
Rama terus berkoordinasi dengan Mba Rani, kebetulan Mba Rani sedang ada di Malang, tapi malam ini akan merapat ke Surabaya.
Keluarga besar Rama di Surabaya pun sedang berdo'a bersama untuk keselamatan Izza.
Tadi juga Abah Ikin sudah menelpon Rama, memberikan dorongan moril agar Rama kuat menghadapi cobaan ini. Abah Rama diberitahukan oleh Maryam tentang kondisi Izza.
🌺
Jam lima petang, Izza tengah duduk selepas sholat. Karena tidak ada mukena dan tidak tau arah kiblat kemana (tidak bisa bertanya dan tidak ada alat bantu aplikasi di HP karena HP nya diambil), Izza sholat pakai sprei yang ada dan beralaskan handuk sebagai sajadah.
Air mata terus membanjiri kedua pipinya. Saat sudah tidak bisa berupaya untuk meloloskan diri, hanya kekuatan do'a yang bisa dia andalkan. Memasrahkan semua kepada Allah SWT, Sang Pemilik hidupnya.
💐
Sachi sedang bermain boneka di ruang tengah ditemani oleh Mba Nur.
"Mba Nur... tolong telepon Mommy ya.. Sachi mau tanya kapan Mommy pulang ke rumah, Sachi kan kangen sama Mommy dan Ayah" pinta Sachi.
"Ehm ... em..." Mba Nur bingung untuk menjawabnya.
"Sachi ... Mommy lagi sibuk, jadi nanti aja ya telponnya" tiba-tiba Mas Haidar menjawab.
"Sibuk apa Pa? kan Mommy ga kerja kaya Ayah" jawab Sachi.
"Iya Mommy memang tidak kerja, tapi bantuin Ayah, temenin Ayah, urusin Ayah" lanjut Mas Haidar.
"Ayah kan sudah besar, bisa makan sendiri, bisa mandi sendiri, ga ada PR sekolah, kenapa harus dibantuin sama Mommy?" buru Sachi.
Mas Haidar jadi bingung untuk melanjutkan penjelasannya ke Sachi yang memang kalo bertanya sangat ceriwis sekali.
"Sachi... nanti kalo Mommy sudah ga sibuk lagi pasti akan telepon ke Sachi. Atau HP Mommy lagi lobet. Tadi Ayah Rama sudah telepon kan?" sahut Pak Isam.
"Iya .. Ayah bilang Mommy lagi pergi dulu, jadi yang benar Mommy itu pergi atau sibuk Opa?" tanya Sachi.
"Sachi ga mandi sore? sudah jam lima nih, biasanya jam segini udah mandi" ingat Pak Isam.
Mba Nur mendekati Sachi untuk mengajaknya ke kamar atas.
"Sachi.. mainnya lanjut nanti lagi ya, sekarang mandi dulu" bujuk Mba Nur.
"Sachi maunya sama Mommy" ungkap Sachi.
"Nanti kalo Mommy sudah pulang, bisa mandi sama Mommy lagi ya" jawab Mba Nur.
"Boss Papi ... Boss Papi... Mas Haidar... ada berita heboh" teriak Mang Ujang yang baru masuk ke rumah.
Semua langsung menengok kearah asal suara.
⬅️⬅️
Rupanya Mang Ujang melihat berita di internet, ada penculikan istri seorang pengusaha Jakarta, tempat kejadiannya di depot makan daerah Surabaya. Jiwa keponya berlanjut, teringat sama Mas Bossnya yang sedang berdinas di Surabaya. Akhirnya Mang Ujang menelpon Alex.
"Hati-hati Lex jaga Mba Boss kita yang benar, lagi musim lagi nih penculikan, bukan penculikan anak kecil, tapi lagi marak penculikan istri pengusaha" ingat Mang Ujang.
"Ya Mang" jawab Alex agak lemas.
"Lemes aja nih Abang jago .. semangat dong, gimana musuh mau takut kalo lemes begitu, jangan sampe lolos deh dari pandangan mata tuh permata hatinya Mas Boss, maklumlah Mas Boss kita itu udah bucin sama istrinya. Kebayang deh kalo sampe istrinya diculik, dia pasti nangis guling-gulingan" lanjut Mang Ujang.
