HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 22, Straightforward



Pak Isam masih memandangi foto-foto anaknya. Rama juga menjadi korban selanjutnya, beliau menyalahkan kehadiran Rama sebagai penyebab kematian istrinya. Sulit mencurahkan kasih sayang ke Rama karena bayangan kelahirannya selalu datang menghantui.


Rama memang tumbuh jadi anak yang lebih cerdas dibandingkan kedua kakaknya, ditambah sifat pemberontaknya membuat beliau yakin bahwa Rama adalah anak yang tepat untuk meneruskan tongkat estafet bisnis keluarga ini. Dalam dunia bisnis terkadang perlu orang bertangan besi seperti dirinya. Walau tampak keras terhadap Rama, beliau selalu ingin Rama mendapatkan banyak pelajaran hidup dengan pengalamannya sendiri tanpa intervensi orang tua.


Hingga ketika ia akan kuliah, Pak Isam mulai menunjukkan tajinya buat mengarahkan Rama agar sesuai dengan rencananya. Seakan alam setuju dengannya, hingga Rama bertekuk lutut dan merelakan mimpinya untuk kehidupan Nay dan Sachi saat itu.


🍒


Anindya menelpon Haidar berkali-kali, karena ga ada jawaban, ia menelpon ke rumah Pak Isam. Haidar masih tertidur pulas bersama Sachi sambil berangkulan.


Malam itu juga Anindya langsung menuju rumah Pak Isam. Keributan besar ga bisa terelakkan. Pak Isam tetap membela Anindya. Permintaan Anindya untuk menyerahkan Sachi ke panti asuhan mendapat dukungan Pak Isam. Tapi Haidar tetap tidak mau mendengar keinginan istri dan Papinya.


Malah kalo perlu, Sachi akan ia akui secara hukum menjadi anaknya lewat jalur pengadilan. Bagi Haidar, lebih baik berpisah dengan Anindya daripada berpisah dengan Sachi.


"Mas ga ada hubungan apapun dengan anak ini, kenapa sampe membela dia daripada rumah tangga kita?" protes Anindya.


"Kamu cemburu sama anak kecil? ga salah?" jawab Haidar dengan cueknya.


"Mas jangan lupa kalo punya istri yang butuh perhatian di rumah" lanjut Anindya.


"Sudah berkali-kali ribut di hal yang sama. Dan berkali-kali pula kamu ga bisa menjawab pertanyaan saya. Kenapa kamu benci sama Sachi? kamu tau siapa anak ini sebenarnya?" tanya Haidar.


"Bukan urusan saya buat tau asal usul anak ini. Karena memang tidak ada hubungannya sama pernikahan kita. Anak ini adalah anak haram, toh Rama udah bilang kan kalo dia Ayah anak itu. Apalagi yang mau dipermasalahkan?" ujar Anindya.


"Sekarang mau kamu apa? kalo kita sudah merasa ga bahagia dengan pernikahan yang kita bina, kenapa ga cari haluan masing-masing. Saya terkadang heran, kalo saya mencintai kamu dan you're the only one, kenapa ga ada getaran dalam hati saya yang membuat bahagia? Saya seperti terperangkap dalam sebuah sangkar tanpa tau bagaimana caranya bisa keluar bebas. Kalo kalian semua ga mau menceritakan hal yang sebenarnya, saya yang akan mencari tau sendiri tentang Sachi. Ga mungkin anak ini ada disini kalo ga ada sangkut pautnya dengan keluarga Abrisam" kata Haidar dengan nada bergetar.


Kepala Haidar terasa sakit, dia duduk di sofa sambil memegangi kepalanya.


"Mas ... Mas... kita ke dokter ya" ajak Anindya cemas.


"Ga perlu" jawab Haidar yang makin merasa pusing.


"Ayo Mas .. nanti malah tambah pusing" lanjut Anindya.


Pak Isam berupaya mendinginkan suasana pasangan ini, alasan pak Isam pun simple, beliau ga mau isu tentang Sachi menjadi bola liar yang bergulir menjatuhkan nama baik keluarga dan pasti berimbas pada perusahaan. Ditambah orang tua Anindya ga tau sama sekali tentang Sachi. Semua keluarga Anindya dan keluarga besar Haidar hanya tau kalo Sachi anak diluar nikahnya Rama dengan kekasihnya.


