
Saat Rama tertidur di sofa bed, laptopnya masih menyala. Haidar menghampiri Rama, tadinya berniat memberikan selimut tambahan untuk Rama.
Tanpa sengaja Haidar menyentuh laptop Rama dan tampilannya foto seorang wanita (Rama sedang membuka file dari flashdisknya Mba Nay).
Haidar mengambil laptopnya Rama dan meletakkan di meja. Ada dua folder disana, dibukanya folder Baby. Ada lagi subfolder didalamnya. Ada subfolder foto (ada keterangan lagi Mama, Papa, Ayah, kawan) dan subfolder video.
Karena penasaran, Haidar membuka subfolder foto. Ada banyak foto tersimpan beserta keterangan kapan diambil dan bagaimana cerita tentang foto tersebut.
Di file Mama, terdapat foto Nay sedang sendiri, Nay dengan keluarga dan dengan kawan-kawan. Terbaca jelas bagaimana Nay menceritakan dengan jelas kronologis kebakaran yang menimpa keluarganya, kemudian bagaimana perjuangan Nay mencari nafkah saat baru lulus SMA hingga kerja di Abrisam Group.
Saat dia klik file Papa, raut mukanya Haidar berubah, antara kaget dan ga percaya. Ada beberapa fotonya dengan Nay, hanya berdua saja. Memang tidak banyak foto terabadikan dengan baik antara mereka berdua karena kebersamaan mereka sangat cepat. Ada juga foto prewedding indoor mereka, tampak raut wajah bahagia penuh cinta tergambar disana
Haidar menelusuri satu persatu. Ada foto saat awal pertemuan mereka ketika penyambutan kedatangan Haidar sebagai Big Boss baru disalah satu Hotel milik Abrisam Group. Ada keterangan yang menggelitik ingatannya.
#Nak ... ini Papamu... ganteng ya. Setelah kami kenal ternyata Papamu sudah suka sama Mama sejak pandangan pertama, tapi Mama belum punya rasa dengan dia# isi keterangan dibawah foto.
Haidar mulai terbuka untuk mengingat kenangan tersebut.
Kemudian dibuka lagi, foto saat pertama kali terang-terangan Haidar mengakui suka sama Nay (saat disalah satu Restoran di Puncak), sebelum berbincang mereka sempat wefie dulu atas permintaan Haidar).
#Nak.... ini saat Papa bilang cinta untuk pertama kalinya ke Mama. Mama udah mulai suka tapi ga berani mengiyakan, secara dia kan Boss nya Mama. Oh ya Mama lupa, saat ini juga pertama kalinya Mama berciuman dengan laki-laki (tapi jangan ditiru ya Nak), Mama bahagia bercampur sedih, khawatir Kakekmu tau dan Mama diomelin# Haidar membaca keterangan foto dengan seksama.
Ada lagi foto saat Nay akan berangkat ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kandungan tiap bulannya. Bagaimana OOTD dan bersama siapa ke Rumah Sakitnya lengkap terfoto rapih. Hasil pemeriksaan tercatat rapih dibuku dan didokumentasikan oleh Nay, termasuk foto USG.
Yang membuat tambah tersentak ketika Haidar membuka video. Ada video Nay menangis di kamar mandi dan menunjukkan hasil testpack. Disana ia bicara ke HP nya (sebagai alat rekam).
"Mas dimana kamu? kenapa ga datang saat pernikahan kita? katanya kamu mau bertanggung jawab... mana Mas??? mana janji kamu..." kata Nay sambil menangis menyayat hati.
Video masih memutar tentang Nay yang duduk menangis dibawah pancuran shower kamar mandi.
Sesaat kemudian, tampak Nay mengusap air matanya dan mendekati HP nya.
"Nak.... Mama harap ketika kamu menonton video ini, usiamu sudah cukup umur dan dengan pendampingan Om Faqi (saat itu belum ada wacana memanggil Ayah ke Rama). Inilah yang Mama khawatirkan dengan perbuatan khilaf Mama dan Papa. Sekarang ada kamu di perut Mama, entah kenapa Mama bingung harus bahagia atau sedih saat ini. Sedih karena Mama ga tau apa Papa bisa bertanggung jawab atas kehadiranmu di perut Mama. Tapi Mama bahagia, kamu adalah bukti cinta antara Mama dan Papa. Ingat jangan membuat kesalahan yang sama kelak ya Nak. Selalu nurut sama Om Faqi..." ucap Nay tersendat.
Air mata Haidar menetes setelah melihat tayangan video. Ingatannya kembali terulang ke masa yang lalu.
"Nay.... Nay.... dimana kamu Nay?" tanya Haidar mulai panik tapi suaranya nyaris ga terdengar.
