
Begitu masuk kamarnya di Audah Hotel, Rama langsung meninju bantal yang ada diatas kasur untuk melampiaskan kekesalannya pada apa yang terjadi dari kemarin.
"Siapa dalangnya yang udah membunuh Mba Zizi? belum puas dendamku membuat pelaku pembakar rumah Mba Nay merasakan perih yang sama. Sekarang malah kenyataannya sudah ga ada. Licin sekali jaringan ini, sampai bisa menghilangkan nyawa tanpa dicurigain dan membawa jenazah dengan mudahnya. Sangat well prepared .. semua surat tentang Mba Zizi sudah dibuat palsunya" marah Rama penuh emosi.
Rama bicara dengan suara yang pelan agar tidak mengganggu tamu yang lain.
Rama sengaja melampiaskan emosinya seorang diri karena dia khawatir melukai orang lain jika diluapkan. Tadi pagi aja sudah sekuat tenaga dia untuk tidak mengangkat tangannya menghajar Alex dan kawan-kawannya karena telah lalai menjalankan tugas.
Sejak dari rumah dia menanamkan pikiran bahwa melampiaskan kemarahan tidak boleh sampai merugikan atau melukai orang lain. Harus bisa mawas diri ketika sedang marah untuk menjaga diri dan tidak hilang kendali.
"Mba Nay ... kalo pelakunya sudah ga bisa merasakan sakit yang Mba rasakan, Rama janji akan membalaskan ke keluarganya... terutama Mba Gita, agar dia tau betapa sakitnya dilukai secara batin. Kenapa ga pernah curhat ke Rama kalo dulu Mba kena bully sama Mba Gita? kenapa Mba ga pernah menempatkan Rama sebagai bagian penting dalam hidup Mba?" seringai Rama terbakar dendam membara.
Kalo tidak ingat banyak tanggung jawab pekerjaan yang harus diselesaikan, rasanya ingin pergi menepi kesebuah tempat untuk menenangkan diri. Tapi deretan pekerjaan serasa ga ada habisnya. Pak Isam sudah lepas tangan dan hanya menanamkan sedikit modal di Abrisam Group, sehari-hari hidup dari uang sewa deretan apartemen yang dimiliki dan belum dibagi ke anak-anaknya. Sesuai isi surat wasiatnya, jika kelak Pak Isam tiada, barulah apartemen itu dibagi rata antara Haidar dan Rama.
🏵️🏵️🏵️for your information🏵️🏵️🏵️
Saya mau edukasi lagi ya, bagi yang udah paham silahkan diskip. Jadi untuk masalah kapan UP cerita, kami para author tugasnya menyerahkan naskah cerita ke NT (disertai kapan tanggal tayangnya), jadi masing-masing author bisa nyetok dulu biar kontinu tayang.
Setelah naskah diserahkan ke NT, maka tugas NT lah yang mengolah, mulai dari proses review hingga tayang (kadang jadwal tayang ga sesuai dengan pengaturan dari author karena ada berbagai kendala).
Terima kasih sudah mendukung saya dan author lainnya dalam berkarya, ijinkan kami pula menumpahkan segala ide kami secara bebas, karena sebuah hasil karya dengan pemikiran yang lebih mendalam akan lebih mengena dihati.
Hanya goresan semata ... BundaDM🤍
🏠
Izza duduk di sofa depan kamarnya Sachi sambil menikmati coklat hangat. Ada biskuit keju di toples yang terletak di meja. Diambilnya dua keping dan dinikmati pelan.
"Mas Haidar dan Kak Rama ada ga ya? ga enak juga kalo ada mereka disini .. mending masuk kamar ah, ga baik juga kan duduk disini, nanti disangka kepo sama mereka" ucap Izza.
.
Didalam kamar Sachi ada foto Mba Nay yang sudah diperbesar dan dibingkai indah oleh Rama. Ada juga foto Sachi dari bayi hingga kini. Rama memang terlihat suka mendokumentasikan perkembangan Sachi. Bahkan dikasih keterangan kapan foto tersebut diambil.
"Ayah yang baik .. tapi agak sedikit aneh, kan dia amat sayang sama anak-anak, tapi kenapa cara bicaranya ga lembut ya? Apa kesemua orang Kak Rama juga sejutek itu? Dibilang jutek ya ga juga sih, kadang baik dan perhatian walaupun caranya agak kasar. Kalo sama Pak Isam lebih banyak diam, sama Mas Haidar lumayan ada suara tapi ga membantah" kata Izza lagi.