"Emangnya Mang Ujang kalo nangis guling-gulingan. Boss Rama mah diam aja tuh, yang penting Boss sudah koordinasi juga sama pihak kepolisian. Dari awal tau, Mas Boss ga guling-gulingan sampai detik ini" jawab Alex lancar karena menurut Alex, Mang Ujang sudah tau berita ini.
"Maksudnya apa sih Lex? kok segala koordinasi sama Polisi, Mas Boss kenapa? tawuran lagi kaya jaman dia sekolah? ya ampun Mas Boss, udah tua masih aja tawuran" ujar Mang Ujang penasaran.
"Lah Mang Ujang belum tau berita terkini? Kirain Mang Ujang udah dengar kabarnya, emang Mang Ujang belum tau kalo Mba Izza diculik?" tanya Alex.
"HAHHHH??? DICULIKKK???? jangan becanda ya Lex" ujar Mang Ujang kaget.
"Ngapain becanda sih Mang, hal kaya gini mah ga mungkin saya berani becanda. Makanya kita semua disini masih nunggu perkembangannya, Mba Izza masih terus dicari keberadaannya. Bantu do'a aja Mang, semoga Mba Izza cepat bisa ketemu" kata Alex.
"Gimana sih Lex.. jaga perempuan satu aja ga bisa. Pacaran mulu sih, jadi ga sempat ngasah kemampuan bela diri" cerocos Mang Ujang.
"Ga usah sok tau Mang, emangnya kalo saya latihan bela diri Mang Ujang liat? tiap pagi aja kerjaannya molor terus" Alex malah sewot.
"Wwoooo .. santai Lex.. woles .. sekarang gimana kondisinya Mas Boss?" tanya Mang Ujang.
"Masih di rumah Om nya, saat ini juga masih terlihat diam dan tenang, kami semua masih menunggu kabar dari pihak yang berwajib. Kan polisi sudah meminta rekaman CCTV nya depot Bu Rosy untuk menyelidiki lebih lanjut" cerita Alex.
"Pas kejadian ga ada yang nolongin emangnya?" tanya Mang Ujang lagi.
"Cepet banget kejadiannya dan penculik menodongkan pistol, siapa yang berani coba?" ujar Alex.
"Terus kasih kabar ya Lex.. Mamang jadi gemes nih, mau meluk Mas Boss deh biar tenang. Kan sebagai bestienya Mas Boss, harus selalu ada disampingnya Mas Boss" ucap Mang Ujang.
"Sekarang bantu do'a aja Mang, ga usah nelpon ke Mas Boss, kita kasih dia ruang buat berpikir tanpa ada intervensi dari siapapun. Mas Boss pasti sudah tau siapa pelakunya, hanya sedang berpikir merangkai semua petunjuk yang ada" papar Alex.
"Emang ada petunjuknya? ada gitu papan petunjuk yang ditinggalkan oleh penculiknya? kok bego amat ya tuh penculik. Ga takut ketahuan dimana dia sembunyi emangnya?" lanjut Mang Ujang.
"Sorry yang Mang untuk kali ini saya bilang Mang Ujang yang bego. Kalo ga bisa bantu, paling ga tuh ga nambahin beban pikiran saya" omel Alex yang hilang kesabaran menghadapi Mang Ujang hingga langsung menutup sambungan telepon.
➡️➡️
"Berita heboh apa sih Jang?" tanya Pak Isam.
Mang Ujang mengatur nafasnya dulu.
"Mba Izza diculik, Boss Papi sama Mas Haidar kok biasa aja ga panik?" lapor Mang Ujang.
Sachi yang sedang naik tangga bersama Mba Nur mendengar ucapan Mang Ujang. Dia turun kembali mendekati Mang Ujang karena penasaran.
"Tadi Mang Ujang bilang apa ya? Sachi dengar Mommy diculik, benar?" tanya Sachi dengan polosnya.
"Salah dengar tuh Sachi, Mang Ujang bilang anak-anak ga boleh main sendirian karena khawatir diculik. Nah Sachi kalo main jangan sendirian ya" buru-buru Mas Haidar meluruskan.
Mang Ujang sudah dikasih kode sama Pak Isam untuk menghentikan pembicaraan dulu.
"Iya Pa... Sachi ditemenin kok sama Mommy dan Mba Nur kalo main" jawab Sachi.