Isu ini memang ga kunjung usai karena Rama pun ga pernah membantah terhadap apa yang semua orang katakan tentang Sachi. Di akte kelahiran Sachi pun hanya tertulis nama Nay sebagai Ibu. Secara hukum memang ia hanya diakui sebagai anak Ibu, bukan anak dari hasil pernikahan jadinya hanya tercantum nama Ibu.


.


Rupanya keributan demi keributan yang terjadi antara Haidar dan Anindya, sampailah ke telinga orang tua Anindya.


Akhirnya keluarga besar Anindya telah mengibarkan bendera perang ke keluarga Abrisam. Mereka tidak terima kalo anaknya tidak dihargai.


"Anin ... buat apa kamu tergila-gila sama Haidar sedangkan Haidar biasa aja. Lelaki itu ga punya masa depan yang cerah. Cuma asyik berada dibawah bayang-bayang Papinya. Kamu pisah aja daripada kamu ga bahagia" saran Papanya Anindya.


"Ya Anin... Mama setuju saran Papa. Kamu lebih berkualitas dari Haidar. Buat apa punya suami sakit-sakitan seperti itu. Bisa jadi kan kalian belum punya keturunan karena dia yang ga bisa kasih kamu anak" sahut Mamanya Anindya.


Anindya yang memang ga bisa menahan emosinya pun memutuskan untuk tinggal sama orang tuanya dulu sambil berpikir tentang nasib rumah tangganya.


🌷


Sekarang Haidar sudah membeli franchise salah satu minimarket. Supermarket yang dulu sudah dalam proses pengerjaan pun harus gagal. Tidak ada yang handle, sehingga perijinan pun ga pernah selesai sampai detik ini. Tanah yang sudah dibeli Pak Isam pun terbengkalai. Beberapa perusahaan pernah menawar tanah tersebut, tapi harga ga pernah cocok.


Haidar ingin memulai bisnisnya sendiri. Modalnya ia dapatkan dengan menjual ketiga apartemen miliknya dan mobil yang dulu ia dapat dari Papi sebagai hadiah kelulusannya.


Setelah pisah rumah selama dua bulan, akhirnya Haidar dan Anindya sepakat untuk mengakhiri pernikahan mereka.


Kedua keluarga sudah bertemu dan sepakat dengan pilihan mereka. Ada rona malu dan kecewa di mata Pak Isam. Tapi sekarang beliau ga berdaya, kemajuan bisnis keluarganya Anindya sudah jauh diatasnya. Hingga beliau ga bisa lagi menyombongkan kekayaan seperti biasa.


Haidar pun kembali tinggal bersama Papinya dan Sachi. Pak Isam sudah diam terhadap semua keputusan Haidar. Mukanya sudah tercoreng moreng karena Haidar. Nama baik dan reputasinya hancur dalam sesaat karena isu perpisahan itu karena Haidar berselingkuh dan tidak mampu memberikan anak ke Anindya. Gosip ini memang sengaja dihembuskan oleh keluarga Anindya yang sudah sangat marah karena anak semata wayangnya dipermainkan oleh Haidar.


Haidar pun sudah menyatakan mundur dari semua bisnis Pak Isam. Dan tidak mau membantu Pak Isam mengurus bisnis keluarga.


"Papi panggil pulang aja Rama .. selesaikan kuliah disini biar Papi ada yang bantu" usul Haidar.


"Ga semudah itu, dia juga belum pernah terjun ke dunia bisnis" jawab Pak Isam.


"Apa bedanya sama Haidar yang langsung terjun ke bisnis setelah selesai kuliah?" ucap Haidar.


Pak Isam sudah pusing membujuk Haidar, tapi hasilnya tetap nihil. Membawa pulang Rama sekarang pun bukan solusi, makanya beliau yang kembali memegang tampuk kepemimpinan di Hotel. Kembali bergelut dengan dunia bisnis dari pagi hingga malam.


.


Jatuh bangun Haidar membangun usahanya sendiri. Tapi ia ga mau menyerah, walaupun keluarga Anindya selalu punya trik menjatuhkan usahanya. Mulai dengan membuka minimarket pesaing yang bersebelahan dengan minimarket punya Haidar hingga isu kalo minimarket Haidar ga bersih karena gudangnya ada tikus dan kecoa, sudah Haidar rasakan.