🏢
Jam enam pagi, Rama dan Mang Ujang sudah duduk di Restoran Hotel untuk sarapan. Disini memang makanan sudah siap dari jam lima subuh, karena untuk melayani para tamu yang akan berangkat pagi hari ke Bandara.
"Kita abis ini langsung ke PIK Mas Boss?" tanya Mang Ujang.
"Ya" jawab Rama.
"Ke Proyek Mas Boss yang food court yang kekinian itu kan ya?" tanya Mang Ujang lagi.
"Ya" kata Rama.
"Ngomong irit amat sih Mas Boss.. lagi sariawan?" tanya Mang Ujang lagi.
"Ga" jawab Rama.
"Kenapa sih Mas Boss? nyesel semalam ga pulang ke rumah? kata orang rumah, Mba Izza pagi ini mau kuliah terus pulangnya siang, nanti mampir lagi buat ambil baju, terus balik ke Panti Asuhan" adu Mang Ujang.
"Terus?" tanya Rama balik.
"Ya ga ada terusannya, katanya dia ga enak hati kalo kelamaan di rumah Boss Papi. Secara kan bukan keluarga, ga baik juga kan perempuan single di rumah yang pemilik dan anak laki-lakinya single semua. Bisa jadi fitnahan orang" papar Mang Ujang.
"Terus... " kata Rama.
"Dibilangin ga ada terusannya ... begitu aja ceritanya" ujar Mang Ujang.
"Terus siapa yang minta kamu lapor hal kaya gini ke saya? saya ga butuh info itu. Dia mau stay atau angkat kaki dari rumah .. ga ada pengaruhnya buat saya ... paham???" omel Rama.
"Oh ga perlu???? kalo berita tentang rencana dia mau ke Kudus penting ga buat dikasih tau ke Mas Boss?" ujar Mang Ujang keceplosan.
"Kudus??? mau ngapain kesana?" tanya Rama.
"Ihhh dia kepooo ... kasih tau ga yaaaa" canda Mang Ujang dengan wajahnya yang ngeselin.
"Kepo??? sorry ya .. ga ada dalam kamus seorang Rama kepo sama urusan orang, yang ada tuh kebalik, orang kepo sama hidup saya. Udah deh jangan diajak ngobrol .. saya mau tidur dulu, kalo udah deket tolong bangunin ya" pinta Rama.
💐
"Za ... lemes amat sih bestie.. why?" tanya temannya Izza di Kampus.
"Gapapa kok, cape aja.. udah ya, mau balik dulu" pamit Izza.
"Cepet-cepet amat sih baliknya, ngumpul dulu lah kita" ujar temannya.
"Sorry .. lagi ada urusan lain" kata Izza.
Izza bergegas meninggalkan kampus, dalam bayangannya, dia mau menuju makam kedua orang tuanya. Ingin menumpahkan semua perasaannya di makam tersebut.
.
"Mba Izza..." panggil Alex.
Alex ada didepan kampusnya Izza, tanpa order via aplikasi, Izza naik ke motornya Alex.
"Bang Alex .. tolong antar saya ke makam dulu ya" pinta Izza.
"Siap Mba" ucap Alex sambil menyerahkan helm ke Izza.
Izza memberitahukan arah tujuannya ke Alex. Sekitar dua puluh menit, Izza sampai juga ditujuan, Alex mengikuti langkah Izza memasuki areal pemakaman.
"Bang Alex mau ke makam siapa?" tanya Izza.
"Saya mau jagain Mba Izza aja, boleh kan? tenang Mba .. saya akan jaga jarak kalo Mba ga nyaman saya ikuti" jawab Alex.
"Gapapa kok kalo mau ikut.. saya mau ke makam orang tua. Semakin banyak yang mendo'akan akan semakin baik kan" kata Izza.
Izza jalan didepan dan Alex mengikuti dari belakang, Alex sangat waspada melihat situasi sekeliling untuk menjaga keamanannya Izza.
Izza duduk bersimpuh disamping makam, membacakan do'a terbaik untuk kedua orang tuanya. Tak terasa air matanya menetes, cukup lama Izza terduduk sambil memeluk makam orangtuanya.
Setelah berdo'a lagi untuk orang tuanya, Izza dan Alex mampir ke makam Mba Nay. Mendo'akan almarhumah agar tenang disisiNya.