Kembali Haidar membuka video dan foto-foto bagaimana Nay melewati kehamilan seorang diri di Apartemen miliknya.
Ada juga kebersamaan bersama Rama dan Mba Gita saat kontrol ke dokter kandungan. Rama ga pernah berduaan sama Nay, selalu ada Mba Gita yang mendampingi.
Tiba-tiba Haidar teringat sebuah makam yang pernah ia datangi bersama Rama dan Sachi saat mau ulang tahun Sachi yang pertama.
Haidar berusaha keras mengingat nama di nisan tersebut. Kepalanya memang terasa pusing, tapi dia terus berusaha mengingat.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun... Nay.. itu makam kamu? Bahkan kamu ga menunggu Mas untuk menjemput kamu, kamu ga mau nunggu sampai bisa liat Sachi tambah besar.... NAYYYYYY" ucap Haidar histeris.
Rama terlonjak kaget dan bangun dari tidurnya. Perawat yang mendengar teriakan langsung masuk kedalam kamar perawatan Haidar.
"Mas ... Mas kenapa?" tanya Rama.
Perawat membantu Haidar kembali ke tempat tidur. Haidar masih histeris. Dokter jaga masuk dan memberikan suntikan obat penenang untuk Haidar.
Setelah semua kondisi aman terkendali, Rama duduk di sofa dan ga sengaja menyenggol laptopnya. Ternyata yang terbuka adalah file dari flashdisknya Mba Nay.
"Jadi Mas Haidar udah liat video dan foto-foto yang Mba Nay buat. Alhamdulillah... sepertinya ingatan akan Mba Nay mulai muncul. Semoga menjadi lebih baik kedepannya untuk Mas Haidar dan Sachi" harap Rama.
.
Sabtu sekitar jam tujuh pagi, kondisi Haidar sudah lebih stabil dan minta untuk bisa pulang ke rumah. Dia minta diantar ke makam Nay segera.
"Mas .. kita tunggu dokter visit dulu aja ya. Kalo sehat boleh pulang" saran Rama.
"Mas sehat kok" jawab Haidar.
"Mas ... kalo Mas ingin liat makam Mba Nay, nanti Rama antar kesana. Yang penting sehat dulu ya" lanjut Rama.
"Mas merasa bersalah sama Nay ... Mas membuat dia menanggung semuanya sendiri .. Mas ... Mas ..." kata Haidar mulai menangis lagi.
"Sabar ya Mas ... banyak-banyak istighfar. Masih ada masa untuk memperbaiki semua kesalahan Mas terutama pada Sachi" ujar Rama.
"Sachiiiiiii... Mas mau ketemu sama Sachi" ngotot Haidar.
"Ya .. nanti kita ketemu Sachi, tapi Rama harap Mas bisa menahan diri. Sachi masih terlalu kecil untuk tau semua yang terjadi dimasa lalu. Rama aja belum pernah memutarkan video itu untuk Sachi" jelas Rama.
Haidar mengingat kembali memory bersama Nay, walau sekejap tapi terasa manis.
"Mas ... makan dulu biar ada tenaga, dari semalam belum makan" pinta Rama.
"Mas ga lapar" jawab Haidar.
"Lakukan ini demi Sachi Mas .. anak itu butuh Mas" bujuk Rama.
Haidar langsung menyantap sarapan yang disediakan oleh Rumah Sakit karena dia harus segera pulang untuk memeluk Sachi.
Di kamar VVIP, penunggu pasien pun dapat jatah makanan. Menunya pun menu standar untuk orang sehat. Karena Haidar kondisi fisiknya normal, jadinya tidak ada pantangan apapun. Menunya pun normal aja.
Pihak Rumah Sakit menyiapkan bubur ayam nasi merah yang dilengkapi dengan ayam kampung panggang dan telur rebus. Menu satunya lagi Nasi goreng lengkap dengan pelengkapnya dan sandwich serta jus buah.
"Kalo kamar VVIP makanannya kaya Hotel ya Mas" kata Rama sambil menikmati hidangan yang ada.
"Ya kan ada cost nya, udah dihitung oleh pihak Rumah Sakit. Masa bayar jutaan perhari dapat fasilitas yang ga oke" jawab Haidar.
"Kalo kelas tiga ga jauh-jauh dari nasi lembek, tahu kuah kuning, sop bening yang rasanya plain isinya wortel dan buncis. Apa para ahli gizi Rumah Sakit cuma pada bisa masak apa-apa dikuningin kali ya Mas?" tanya Rama.
"Soalnya kalo ke Kuningan jauh dong ... hahaha" canda Haidar.
Kakak adik ini tertawa sambil becanda, sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua dan sekedar ngomong ngalor ngidul.