"Sekarang Sachi mandi dulu ya ... Nur .. bawa Sachi keatas dan mainnya diatas aja" pinta Mas Haidar.
"Baik Mas" jawab Mba Nur.
Sachi kembali naik tangga bersama Mba Nur.
.
"Jang ... liat-liat situasi dong kalo ngomong, tau ada Sachi.. ngomong ga pake rem" hardik Mas Haidar.
"Yaa maap Mas.. keceplosan.. kok ga ada yang kasih tau kalo Mba Izza diculik?" kata Mang Ujang.
"Pasti kamu tidur ya Jang di Audah Hotel? istri kamu aja sudah buat pengajian disini begitu dengar berita itu, ini malah kamu pulang-pulang langsung heboh" ucap Pak Isam.
Mang Ujang diam karena dugaan Pak Isam memang benar adanya.
"Jang ... Rama itu sudah kasih kepercayaan sama kamu, jangan tidur aja kerjanya. Kalo masih jadi supir sih ga masalah mau tidur selama atasannya kerja, tapi kan kamu sudah naik jabatan jadi koordinator supir. Kerja harus penuh tanggung jawab. Harus bisa jadi contoh bawahannya. Gimana mau dihormati orang kalo kamu sendiri ga bisa menghormati jabatan dan waktu" omel Pak Isam lagi.
"Lagian ya.. ada empatinya dong sama Mas Boss kamu, dia lagi kena musibah malah kamu teriak-teriak begini, ditambah Sachi dengar, tau sendiri kan Sachi orangnya super duper kepo kalo urusan Ayah dan Mommynya" semprot Mas Haidar.
"Maap Boss Papi... Mas Haidar... Ujang kan panik" sahut Mang Ujang pelan.
"Terus kalo kamu panik, harus gitu teriak-teriak? semua juga lagi bingung. Mending kaya Maryam sana, dari tadi sholat dan ngaji aja ga berhenti-berhenti. Paling ga dia buat adem suasana" ujar Pak Isam sewot.
"Apa Ujang langsung meluncur ke Surabaya aja ya Boss Papi? siapa tau Ujang bisa bantu Mas Boss disana. Bisa coba nyupirin Mas Boss atau menghibur ke tempat wisata biar pikiran rileks" lanjut Mang Ujang.
"Eh... ini orang punya pikiran ga sih? Rama itu lagi ruwet, malah diajak ke tempat wisata. Please ya Jang, mending kamu diam aja disini. Kamu malah bikin repot Rama nantinya" sahut Mas Haidar makin emosi.
"Udah Mas... udah tau kan dia kaya gimana, sing waras ngalah.." saran Pak Isam.
💐
Rama masih duduk diatas sajadahnya, setelah sholat Maghrib, hampir satu jam dia memejamkan matanya sambil banyak-banyak berdo'a.
"Dimana kamu De..." ucap Rama dalam hatinya.
"Ya nanti aja" jawab Rama.
🌺
Jam tujuh malam, pintu kamar yang ditempati Izza terbuka.
Suara langkah terdengar, Izza masih menutup matanya sambil berdo'a.
"Selamat sore Nyonya Rama..." salam seorang pria.
Izza cukup mengenal suara tersebut.
Dia membuka matanya dan melihat kearah sumber suara.
Izza terkejut melihat sosok yang kini ada dihadapannya.
Lelaki ini mendekat kearah Izza yang masih duduk diatas handuk yang terbentang di lantai.
"Kaget??? finally ya.. setelah sekian tahun hanya mengagumi kamu dari jauh, sekarang akhirnya takdir membawa kita bisa berdua didalam kamar. Harusnya saya menjemput kamu saat belum kenal Rama. Tapi sudahlah.. tidak perlu jadi yang pertama, yang terpenting bisa jadi yang terakhir" kata sang pria yang sudah makin mendekati Izza.
Rasanya Izza sudah tidak ada tenaga untuk berdiri, sampai berkata-kata pun sudah tak sanggup. Segala rasa menyergap dirinya, ketakutan, ketidakberdayaan serta kepasrahan menjadi satu. Air mata sudah ga terbendung lagi.
"Ya Allah... bantulah Hambamu ini ya Allah" do'a Izza.