"Mba .. Izza minta maaf atas nama keluarga. Ga tau harus mengucap apa lagi. Walaupun kita ga pernah ketemu dan ga pernah saling kenal, Izza kenal sama anak Mba yang lucu. Sachi mirip sama Mba Nay... cantik. Mba .. Izza juga merasakan bagaimana rasanya mengetahui kalo orang tua terbakar bersama rumah yang ditempati. Sekali lagi saya minta maaf ya Mba .. saya pamit dulu Mba Nay, semoga Mba Nay tenang disana" ucap Izza.
.
"Kita mau langsung pulang ke Panti Mba?" tanya Alex.
"Mampir dulu Bang Alex, ke daerah Kemang, disalah satu perumahan elit, saya mau ambil baju sebentar, baru deh kita balik ke Panti setelahnya" kata Izza.
"Mba ... kayanya mulai gerimis nih, liat tuh langitnya didepan udah gelap, kita nepi di warkop sebentar dulu boleh?" tawar Alex.
"Ya gapapa .. saya ga masalah kok, udah biasa nongkrong di warkop, kebetulan belum makan siang. Bolehlah kita ganjal pake mie instan" jawab Izza.
🚗
Rama sedang dalam perjalanan pulang menuju Abrisam Group, sudah ada Farida yang ikut dimobilnya. Tadi Farida diantar sama supir kantor ke PIK untuk mencatat hal yang diperlukan bersama Manager Proyek.
"Sudah sampai mana progress rencana pengadaan perumahan karyawan yang di Sentul?" tanya Rama.
"Menurut laporan bagian terkait, masih belum deal untuk kisaran harganya. Karena harga bahan bangunan naik, mengakibatkan penawaran dari Abrisam Group masih diatas budget mereka" lapor Farida.
"Itu perusahaan mau cari untung juga dari karyawan sendiri? kan nanti para karyawan bukannya pakai akad kredit dengan Bank?" tanya Rama.
"Saya belum jelas mengenai hal ini, nanti saya tanyakan kembali. Atau mau saya masukkan list jadwal agar Manager Projectnya bisa bertemu dengan Bapak?" ucap Farida.
"Ga usah, nanti saya telepon aja" jawab Rama.
"Hari ini tidak ada jadwal meeting atau apapun. Ada yang perlu saya siapkan lagi Pak?" tanya Farida.
"Saya mau mempelajari beberapa proposal yang masuk aja. Besok jadwal saya di Audah Hotel, jadi kalo urgent, bisa ketemu disana tapi dengan persetujuan saya ya" jawab Rama.
"Baik Pak" kata Farida.
"Mas Boss .. Mang Ujang mau minta ijin pulang kampung ya, pokoknya Senin udah masuk kerja lagi deh" pinta Mang Ujang.
"Mau ada apa disana?" tanya Rama.
"Mau minta saran orang tua, mau tetirah, mau mikir kedepannya bagaimana. Kayanya udah saatnya nikah deh. Teman sepantaran udah punya anak semua. Pacar mah belum ada, tapi yang ditaksir udah ada. Semoga dukungan orang tua membuat jadi lebih yakin buat melangkah" kata Mang Ujang.
"Siapa ceweknya?" tanya Rama.
"Rahasia dong ... emang Mas Boss aja yang bisa main rahasia-rahasiaan" kata Mang Ujang.
"Selamat ya Mang Ujang udah berani melangkah kejenjang yang serius. Kalo Rida malah belum berani, pacar sih udah ngajakin nikah. Tapi kan masih muda, mau ngejar karier" ucap Farida ikutan ngobrol.
"Kadang jadi wanita itu serba dilema, mau ngejar karier setinggi apapun, kalo udah rumah tangga pasti terbatas geraknya. Makanya kalo mau fokus karier ya kejar dulu sampai puas karena ketika udah nikah, belum tentu bisa kekejar, biasanya karena waktu udah ga sebebas ketika single" sahut Rama.
"Kaya Mas Boss ya .. lagi ngejar karier yang cemerlang dulu baru nanti ngejar calon istri" ledek Mang Ujang.
"Wah kalo model Pak Rama ini ga perlu ngejar calon istri Mang .. bakalan antri para wanita untuk diperistri" kata Farida.
"Bener juga ya .. wah enak banget deh Mas Boss .. tinggal tunjuk aja" ucap Mang Ujang.
"Ga ada tantangan kalo nunjuk doang Mang. Harus ada perjuangannya dong, biar laki banget gitu" ujar Rama.
🍜
Banyak yang beranggapan bahwa mie instan buatan tukang warkop rasanya jauh lebih enak dari mie instan buatan sendiri. Padahal, mau direbus dengan teknik apapun, rasa mie instan sejatinya akan selalu sama. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa rahasia kenikmatan mie instan terletak pada air bekas rebusan mie instan yang sudah berwarna pekat meski sebenarnya hal tersebut tidak baik untuk kesehatan.