Mungkin karena sekarang Haidar sudah meretas jalan hijrah, jadinya ia bersyukur kalo Allah masih menegurnya. Usaha yang masih mandeg ga berkembang terus ia syukuri, karena mungkin dosa-dosanya dimasa lalu masih banyak bertumpuk sehingga menjadi salah satu terhambatnya rejeki dalam usahanya.


🌷


Kalo weekend pun, Sachi diajak jalan-jalan sama Haidar atau sekedar menghabiskan waktu di rumah dengan berenang dan menemani Sachi bermain seharian.


🏵️


Perjuangan Rama untuk mengantongi gelar sarjana, berada di fase terakhir bangku perkuliahan, segala yang disyaratkan sebagai syarat kelulusan harus ia dihadapi.


Tugas akhir dalam bentuk praktek kerja magang disalah satu perusahaan yang sudah bekerja sama dengan universitas ga bisa dielakkan. Pahit dan manis menyelesaikannya pun sangat terasa. Mulai dari repotnya mencari tempat magang hingga menulis semua kegiatan magang beserta proyek bisnis yang dilakukan, menunggu dosen untuk menyediakan waktu membimbing ditengah kesibukan mereka, belum lagi sebagai mahasiswa asing, apalagi dari Indonesia, yang tergambar di perusahaan asing adalah orang-orang yang ga punya daya saing tinggi dan ga ontime.


Semua proses itu terasa memberatkan, bahkan terkadang seolah ingin menyerah saja. Otaknya Rama harus cepat diputar, dia harus bisa meyakinkan pemilik perusahaan tempat magang kalo ia mampu bekerja sesuai standar yang perusahaan inginkan guna menyelesaikan tugas akhirnya.


🍒


Akhirnya Rama bisa menyelesaikan studinya dan akan segera kembali ke tanah air. Sebenarnya ada tawaran beasiswa S2 disana, sempat tergoda juga, tapi situasi sudah memanggilnya buat membantu Papinya menjalankan roda bisnis.


Hotel milik Pak Isam sudah ada yang ditutup, karena beberapa kali masuk berita dengan kasus penggerebekan pesta obat terlarang dan kasus perselingkuhan artis ternama terjadi di Hotel tersebut. Image Hotel sebagai Hotel esek-esek kelas kakap pun sudah melekat, sehingga makin banyak yang ga mau menginap disana.


Ketika biaya operasional sudah melebihi pendapatan maka dengan berat hati diambil keputusan untuk menutup Hotel tersebut.


Gedung Hotel pun siap dijual. Bisnis Pak Isam dibidang properti juga banyak yang ga berjalan.


Haidar dan minimarketnya juga masih jalan ditempat. Karena semua hal inilah, panggilan untuk pulang makin besar.


Rama memang gagal menjaga nilainya agar stabil sehingga ia ga menyandang predikat sebagai lulusan terbaik diangkatannya. Baginya sudah ga penting ijazah, yang terpenting adalah saatnya dia berbakti buat orang tua dan kakaknya. Dia sadar bukanlah seorang superhero atau satria piningit yang diturunkan untuk menjadikan sesuatu lebih baik. Tapi ia hadir sebagai wujud kalo dia juga bagian keluarga Abrisam (walau di namanya tidak tercantum nama Abrisam).


Rama pun sudah jauh lebih dewasa pemikirannya, sehingga sadar kalo biaya kuliahnya dari Papi dan semua itu berkat kerja keras membangun dan menjalankan usaha.


Selain itu, Sachi akan masuk sekolah TK (sekarang Sachi berusia hampir empat tahun), pastinya sangat memerlukan perhatian sebagai seorang Ayah. Haidar sekarang sedang sibuk keluar kota mencari peluang bisnis lainnya. Jadi Sachi lebih banyak sama pengasuhnya. Bagi Rama, janji terhadap Nay harus tetap ia jaga dan tunaikan.


"Ya Allah .. biarpun semua berjalan atas kehendak Papi, tapi ijinkan Hamba melakukan hal yang terbaik untuk keluarga. Hamba akan menjadi anak yang berbakti, hingga sebesar ini, rasanya masih banyak merepotkan keluarga. Bimbinglah Hamba dalam menghadapi segala dugaan didepannya. Ya Allah ... ijinkan Hamba menjadi Ayah yang baik untuk Sachi hingga saatnya nanti kebenaran akan terbukti" do'a Rama.


