban pemerkosaan dan akhirnya depresi dan luntang lantung dijalan. Hingga saat ada operasi penertiban, Neneknya Nay dimasukkan ke panti sosial karena kondisinya sedang hamil.


Nay memutuskan balik ke rumahnya yang sudah rata dengan tanah. Nay menuju rumah Ketua RT.


"Kami juga bingung Nay, semua serba cepat, sudah ada ambulance yang ambil jenazah. Ga ada warga sini yang dampingin. Makanya kita semua bingung" adu ketua RT.


"Katanya ada yang ambil jenazah Pak, tapi identitasnya saya ga kenal. Sepertinya palsu, tapi saya juga ga pasti" ucap Nay melemah.


Akhirnya Nay pingsan kembali. Haidar kembali membawa Nay ke Rumah Sakit untuk menjalani rawat inap.


"Pak .. jika ada perkembangan, tolong hubungi saya. Ini kartu nama saya" kata Haidar sambil menyerahkan kartu namanya ke Ketua RT.


"Iya .. ini juga mayat adiknya belum jelas. Apa udah habis mayatnya terbakar atau gimana. Semua belum jelas" ujar Ketua RT.


🏵️


Nay terus menangis ketika sudah siuman. Haidar terus menguatkannya. Setelah memberikan pengertian ke Nay dan berjanji akan mencari tau tentang keberadaan jenazah orang tuanya Nay, barulah Nay bisa sedikit lebih tenang.


Haidar pamit untuk membeli baju buat Nay karena Nay hanya punya dua baju. Satu yang dipakainya dan satu lagi ada didalam tas.


Haidar juga membawakan makanan dan minuman buat Nay. Dia sudah bilang ke kantor bahwa hari ini dan besok ga bisa masuk kerja dan minta di reschedule semua meeting hari ini.


Jelas aja Pak Isam makin berang. Dia meminta orang untuk mencari keberadaan Haidar. Rupanya Haidar lebih cerdik, dia meminta pulang atas permintaan sendiri dari rumah sakit dan membawa Nay ke sebuah tempat yang menurutnya aman.


"Nay ... percaya sama Mas, sekarang susah buat cerita kondisinya, tapi ada yang mengikuti setiap langkah kamu. Mas khawatir kamu dalam bahaya. Sepertinya ini ga wajar Nay" ujar Haidar didalam mobil.


"Nay udah ga bisa mikir" jawab Nay pasrah.


"Kalo begitu .. Mas akan bawa kamu ke apartemen milik Mas. Keluarga Mas ga tau letaknya. Itulah satu-satunya tempat yang aman buat kamu sementara waktu. Mas akan coba cari informasi tentang keluarga kamu" jelas Haidar.