"Mungkin karena yang jaga pasien itu orang sehat, jadinya ga ada pantangan apapun. Kalo makanan pasien, ya namanya orang sakit pasti akan diatur mana yang boleh dan tidak, lagipula bukan makanannya mungkin yang ga enak, tapi indera perasa kita yang bermasalah ketika sakit" papar Haidar.
"Ini boleh nambah ga Mas? kurang nampol nih" tanya Rama.
"Pesen makanan pake ojol aja sana, emangnya ini Hotel yang bisa kamu minta makanan tambahan. Ini Rumah Sakit, yang semuanya udah dihitung" kata Haidar.
"Mas mau dipesenin makanan ga?" tanya Rama.
"Ga ... Mas udah kenyang. Masih aja kamu makannya banyak, tapi badan masih kejaga. Rajin nge-gym ya sekarang?" ujar Haidar.
"Harus dong, sejak pulang ke Indonesia rutin nge-gym dan main squash. Jadi masih aman deh nih perut" kata Rama.
"Tapi Mas perhatikan kamu sekarang lebih sumringah, ga kaya pas baru pulang kesini, tampak rada kusam dan ga senyum" papar Haidar.
"Masa sih Mas? kayanya biasa aja, emang sih sebulan belakangan ini pakai skincare buat pria, rekomendasi dari Mba Anin, katanya kalo Boss harus keliatan glowing" kata Rama.
"Dia lebih dekat ya sama kamu sekarang ini, gimana persiapan pernikahan dia sama kekasihnya?" tanya Haidar.
"Cieee... kepoin mantan... hehehehe. But so far so good. Malah nanti akan diadakan pestanya di Ballroom Audah Hotel. Biar dongkrak nama Mas, secara siapa yang ga kenal sama keluarganya. Tanah yang dibelakang Hotel kan udah dia beli juga buat lahan parkir, nantinya pasti akan dibutuhkan kalo untuk pesta outdoor" jelas Rama.
"Senang dengar dia bahagia" jawab Haidar.
"Mas sendiri gimana? udah bahagia sekarang?" tanya balik Rama.
"Kemarin rasanya hidup masih hampa, tapi sejak semalam tau tentang Sachi dan kembali bisa ingat Nay, ada kebahagiaan yang sulit Mas definisikan. Makasih ya Ram .. sudah membuka semuanya" ucap Haidar tulus.
"Sebenarnya udah lama hal ini Rama mau sampaikan ke Mas, walaupun ga secara frontal sih. Tapi apa daya, semua sia-sia. Alhamdulillah flashdisk ini membuka tabir ingatan Mas lagi. Tugas Rama mulai selesai satu persatu. Sekarang janji membuat Mas ingat Mba Nay sudah tertunaikan. Next masih banyak yang Mba Nay inginkan, semoga beliau tenang di alamnya" harap Rama.
"Aamiin ya rabbal'alamin... kamu sekarang ga sendiri berjuang Ram ... kapanpun Mas siap membantu" janji Haidar.
Keduanya berpelukkan.
.
Dokter mengijinkan Haidar pulang, sesuai janjinya Rama, Haidar akan diantar menuju makam Mba Nay.
Dalam perjalanan menuju makam, Haidar mencoba tetap fokus walaupun pikirannya sudah melayang memikirkan kehidupan Nay semasa Haidar mengalami kecelakaan. Rama juga mengemudikan mobilnya pelan, sambil menyiapkan hati untuk menerima pemandangan yang pastinya membuat Rama bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena pada akhirnya satu rahasia sudah terbongkar, tapi sekaligus sedih karena sudah tidak bisa "menguasai Sachi" sendiri lagi. Rama harus bisa berbagi sama Haidar dan pelan-pelan semua akan ditempatkan sebagaimana mestinya.
Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup memang berat dan takkan kembali kedalam kehidupan kita lagi. Semua orang menyadari bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan pergi, termasuk diri kita sendiri. Hanya saja, tak ada yang tahu siapa yang bakal pergi duluan dan siapa yang ditinggalkan.
Sesampainya di areal pemakaman, Haidar langsung duduk bersimpuh disamping nisannya Nay.
"Nay.... maafkan Mas ya... harusnya Mas datang padamu lebih cepat. Kecelakaan itu sudah mengubur impian kita hidup bersama. Maaf selama kamu mengandung Sachi, banyak cercaan dan rasa sakit yang dirasakan sendiri. Mas janji Nay, Sachi akan Mas urus dengan baik layaknya anak kandung dengan Papanya. Sachi anak kita Nay, dalam darahnya mengalir darah Mas. Maafin Mas yang ga tau tentang Sachi selama ini. Maafin Mas ga datang menepati janji untuk menikahimu ... maafin Mas" tangis Haidar pun jatuh tak tertahankan.