Segala macam do'a yang dia hapal langsung hilang sekejap dalam ingatannya. Sehingga hanya bisa menyebut Allah saja.
"Sekarang... hanya ada kita, saya ga akan menyakiti kamu Za .. kamu akan jadi wanita terakhir dalam hidup saya. Will you marry me Za?" tanya sang Big Boss.
Kini sang lelaki sudah bersimpuh didepan Izza yang tubuhnya masih tertutup sprei sebagai pengganti mukena.
"Jangan... jangan mendekat... jangan sentuh saya..." pinta Izza memelas.
"Kamu cantik sekali jika ketakutan seperti ini sayang. Sorot mata yang membuat pria tergoda, pantas Rama tergila-gila. Bibir terbelah membuat makin ingin segera menikmatinya" ujar sang lelaki.
Izza makin ketakutan.
Sang lelaki menyingkap sprei yang menutupi tubuh Izza. Sekuat tenaga Izza mempertahankan tapi akhirnya kalah juga.
Izza berusaha merangkak menjauh karena kakinya sudah lemas. Tapi sang lelaki berhasil memegang kakinya dan menariknya mendekat.
Tubuh Izza ditarik dan dibanting keatas ranjang mewah.
"Jangan... saya mohon jangan ..." ucap Izza lirih.
Ketakutan luar biasa telah membuatnya sulit berpikir panjang. Bahkan suaranya pun tercekat di tenggorokan.
💐
Rama berjalan kearah kulkas untuk mengambil air mineral dingin, kemudian menghabiskan satu botol ukuran enam ratus mililiter secara langsung.
Setelahnya Rama menelpon Mba Rani, perbincangan ini tidak didengar oleh orang lain karena dia buru-buru mencari tempat yang jauh dari orang-orang.
.
"Om.. saya pinjam motor boleh?" tanya Rama.
"Mau kemana? kita percayakan semua kepihak berwajib saja Ram, kita sudah kehilangan jejak Izza, jangan sampai kehilangan jejak kamu juga" saran Om nya Rama.
"Om.. Rama ga bisa hanya berdiam diri disini, jangan khawatir ya.. Rama pergi sama Alex" jawab Rama.
"Ram .. Om tau kamu kalut dan bingung, yang bisa kita lakukan sekarang banyak berdo'a dan menunggu langkah selanjutnya. Jangan bertindak bodoh yang akhirnya malah kamu sesali. Penjahat itu pasti sudah tau gerak-gerik kita disini" kata Omnya Rama.
"Gapapa Pah... Bayu ikut Mas Rama aja muter-muter, siapa tau ada petunjuk yang bisa kita temukan. Menunggu disini juga bukan solusi yang terbaik" sahut sepupunya Rama.
"Ga usah Bay.. pinjam mobil aja deh, biar Alex yang bawa. Please.. saya butuh ketenangan. Saya mau coba muter-muter untuk menjernihkan pikiran. Toh ada Alex juga yang ikut saya, jadi jangan khawatir ya" ujar Rama.
"Ram.. Om khawatir kalo kamu pergi dengan kondisi yang seperti ini. Tadi Mas Isam sudah pesan untuk menjaga kamu bertindak macam-macam. Mas Isam akan segera kesini, tunggu dulu lah" ucap Omnya Rama masih berat hati.
"Om.. sama halnya Om mencemaskan Rama, seperti itulah Rama mencemaskan kondisi Izza. Dia istri Rama, harusnya keselamatan dia menjadi tanggung jawab Rama. Rama tau apa yang akan Rama lakukan, percayalah Om.. Rama ga akan bertindak bodoh. Kan kita sudah lapor ke polisi juga" jawab Rama.
Karena Rama tetap pada pendiriannya, dengan berat hati Omnya Rama mengijinkan Rama memakai mobilnya Bayu untuk berkeliling kota.
.
Alex yang membawa mobilnya Bayu, tujuan awalnya adalah reka wilayah, dari awal titik depot Bu Rosy kemudian kearah komplek hingga keluar komplek dimana Alex kehilangan jejaknya Izza.
Pelan-pelan Rama mencoba mempelajari setiap arah yang dipilih oleh pelaku penculikan.