🏵️


Pak Isam meminta Mba Gita untuk mencari karyawan kontrak untuk mengurus data-data pemutusan hubungan kerja karyawan Hotel yang akan ditutup. Banyak data yang harus dipilah dan HRD pusat ga bisa mengerjakan dalam waktu tiga bulan karena juga banyak karyawan yang resign dari perusahaan Pak Isam.


Mba Gita merekomendasikan adik angkatnya yang sedang kuliah D3 (sekarang masih semester 2 dan ikut kelas karyawan jadi hanya kuliah Jum'at malam dan Sabtu Minggu).


"Jadwalkan saya bertemu adik kamu ya Gita, tugasnya membantu pemberkasan selama tiga bulan kedepan, untuk gaji memang penawarannya ga terlalu besar, tapi sesuai UMR, ga ada bonus dan lembur" kata Pak Isam.


"Baik Pak, besok saya minta adik saya datang menemui Bapak" jawab Mba Gita.


"Siapa namanya?" tanya Pak Isam.


"Fayza Noor Zaina.. biasa dipanggil Izza" jelas Mba Gita dengan binar bahagia.


"Oh ya besok Rama pulang, tolong koordinasikan satu supir buat jemput dia dan bawa mobil yang besar, mungkin barang-barang bawaannya banyak" perintah Pak Isam.


"Bapak ga ikut menjemput? Kan waktu wisuda juga ga ada yang datang kesana" kata Mba Gita meyakinkan.


"Saya sibuk, ga sempat jemput ke Bandara. Haidar juga lagi jaga Sachi, kemarin masuk lagi ke Rumah Sakit kena DBD" ucap Pak Isam cuek.


"Kasian Mas Rama kalo ga ada yang menyambut. Bisa saya minta ijin untuk ikut jemput Pak?" tanya Mba Gita.


"Kita banyak kerjaan Gita.. banyak yang harus kita selesaikan segera. Lagipula Rama udah besar, bisalah dia selesaikan sendiri urusan di Bandara" ujar Pak Isam.


"Pasti akan beda kalo Bapak yang jemput. Dia sudah berusaha empat tahun ini mengikuti semua perjanjian Bapak dengan dia. Toh dia ga melanggar sama sekali. Dia berhasil lulus dengan nilai yang baik. Mulai studi dari hal yang tidak ia sukai sampe cari uang buat biaya hidupnya sendiri. Sampe kapan Mas Rama ga dapat perhatian?" tanya Mba Gita.


"Itukan dia sendiri yang mau kuliah disana" ucap Pak Isam.


"Demi Nay dan Sachi... dia rela menukar mimpinya, ga adakah sedikit simpati buat dia?" tanya Mba Gita hati-hati.


"Kamu ga usah ikut campur, ini urusan keluarga saya, wanita tuh selalu aja mendahulukan perasaan daripada akalnya. Dan ingat, jangan pernah identitas Sachi terbongkar" sahut Pak Isam.


"Maksud bapak kami para wanita kalo kerja ga pake akal?" protes Mba Gita.


"Saya ga ngomong ga pake akal, tapi kadang perasaan melebihi logika yang harus diambil. Rama bukan lulus SD yang masih kecil, dia sudah sarjana yang tau jalan pulang" kata Pak Isam datar.


"Oh ya sedikit pembelaan dari saya. Wanita dan pria memang diciptakan dengan perbedaan kekuatan. Tapi kalo kami menggunakan perasaan sayang dan cinta terhadap pekerjaan itu bisa membuat kita bisa menikmati hidup yang sesungguhnya. Kalo cuma sekedar kekuatan, yakin bisa menikmati hidup? Apa bedanya dengan robot?" ujar Mba Gita yang membuat Pak Isam hilang kata-kata untuk menjawabnya.


🍒


Raffa sudah pamit dengan rekan kerja dan rekannya di PPI seminggu yang lalu. Seminggu terakhir di Inggris, banyak ia manfaatkan buat berlibur. Memberikan hak kepada tubuh dan jiwanya buat refreshing. Bukan liburan mewah, tapi liburan ala backpacker, tidur di rumah teman seangkatannya yang tersebar di Inggris Raya. Pergi dengan jalan kaki dan naik bis yang murah serta makan dengan menu yang sesuai kantongnya.