"Maaf Pak .. sebaiknya ga menangis di makam, baiknya bapak do'akan buat ahli kubur" saran Bapak penjaga makam.
Haidar segera bangkit dari duduknya, ia menghampiri penjaga makam dan menitipkan pesan untuk merawat makam Nay dengan baik, ga lupa ia menyelipkan uang untuk penjaga makam.
Diusapnya nisan di makam Nay perlahan. Seakan belum puas meminta maaf ke Nay.
"Mas ... udah sore ... kita pulang yuk, kasian Sachi di rumah cuma sama pengasuhnya" kata Rama.
"Iya" jawab Haidar.
.
"Za ... Sachi tiap hari telepon kamu?" tanya Mba Gita.
"Iya" jawab Izza.
"Pakai nomer HP Mas Rama atau pengasuhnya?" tanya Mba Gita.
"Kak Rama udah kasih nomer HP Izza ke pengasuhnya Sachi. Lebih nyaman gitu juga kan? lagipula Kak Rama sibuk, mana sempat dia bersama Sachi terus" kata Izza.
"Mba makin ga ngerti sama Mas Rama, lebih banyak ngurus Audah Hotel, padahal lini bisnis Abrisam Group ga hanya itu. Harusnya dia ga serakah, bisa kan mencari orang yang berkompeten untuk membangun Audah Hotel. Mana lebih banyak ngantor disana daripada di kantor pusatnya Abrisam Group" adu Mba Gita.
"Ya mungkin layaknya bayi, Audah Hotel ini kan masih baru lahir. Perlu dijaga, diperhatikan lebih dan diawasi dengan cermat" sahut Izza.
"Kok jawaban kamu mirip sama Mas Rama? dia juga bilang begitu" kata Mba Gita.
"Ya memang itu jawaban dia kalo ditanya orang kenapa lebih fokus ke Audah Hotel" jawab Izza dengan santai.
"Pas kamu jalan atau setelahnya, ada ga dia ngomong sesuatu tentang kerjaan atau apapun?" tanya Mba Gita penasaran.
"Seorang Rama gitu loh.. mana mungkin dia cerita ke orang. Dia kan ga banyak omong" kata Izza.
"Dari dulu sampe sekarang ya gitu, terkesan cuek dan diam. Tapi gerakannya sat set sat set ... kaya ngurusin Abrisam Group dalam kurun waktu enam bulan aja bisa kembali normal walaupun belum seperti pencapaian Pak Isam. Mba akui dia punya kualitas yang lebih baik dari Papi dan Kakaknya. Si anak bandel yang insyaf, pembangkang, susah kalo dibilangin sama semua orang, ya pokoknya istimewa banget deh dia. Ga nyangka dia bisa lulus kuliah bisnis padahal ga punya passion disana. Tapi Mba rasa dia ada agenda lain yang sedang direncanakan. Bantu Mba dong buat cari informasi apa yang akan Mas Rama lakukan dalam waktu dekat ini" pinta Mba Gita.
"Mba kan sekretarisnya, tiap hari ketemu, semua file yang diserahkan ke Kak Rama juga pasti lewat Mba, kok malah minta tolong sama Izza, ga salah Mba?" jawab Izza.
"Mba khawatir dia ada hubungan sama penyanyi dangdut yang dari kampung itu. Kalo Pak Isam sampe tau pasti akan marah" ucap Mba Gita.
"Urusan Pak Isam marah kan bukan jobdesc Mba di Kantor, biarin ajalah Kak Rama sama keluarganya mau bagaimana juga, bukan urusan kita" lanjut Izza.
🏠
Haidar langsung mencari Sachi begitu turun dari mobil. Haidar setengah berlari menuju kamar Sachi. Rupanya anak ini sedang bermain tenda didalam kamarnya, hadiah yang diberikan sama Rama setelah Sachi bisa menamatkan iqro satunya.
Haidar menghampiri anak manis yang tengah tertawa bahagia. Tanpa kata, Haidar memeluk dan menghujani ciuman ke Sachi. Jelas aja pengasuhnya Sachi hanya bisa bengong karena kebingungan.
Haidar meminta pengasuhnya Sachi untuk keluar dari kamar Sachi. Sachi tertawa terbahak-bahak karena dia mengira Haidar sedang mengajaknya becanda dan dia merasa kegelian. Kembali air matanya ga bisa ditahan lagi ketika melihat wajah Sachi.
"Sachi ... anak Papa.. harusnya kemiripan wajah kita sudah menyadarkan Papa kalo kamu anak Papa" ucap Haidar dalam hati.
Didepan pintu kamar, ada Pak Isam dan Rama sedang memperhatikan keduanya. Tak terasa air mata ikut mengalir dari kedua belah mata Pak Isam. Rama yang melihat segera mengusap bahu Papinya untuk menguatkan.