"Lex.. sebenarnya jalur yang mereka ambil ini melingkar, kalo kamu teruskan ambil kanan.. kita akan balik lagi ke Depot Bu Rosy. Mereka memilih jalur-jalur perumahan yang tidak ketat penjagaan pintu masuk dan keluarnya. Mereka juga menghindari jalan utama karena bisa saja terjebak macet, kena lampu merah dan mudah dikejar" analisa Rama.
"Terus kalo jalan melingkar kenapa Boss?" tanya Alex yang belum paham maksudnya Rama.
"Berarti mereka ada di wilayah yang kita lewati. Kalian sudah diikuti sejak awal, pasukan ini pasti ga hanya satu, mereka terus muter cari celah ketika Izza dalam posisi sendiri. Tadi kamu bilang mereka pakai mobil mewah kan? ga mungkin penculikan pakai mobil mewah, pasti punya Bossnya. Tim itu yang bisa membawa Izza. Big Boss ini kaya, wilayah yang kita lewati ada dua perumahan mewah dimana masuk harus ada stiker khusus atau kartu pass sebagai tamu yang didapat jika security mengkonfirmasi ke rumah yang akan dikunjungi. Disalah satu komplek ada mertuanya Bayu .. saya telepon dulu" kata Rama.
.
Rama menelpon Bayu. Meminta tolong agar bisa masuk ke komplek eksklusif.
"Ya udah Mas.. nanti Mas ke pos security aja, saya telepon mertua untuk mengkonfirmasi kalo Mas Rama adalah tamunya" ucap Bayu.
"Makasih ya .." ujar Rama.
"Ya Mas.. semoga ada petunjuk disana" kata Bayu.
.
Lima menit kemudian, Rama sudah bisa masuk ke gerbang perumahan eksklusif tersebut.
"Saya bawa mobil, kita akan keliling kesemua rumah, kamu ingat-ingat apa mobil yang tadi bawa Izza ada disini" usul Rama.
"Siap Boss" jawab Alex.
Mereka bertukar posisi duduk.
"Kamu masih ingat ga tanda khusus di mobil itu?" tanya Rama.
"Mobil warna hitam tapi ada motif batik dibagian kaca belakang, tidak ada merek sih batiknya. Saya juga ga paham itu batik apa" ucap Alex.
Rama membuka HPnya dan mencari motif batik.
"Liat nih .. kira-kira motifnya yang mana?" perintah Rama sambil menyerahkan HP ke Alex.
Alex melihat motif batik sambil mencoba mengingat dengan fokus.
"Nah ...ini Boss.. ya ini.. ada gambar buaya dan ikan" kata Alex yakin.
Rama mengambil HP nya dan melihat motif yang dipilih sama Alex.
"Motif batik ujung galuh, ini batik sangat erat kaitannya dengan sejarah Kota Surabaya. Motif ini terdiri dari perpaduan gambar hiu, buaya dan daun semanggi. Surabaya berasal dari dua kata, yaitu sura (hiu) dan baya (buaya). Kata sura artinya selamat, sedangkan kata baya memiliki makna yaitu bahaya. Gambar hiu dan buaya yang bertarung pada batik ujung galuh melambangkan keberanian. Sedangkan gambar daun semanggi pada batik ini mencerminkan cinta kasih..." papar Rama seperti guru sejarah yang menerangkan ke muridnya.
"Terus apa hubungannya Boss? ga paham saya.. soalnya pelajaran sejarah mah blank banget" jawab Alex.
"Kayanya saya tau Lex... saya telpon Mba Rani dulu buat konfirmasi dan minta arahan" kata Rama yakin.
"Maksudnya kita ke monumen yang gambar ikan sama buaya itu Boss?" tanya Alex masih bingung.
"Bukan kesana.. tapi ada suatu tempat yang harus kita datangi" kata Rama.
"Kemana Boss?" tanya Alex.
Rama tidak menjawab karena sudah tersambung dengan Mba Rani.
Rama mengadukan semua petunjuk yang sepertinya sudah bisa terpecahkan dan meminta arahan Mba Rani.
Mba Rani meminta Rama balik ke kantor polisi tempat tadi dia melapor untuk bergerak bersama. Mba Rani sedang dalam perjalanan, sekitar tiga puluh menit lagi akan sampai di kantor polisi tempat Rama melaporkan kasus penculikan Izza.
"Baik Mba.. kita ketemu disana" jawab Rama.