"Saya nambah ya Mba Izza... kalo mie semangkok cuma ngitik-ngitik lambung aja" kata Alex ga pake malu-malu.
"Ya silahkan aja.. saya traktir.. kemarin masih ada lebihan uang saat diminta ikut nongkrong di cafe" ucap Izza.
"Nongkrong di cafe? wah keren nih Mba Izza tempat hangoutnya" puji Alex.
"Ada yang modalin Bang .. demi nama baiknya" jawab Izza.
"Wah.. beruntung tuh kenal sama orang kaya gitu" sahut Alex.
Mereka meneruskan makan pesanan mereka. Warkop ga terlalu ramai, siang seperti ini yang ramai biasanya warteg dan restoran. Mereka pun berbincang ngalor ngidul ga tentu ujungnya sambil nunggu hujan mereda.
"Tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya jadi nakal, bodoh dan menjadi penjahat ketika dewasa. Kalau ada orang tua yang berharap ga baik untuk anaknya, saya yakin orang tua itu pasti ga waras" ucap Izza setelah mendengar cerita masa lalu Alex.
Alex lahir dengan kondisi tanpa identitas Bapak yang jelas. Ibunya adalah penjaja tubuh disebuah lokalisasi. Jadi tidak jelas hamil sama tamu yang mana. Bahkan saat hamil pun, Ibunya masih melayani tamu. Hingga Alex berusia sepuluh tahun, mereka masih tinggal ditempat tersebut. Sudah menjadi pemandangan harian ketika Alex masuk ke kamar Sang Ibu, dia melihat sedang ada "pertarungan" Ibunya dengan jantan tak guna.
"Tapi kenyataannya Ibu memang mengharapkan saya jadi penjahat. Saya ga dikenalin agama, ga dikenalin budi bahasa, ga disekolahin. Bahkan ngajarin saya mencuri di warung buat sekedar makan" oceh Alex.
Alex ternyata masih muda, hanya tampangnya terlalu boros. Usianya berbeda dua tahun lebih tua dari Izza.
"Maaf kalo berpendapat, sekarang Izza liat Bang Alex itu baik kok, ga sesangar tampangnya. Yakin mau dijadikan penjahat?" ucap Izza.
"Ada seorang lelaki yang saya anggap sebagai Kakak saya yang mengubah dunia kelam menjadi lebih berwarna. Usia kami hanya terpaut tiga tahun, saat dia SMP, kami bertemu. Dia mau tawuran dan saya selalu kebagian jagain tas anak-anak yang tawuran. Hampir setahun saya kaya gitu, jagain tas anak-anak yang mau tawuran, sampai akhirnya orang yang saya anggap Kakak ini menanyakan apakah saya sekolah atau tidak. Dia meminta ke orang tuanya untuk menyekolahkan saya. Saya ikut sekolah terbuka saja, ga mau sekolah formal. Kadang dia ngajarin saya tentang pelajaran, otaknya encer banget orang itu. Hingga kami akrab. Dia akhirnya tau bagaimana kondisi saya dan Ibu, entah uang dari mana, dia nyewain rumah kontrakan buat kami. Ibu diminta keluar dari lembah nista dan dimodalin jualan makanan karena letak rumah kontrakan depannya sekolah. Saya diminta ikut bela diri bareng dia. Begitu hidup saya lebih layak, dia mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya pergi sejenak. Karena saya janji akan mengabdikan hidup saya sama dia, jadinya saya selalu bantu apapun yang dia butuhkan" cerita Alex.
Alex memang ga pandai bercerita, jadinya runtutan ceritanya ga bagus.
"Sampai sekarang masih berhubungan sama orang baik itu?" tanya Izza.
"Alhamdulillah Mba.. saya selalu menjaga hubungan baik sama dia. Bahkan nyawa ini sanggup saya pertaruhkan buat dia" jawab Alex.
"Wow... sampe segitunya ya" kata Izza kaget.
"Ya ..." ujar Alex yakin.
"Ibunya Bang Alex masih ada?" tanya Izza lagi.
"Sudah meninggal Mba .. sakit kanker serviks setahun yang lalu" jawab Alex.
"Orang itu juga yang membantu berobat Ibunya Bang Alex?" tanya Izza.
"Ya .. semua .. mulai dari awal sakit hingga meninggal dalam kurun waktu tiga bulan saja, hingga dimakamkan di kampung. Semua dia yang tanggung" ucap Alex.